Apa yang dimaksud dengan Resolusi Konflik?

image

Konflik dinilai sebagai masalah sosial yang harus ditangani pada sumbernya dan perlu dipecahkan. Inti dari resolusi konflik adalah pemecahan masalah.

Apa yang dimaksud dengan Resolusi Konflik?

Resolusi konflik atau dalam bahasa inggris disebut conflict resolution memiliki pengertian yang berbedabeda. Resolusi dalam Webster dictionary menurut Levine adalah tindakan mengurai suatu permasalahan, melakukan pemecahan, dan penghapusan atau penghilangan permasalahan.

Sedangkan Weitzman dalam Morton and Coleman, mendefinisikan resolusi konflik sebagai sebuah tindakan pemecahan masalah bersama (solve a problem together). Resolusi konflik juga dapat diartikan sebagai usaha untuk menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru yang bisa tahan lama di antara kelompok-kelompok yang berseteru.

Resolusi konflik adalah suatu cara individu atau kelompok untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dengan individu lain atau kelompok lain secara sukarela. Resolusi konflik juga menyarankan penggunaan cara-cara yang lebih demokratis dan kontruktif untuk menyelesaikan konflik dengan memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang berkonflik untuk memecahkan masalah mereka oleh diri mereka sendiri atau dengan melibatkan pihak ketiga yang bijak, netral, dan adil untuk membantu pihak-pihak yang berkonflik guna menyelesaikan masalahnya.

Resolusi konflik merupakan sekumpulan teori dan penyelidikan yang bersifat eksperimental dalam memahami sifat-sifat konflik, meneliti strategi terjadinya konflik, kemudian membuat resolusi terhadap konflik. Dengan kata lain, resolusi konflik dapat diartikan sebagai penyelesaian konflik atau upaya penangan suatu konflik.

Resolusi konflik memiliki tujuan agar kita dapat mengetahui bahwa konflik itu ada dan diarahkan pada keterlibatan berbagai pihak dalam isu-isu mendasar, sehingga dapat diselesaikan secara efektif. Selain itu, agar kita memahami gaya dari resolusi konflik dan mendefinisikan kembali jalan pintas ke arah pembaharuan penyelesaikan konflik.

Resolusi konflik difokuskan pada sumber konflik antara dua pihak, agar mereka bersama-sama mengidentifikasikan isu-isu yang lebih nyata. Selain itu, resolusi konflik dipahami pula sebagai upaya dalam menyelesaikan dan mengakhiri konflik.

Kemampuan Resolusi Konflik


Bodine dan Crawford dalam Jones dan Kmitta, merumuskan beberapa macam kemampuan yang sangat penting dalam menumbuhkan inisiatif resolusi konflik, diantaranya:

  1. Kemampuan orientasi; kemampuan orientasi dalam resolusi konflik meliputi pemahaman tentang konflik dan sikap yang menunjukan anti kekerasan, kejujuran, keadilan, toleransi, dan harga diri.

  2. Kemampuan persepsi; kemampuan persepsi adalah suatu kemampuan seseorang untuk dapat memahami bahwa tiap individu dengan individu yang lainnya berbeda. Mampu melihat situasi seperti orang lain melihatnya (empati), dan menunda untuk menyalahkan atau memberi penilaian sepihak.

  3. Kemampuan emosi; dalam resolusi konflik mencakup memapuan untuk mengelola berbagai macam emosi, termasuk di dalamnya rasa marah, takut, frustasi, dan emosi negatif lainnya.

  4. Kemampuan berfikir kreatif; kemampuan berfikir kreatif dalam resolusi konflik meliputi kemampuan memahami masalah untuk memecahkan masalah dengan berbagai macam alternatif jalan keluar.

  5. Kemampuan berfikir kritis; kemampuan berfikir kritis dalam resolusi konflik, yaitu kemampuan memprediksi dan menganalisis situasi konflik yang sedang dialami.

