Apa yang dimaksud dengan penyakit Lupus? dan dapatkan penyakit ini menular?

Menurut Dr Fajar Rudy Qimindra (2008) lupus dari bahasa latin yaitu anjing hutan. Penyakit ini dikenal pada abad ke-20. Sedangkan eristematosus yaitu merah. Maka, warna kemerahan muncul pada kulit yang menyerupai gigitan anjing hutan pada hidung dan pipi. Gejalanya sering mengalami nyeri pada persendian dan organ terasa sakit. Penyakit ini sering terjadi pada wanita pada usia 15-45 tahun. Penyakit lupus ada beberapa macam yaitu discoid, terinduksi, dan sistematik.

Penyakit lupus tidak menular. Meskipun berkomunikasi sangat dekat akan tetapi penyakit ini tidak akan menular. Karena penyakit autoimun ini diakibatkan gen dan lingkungan. Penyakit ini berkembangan pada sistem kekebalan tubuh dan menyerang persendian meliputi kulit, ginjal, dan lain sebagainya. Akibat serangan tersebut, terjadi peradangan yang merusak bagian organ tersebut.

Referensi

Fadli, Rizal. 2019. Benarkah Lupus adalah Penyakit Menular. Diakses pada tangal 16 September 2021 pada link Benarkah Lupus adalah Penyakit Menular?

1. PENGERTIAN PENYAKIT LUPUS

Penyakit yang tidak menular ini diketahui yang menjadi faktor utama yang menyebabkan kematian pada tahun 2012. Menurut global, terdapat 56 juta orang yang meninggal karena penyakit yang tidak menular. Untuk saat ini, penyakit yang tidak menular semakin meningkat, salah satunya yaitu penyakit lupus. Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) atau Lupus merupakan penyakit yang menyerang semua organ pada tubuh mulai dari kaki sampai rambut. Penyakit ini disebabkan oleh kekebalan pada tubuh mengalami penurunan. Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini juga sering disebut penyakit autoimun. Menurut Matt (2003) Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) menyerang pada inti sel.

The Lupus Foundation of America memperkirakan terdapat 1,5 juta orang yang terjadi pada negara Amerika Serikat dan terdapat 5 juta kasus pada seluruh dunia. Untuk setiap tahunnya terjadi 16 ribu kasus baru yang disebabkan oleh penyakit lupus ini. Di Indonesia, orang yang memiliki penyakit lupus ini belum diketahui. Prevalensi Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) dalam masyarakat sesuai dengan survei yang dilaksanakan oleh Prof. Handono Kalim, dkk pada daerah Malang memberitahukan bahwa Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini terdapat 0,5 % terhadap total populasi.

Peningkatan Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini perlu diwaspadai oleh setiap orang dengan memberikan perhatian, karena penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini apabila di diagnosis sulit dan sering terlambat. Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ialah penyakit autoimun kronis yang belum diketahui masalah penyebabnya, dan mempunyai sebaran gambaran klinis luas dan perjalanan penyakit yang bermacam-macam. Sehingga, dapat menyebabkan kekeliruan atau ketidaksesuaian untuk mengenali penyakit lupus ini, sampai sekarang dapat menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis.

Penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini dapat menyerang siapapun. Meskipun, penyakit lupus ini kebanyakan menyerang perempuan mulai dengan usia (15-44 tahun), akan tetapi pria, remaja, dan anak-anak juga rentang penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE). Penyakit lupus juga bisa menyerang seluruh ras, akan tetapi sering dijumpai pada ras kulit yang berwarna.

2. FAKTOR RISIKO PENYAKIT LUPUS

Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ialah penyakit inflamasi autoimun kronis yang belum diketahui penyebabnya, mempunyai variasi gambaran yang luas, dan tampilan perjalanan penyakit yang bermacam-macam. Beberapa dugaan bahwa faktor genetik, imunologik, hormonal, dan linkungan menjadi peran dalam penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini. Berikut beberapa faktor risiko pada penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE):

  • Faktor genetik
    Terdapat sekitar 7% pasien Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) yang mempunyai keluarga dan diagnosis Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini. Maka, faktor genetik salah satu faktor risiko Systematic Lupus Erythethematosus (SLE). Pada saat ini hanya 30 variasi gen yang diketahui dan yang dihubungkan dengan Systematic Lupus Erythethematosus (SLE).

  • Faktor lingkungan
    Infeksi, setres, makanan, antibiotic, cahaya matahari, pemanfatan obat, merokok, dan lain sebagainya menjadi faktor untuk memicu timbunya Systematic Lupus Erythethematosus (SLE)

  • Faktor hormonal
    Banyak perempuan yang terjangkit penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) dibandingkan dengan para pria. Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) sebelum periode menstruasi atau hamil menjadi dugaan bahwa hormon estrogen sebagai timbulnya penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE). Namun, sampai saat ini belum diketahui secara signifikan peran hormon estrogen yang menjadi penyebabn prevalensi Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) terhadap perempuan-perempuan tersebut.

