© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Resesi gingiva?

Resesi gingiva adalah terbukanya akar gigi oleh karena bergesernya gingiva ke arah apikal

Apa yang dimaksud dengan Resesi gingiva ?

Resesi gingiva dapat mengakibatkan terbukanya akar gigi sehingga terjadi gigi yang sensitif, sehingga karies akar lebih mudah terjadi karena permukaan akar lebih rentan untuk terjadi karies daripada daerah mahkota gigi dan secara estetik sangat mengganggu penderita.

Secara umum terjadinya resesi gingiva disebabkan karena posisi gigi yang menonjol (gambar A), perlekatan otot yang abnormal (gambar B), perawatan ortodontik (gambar C), dan cara menyikat gigi yang tidak tepat (gambar D).

image
Gambar Resesi gingiva

Keterangan
A. Regio anterior bawah mengalami resesi yang parah. Tampak gigi seakan terdorong dari tulang dan gingiva yang tipis terjadi karena akar gigi yang menonjol;
B. Tampak perlekatan otot pada dasar dari resesi. Perlekatan otot menyebabkan tekanan pada jaringan gingiva dan menyebabkan terjadinya resesi yang biasanya timbul pada gigi yang menonjol.
C. Tampak resesi terjadi karena perawatan ortodontik.
D. Tampak resesi akibat cara menyikat gigi yang keliru. (Sumber: Gum recession.)

Selain itu, resesi gingival juga dapat terjadi akibat dan penggunaan gigitiruan sebagian yang tidak adekuat, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

image
Gambar Resesi gingival akibat penggunaan gigitiruan sebagian yang tidak adekuat.

Keterangan
A. Resesi gingiva lingualis di gigi
B. Penempatan retainer yang tidak adekuat. (Sumber: Gum recession.)

Perawatan resesi gingiva

Terapi untuk penderita dengan resesi gingiva, bervariasi menurut besarnya resesi, jenis resesi serta penyebabnya. Terapi dibagi menjadi dua, yaitu terapi bedah dan terapi non-bedah. Terapi bedah dapat dilakukan dengan soft tissue graft maupun bedah flap periodontal (coronally, apically atau laterally).

Sedangkan terapi non- bedah dapat dilakukan dengan pembuatan gingiva tiruan (gingiva artifisial).

Coronally flap dan pembuatan gingiva tiruan.

Untuk kasus yang diterapi dengan tindakan bedah dan non-bedah, dilakukan perawatan awal yaitu skeling, root planning dan evaluasi tingkat kebersihan rongga mulut serta dilakukan DHE.

Prosedur operasi dilakukan dengan tindakan asepsis dengan mengaplikasikan povidone iodine pada daerah operasi, kemudian dilakukan insisi vertikal. Selanjutnya dilakukan insisi horisontal untuk menyatukan insisi vertikal. Pada daerah interdental irisan horisontal dibuat 1 mm koronal dari servikal gigi.

Full thicness flap dibuat hingga mucogingival junction. Dilakukan pemotongan seluruh periosteum yang terdapat pada flap ke arah horisontal pada mucogingival junction. Partial thickness flap (seperti terlihat pada gambar di bawah ini) dibuat pada mukosa apikal dari full thickness flap dan flap dicobakan ke arah koronal tanpa adanya tegangan.

image
Gambar Pembuatan partial thickness flap (A dan B)

Flap ditutupkan kembali kearah koronal dan dijahit (seperti terlihat pada gambar di bawah ini),

image
Gambar A, B, C, Epitel proksimal dibuang kemudian ditarik ke arah koronal tanpa tegangan; D, E, F, Flap dijahit dan hasil setelah kontrol. C D E F

image
Gambar A. Penderita dengan resesi gingiva; B. Penderita menggunakan gingiva tiruan E F A B

Terapi lainnya untuk resesi gingiva yaitu dengan pembuatan gingiva tiruan (gambar 5). Bahan gingiva tiruan yang digunakan adalah bahan soft liner (chairside vinyl polysiloxane resilient denture liner). Bahan tersebut digunakan karena kompatibilitasnya dengan jaringan yang baik serta warna dan teksturnya yang paling mendekati gingiva asli.

