Apa yang dimaksud dengan rumusan masalah?

Rumusan masalah

Merumuskan masalah adalah tahap awal kita untuk memulai mencari solusi sebelum kita mencari akar masalahnya. Merumuskan masalah bisa di lakukan dengan bertanya apa masalah yang sedang dihadapi dan mengamati apa yang sedang terjadi. Sehingga kita dapat menuliskan / mengidentifikasi masalahnya terlebih dahulu.

Bagaimana proses merumuskan suatu masalah?

SUMBER :

Rumusan masalah adalah tahapan dari beberapa tahapan untuk membuat sebuah karya ilmiah penelitian atau lainnya. Rumusan masalah memiliki posisi yang sangat penting di dalam kegiatan sebuah penelitian. Apabila sebuah penelitian tidak ada maka penelitian yang nantinya dilakukan akan sia-sia, karena nantinya akan bingung apa saja yang perlu dilakukan dalam penelitianya.

Sebuah masalah yang telah terjadi jika seseorang berusaha dan mencoba tujuannya atau mencoba percobaan perdananya untuk mencapai tujuannya sampai berhasil (Pariata Westra).

Dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

Tiga Kriteria Rumusan Masalah

Pertama, pada perumusan masalah kriteria pertama bentuknya berupa kalimat interogatif atau kalimat tanya, baik itu pertanyaan yang perlu jawaban eksplanatoris atau jawaban yag deskriftif. Eksplanatoris sendiri adalah menghubungkan dua atau pun lebih gejala atau fenomena dalam kehidupan manusia.

Kedua, berhubungan atau bermanfaat untuk berusaha membuat dan mengembangkan teori, di dalam makna pemecahan yang jelas, nantinya diharaakan akan memberikan teoritik yang bermutu, baik itu untuk membuat teori baru atau mengembangkan sebuah teori lama.

Ketiga, untuk membuat sebah rumusan msalah yang bagus, sebaiknya dirumuskan di dalam sebuah konteks yang benar dan aktual. Jadi, pemecahannya memberikan keterkaitan kebijakan yang sesuai, dan bisa di aplikasikan dengan jelas untuk proses perumusan masalah untuk kehidupan manusia

Cara Untuk Membuat Rumusan Masalah

Hal pertama kali ketika akan membuat rumusan masalah adalah menentukan topik. Dari topik yang sudah ditentukan ini kemuian fokuskan ke bagaia yang lebih spesifik lagi atau lebih melebar lagi pembahasannya. Ketika cakupan sudah ditentukan, baru dari sini bisa menentukan permasalahannya.

Dalam permasalahan bisa dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang selanjutnya dianalisis atau argumentasi dari penjabaran bukti-bukti berdasarkan hasil dari analisis. Berikut ini merupakan langkah yang perlu diakukan untuk membuat rumusan masalh karya ilmiah.

  1. Tentukan tipe karya ilmiah apa yang akan dibuat
  2. Persiapakan sumber referensi dari berbagai sumber
  3. Memperluas atau menyempitkan topik
  4. Bangun permasalahan dari topik
  5. Uji So What

Jenis Rumusan Masalah
Ada 3 jenis perumusan masalah dalam penelitian

1. Masalah deskriftif
Masalah deskriftif merupakan yang berkaitan dengan pernyataan bagi adanya variabel mandiri, baik itu satu atau lebih variabel. Jadi dalam rumusan masalah peniliti tak perlu membandingkan variabel pada sampel lain, dan juga mencari hubungan variabel dengan variabel lainnya.

Contoh rumusan masalah deskriptif

  • Bagaimana sikap dari masyarakat mengenai perguruan tinggi yang memiliki bandan hukum?
  • Seberapa tinggi tingkat kepuasaan dan juga aspirsi masyarakat pada pelayanan publik di ibu kota?
  • Seberapa baguskah kebijaka yang diterapakan di pemerintah?

2. Masalah komparatif
Masalah komparatif yaitu sebuah permasalahan penelitian yang sifatnya membandingkan antara variabel satu dengan yang lainnya apakah itu sama atau berbeda.

Contoh rumusan masalah komparatif:

  • Apakah ada perbedaannya tingkat produktifitas anatara pegawai negeri dengan pegawai swasta?
  • Adakah perbedaan kapabilitas dan kedisiplinan kerja antara pegawai di perusahaan nasional dan pegawai swasta nasional?
  • Apa ada bedanya antara ketahanan fisik orang kota dengan orang pedalaman?

