Apa yang dimaksud dengan Psikologi Islam ?


( Aurora Ridha Zetana) #1

Psikologi Islam

Psikologi berhubungan erat dengan kaidah dan akidah agama, antara lain mengenai sampai berapa jauh suatu ilmu mempunyai manfaat dan menghindarkan dari madharatnya, diteliti, dipublikasi, dan ditetapkan.

Apa yang dimaksud dengan Psikologi Islam ?


(wahyu musa gunawan ) #2

Psikologi Islami mengkaji jiwa dengan memperhatikan badan. Keadaan tubuh manusia bisa jadi merupakan cerminan jiwanya. Ekspresi badan hanyalah salah satu fenomena kejiwaan. Dalam merumuskan siapa manusia itu, psikologi Islami melihat manusia tidak semata-mata dari perilaku yang diperlihatkan badannya. Bukan pula berdasarkan spekulasi tentang apa dan siapa manusia. Psikologi Islami bermaksud menjelaskan manusia dengan memulainya dengan merumuskan apa kata Tuhan tentang manusia.

Fenomena manusia dapat di ketahui salah satunya melalui kepribadiannya. Kepribadian menggambarkan tingkah laku, menentukan dan mengkategorikan sifat-sifat dan tipologi-tipologi khas individu dan aspek-aspek kejiwaan tertentu yang menentukan sifat dan tipologinya. Tipologi merupakan salah satu pendekatan (approach) psikologi kepribadian yang didasarkan atas tipe-tipe manusia tertentu, padahal dalam psikologi kepribadian masih terdapat pendekatan lain yang masih digunakan, seperti pendekatan penyifatan (trait approach).

Sedangkan makna kepribadian sangat ditentukan oleh konsep- konsep empirik tertentu yang merupakan bagian dari teori kepribadian. Konsep-konsep empirik disini meliputi dasar-dasar pemikiran mengenai wawasan, landasan fungsi-fungsi, tujuan, ruang lingkup dan metodologi yang dipakai perumus. Oleh sebab itu, tidak satupun definisi dilatarbelakangi oleh konsep-konsep empiris yang berbeda-beda.

Dalam Psikologi Islam, kepribadian manusia setidaknya terbagi menjadi tiga aspek.

  • Pertama, aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas khas kemanusiaan, berupa pikiran, perasaan, kemauan, dan kebebasan. Aspek ini merupakan persentuhan antara aspek jismiah dengan aspek rohaniah. Aspek ini mewadahi kedua aspek yang saling berbeda, dan mungkin berlawanan itu.

  • Kedua, aspek jismiah dengan karakteristik utamanya yang bersifat empiris, konkret, indrawi, mekanistik dan determenistik.

  • Ketiga, aspek rohaniah bersifat spiritual, transenden, suci, bebas, tidak terikat pada hukum dan prinsip alam dan cenderung kepada kebaikan. Keduanya saling berbeda dan berlawanan, tetapi keduanya juga saling membutuhkan. Sebab aspek jismiah akan hilang daya hidupnya apabila tidak memiliki aspek ruhaniah, aspek rohaniah tidak akan mewujud secara konkret tanpa aspek jismiah. Disinilah aspek nafsiah berada, yaitu berada diantara dua aspek yang berbeda itu dan berusaha mewadahi kedua kepentingan yang berbeda.

Secara khussu, Aspek nafsiah memiliki tiga dimensi utama, yaitu dimensi al-nafsu, al-‘aql, dan al-qalb. Ketiga dimensi inilah yang menjadi sarana bagi aspek nafsiah ini untuk mewujudkan peran dan fungsinya.

Berikut ini akan dijelaskan ketiga dimensi itu.

  • Dimensi an-nafsu
    Dimensi ini adalah dimensi yang memiliki sifat-sifat kebinatangan dalam sistem psikis manusia. Namun demikian ia dapat diarahkan kepada kemanusiaan setelah mendapat pengaruh yang besar dari dimensi lainnya, seperti al’aql dan al-qalb, ar-ruh dan al-fitrah.
    Prinsip kerjanya berusaha untuk mengejar kenikmatan dan berusaha untuk mengumbar dorongan-dorongan agresif dan seksual. Prinsip kerja nafsu ini bersamaan dengan prinsip kerja binatang, baik binatang buas maupun binatang jinak. Binatang buas memiliki dorongan agresif (menyerang), sementara binatang jinak memiliki dorongan seksual.