Meskipun demikian gingiva tiruan ini harus dilepas pada saat aktivitas makan dan membersihkan rongga mulut. Fungsi utama gingiva tiruan ini adalah fungsi estetik, yaitu menutupi resesi gingiva.

PEMBAHASAN

Resesi gingiva dapat terjadi lokal atau menyeluruh pada semua gigi menyebabkan terbukanya akar gigi yang berakibat dentin menjadi hipersensitif dan gangguan estetik. Kondisi ini menyebabkan rasa nyeri pada penyikatan gigi, makan atau minum yang manis dan asam. Etiologi utama yang berperan untuk terjadinya resesi gingiva, yaitu malposisi dari gigi sehingga posisinya menjadi menonjol, perlekatan frenulum yang tinggi, perawatan ortodontik, dan cara menyikat gigi yang keliru sehingga terjadi abrasi.

Penanganan penderita resesi gingiva dengan tindakan bedah, selain bertujuan menutup daerah resesi juga berfungsi sebagai koreksi estetik, menghentikan kemungkinan resesi yang lebih parah dan mengeliminasi hipersensitivitas dentin. Keberhasilan penanganan secara bedah banyak berkaitan dengan pemilihan teknik operasi, prosedur selama operasi, teknik penjahitan, dan perawatan pasca operasi.

Sedangkan penanganan non-bedah dilakukan dengan menggunakan pembuatan gingiva tiruan. Pembuatan gingiva tiruan dikatakan cukup mudah karena bahan yang digunakan mudah dibentuk sesuai kondisi dalam mulut. Sifat bahan soft liner cukup menguntungkan karena dapat menjadikan gingiva tiruan bersifat lentur sehingga mudah diaplikasi. Gingiva tiruan dapat dengan mudah dipasang dan dikeluarkan dari celah proksimal tanpa menimbulkan rasa nyeri. Sifat lentur ini juga membuat undercut gingiva tiruan berfungsi dengan baik sehingga retensinya cukup baik.

Keunggulan lain adalah warna bahan soft liner sedikit transparan sehingga apabila diaplikasikan pada regio gingiva yang mengalami resesi, warna gingiva tiruan dapat mirip dengan warna gingiva asli. Segi estetik inilah yang membuat gingiva tiruan dipilih sebagai salah satu alternatif pada kasus resesi gingiva. Selain masalah estetik, hal lain yang menguntungkan adalah dapat mengurangi hipersensitivitas dentin. Sedangkan kekurangan teknik ini adalah tidak dapat menutup seluruh permukaan akar, karena tidak dapat menutup permukaan lingual atau palatal, sehingga melalui permukaan ini masih mungkin terpapar secara langsung rangsang dari luar terhadap sensitivitas gigi.

Sumber : Noer Ulfah, Eka Fitria Augustina, Perawatan resesi gingiva dengan bedah dan non-bedah, Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga

Resesi gingiva atau yang lebih dikenal dengan sebutan gusi turun merupakan kondisi kerusakan gusi akibat mengalami penurunan yang mengarah ke arah akar gigi. Akibatnya permukaan akar gigi menjadi terbuka atau terekspos. Padahal seharusnya gusi berfungsi untuk melindungi akar gigi.

Kondisi ini seringkali membuat penderitanya merasakan ngilu atau linu saat terhadap makanan dan minuman yang bersuhu panas atau dingin. Bahkan rasa ngilu juga bisa dirasakan penderitanya saat area yang mengalami resesi gingiva terpapar angin. Terkadang, keluhan gigi sensitif juga bisa dikaitkan dengan penurunan gusi.

Selain menimbulkan keluhan ngilu dan gigi sensitif, resesi gingiva juga bisa menimbulkan keluhan lain. Hal yang juga cukup sering dikeluhkan adalah karies gigi, estetis (mengganggu penampilan), dan perubahan warna gigi.

