Apa yang dimaksud dengan Prasasti ?

prasasti

(Bima Satria) #1

prasasti

Kata prasasti berasal dari Sanskerta, arti sebenarnya adalah “pujian”. Saat ini, prasasti dianggap sebagai piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang atau tulisan yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama,misalnya batu, dinding bangunan atau logam.

Walaupun arti dari prasasti adalah “pujian”, tetapi tidak semua prasasti memuat pujian (raja). Sebagian besar prasasti yang dikenal digunakan membuat keputusan tentang pembentukan daerah pedesaan atau daerah menjadi sima atau perdikan. Sima adalah tanah yang diberi oleh raja atau penguasa kepada orang-orang yang dianggap berjasa.

Apa yang dimaksud dengan Prasasti ?


(Rina Gunawan) #2

Prasasti adalah pertulisan tentang maklumat atau keputusan resmi yang dipahatkan pada batu, lontar, atau pada logam yang dirumuskan menurut kaidah-kaidah tertentu serta ditandai dengan upacara (Darini, 2013). Prasasti termasuk salah satu benda peninggalan purbakala terdiri dari karya tulis yang terpahat pada batu, logam, kulit binatang dan bahan-bahan lain.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prasasti berarti piagam (yang tertulis pada batu, tembaga, dan sebagainya). Prasasti adalah tulisan yang di pahatkan pada batu berisi catatan peristiwa penting kerajaan. Fungsi prasasti adalah memberikan peringatan atas peristiwa penting kepada generasi berikutnya.

Menurut uraian di atas prasasti merupakan artefak bertulis yang dipahatkan pada batu, logam, tanah liat, lontar, atau kayu yang memberikan berbagai macam informasi atas suatu peristiwa penting bagi generasi selanjutnya. Di Indonesia sendiri telah banyak ditemukan berbagai macam prasasti sebagai benda peninggalan bersejarah.

Beberapa prasasti tertua di Indonesia yang menunjukkan hubungan antara Indonesia dengan India antara lain prasasti Mulawarman di Kalimantan Timur yang berbentuk Yupa (tiang dari batu), prasasti Purnawarman dari kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Isi Prasasti dituliskan dalam bentuk syair menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Huruf tersebut diperkirakan menggunakan huruf yang umum dipergunakan pada tahun 400 dan bahasa Sansekerta merupakan bahasa resmi di India. Dari bukti-bukti yang ada dapat dipastikan bahwa pada masa Mulawarman dan Purnawarman terdapat pengaruh budaya India, termasuk dalam kehidupan keagamaan yaitu sebagai penganut agama Hindu (Darini, 2013).

Prasasti-prasasti pertama yang ditemukan di Jawa berasal dari Pasundan sebelah utara, dekat kota Jakarta dan Bogor, dan ke barat di daerah Lebak.

Jumlahnya lima buah, yang membentuk satu rangkaian yang tampaknya koheren. Prasasti itu dibuat daam bahasa Sansekerta dan ditatah di atas batu karang besar bertulisan Pallawa, yang menandakan bahwa pembuatannya dilakukan pada abad ke-5. Disebutkan sebuah kerajaan bernama Taruma dengan raja Purnawarman, pengikut setia Wisnu. Atas perintahnya digali sebuah saluran di daerah Tugu, tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok sekarang (Lombart, 1996).

Prasasti-prasasti pertama daerah Jawa Tengah, yang muncul pada awal abad ke-8, mengungkapkan persaingan antara sesama raka atau rakaryan, yaitu penguasa yang telah berhasil menguasai sejumlah wanua atau “komunitas desa” dan berusaha meningkatkan prestisenya dengan memperbanyak bangunan suci (Lombard, 1996).

Sementara di Jawa Timur wangsa yang dianggap berkuasa pada masanya adalah wangsa Isana yang didirikan oleh Mpu Sindok. Istilah wangsa Isana ditemukan dalam prasasti Pucangan, di bagian yang berbahasa Sansekerta. Prasasti itu dibuat era pemerintahan raja Airlangga pada tahun 1041 M.

Macam-macam Prasasti


Beberapa macam prasasti yang menunjukkan pengaruh Hindu-Budha adalah:

  • Sima , yaitu prasasti yang berisi maklumat raja atau bangsawan dalam rangka pengukuhan daerah menjadi sima. Contoh : Prasasti Anjuk Ladang.

  • Jayapattra , yaitu prasasti yang berisi keputusan hukum untuk pihak yang memenangkan suatu perkara. Contoh: Prasasti Guntur 907 masehi.

  • Suddhapattra, yaitu prasasti yang berisi keputusan ikatan hutang-piutang, pelunasan, atau proses gadai. Contoh: Prasasti Guntur 907 masehi.

  • Mantra-mantra, Hindu dan Budha, pada umumnya dipahatkan di atas lempengan tanah liat. Contoh: Prasasti Jragung.

Fungsi Prasasti


Secara umum fungsi prasasti antara lain, sebagai berikut:

  • Penghormatan kepada dewa. Dalam agama Hindu biasanya diawali dengan kata Ong Civaya,sedangkan agama Buddha diawali dengan kata Ong nama Buddhaya.

  • Angka tahun dan penanggalan, dalam penulisannya biasanya diawali dengan permulaan kata-kata: "Swasti Cri Cakawarsatita" yang berarti Selamat Tahun Caka yang sudah berjalan. Penamaan hari dalam satu minggu (tujuh hari) terdiri dari: Raditya (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buddha (Rabu), Respati (Kamis), Cakra (Jumat), dan Sanaiswara (Sabtu).

  • Menyebut nama raja, diawali dengan kata-kata "Tatkala Cri Maharaja Rakai Dyah …" dan selanjutnya.

  • Perintah kepada pegawai tinggi, perintah ini biasanya melalui Rakryan Mahapatih dengan istilah "Umingsor ring rakryan Mahapatih …", jadi raja tidak memberi perintah langsung.

  • Penetapan daerah sima (daerah bebas pajak), yang telah menolong raja atau menolong orang penting atau telah menolong rakyat banyak, misalnya, daerah penyeberangan sungai.

  • Sambhada (sebab musabab mengapa suatu daerah dijadikan sima).

  • Para saksi.

  • Desa perbatasan sima disebut juga "wanua tpisiring".

  • Hadiah yang diberikan oleh daerah yang dijadikan sima kepada raja, kepada pendeta, dan para saksi. Jika berupa uang, ukurannya adalah Su,berarti suwarna atau emas. Ma berarti masa dan Ku berarti kupang (1 su = 16 Ma = 64 Ku atau 1 Su = 1 tail = 2 real), demikianlah ukuran uangnya.

  • Jalannya upacara.

  • Tontonan yang diadakan.

  • Kutukan (sumpah serapah kepada orang yang melanggar peraturan daerah sima).