  • Dimensi al’aql
    Dimensi akal adalah dimensi psikis dari aspek nafsiah yang berada diantara dua dimensi lainnya yang saling berbeda dan berlawanan, yaitu berada diantara dimensi an-nafsu dan dimensi al- qalb. Ia menjadi pewadah dan penengah kepentingan kedua dimensi yang berbeda itu. Dimensi an-nafsu yang memiliki sifat kebinatangan, sementara dimensi al-qalb yang memiliki sifat dasar kemanusiaan dan berdaya cita rasa. Dalam kedudukannya seperti itulah, akal menjadi perantara dan penghubungan antara kedua dimensi tersebut. Dimensi ini memiliki peranan penting berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insaniyah pada psikis manusia.

  • Dimensi al-qalb
    Dimensi qalb adalah dimensi psikis yang ketiga dan aspek nafsiah. Dimensi ini memiliki peranan yang sangat penting dalam memberikan sifat insaniyah (kemanusiaan) bagi psikis manusia. Ini dapat dipahami dari banyaknya istilah lain yang semakna dengan al-qalb yang mengandung makna tersebut. Diantaranya adalah

    1. As-Sadr yaitu perasaan was was.
    2. al-qalb merupakan tempat iman,
    3. asy-syaghaf, yaitu tempat cinta,
    4. al-fu’ad, yang dapat memelihara kebenaran,
    5. habat al-qalb, yaitu tempat cinta dan kebenaran,
    6. as-suwida, yaitu tempat ilmu dan agama,
    7. mahajah al-qalb, yang merupakan manifestasi sifat-sifat Allah ,
    8. al-damir, yang merupakan tempat merasa dan daya rekoleksi (al-quwwah al-latifah), dan (as-sirr, sebagai bagian qalb yang paling halus dan rahasia.

    Dari sudut fungsi al-qalb memiliki sedikitnya tiga fungsi sebagai berikut:

    1. Fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta, seperti berfikir (aql), memahami (fiqh) mengetahui (‘ilm), memperhatikan (dabr), mengingat (zikr), dan melupakan (gulf)

    2. Fungsi emosi yang menimbulkan daya rasa, seperti tenang (tama’ninah), jinak atau sayang (ulfah), senang (ya’ba) dan lain sebagainya.

    3. Fungsi konasi yang menimbulkan daya karsa, seperti berusaha (kasb)

Jiwa manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang telah ada dalam potensi asal dan pengaruh eksternal dari lingkungannya. Perpaduan antara apa yang ada dalam diri manusia dan pengaruh eksternal akan melahirkan kondisi jiwa yang berbeda-beda antara manusia satu dengan manusia yang lain. Bila sesuatu yang sudah ada dalam jiwa itu bertemu dengan dunia eksternal positif, maka jiwa akan bertumbuh kembang menjadi jiwa yang positif, sehat dan kuat. Sebaliknya, bila kondisi dalam yang secara alami positif itu tidak mendapat dukungan positif dari lingkungan, maka jiwa bertumbuh kembang tidak secara optimal, diantaranya berkembanglah apa yang disebut hawa nafsu, atau syahwat, dan karenanya akan lahir berbagai perbuatan yang negatif bahkan destruktif.

Teori Psikologi al-Ghazali tentang hubungan antara jiwa dan tingkah laku lahiriah adalah sejalan dengan teori psikologi modern. Menurut Psikologi modern, hubungan jiwa dan perbuatan lahiriah hampir tak bisa dipisahkan, karena tingkah laku lahiriah ditentukan oleh keadaan psikologis yang ada dalam pikiran dan perasaan.