Jika tidak mendapat penanganan yang tepat, resesi gingiva bisa menimbulkan masalah yang lebih serius. Saat gusi terus menerus dibiarkan mengalami penurunan, gigi lambat laun akan goyang. Pada akhirnya gigi bisa terlepas.

Keluhan resesi gingival lebih sering ditemukan pada orang dewasa –khususnya mereka yang berusia diatas 50 tahun. Sedangkan pada anak-anak, jarang ditemukan kasus penurunan gusi.

Resesi Gigiva


Resesi gingiva merupakan awal terjadinya kerusakan sementum, terbukanya dentin dan ngilu pada dentin. Resesi dapat terjadi karena berbagai alasan. Secara anatomi, sebagian gigi mungkin memiliki gingiva lekat yang sempit. Jika kemudian gingiva lekat yang sempit ini berkurang akibat resesi, maka gingiva yang menutupi dan melindungi daerah servikal gigi akan tinggal sedikit atau hilang sama sekali. Pergeseran gigi juga dapat mengawali kehilangan jaringan gingiva jika tulang alveolar di bagian bukal tipis.

Penggunaan alat pembersih gigi yang berlebihan dan bersifat aberasif dapat mengakibatkan resesi gingiva, namun sikat gigi bukan satu-satunya penyebab kerusakan enamel dan sementum. Gingiva dapat mengalami kerusakan oleh proses perusakan jaringan yang disebabkan oleh periodontitis, necrotizing ulcerative gingivitis (NUG), dan penyakit karena virus seperti HIV. Perawatan penyakit periodontal secara bedah maupun non-bedah dapat mengakibatkan resesi gingiva dan akar terbuka. Prosedur pembedahan dan restoratif tertentu seperti preparasi mahkota, juga dapat mendukung resesi gingiva dan akar terbuka.

Ada anggapan bahwa resesi gingiva merupakan kejadian alami yang berkaitan dengan umur. Pada penelitian dengan sampel sejumlah lebih dari 500 orang dengan umur di atas 65 tahun, 39% permukaan giginya mengalami resesi gingiva. Belum jelas resesi mana yang disebabkan hanya oleh proses umur, karena sulit menghilangkan efek tambahan dari penyikatan gigi, penggunaan alat kebersihan mulut lainnya, dan kebiasaan buruk.

Penyakit periodontal mengakibatkan kehilangan yang cepat dari perlekatan periodontal yang kemudian menyebabkan kehilangan gigi. Kehilangan perlekatan ini tampak terjadi selama periode kerusakan aktif yang bergantian dengan periode penyembuhan. Proses perusakan sering tanpa rasa sakit, sehingga tidak terdeteksi kecuali didiagnosis secara professional. Walaupun demikian, penderita dengan penyakit periodontal yang progresif lebih sering pergi ke dokter gigi bukan karena sakit, tetapi lebih karena alasan estetik yang disebabkan oleh penyakit. Penderita mungkin melaporkan adanya perdarahan atau kemerahan pada gingiva, migrasi atau ekstrusi gigi, halitosis, resesi yang mengganggu atau ada ruangan di antara gigi-gigi. Semua tersebut di atas merupakan keluhan sekunder, sedangkan masalah kosmetik merupakan keluhan utama dan motivasi penderita untuk mencari perawatan gigi.

Resesi gingiva merupakan bagian dari cacat gingiva yang sering ditemukan. Prevalensi, perluasan, dan keparahan resesi gingiva bertambah sesuai umur dan lebih sering terjadi pada laki-laki. Penderita sering terganggu oleh resesi karena bermasalah pada rasa ngilu dan estetika.

Definisi

Secara klinis, resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar karena pergeseran posisi gingiva ke arah apikal. Posisi actual adalah letak dari perlekatan epitel, sedangkan posisi apparent menunjukkan letak dari kres gingival margin pada permukaan gigi. Tingkat keparahan resesi ditentukan oleh posisi actual dari gingiva, bukan pada posisi apparent .