Pelaksanaan Resolusi Konflik


Dalam kehidupan, konflik adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa dihindarkan. Ketika seseorang menyatakan masalah mereka dan mencari solusinya, konflik menjadi sumberdaya yang berharga dibandingkan sebuah masalah yang harus diselesaikan. Dengan dengan demikian, resolusi konflik adalah suatu metode dan proses terkonsep yang digunakan untuk membantu menyelesaikan konflik dengan damai.

Menurut Forsyth, ada beberapa metode untuk melakukan pelaksanaan resolusi konflik, sehingga dapat mengubah seseorang yang berkonflik menjadi sebuah perdamaian dan penyelesaian yang akur, yaitu:

  1. Commitment=Negotiation; negosiasi adalah proses komunikasi timbal balik yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih untuk mencari tahu masalah-masalah secara lebih spesifik, menjelaskan posisi mereka dan saling bertukar gagasan.

  2. Misperception=Understanding; konflik sering kali terjadi karena kesalahpahaman. Orang-orang sering menganggap bahwa orang lain ingin berkompetisi dengan mereka, namun pada kenyataannya orang lain tersebut hanya ingin bekerjasama dengan mereka. Mereka mengira ketika orang lain tersebut sedang mengkritik mereka secara personal. Mereka percaya bahwa motif orang lain tersebut adalah untuk menguntungkan pihak mereka. Seharusnya, setiap orang harus menghilangkan pola pikir seperti itu dengan cara berkomunikasi secara aktif terkait motif dan tujuan orang lain di dalam diskusi. Komunikasi saja tidak cukup untuk menyelesaikan konflik, tetapi mereka juga membuat kesalahpahaman serta tipu muslihat dapat dinetralisir. Komunikasi dapat membuka peluang seseorang untuk saling percaya, namun itu juga dapat menjadi “boomerang” jika komunikasi itu buruk, oleh karena itu perlu melakukan pola komunikasi yang baik dan benar.

  3. Strong Tactics=Cooperative Tactics; taktik yang jitu akan mampu membuka peluang untuk menyelesaikan sebuah konflik.

  4. Upward=Downward Conflict Spiral; kerjasama yang konsisten di antara orang-orang untuk jangka waktu yang panjang dapat meningkatkan rasa saling percaya. Tetapi, ketika anggota kelompok terus bersaing satu sama lain, rasa saling percaya akan lebih sukar dipahami. Dalam hal ini, bisa dikatakan, bahwa orang akan bisa saling bersaing jika cara hidup mereka diperuntukkan untuk bersaing. Namun, mereka akan bisa bekerjasama, jika mereka memiliki keinginan yang sama untuk bekerjasama.

  5. Many=One; individu yang tidak terlibat dalam konflik, tidak sepatutnya memihak kepada slah satu dari pihak-pihak yang bertikai. Melainkan ia harus menjadi seorang mediator dan menyelesaikan konflik tersebut. Ia juga harus bersikap netral, agar penyelesaian konflik bisa berjalan dengan lancar dan hasil perdamaian bisa didapat.

  6. Anger=composure; ketika keadaan “memanas”, seseorang yang bertentangan harus mampu mengontrol emosinya. Metode yang efektif untuk mengontrol emosi adalah dengan berhitung 1 sampai 10 atau menyampaikan humor atau lelucon. Humor dapat memberikan emosi yang positif dan meredam emosi negatif seperti amarah.

Resolusi konflik adalah setiap upaya yang ditujukan untuk menyelesaikan pertentangan atau perselisihan dalam berbagai lini kehidupan manusia. Sebagaimana dikemukakan oleh Miall bahwa resolusi konflik adalah istilah komprehensif yang mengimplikasikan bahwa sumber konflik yang dalam dan berakar akan diperhatikan dan diselesaikan.

