Apa yang Dimaksud Dengan Realisme Neoklasik Dalam Hubungan Internasional?

realisme neoklasik
Pemikiran neorealisme menitikberatkan kajiannya pada posisi negara dalam sistem internasional sebagai faktor yang paling menentukan perilaku negara. Apa yang Dimaksud Dengan Realisme Neoklasik Dalam Hubungan Internasional?

Pemikiran neorealisme menitikberatkan kajiannya pada posisi negara dalam sistem internasional sebagai faktor yang paling menentukan perilaku negara. Menurut realisme struktural ini, tujuan utama negara adalah survival atau mempertahankan keberlangsungannya dalam sistem internasional yang bersifat anarkis. Tiap-tiap negara tidak dapat memastikan intensi negara lainnya dalam ketiadaan otoritas yang melampaui negara dalam lingkungan internasional. Oleh karenanya, negara akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kapabilitas militernya dalam melindungi dirinya masing-masing dari segala bentuk ancaman.

Definisi Realisme Neoklasik

Realisme Neoklasik (RN) atau “ postclassical realism ” adalah salah satu varian Realisme. Ditinjau dari tradisi pemikiannya, teori ini ingin menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran para penganut mazhab Realisme Klasik. RN mengklaim bahwa Neorealisme yang digagas Kenneth Waltz gagal dalam menjelaskan perilaku negara secara individual.

Neorealisme adalah teori mengenai politik internasional, bukan teori politik luar negeri. Sebagai bangunan pemikiran yang memperlakukan struktur internasional sebagai satu-satunya variabe independen, Neorealisme hanya hirau dengan interaksi antar negara dan berbagai implikasinya.

Bagi kelompok neorealis, perimbangan kekuatan merupakan law of nature dan negara-negara akan saling mengimbangi satu sama lain karena keadaan struktural mendorong mereka.

Dalam kerangka neorealisme, terdapat dua langkah negara dalam menghadapi ancaman, yakni balancing dan bandwagoning . Balancing merupakan upaya negara untuk mengimbangi sumber ancaman dengan membentuk aliansi dengan negara-negara lainnya dalam menghadapi negara target, sedangkan bandwagoning dilakukan dengan melakukan aliansi dengan sumber ancaman tersebut. Adapun internal balancing dilakukan negara dengan melakukan peningkatan kapabilitas pertahanannya sendiri, sedangkan external balancing dilakukan dengan menjalin aliansi dengan negara lain. Meskipun demikian, kajian neorealisme ini bukan merupakan instrumen untuk menganalisis kebijakan luar negeri suatu negara secara khusus.

Realisme neoklasik berupaya menggabungkan pemikiran keduanya, yakni dengan memperhitungkan unsur politik domestik dan juga lingkungan eksternal suatu negara. Ambisi dan ruang lingkup kebijakan luar negeri ditentukan oleh posisi negara tersebut dalam sistem internasional serta kekuatan relatifnya. Bagaimanapun, implikasi dari kapabilitas power tersebut bersifat kompleks, dan hanya dapat dijelaskan melalui intervening variable pada level unit. Pilihan kebijakan luar negeri akan ditentukan oleh para pengambil kebijakan dan elit politik. Neoclassical realism berupaya menjelaskan mengapa tiap-tiap negara mengambil strategi yang berbeda dalam arena internasional.

Kebijakan luar negeri suatu negara sangat dipengaruhi oleh persepsi pemimpin serta struktur negara tersebut dalam sistem internasional. Perspektif ini berupaya untuk menjelaskan varian kebijakan luar negeri dari suatu negara dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, hipotesis realis neoklasik dapat menjelaskan kemungkinan respon militer, ekonomi maupun diplomatik dari negara tertentu terhadap sistem, namun tidak mampu menjelaskan konsekuensi sistemik dari respon-respon tersebut.