Etiologi

Resesi gingiva bertambah seiring bertambahnya umur, insidensinya bervariasi dari 8% pada anak-anak hingga 100% pada umur setelah 50 tahun.7 Hal ini menunjukkan adanya asumsi bahwa resesi merupakan pergeseran fisiologis dari perlekatan gingiva.8 Pergeseran yang berangsur-angsur lebih sering akibat dari efek kumulatif minor pathologic involvement dan minor direct trauma pada gingiva. Pada sebagian masyarakat resesi terjadi tanpa ada hubungan dengan pemeliharaan gigi, tetapi resesi dapat merupakan akibat dari penyakit periodontal.

Faktor-faktor berikut ini ada kaitannya sebagai penyebab resesi gingiva seperti kesalahan teknik penyikatan gigi yang mengakibatkan aberasi pada gingiva10, peradangan gingiva, perlekatan frenum abnormal, dan iatrogenic dentistry . Trauma oklusi dahulu dianggap berpengaruh, tetapi mekanisme terjadinya belum pernah diperlihatkan. Seperti gigitan dalam yang dikaitkan dengan radang gingiva dan resesi. Incisal overlap yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan pada gingiva. Pergerakan ortodontik ke arah labial yang diteliti pada kera mengakibatkan kehilangan perlekatan jaringan ikat dan tulang marjinal, disertai resesi gingiva.

Prosedur pembersihan mulut sehari-hari, baik penyikatan gigi maupun pemakaian benang gigi dapat mengawali kerusakan gingiva yang sedikit dan berulang-ulang. Walaupun penyikatan gigi penting untuk kesehatan gingiva, tetapi teknik penyikatan gigi yang salah atau menggunakan sikat gigi dengan bulu yang keras dapat menimbulkan kerusakan yang berarti. Jenis kerusakan ini dapat berupa laserasi, aberasi, keratosis, dan resesi, yang paling sering terkena adalah marginal gingiva bagian fasial. Pada kasus-kasus tersebut resesi cenderung lebih sering dan parah pada penderita dengan gingiva yang secara klinis sehat, plak sedikit, dan kebersihan mulut baik.

Kepekaan terhadap resesi juga dipengaruhi oleh posisi gigi dalam lengkung rahang, sudut akar gigi terhadap tulang, dan kontur permukaan gigi mesio-distal. Pada gigi yang rotasi, miring, dan terletak fasial, lempeng tulang tipis dan tingginya berkurang. Tekanan pengunyahan atau penyikatan gigi biasa dapat merusak gingiva yang tidak mendapat dukungan, dan mengakibatkan resesi. Efek sudut akar terhadap tulang yang mengalami resesi sering tampak pada daerah molar rahang atas. Jika inklinasi lingual akar palatal menonjol atau akar bukal melebar keluar, tulang di daerah servikal menipis dan memendek, resesi dapat terjadi pada marginal gingiva yang tipis.

Kesehatan jaringan gingiva juga tergantung pada disain dan penempatan bahan-bahan restorasi yang memadai. Tekanan dari gigi tiruan sebagian dengan disain buruk, seperti cengkeram gigi tiruan yang tidak tepat, dapat mengakibatkan trauma dan resesi gigiva.16 Restorasi gigi yang mengemper ( overhanging ) adalah faktor pendukung timbulnya gingivitis karena sebagai tempat retensi plak. Disamping itu merupakan kesepakatan umum bahwa penempatan tepi restorasi sedalam lebar biologis sulkus gingiva sering mendorong terjadinya radang gingiva, kehilangan perlekatan, dan bahkan kerusakan tulang. Secara klinis, penyimpangan terhadap lebar biologis dapat bermanifestasi sebagai radang gingiva, pendalaman poket periodontal, dan resesi gingiva.

Merokok kemungkinan ada kaitannya dengan resesi gingiva. Mekanismenya bersifat multifaktor, seperti aliran darah ke gingiva yang berkurang dan perubahan respon imun.