3. Masalah asosiatif
Masalah asosiatif ialah pertanyan pada sebuah penelitian yang sifatnya memiliki hubungan antar dua variabel atau pun lebih. Bisa dengan hubungan timbal balik, kausal, atau simetris.

Hubungan timbal balik
Hubungan timbal balik yaitu hubungan yang mempengaruhi satu sama lain. Di sini tidak diketahui antara variabel independen dan variabel dependen.

Contoh rumusan masalah hubungan timbal balik
Hubungan antara memilik motivasi tinggi dan prestasi gemilang. Pada hal ini dapat dinyatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap prestasi dan sebaliknya.

Hubungan kausal
Rumusan masalah kausal yaitu memiliki sifat sebab dan akibat. Di dalamnya terdapat variabel bebas (independen) dan variabel dependen. Di sini variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Contoh rumusan masalah hubungan kausal

  • Apakah ada pengaruhnya antara sistem penggajian dengan kinerja kerja?
  • Seberapa besarkah tata ruang kota terhadap kebahagiaan penduduknya?
  • Adakah pengaruhnya antara pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan prestasi belajar terhadap anak?

Hubungan simetris
Hubungan simetris yaitu hubungan diantara dua variabel atau bisa lebih kebetulan nampak secara bersama.

Contoh rumusan masalah hubungan simetris

  • Adakah hubungannya antara banyak semut di pohon dengan kemanisan buah?
  • Apakah ada hubungannya antara jumlah pengangguran dengan tingkat kriminal?

Contoh Rumusan Masalah Makalah Tentang Software Bajakan

Berdasarkan dari pemaparan latar belakang di atas, penulis dengan ini merumuskan rumusan masalah yang penulis akan kaji.

  1. Apakah software bajakan itu?
  2. Seperti apakah ciri-ciri dari software bajakan?
  3. Bagaimanakah orang mendapatkan software bajakan?
  4. Latarbelakang apakah yang membuat orang memilih software bajakan?
  5. Berapa banyak orang yang memakai software bajakan?
  6. Software bajakan apa saja yang biasa dipakai orang Indonesia?
  7. Apa alasan sebagian orang yang tidak memakai software bajakan?

Itulah cara merumuskan masalah komputasi dengan ketat . :wink:

Castetter dan Heisler (1984) menerangkan bahwa pernyataan permasalahan atau rumusan masalah merupakan ungkapan yang jelas tentang hal -hal yang akan dilakukan peneliti. Cara terbaik unutk mengungkapkan pernyataan tersebut adalah dengan pernyataan yang sederhana dan langsung, tidak berbelit-belit.

Pernyataan permasalahan atau rumusan masalah dari suatu penelitian merupakan “jantung” penelitian dan berfungsi sebagai pengarah bagi semua upaya dalam kegiatan penelitian tersebut. Pernyataan permasalahan yang jelas (tajam) akan sanggup memberi arah (gambaran) tentang macam data yang diperlukan, cara pengolahannya yang cocok, dan memberi batas lingkup tertentu pada temuan yang dihasilkan.

Contoh ungkapan permasalahan yang jelas, tajam, diberikan oleh Sumiarto (1985) yang meneliti dalam bidang perumahan pedesaan. Permasalahan yang dikemukakannya, sebagai berikut:

“Kesimpulan yang dapat ditarik sebagai permasalahan P3D [Perintisan Pemugaran Perumahan Desa] yang dapat memberikan arah pada studi yang akan dilakukan adalah mempertanyakan keberhasilan dari tujuan P3D. Secara lebih spesifik dapat dikemukakan beberapa (sub) permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah setelah menerima bantuan P3D, kondisi mereka akan menjadi lebih baik, dalam arti adanya peningkatan dalam cara bermukin yang lebih baik serta lebih sehat?

  2. Apakah bantuan yang diberikan oleh P3D telah memberikan hasil sesuai seperti yang diharapkan, yaitu penerima bantuan telah memberikan respon yang positif yang berupa tenaga, material, bahkan finansial, sehingga lebih dari apa yang diberikan oleh P3D.

  3. Lebih jauh lagi, apakah P3D telah mampu membangkitkan efek berlifat ganda (multiplier effect), sehingga masyarakat yang tidak meneriman bantuan P3D terangsang secara swadata menyelenggarakan sendiri peningkatan kondisi rumah dan lingkungannya?” (Sumiarto 1985).