Bentuk-Bentuk Resolusi Konflik

Dahrendorf dalam Putra (2009) menyebutkan ada tiga bentuk pengaturan konflik yang biasa digunakan sebagai resolusi konflik, yakni:

  1. Konsiliasi, di mana semua pihak berdiskusi dan berdebat secara terbuka untuk mencapai kesepakatan tanpa ada pihak-pihak yang memonopoli pembicaraan atau memaksakan kehendaknya masing-masing;

  2. Mediasi, ketika kedua pihak sepakat mencari nasihat dari pihak ketiga (berupa tokoh, ahli atau lembaga tertentu yang dipandang memiliki pengetahuan dan keahlian yang mendalam tentang permasalahan yang dihadapi dalam konflik), nasihat yang diberikan oleh mediator tidak mengikat kedua pihak yang bertikai dalam konflik, hanya sebatas sebagai saran;

  3. Arbitrasi, kedua belah pihak sepakat untuk mendapat keputusan akhir yang bersifat legal dari arbiter sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan konflik (Keethaponcalan, 2017).

Langkah-langkah dalam Resolusi Konflik

Menurut Ury (dalam Suwandono & Ahmadi, 2011) mengusulkan 3 langkah resolusi konflik sebagai berikut.

  1. Menyalurkan berbagai ketegangan yang bersifat laten (tidak begitu nampak) agar tidak terjadi akumulasi ketegangan yang bisa membuat konflik jadi makin besar dan sulit untuk diselesaikan.

  2. Segera menyelesaikan bentuk-bentuk konflik di permukaan. Resolusi dilandasi asumsi proses penyelesaian konflik secara dini, akan menutup kemungkinan proses menguatnya konflik.

  3. Membendung potensi-potensi konflik melalui kebijakan yang responsif dan komprehensif. Dengan mendesain kebijakan ini diharapkan ruang konflik negatif bisa dihindari, dan ruang konflik yang positif tetap bisa dipelihara.

Apabila konflik yang terjadi dalam suatu masyarakat sudah semakin memanas dan menggunakan kekerasan yang fatal maka ada beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam resolusi konflik, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. De-eskalasi dalam bentuk pembendungan, penyekatan, gencatan dan perlucutan senjata di tengah masyarakat yang berkonflik (Pruitt, 2009).

  2. Melakukan segregasi yaitu pemisahan tempat tinggal atas dasar agama/ etnis/ faksi atau unsur lain yang menjadi penyebab konflik dalam jangka waktu pendek ataupun menengah sesuai dengan kondisi konflik yang terjadi (Thiessen & Darweish, 2018).

  3. Rehabilitasi fisik dan mental bagi pihak-pihak yang terdampak konflik untuk membangun kembali sarana fisik maupun non fisik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan yang telah hancur akibat konflik, kemudian menciptakan trauma center untuk pemulihan mental.

  4. Negosiasi politik dan rekontruksi sosial-budaya adalah membangun kembali hubungan sosial, memulihkan kembali ikatan budaya dan tingkat kepercayaan yang telah hancur, menjadi bangunan masyarakat multikultural yang harmonis dan egaliter (Brandt & Mkodzongi, 2018).

  5. Rekonsiliasi adalah program atau kegiatan mediasi kohesi sosial di antara pihak-pihak yang pernah bertikai untuk hidup baru, bersedia menerima dan berhubungan lagi secara damai, sejajar, bertindak adil, mengubah perilaku yang buruk, saling memaafkan dan mau melupakan kepedihan masa lalu untuk menyongsong masa depan yang lebih baik (Rozi dkk, 2006).

Resolusi Konflik sebagai Penyelesaian Konflik

Menurut Galtung (1976) terdapat beberapa cara resolusi konflik yang digunakan dalam proses penyelesaian konflik, yaitu terdiri diri :

  1. Peacemaking

Tahap awal yang harus dilakukan ketika konflik muncul adalah untuk sesegara mungkin menciptakan suatu perdamaian sebelum konflik semakin membesar. Perdamaian dapat diwujudkan dengan daya upaya negosiasi antara kelompok-kelompok yang memliki perbedaan kepentingan di dalamnya (Galtung dalam Jamil, 2007).