Pada masa lalu, perawatan bedah periodontal terutama prosedur pemotongan seperti gingivektomi, ostektomi, dan penempatan gingival margin ke apikal, diharapkan menghasilkan pengurangan poket dan resesi gingiva. Pada kenyataannya, sering mengakibatkan penambahan resesi dan radang gingiva, ngilu pada akar, karies akar, dan komplikasi estetika (gigi memanjang).

Pengertian Klinis

Berbagai aspek resesi gingiva mempunyai kepentingan secara klinis. Permukaan akar terbuka rentan terhadap karies. Aberasi dan erosi sementum yang terbuka karena resesi meninggalkan permukaan dentin di bawahnya yang menimbulkan rasa ngilu. Hiperemia pulpa dan gejala yang berkaitan dapat berasal dari permukaan akar yang terbuka berlebihan. Resesi interproksimal menimbulkan masalah untuk pembersihan mulut dan mengakibatkan akumulasi plak.

Perubahan Kontur Gingiva

Suatu kelainan juga terjadi pada gingival margin yang disebut sebagai Stillman’s clefts dan McCall festoons . Istilah “ Stillman’s clefts ” digunakan untuk menguraikan jenis spesifik dari resesi gingiva yang berbentuk segitiga dan sempit. Seiring berkembangnya resesi gingiva ke arah apikal, cleft menjadi lebih lebar, hingga sementum terbuka dari permukaan akar. Jika lesi mencapai garis mukogingiva, batas apikal mukosa mulut biasanya mengalami peradangan karena sulit menjaga kontrol plak yang memadai di daerah ini. Istilah “ McCall festoons ” digunakan untuk menguraikan keadaan tepi gingiva yang membulat dan menebal, biasanya terlihat pada daerah gigi kaninus jika resesi mencapai garis mukogingiva. Pada mulanya, Stillman’s clefts dan McCall festoons dikaitkan dengan trauma oklusi, dan perawatan yang dianjurkan adalah penyesuaian oklusi. Tetapi kaitan ini tidak pernah dibuktikan, dan kondisi ini sekadar mewakili peradangan yang khas dari marginal gingiva.6

Klasifikasi

Pada tahun 1960an, Sullivan dan Atkins18 mengklasifikasikan resesi gingiva menjadi 4 golongan secara morfologis:

  1. Dangkal-sempit,
  2. Dangkal-lebar,
  3. Dalam-sempit,
  4. Dalam-lebar.

Klasifikasi tersebut membantu menggolongkan lesi lebih baik, tetapi tidak mampu membantu klinikus memperkirakan hasil perawatan.

Kemampuan memperkirakan keberhasilan penutupan akar dapat ditambah dengan pemeriksaan prabedah dan hubungannya dengan resesi dengan menggunakan klasifikasi yang diajukan oleh Miller, yaitu:

  1. Resesi tepi jaringan tidak meluas ke garis mukogingiva. Tidak ada kerusakan tulang ataupun jaringan lunak di daerah interdental. Jenis resesi ini dapat sempit atau lebar.

  2. Resesi tepi jaringan meluas sampai atau keluar garis mukogingiva. Tidak ada kerusakan tulang ataupun jaringan lunak di daerah interdental. Jenis resesi ini dapat disubgolongkan sebagai lebar dan sempit.

  3. Resesi tepi jaringan meluas sampai atau keluar garis mukogingiva. Terdapat kerusakan tulang dan jaringan lunak di daerah interdental, atau keadaan gigi malposisi.

  4. Resesi tepi jaringan meluas sampai atau keluar garis mukogingiva. Terdapat kerusakan tulang dan jaringan lunak yang parah di daerah interdental atau terdapat gigi malposisi yang parah.

Pada umumnya prognosis untuk kelas 1 dan 2 baik dan sempurna; sedangkan untuk kelas 3 hanya penutupan sebagian yang dapat diharapkan. Kelas 4 memiliki prognosis yang sangat buruk jika dilakukan perawatan dengan teknik yang ada sekarang ini.