3. GEJALA LUPUS

Gejala awal pada lupus sangat mirip dengan penyakit lain sehingga sangat sulit untuk di diagnosis. Gejala pada penyakit lupus sangat bermacam-macam yang dimulai dari yang ringan hingga ada yang mengancam jiwa. Gejala Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) yang sering muncul, seperti berikut:

  • Letih
  • Sakit pada kepala
  • Nyeri
  • Demam
  • Anemia
  • Nyeri pada dada
  • Terdapat ruam kemerahan yang sering terjadi pada pipi dan hidung
  • Sangat sensitif pada cahaya matahari
  • Mengalami rambut rontok
  • Terjadi pendarahan
  • Jari-jari mengalami perubahan seperti pucat
  • Sariawan pada mulut

Menurut American College of Rheumatology (1997) menyatakan bahwa terdapat beberapa gejala pada penyakit lupus ini, yaitu:
• Terdapat ruam kemerahan pada pipi
• Adanya bercak kemerahan bulat pada kulit
• Fotosensitive
• Sariawan
• Persendian nyeri
• Pada selaput paru-paru dan jantung adanya cairan
• Gangguan pada ginjal
• Gangguan pada otak
• Kurangnya trombosit
• Kekebalan pada tubuh terganggu

4. PERJALANAN ALAMIAH PENYAKIT

Manefesti penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini sangat luas seperti terlibatnya kulit, mukosa, sendi, darah, jantung, paru, ginjal, saraf pada pusat, dan sistem imun. Sehingga, manifesti penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini sangat bermacam-macam dengan perjalanan penyakit yang memiliki variasi dan mempunyai risiko kematian yang sangat tinggi sebesar 67% lebih tinggi dari populasi yang normal. Sehingga, membutuhkan pengobatan yang cukup lama dan seumur hidup.

5. KERUSAKAN ORGAN DAN DIAGNOSISNYA

Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) menyebabkan peradangan pada jaringan, terutama pada organ ginjal. Jaringan yang terdapat pada ginjal ini merupakan pembuluh darah dan dikelilingi oleh membran yang mengalami bengkak dan menyimpan bahan kimia yang diproduksi tubuh yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal. Maka, dapat menyebabkan ginjal tidak bisa berfungsi secara maksimal. Peradangan juga terjadi pada otot jantung. Jantung bisa dipengaruhi meskipun tidak mengalami gejala gangguan pada jantung.

Peradangan juga sering terjadi pada katup jantung yang dapat menyebabkan kerusakan pada kulit seperti ruam merah pada pipi dan hidung. Untuk mengetahui adanya penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) maka perlu melakukan pemeriksaan pada laboratorium seperti Antinuclear Antibody (ANA) dan Double Stranded DNA.

6. PENDERITA LUPUS DI INDONESIA

WFO atau organisasi kesehatan dunia memberitahukan bahwa catatan jumlah penderita penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini dunia yang terjadi pada orang dewasa dengan jumlah 5 juta orang. Dan kebanyakan yang mengalami penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini ialah perempuan pada usia produktif yaitu (15-44 taun) dan setiap tahunnya ditemukan lebih dari 100 ribu dengan penderita baru. Indonesia sendiri terdapat jumlah sebesar 1.250.000 ribu orang yang terkena penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini, berdasarkan asumsi dari penelitian Kalim, dkk bahwa prevalensi 0,5%.

Orang yang menyadari bahwa dirinya menderita Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini sangat sedikit. Karena, setiap orang mengalami gejala penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini berbeda-beda tergantung dengan manifestasi klinis yang muncul. Berdasarkan survei penyakit rematik pada puskesmas di seluruh Indonesia pada tahun 2006 yang dilaksanakan oleh Kasjmir, dkk memberitahukan bahwa dokter kurang memahami mengenai kriteria pada diagnostik penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) yaitu sebesar 48,8%. Sementara itu, penyakit Systematic Lupus Erythethematosus (SLE) ini diperkirakan terdapat kurang lebih dari 12%.

7. JENIS PENYAKIT LUPUS

Menurut Pusdatin (2017) terdapat jenis-jenis pada penyakit lupus ini, dibagi menjadi beberapa tipe, seperti berikut:

  • Lupus Erythematosus Systemic
  • Lupus Erytematosus Kutaneus
  • Lupus Imbas Obat
  • Sindroma Overlap, Undifferentiated Conective Tissue Disease dan Mixed Conective Tissues Disease
Referensi

Nurhayati, Lilik. 2019. GAMBARAN PENERIMAAN DIRI PADA PENDERITA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS DI KOMUNITAS KUPU CANTIK KOTA BLITAR. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Roviati, Evi. 2012. Systematic Lupus Erythethematosus (SLE): Kelainan Autoimun Bawaan yang Langka dan Mekanisme Biokimiawinya. Jurnal Scientiae Educatia Volume 1 Edisi 2.

Kemkes. 2017. SITUASI LUPUS DI INDONESIA. Diakses pada tanggal 22 September 2021 pada link https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/Infodatin-Lupus-2017.pdf