Apa yang Dimaksud dengan Pendidikan untuk Tertib Sosial?

image

Salah satu pendekatan dalam sosiologi pendidikan adalah pendidikan untuk tertib sosial.

Apa yang dimaksud dengan pendidikan untuk tertib sosial?

Aliran struktural-fungsional menganggap bahwa tujuan lembaga-lembaga utama, seperti pendidikan, adalah untuk mensosialisasikan anak-anak dan remaja. Sosialisasi adalah proses tempat generasi muda mempelajari pengetahuan, tingkah laku, dan nilai-nilai yang dianggap diperlukan sebagai warga negara yang produktif bagi keberlangsungan sistem.

Pendidikan, baik kurikulum formal maupun “kurikulum tersembunyi” (the hidden curriculum), melakukan indoktrinasi dari norma-norma dan nilai kepada masyarakat luas. Murid-murid mempelajari norma-norma dan nilai-nilai tersebut karena tingkah laku mereka di sekolah diatur hingga secara perlahan mereka menginternalisasi dan menerimanya. Pendidikan haruslah juga harus menunjukkan fungsi lainnya. Lowongan pekerjaan harus diisi oleh orang-orang yang cocok. Oleh karenanya, tujuan pendidikan adalah untuk menyeleksi dan menata penempatan masing-masing individu di pasar kerja. Agar struktur ekonomi sebagai basis hubungan sosial berjalan, yang menunjukkan prestasi akan diberi pelatihan lebih lanjut untuk kemudian mendapatkan pekerjaan yang bagus dan sebagai hadiahnya memperoleh pendapatan yang lebih tinggi.

R. Meighan dan Siraj-Blatchford dalam bukunya yang berjudul A Sociology of Educating (1997)202 mengatakan bahwa kebanyakan murid-murid yang memiliki kemampuan dari kalangan kelas pekerja masih gagal untuk meraih standar yang memuaskan di sekolah, dan karena itulah mereka gagal untuk mendapatkan suatu yang seharusnya layak mereka peroleh. Salah satunya karena pengalaman budaya kelas menengah yang disediakan sekolah kemungkinan besar bertolak belakang dengan apa yang dialami oleh anak-anak dari kalangan kelas pekerja yang diterima di rumah.

Dengan kata lain, anak-anak dari kalangan kelas pekerja tidak secara memadai disiapkan untuk berada di sekolah. Sebagaimana dikatakan oleh L.E. Foster dalam bukunya Australian Education: A Sociological Perspective (1987), karena itulah mereka dibentuk oleh sekolah dengan sedikit kualifi kasi dan ketika mereka lulus hanya mendapatkan sedikit pekerjaan yang diinginkan, dan tetaplah menjadi bagian dari kelas pekerja. Inilah siklus yang tetap terjadi, demi tertib sosial sekolah akan sulit mengubah status dan posisi sosial. Jika ada, tentu sangatlah sedikit, dan itu pun tidak akan mampu mengubah sistem sosial yang ada.

Salah satu tokoh aliran struktural-fungsional, Talcott Parsons, percaya bahwa proses ini merupakan aktivitas ketika salah satu bagian dari sistem, yaitu pendidikan, menunjukkan sistem secara keseluruhan (was a necessary activity which one part of the social sistem, education, performed for the whole).

Kelemahan pendekatan struktural-fungsional sangatlah nyata. Mengapa kelas pekerja akan tetap menjadi kelas pekerja dengan adanya pendidikan? Jawaban hal itu merupakan hasil pendapat pendekatan lainnya yang melihat pendidikan sebagai reproduksi (tatanan) sosial yang ada. Mobilitas sosial , perubahan nasib dalam ranah ekonomi saat manusia ingin mencapai kehidupan yang baik, bukan hanya masalah pendidikan, melainkan merupakan masalah hubungan produktif dalam masyarakat. Kesulitan mendapatkan nasib baik dianggap sulit dilakukan hanya dengan sekolah, tetapi dengan perubahan sistemis. Sekolah justru menjadi lembaga yang ikut serta dalam melanggengkan sistem. Untuk mengubah sistem, pendidikan diharapkan menjadi lembaga dan proses sosialisasi ideologi perlawanan terhadap sistem.