PERAWATAN

Resesi gingiva yang berkaitan dengan permukaan akar terbuka merupakan fenomena komplek yang menimbulkan tantangan untuk berbagai perawatan bagi para klinikus. Resesi dapat bersama-sama dengan timbulnya karies akar dan aberasi jaringan gigi, dan penderita mungkin mengeluh mengenai estetik atau timbulnya rasa ngilu. Salah satu tujuan dari perawatan periodontal adalah memperbaiki kehilangan perlekatan jaringan pada gigi. Telah terbukti bahwa berbagai cara prosedur regenerasi jaringan periodontal berpotensi memperbaiki resesi gingiva melalui penambahan ukuran lebar dan tinggi gingiva lekat yang berkeratin, serta mencapai penutupan akar, baik secara sempurna maupun sebagian. Sebagian besar prosedur ini ini berupa teknik cangkok ( graft ) bedah plastik periodontal (mukogingival).

Berbagai teknik bedah telah diperkenalkan untuk merawat resesi gingiva, termasuk cangkok jaringan ikat ( connective tissue grafting /CTG); berbagai disain flep; ortodontik; dan guided tissue regeneration (GTR). 20 Tindakan bedah diikuti dengan perawatan periodontal konvensional seperti skeling dan penghalusan akar dikombinasi dengan prosedur perawatan kontrol plak di rumah yang memadai telah menunjukkan pengurangan keradangan. Selain itu berkurangnya warna kemerahan, perdarahan, dan eksudat disertai pengerutan gingiva, dapat meningkatkan estetika gingiva. Sementum yang terbuka menyerap endotoksin plak bakteri dan mengalami perubahan permukaan; dengan skeling dan penghalusan akar mampu mengurangi endotoksin.

Penambahan Gingiva ke Apikal

Pencangkokan gingiva, baik pedicle maupun free , ditempatkan pada daerah resipien di sebelah apikal dari tepi resesi gingiva. Penutupan permukaan akar yang terbuka tidak dapat dicapai jika masih ada resesi tulang dan gingiva. Teknik penambahan gingiva ke apikal daerah resesi dapat dilakukan dengan free gingival autograft, free connective tissue autograft, andilakukan dengand apically positioned flap .

Penambahan Gingiva ke Koronal

Berbagai teknik dan disain flep telah digunakan untuk mendapatkan keberhasilan penutupan akar; sebagian di antaranya tidak membutuhkan jaringan donor ( pedicle graft ), sebagian yang lain membutuhkan ( free autogenous grafts ). Sering sulit mengantisipasi tingkat keberhasilan prosedur penutupan akar, karena penutupan tergantung berbagai faktor, termasuk klasifikasi dan lokasi resesi serta teknik yang digunakan. Dimensi gingiva yang paling sering dikaji adalah ketinggiannya, yaitu jarak antara tepi jaringan ikat lunak dan garis mukogingiva yang diukur dalam millimeter. Adanya penambahan tinggi gingiva dianggap berhasil dalam prosedur penambahan gingiva, tidak tergantung dari jumlah millimeter yang dicapai.

Graf pedicle berbeda dengan graf free autogenous soft-tissue , pada graf pedicle, dasar flep mengandung pembuluh darahnya sendiri yang memberi nutrisi pada graf dan memudahkan penetapan kembali penyatuan pembuluh darah dengan resipien. Graf pedicle dapat dicapai dengan ketebalan penuh ataupun sebagian.

Berikut ini teknik yang digunakan untuk penambahan gingiva ke koronal dari daerah resesi (penutupan akar):