Bentuk Rumusan Permasalahan

Contoh pernyataan permasalahan di atas mengambil bentuk satu pernyataan disusul oleh beberapa pertanyaan. Castette dan Heisler (1984) menjelaskan bahwa secara keseluruhan ada 5 macam bentuk pernyataan permasalahan, yaitu:

  1. Bentuk satu pertanyaan (question);

  2. Bentuk satu pertanyaan umum disusul oleh beberapa pertanyaan yang spesifik;

  3. Bentuk satu penyataan (statement) disusul oleh beberapa pertanyaan (question).

  4. Bentuk hipotesis; dan

  5. Bentuk pernyataan umum disusul oleh beberapa hipotesis.

Bentuk Hipotesis nampaknya jarang dipakai lagi pula, biasanya perletakan hipotesis dalam laporan atau usulan penelitian tidak menempati posisi yang biasa ditempati oleh pernyataan permasalahan. Hal yang lain, bentuk pertanyaan seringkali dapat diujudkan (diubah) pula sebagai bentuk pernyataan. Dengan demikian, secara umum, hanya ada dua bentuk pernyataan permasalahan:

  1. Bentuk satu pertanyaan atau pernyataan

  2. Bentuk satu pertanyaan atau pernyataan umum disusul oleh beberapa pertanyaan atau pernyataan yang spesifik (Catatan: kebanyakan permasalahan terlalu besar atau kompleks sehingga perlu dirinci)

Karakteristik Rumusan Permasalahan

Karakteristik rumusan permasalahan atau sub-problema (menurut Leedy, 1997) sebagai berikut:

  1. Setiap rincian permasalahan haruslah merupakan satuan yang dapat diteliti ( a researchable unit ).

  2. Setiap rincian terkait dengan interpretasi data.

  3. Semua rincian permasalahan perlu terintegrasi menjadi satu kesatuan permasalahan yang lebih besar (sistemik).

  4. Rincian yang penting saja yang diteliti (tidak perlu semua rincian permasalahan diteliti)

  5. Hindari rincian permasalahan yang pengatasannya tidak realistik.

Pengertian rumusan makalah adalah sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan pembahasan atau solusi masalah. Rumusan makalah sangat penting di dalam sebuah makalah atau laporan. Untuk merumuskan sebuah rumusan makalah perlu mempelajari arti dari 5W 1H. 5W 1 H adalah bentuk pertanyaan berupa apakah, siapa, mengapa, dimana dan bagaimana. Tetapi paling banyak yang di gunakan adalah apakah dan bagaimana.
Jadi rumusan masalah ialah penjabaran dari identifikasi suatu masalah ialah sebuah pertanyaan lengkap dan terperinci tentang ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi masalah tersebut.
Sebelum merumuskan masalah, sebaiknya melakukan observasi atau pengamatan. Mengamati objek terlebih dahulu, atau menentukan objek yang akan dibedah akar masalahnya apa?
Ada 3 jenis rumusan masalah yaitu deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Di bawah ini adalah pembahasan dari masing-masing jenis rumusan masalah:

1. Rumusan Masalah Deskriptif

Rumusan masalah deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan menyajikan gambaran lengkap suatu masalah atau fenomena. Dalam hal ini deskriptif mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah dan untut yang terlibat. Rumusan masalah ini menjabarkan suatu objek atau fenomena yang diobservasi.
Contoh:

  • Bagaimana reaksi masyarakat terkait penggunaan diksi new normal ?
  • Kenapa Badan Eksekutif Mahasiswa X memberikan pernyataan sikap yang bertentangan dengan aspirasi mahasiswa?

2. Rumusan Masalah Komperatif

Rumusan masalah Komperatif adalah rumusan yang membahas mengenai perbandingan antar variable dengan beberapa variable. Dalam sebuah penelitian ada juga yang membahas mengenai perbandingan suatu variabel untuk menentukan variabel mana yang baik dan di rekomendasikan. Contoh penggunaan rumusan masalah ini dapat digunakan saat melakukan observasi pada beberapa objek.
Contoh:

  • Bagaimana pengaruh pemberian informasi terkait protokol kesehatan menggunakna bahasa daerah dibanding bahasa Indonesia?
  • Seberapa tinggikah tingkat PHK sebelim dan seaudah pandemi?

3. Rumusan Masalah Asosiatif

Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan yang menghubungkan variabel satu dengan yang lain. Berbeda dengan komperatif yang membandingkan, asosiatif ini mencari hubungan variabel yang berkaitan dan memiliki pengaruh.
Contoh:

  • Bagaimana pengaruh penggunaan gadget pada anak balita?
  • Apakah kesehatan mental mahasiswa selama kelas daring mempwngaruh indeks prestasi?