  1. Peacekeeping

Peacekeeping sendiri memiliki arti sebagai proses penjagaan keamanan dengan pengakuan masing-masing pihak terhadap perjanjian dan berusaha untuk selalu menjaganya sebagai sebuah perisai dalam penyelesaian konflik yang bisa saja terjadi selanjutnya.

  1. Peacebuilding

Tahap peacebuilding merupakan hal krusial setelah peacemaking dan peacekeeping. Menurut (Galtung: 1996) Berbagai tahap tersebut tidak dapat dipisahkan dari rangkaian resolusi konflik. Peacebuilding diartikan sebagai strategi atau upaya yang mencoba mengembalikan keadaan destruktif akibat kekerasan yang terjadi dalam konflik dengan cara membangun jembatan komunikasi yang baik antar pihak-pihak yang pernah terlibat konflik (Ramsbotham, Woodhouses & Miall, 2015).

Secara singkat, pengertian resolusi konflik adalah suatu proses pemecahan masalah yang komperatif efektif di mana konflik adalah masalah bersama yang harus diselesaikan secara komperatif. Resolusi konflik adalah kerangka kerja intelektual umum untuk memahami apa yang terjadi di dalam konflik dan bagaimana melakukan intervensi di dalamnya. Selain itu, pemahaman dan intervensi dalam konflik tertentu memerlukan pengetahuan khusus tentang pihak yang berkonflik, konteks sosial, aspirasi mereka, orientasi konflik mereka, norma-norma sosial, dan sebagainya.

Implikasi paling penting kedua dari resolusi konflik berkaitan dengan proses-proses kooperatif yang terlibat dalam penyelesaian konflik yang konstruktif. Jantung proses ini adalah pembingkaian ulang konflik sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan (atau dipecahkan) melalui upaya kerjasama bersama.

Penentuan langkah resolusi konflik ditentukan oleh pemahaman tentang konflik sosial. Secara teoretis konflik sosial dipahami dalam dua kutup. Pertama, yang mendudukkan konflik sosial sebagai sesuatu yang rasional, konstruktif, dan berfungsi secara sosial. Kedua, mendudukkannya sebagai sebuah gejala sosial yang irasional, patalogis, dan tidak berfungsi secara sosial (Dougherty dan Pfaltzgraff 1981).

Model pendekatan resolusi konflik juga harus berbasis karakter lokal dapat melibatkan tokoh-tokoh lokal dari masing-masing pihak untuk bertindak sebagai aktor lokal dalam mencari format dalam penyelesaian masalah. Resolusi konflik berbasis warga ( community based ) adalah pelibatan komunitas warga yang terlubat dalam konflik yang harus diberdayakan untuk menjadi aktor pertama dan utama dalam mengelola konflik yang mereka alami sendiri, baik konflik intra kelompok maupun konflik antara kelompok.

Pruitt dan Rubin mengembangkan teori dasar strategi penyelesaian konflik yang disebut dengan dual concer model (model kepedulian rangkap dua). Model ini melacak pemilihan strategi berdasarkan kekuatan kepedulian relatif atas hasil diterima oleh diri sendiri dan hasil yang diterima oleh pihak lain.

  1. Contending (bertanding), segala macam usaha untuk menyelesaikan konflik menurut kemampuan seseorang tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain, pihak-pihak yang menerapkan strategi ini tetap mempertahankan aspirasinya.

  2. Problem solving (pemecahan masalah), meliputi usaha mengidentifikasikan masalah dan mengembangkan serta mengarah pada solusi yang memuaskan kedua belah pihak.

  3. Yielding (mengalah), pihak yang menerapkan strategi ini menurunkan aspirasinya sediri dan bersedia menerima kekurangan dari yang sebetulnya diinginkan. Memang menciptakan solusi, tetapi bukan solusi yang berkualitas tinggi.