Al-qur’an menggambarkan bahwa jika nafs (jiwa) dijaga dari dorongan hawa nafsu atau dorongan syahwat (QS. Al-Nazi’at, 79: 40) dan disucikan (QS. Al-Syams, 91: 9), nafs akan meningkat kualitasnya.

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (Al-Naziat, 79: 40- 41).

Tipologi Kepribadian berdasarkan psikologi Islam, menurut Abdul Mujid, terbagi menjadi:

  • Tipologi kepribadian ammarah

    Kepribadian ammarah adalah kepribadian yang cenderung melakukan perbuatan-perbuatan rendah sesuai dengan naluri primitifnya, sehingga ia merupakan tempat dan sumber kejelekan dan perbuatan tercela. Ia mengikuti tabiat jasad dan mengejar pada prinsip- prinsip kenikmatan (pleasure principle) syahwati.

    Bentuk-bentuk tipologi kepribadian ammarah adalah syirik, kufur, riya’, nifaq, zindiq, bidh’ah, sihir, membangga-banggakan kekayaan, mengikuti hawa nafsu dan syahwat, sombong dan ujub, membuat kerusakan, boros, memakan riba, mengumpat, pelit, durhaka atau membangkang, benci, pengecut atau takut, fitnah, memata-matai, angan-angan atau menghayal, husud, khianat, senang dengan duka orang lain, ragu-ragu, buruk sangka, rakus, aniaya atau dzalim, marah, menceritakan kejelekan orang lain, menipu, jahat tau fujur, dusta, sumpah palsu, berbuat keji, menuduh zina, makar, bunuh diri, dan adu domba.

  • Tipologi kepribadian lawwamah

    Kepribadian lawwamah adalah kepribadian yang mencela perbuatan buruknya setelah memperoleh cahaya qalbu. Ia bangkit untuk memperbaiki kebimbangannya dan kadang-kadang tumbuh perbuatan yang buruk yang disebabkan oleh watak gelap (zhulmaniyyah)-nya, tetapi kemudian ia diingatkan oleh nur Ilahi, sehingga ia berbuat dan memohon ampunan (istighfar).

    Bentuk-bentuk tipologi kepribadian lawwamah sulit ditentukan, sebab ia merupakan kepribadian antara, yakni antara kepribadian ammarah dan kepribadian mut}ma’innah, yang bernilai netral. Maksud netral di sini dapat berarti :

    1. tidak memiliki nilai buruk atau nilai baik, tetapi dengan gesekan motifasi, netralitas suatu tingkah laku itu akan menjadi baik atau akan menjadi buruk. Baik buruk nilainya tergantung pada kualitas daya yang memengaruhi;

    2. ia bernilai baik menurut ukuran manusia, tetapi belum tentu baik menurut ukuran Tuhan, seperti rasonialitas, moralitas dan sosialitas yang dimotifasi oleh antroposentris (insaniyah).

    Pada prinsipnya, Islam menghargai kretivitas manuisia, baik dalam bentuk pikiran maupun perbuatan, sebab fitrah asli manusia adalah baik, sehingga apa yang dihasilkannya bernilai baik. Tentu kebaikan yang dimaksud tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang ditetapkan oleh Tuhan.

  • Tipologi kepribadian mutma’innah

    Kepribadian mutma’innah adalah kepribadian yang tenang setelah diberi kesempurnaan nur kalbu, sehingga dapat meninggalkan sifat-sifat tercela dan tumbuh sifat-sifat yang baik. Kepribadian ini selalu berorientasi ke komponen kalbu untuk mendapatkan kesucian dan menghilangkan segala kotoran.

    Bentuk-bentuk tipologi kepribadian mutma’innah sebagaimana disebutkan bahwa terdapat tiga aspek yang menjadi sistem kepribadian Islam, yaitu iman, islam dan ihsan. Ketiga aspek ini dapat diturunkan sebagai desain kepribadian mutma’innah.

Referensi
  • Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995).
  • Netty Hartati, Msi dkk, “Islam dan Psikologi”, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2005).
  • Baharudin, Aktualisasi Psikologhi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
  • H. Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002).