Adapun ciri-ciri rumusan masalah adalah sebagai berikut :

  • Dibuat dalam bentuk kalimat tanya.
  • Dibuat dalam kalimat yang singkat, jelas dan padat.
  • Memberikan petunjuk atau menjadi poin sentral dalam kegiatan penelitian sehingga para peneliti mampu mengumpulkan data dan menjawab pertanyaan yang disampaikan dalam rumusan masalah.
  • Harus mengarahkan cara berpikir kita terhadap suatu permasalahan yang sedang dibahas.
  • Harus memiliki nilai penelitian.
  • Harus memiliki fisibilitas.
  • Masalah yang diangkat sebaiknya sesuai dengan kualifikasi atau kemampuan peneliti.

Lalu bagaimana cara merumuskan masalah?

  1. Tulislah satu kalimat/paragraf pengantar rumusan masalah sebelum pembaca sampai pada rumusan masalah.
  2. Rumusan masalah ditulis dalam bentuk daftar pertanyaan atau paragraf.
  3. Rumusan masalah sering ditulis dengan menanyakan hubungan antar variabel dalam konteks tertentu.
  4. Libatkan kalimat tanya yang relevan seperti bagaimana, apa, dan mengapa.
  5. Akhiri setiap pertanyaan yang spesifik dengan tanda tanya.

Tips dalam membuat rumusan masalah, yakningunakan cara berpikir atau metode berpikir yang skeptis, karena dengan keragu-raguan kita dapat menemukan akar persoalan dari suatu topik atau objek. Selain itu, tetapkan kerangka berpikir yang saintifik, bukan berarti harus ke sains-sains an, tetapi urutann metode ilmiah seperti observasi, rumusan masalah serta pengambilan hipotesa harus runut.
Selain itu beroikir secara filsafat juga bisa menjadi sokusi dalam merumuskan masalah. Namun, berfilsafat itu adalah berpikir, tapi tidak semua yang berpikir itu dikatakan berfilsafat.
Berpikir secara filsafat dapat diartikan sebagai berpikir yang sangat mendalam sampai hakikat,atau berpikir secara global ataupun menyeluruh, atau juga berpikir dapat dilihat dari berbagai sudut pandang pemikiran atau sudut pandang ilmu pengetahuan. Berpikir yang demikian ini sebagai upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Harus sistematis.
Pemikiran yang sistematis ini dimaksudkan untuk menyusun suatu pola pengetahuan yang rasional. Sistematis adalah masing-masing unsur saling berkaitan satu sama dengan lain secara teratur dalam suatu keseluruhan. Sestematis pemikiran seorang filosofis banyak pengaruhi oleh keadan dirinya, lingkungan, zamannya, pendidikan, dan sistem pemikiran yang mempengaruhi.
2. Harus konsepsional.
Secara umum istilah konsepsional berkaitan dengan ide (gambar) atau gambaran yang melekat pada akal pikiran yang berada dalam intelektual. Gambaran tersebut mempunyai bentuk tangkapan sesuai dengan riilnya. Sehingga maksud dari kata konsepsional tersebut sebagai upaya untuk menyusun suatu bagan yang terkonsepsi (jelas).karena berpikir secara berfilsafat sebenarnya berpikir tentang hal dan prosesnya.
3. Harus koheran.
Koheran atau runtut adalah unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian –uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheran atau runtut di dalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaiknya, apabila suatu uraian yang didalamnya tidak memuat kebenaran logis, uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheran/ runtut.
4. Harus rasional.
Maksud rasional adalah unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Artinya, pemikiran filsafat harus di uraikan dalam bentuk yang logis, yaitu suatu bentuk kebenaran yang mempunyai kaidah-kaidah (logika).
5. Harus sinoptik.
Sinoptik artinya pemikiran filsafat harus melihat hal-hal secara menyeluruh atau dalam kebersamaan secara integral.
6. Harus mengarah kepada pandangan dunia.
Maksudnya adalah pemikiran filsafat sebagai upaya untuk memahami semua realitas kehidupan dengan jalan menyusun suatu pandangan (hidup) dunia, termasuk didalamnya menerapkan tentang dunia dan semua hal yang berada di dalamnya (dunia).

Referensi : MAKALAH CARA BERPIKIR FILOSOFIS

Pengertian Rumusan Masalah Makalah dan Cara Membuatnya