Realisme neoklasik menitikberatkan pada beberapa elemen yang menentukan kebijakan luar negeri, pertama, pandangan ini secara khusus membahas mengenai strategi negara-negara besar, namun dapat juga diterapkan pada negara kecil dan menengah, kedua, mengikutsertakan variabel eksternal dan internal negara dalam modelnya. Hal ini karena ancaman dapat berasal dari lingkungan eksternal maupun internal suatu negara. Selain itu, pihak eksekutif kebijakan luar negeri ( Foreign Policy Executive /FPE) berada di tengah-tengah antara politik domestik dan internasional. Ketiga, pandangan ini menempatkan kepemilikan power sebagai faktor yang paling menentukan dalam politik. Keempat, tidak ada faktor penghubung sempurna yang menghubungkan kapabilitas material dan perilaku kebijakan luar negeri.

Sedangkan dalam pandangan realisme neoklasik, terdapat beberapa strategi negara dalam menghadapi ancaman. Contoh penggunaan kerangka realisme neoklasik, adalah gagalnya Indonesia melakukan balancing terhadap Tiongkok karena disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Secara internal, mispersepsi dan ketiadaan elite consensus di kalangan eksekutif yang menjadi faktor penyebabnya. Sedangkan, dari lingkungan eksternal, sikap ambivalen Tiongkok terhadap Indonesia juga mempengaruhi perilaku underbalancing dari Indonesia.

Perbedaan Neorealisme dan RN menurut Jefrey W. Taliafero:

Realisme Ofensif

Karakter sistem interasional yang anarki memaksa negara memperbesar power , karena hanya dengan jalan itu negara bisa bertahan. John J. Mearsheimer, tokoh terkemuka aliran ini berpendapat, secara prinsipil terdapat tiga pola utama perilaku negara yaitu: fear, self help, dan power maximation . Mearsheimer mengemukakan bahwa dalam interaksi antar negara, perasaan saling takut adalah inheren, oleh karena itu supaya keamanan terjamin negara mutlak mementingkan diri sendiri. Lebih dari itu, untuk menjamin keamanan jangkan panjang, negara dituntut memaksimalkan power (kapabilitas militer) secara relatif terhadap negara lain. satu hal yang paling menonjol dari RO adalah premis bahwa anarki memberikan insentif yang sangat besa bagi negara-negara untuk melakukan agresi.

RN menantang metodologi klasik bahwa untuk menjelaskan output politik luar negeri suatu negara hanyalah perlu fokus pada salah satu level analisis saja. Interdependensi yang kian pesat, pengejaran tujuan negara melalui politik luar negeri tidak bisa dipisahkan antara faktor eksternal dan faktor internal. Tujuan dan strategi negara untuk mengejar kepentingan nasionalnya terdiri atas dua macam: tujuan di panggung politik internasional yang ditempuh melalui strategi domestik dan tujuan domestik yang ditempuh melalui strategi internasional.

Realisme Defensif

Jika RO percaya bahwa struktur internasional secara otomatis mendorong negara mengakumulasi power , para pendukung RD berpendapat bahwa struktur internasional hanya memicu maksimalisasi power dalam kondisi tertentu. RD menambahkan faktor-faktor seperti politik domestik, persepsi elit dan institusi internasional. Faktor-faktor ini turut berperan penting dalam menerjemakan dorongan-dorongan atau stimulus-stimulus yang berasal dari lingkungan internasional menjadi kebijakan luar negeri.

Meskipun sama-sama berpandangan realis, RD menolak anggapan bahwa dalam suasana anarki, kerjasama mustahil dilakukan, dan kalaupun bisa akan sangat sulit terjadi. Hal ini dikarenakan negara-negara menganut prinsip perolehan relatif ( relative gain ), yaitu apa yang telah didapat aka selalu dibandingkan dengan perolehan negara lain. jangan sampai keuntungan yang diperoleh pihak lawan lebih besar, yang akan berpengaruh terhadap kekuasaan relatif sehingga menimbulkan ancaman. Artinya, perolehan piak lain yang lebih besar membuka kemungkinan untuk ditransfer menjadi peningkatan power yang berakibat timbulnya kerawanan pihak lain (dilema kekuasaan).

Ketika harus mengambil kebijakan yang ekspansionis, negara cenderung mempertahankan statusnya sehingga mengurangi efek dilema keamanan akibat kebijakan espansif yang bisa membahayakan negara lain. untuk menjamin keamanan, negara harus menggunakan strategi-strategi moderat daripada ekspansionis.

Sumber:

https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/trans/article/view/691/565