  4. Inaction (diam), tidak melakukan apa-apa. Strategi ini biasanya ditempuh untuk mencermati perkembangan lebih lanjut, merupakan tindakan temporer yang tetap membuka kemungkinan bagi upaya penyelesaian kontroversi.

  5. Withdrawing (menarik diri), pihak yang memilih strategi ini memilih untuk meninggalkan situasi konflik, baik secara fisik maupun psikologis secara parmanen.

Adapun upaya-upaya penyelesaian konflik yang relevan dengan topic penelitian diantaranya sebagai berikut:

1. Mediasi

Secara etimologi, istilah mediasi berasal dari bahasa Latin, mediare yang berarti di tengah. Makna ini merujuk pada peran yang diemban oleh para pihak ketiga sebagai mediator dalam menangani dan menyelesaikan konflik antara pihak.

2. Negosiasi

Negosiasi menurut J. Folgberg dan A. Taylor merupakan salah satu strategi dalam penyelesaian konflik, dimana para pihak setuju menyelesaikan persoalan mereka memelalui proses musyawarah atau perundingan.

3. Ajudikasi

Ajudikasi berbeda dengan mediasi yang mana pihak ketiga hanya memberikan pendapat atau rekomendasi.

Resolusi konflik atau dalam bahasa inggris disebut conflict resolution memiliki pengertian yang berbedabeda. Resolusi dalam Webster dictionary menurut Levine adalah tindakan mengurai suatu permasalahan, melakukan pemecahan, dan penghapusan atau penghilangan permasalahan.

Sedangkan Weitzman dalam Morton and Coleman, mendefinisikan resolusi konflik sebagai sebuah tindakan pemecahan masalah bersama (solve a problem together). Resolusi konflik juga dapat diartikan sebagai usaha untuk menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru yang bisa tahan lama di antara kelompok-kelompok yang berseteru.

Resolusi konflik adalah suatu cara individu atau kelompok untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dengan individu lain atau kelompok lain secara sukarela. Resolusi konflik juga menyarankan penggunaan cara-cara yang lebih demokratis dan kontruktif untuk menyelesaikan konflik dengan memberikan kesempatan kepada pihak-pihak yang berkonflik untuk memecahkan masalah mereka oleh diri mereka sendiri atau dengan melibatkan pihak ketiga yang bijak, netral, dan adil untuk membantu pihak-pihak yang berkonflik guna menyelesaikan masalahnya.

Resolusi konflik merupakan sekumpulan teori dan penyelidikan yang bersifat eksperimental dalam memahami sifat-sifat konflik, meneliti strategi terjadinya konflik, kemudian membuat resolusi terhadap konflik. Dengan kata lain, resolusi konflik dapat diartikan sebagai penyelesaian konflik atau upaya penangan suatu konflik.

Resolusi konflik memiliki tujuan agar kita dapat mengetahui bahwa konflik itu ada dan diarahkan pada keterlibatan berbagai pihak dalam isu-isu mendasar, sehingga dapat diselesaikan secara efektif. Selain itu, agar kita memahami gaya dari resolusi konflik dan mendefinisikan kembali jalan pintas ke arah pembaharuan penyelesaikan konflik.

Resolusi konflik difokuskan pada sumber konflik antara dua pihak, agar mereka bersama-sama mengidentifikasikan isu-isu yang lebih nyata. Selain itu, resolusi konflik dipahami pula sebagai upaya dalam menyelesaikan dan mengakhiri konflik.

Kemampuan Resolusi Konflik

Bodine dan Crawford dalam Jones dan Kmitta, merumuskan beberapa macam kemampuan yang sangat penting dalam menumbuhkan inisiatif resolusi konflik, diantaranya:

  1. Kemampuan orientasi; kemampuan orientasi dalam resolusi konflik meliputi pemahaman tentang konflik dan sikap yang menunjukan anti kekerasan, kejujuran, keadilan, toleransi, dan harga diri.