  1. Free gingival autograft ,
  2. free connective tissue autograft ,
  3. Pedicle autografts ( laterally/ horizontally positioned flap, coronally positioned flap ),
  4. Subepithelial connective tissue grat ,
  5. Guided tissue regeneration (GTR),
  6. Pouch and tunnel technique .
Referensi :
  1. Absi EG, Addy M, Adams D: Dentine hypersensitivity: The effect of toothbrushing and dietary compounds on dentine in vitro, J Oral Rehab 19:101-10, 1992.
  2. Davis WB: The cleansing, polishing and abrasion of teeth by dental products. Cosmetic Sci 1:39-81, 1978.
  3. Beck JD, Hunt RJ, Hand JS, Field HM: Prevalence of root and coronal caries in a non-institutionalized older population, J Amer Dent Assoc 111:964-67, 1985.
  4. Froum STJ: Gingival Recession: Prevalence, Etiology, Prevention, Treatment, The National News Magazine for Dentist 4:6, 1985.
  5. Albandar JM, Brunelle JA, Kingman A: Destructive periodontal disease in adults 30 years of age and older in the United States, 1988-1994, J Periodontol 70:13, 1999.
  6. Fiorellini JP, Kim DM, and Ishikawa SO: Clinical Features of Gingivitis. In Carranza’s Clinical Periodontology . Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, & Carranza FA (Editor). 10th Ed. Saunders. Philadelphia; 2006: 362-372.
  7. Woofter C: The prevalence and etiology of gingival recession, Periodontal Abstr 17:45, 1969.
  8. Loe H: The structure and physiology of the dentogingival junction. In Miles AE, editor: Structural and chemical organization of teeth , vol 2 New York, 1967, Academic Press.
  9. Loe H, Anerud A, Boysen H: The natural history of periodontal disease in man: prevalence, severity, and extent of gingival recession, J Periodontol 63:489, 1992
  10. Sognaes RF: Periodontal significance of intraoral frictional ablation, J West Soc Periodontol Periodontal Abstr 25:112, 1977.
  11. Steiner GG, Pearson JK, Ainamo J: Changes of the marginal periodontium as a result of labial tooth movement in monkeys, J Periodontol 52:314, 1981.
  12. Danser MM, Timmerman MF, Ijzerman Y, et al: Evaluation of the incidence of gingival abrasion as a result of tooth brushing, J Clin Periodontol 25:701, 1998.
  13. Rawal SY, Claman LJ, Kalmar JR, et al: Traumatic lesions of the gingival: a case series, J Periodontol 75:762, 2004.
  14. O’Leary TJ, Drake RB, Crump PP, et al: The incidence of recession in young males: further study, J Periodontol 42:264, 1971.
  15. Trott JR, Love B: An analysis of localized gingival recession in 766 Winnipeg High School students, Dent Pract Dent Rec 16:209, 1966.
  16. Zlataric DK, Celebic A, Valentic-Peruzovic M: The effect of removable partial dentures on periodontal health of abutment and non-abutment teeth, J Periodontol 73:137, 2002.
  17. Gunsolley JC, Quinn SM, Tew J, et al: The effect of smoking on individuals with minimal periodontal destruction, J Periodontol 69:165, 1998.
  18. Sullivan HC and Atkins JC: Free autogenous gingival grafts in the treatment of gingival recession, Periodontics 6:152, 1968.
  19. Miller PD Jr: A classification of marginal tissue recession, Int J Periodont Restor Dent 5:9, 1985.
  20. Kassab MM and Cohen RE: Treatment of gingival recession, J Am Dent Assoc 133(11): 1499-1506, 2002. PubMed
  21. Nishimine D, O’Leary TJ: Hand instrumentation versus ultrasonics in the removal of endotoxin from roots of periodontally diseased teeth, J Periodontol 50: 345-349, 1979
  22. Takei HH, Azzi RR, and Han TJ: Periodontal Plastic and Esthetic Surgery. In Carranza’s Clinical Periodontology . Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, & Carranza FA (Editor). 10th Ed. Saunders. Philadelphia; 2006: 1005-29.
  23. Wennström JL, Zucchelli J: Increased gingival dimensions: a significant factor for successful outcome of root coverage procedures? A 2-year prospective clinical study, J Clin Periodontol 23: 770–7, 1996. [Medline]
  24. Pfeifer J, Heller R: Histologic evaluation of full and partial thickness lateral repositioned flaps: a pilot study, J Periodontol 42: 331–3, 1971. [Medline]
  25. Greene PR: The flexible gingival mask: an aesthetic solution in periodontal practice. British Dental Journal 184(11): 536-540, 1998.
1 Like