  2. Kemampuan persepsi; kemampuan persepsi adalah suatu kemampuan seseorang untuk dapat memahami bahwa tiap individu dengan individu yang lainnya berbeda. Mampu melihat situasi seperti orang lain melihatnya (empati), dan menunda untuk menyalahkan atau memberi penilaian sepihak.

  3. Kemampuan emosi; dalam resolusi konflik mencakup memapuan untuk mengelola berbagai macam emosi, termasuk di dalamnya rasa marah, takut, frustasi, dan emosi negatif lainnya.

  4. Kemampuan berfikir kreatif; kemampuan berfikir kreatif dalam resolusi konflik meliputi kemampuan memahami masalah untuk memecahkan masalah dengan berbagai macam alternatif jalan keluar.

  5. Kemampuan berfikir kritis; kemampuan berfikir kritis dalam resolusi konflik, yaitu kemampuan memprediksi dan menganalisis situasi konflik yang sedang dialami.

Pelaksanaan Resolusi Konflik

Menurut Forsyth, ada beberapa metode untuk melakukan pelaksanaan resolusi konflik, sehingga dapat mengubah seseorang yang berkonflik menjadi sebuah perdamaian dan penyelesaian yang akur, yaitu:

  1. Commitment=Negotiation; negosiasi adalah proses komunikasi timbal balik yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih untuk mencari tahu masalah-masalah secara lebih spesifik, menjelaskan posisi mereka dan saling bertukar gagasan.

  2. Misperception=Understanding; konflik sering kali terjadi karena kesalahpahaman. Orang-orang sering menganggap bahwa orang lain ingin berkompetisi dengan mereka, namun pada kenyataannya orang lain tersebut hanya ingin bekerjasama dengan mereka. Mereka mengira ketika orang lain tersebut sedang mengkritik mereka secara personal. Mereka percaya bahwa motif orang lain tersebut adalah untuk menguntungkan pihak mereka.

    Seharusnya, setiap orang harus menghilangkan pola pikir seperti itu dengan cara berkomunikasi secara aktif terkait motif dan tujuan orang lain di dalam diskusi. Komunikasi saja tidak cukup untuk menyelesaikan konflik, tetapi mereka juga membuat kesalahpahaman serta tipu muslihat dapat dinetralisir. Komunikasi dapat membuka peluang seseorang untuk saling percaya, namun itu juga dapat menjadi “boomerang” jika komunikasi itu buruk, oleh karena itu perlu melakukan pola komunikasi yang baik dan benar.

  3. Strong Tactics=Cooperative Tactics; taktik yang jitu akan mampu membuka peluang untuk menyelesaikan sebuah konflik.

  4. Upward=Downward Conflict Spiral; kerjasama yang konsisten di antara orang-orang untuk jangka waktu yang panjang dapat meningkatkan rasa saling percaya. Tetapi, ketika anggota kelompok terus bersaing satu sama lain, rasa saling percaya akan lebih sukar dipahami. Dalam hal ini, bisa dikatakan, bahwa orang akan bisa saling bersaing jika cara hidup mereka diperuntukkan untuk bersaing. Namun, mereka akan bisa bekerjasama, jika mereka memiliki keinginan yang sama untuk bekerjasama.

  5. Many=One; individu yang tidak terlibat dalam konflik, tidak sepatutnya memihak kepada slah satu dari pihak-pihak yang bertikai. Melainkan ia harus menjadi seorang mediator dan menyelesaikan konflik tersebut. Ia juga harus bersikap netral, agar penyelesaian konflik bisa berjalan dengan lancar dan hasil perdamaian bisa didapat.

  6. Anger=composure; ketika keadaan “memanas”, seseorang yang bertentangan harus mampu mengontrol emosinya. Metode yang efektif untuk mengontrol emosi adalah dengan berhitung 1 sampai 10 atau menyampaikan humor atau lelucon. Humor dapat memberikan emosi yang positif dan meredam emosi negatif seperti amarah.