Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Behavioristik?

Menurut J.P Chaplin (2002) behavioristik adalah suatu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas.

Apa yang dimaksud dengan Pendekatan Behavioristik ?

Pengertian Pendekatan Behavioristik


Lawson dalam Mulyadi (2016) konteks belajar mendefinisikan pendekatan adalah segala cara atau strategi yang digunakan peserta didik untuk menunjang keefektifan dan keefesienan dalam proses pembelajaran materi tertentu. Pendekatan dalam konseling ( counseling in approach ) di sebut juga teori konseling yang merupakan kerangka dasar dalam menyelenggarakan atau melaksanakan praktik konseling. Pendekatan itu dirasakan penting karena berbagai pendekatan atau teori-teori konseling akan memudahkan dalam menentukan arah proses konseling yang akan diselenggarakan (Mulyadi, 2016). Menurut Sani (2013) behavioristik adalah sebuah teori tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Sedangkan menurut J.P Chaplin (2002) behavioristik adalah suatu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas. Pendekatan behavioristik juga bisa disebut dengan pendekatan tingkah laku. Pendekatan tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada teori tentang belajar (Corey, 1997). Menurut Ahmadi (1998) pendekatan behavioristik dalam pembelajaran yang menekankan pada unsur perilaku jasmani yang mana kesadaran dimunculkan untuk memperbaiki tingkah laku seseorang agar mudah diamati.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian pendekatan behavioristik adalah salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu untuk perubahan tingkah laku melalui proses belajar.

Hakikat Manusia dalam Pendekatan Behavioristik


Behaviorisme berasal dari bahasa Inggris yaitu behaviour yang artinya: tingkah laku, reaksi total, motor dan kelenjar yang diberikan suatu organisme kepada suatu situasi yang dihadapinya, kemudian diberikan akhiran isme menjadi behaviorisme yang berarti aliran dalam psikologi yang mempunyai objek penelitiannya sesuatu yang nampak di indera yaitu berupa perilaku yang tampak, yang di observasi. Teori tersebut menekankan pada hubungan antara stimulus dan respon yang dapat diamati lewat panca indera (Corey, 2005:).

Hakikat manusia menurut pendekatan konseling behavioristik adalah pasif dan mekanistik, manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Manusia merespon lingkungan dengan kontrol terbatas, hidup dalam alam deterministik dan memiliki peran aktif dalam memilih martabatnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya, dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Dalam pandangan behavioristik, kepribadian manusia merupakan perilaku yang terbentuk berdasarkan hasil pengalaman yang diperoleh dan interaksi seseorang dengan lingkungannya. Kepribadian merupakan pengalaman seseorang akibat proses belajar. Menurut Saerozi, (2015), aliran behavioristik memiliki asumsi-asumsi dasar terhadap perilaku manusia sebagai berikut :

  1. Manusia memiliki potensi untuk segala jenis perilaku
  2. Manusia mampu mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya
  3. Manusia mampu mendapatkan perilaku baru
  4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi oleh orang lain.

Berdasarkan pernyataan di atas mengenai hakikat manusia pada pandangan behavioristik yaitu pada dasarnya manusia tidak bisa berbuat apapun, karena semua tingkah laku manusia dapat dibentuk oleh hasil belajar dengan faktor lingkungan yang membentuknya Proses dan Tujuan Pendekatan Behavioristik Pendekatan behavioristik, hal yang penting untuk mengawali konseling adalah mengembangkan kehangatan, empati, hubungan suportif. Dalam konseling behavior, perilaku manusia merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar. Proses konseling merupakan suatu proses atau pengalaman belajar untuk membentuk konseli mengubah perilakunya sehingga dapat memecahkan masalahnya (Saerozi, 2015). Sebagai bagian yang integral dari sistem konseling behavioral selain berdasarkan asumsi-asumsi di atas terdapat karakteristik yang dapat membedakan dengan pendekatan yang lain. Corey (1977) dan George dan Christiani (1990) mengemukakan bahwa konseling behavioral memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

o Berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik
o Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai masalah klien

Berdasarkan karakteristik ini bahwa konseling behavioral secara konsisten menaruh perhatian pada perilaku yang tampak. Perilaku yang tidak tampak dan bersifat umum harus dirumuskan menjadi lebih spesifik. Secara khusus, tujuan konseling behavior mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat perilaku yang tidak diharapkan serta membantu menemukan cara-cara berperilaku yang tepat (Latipun, 2010).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses dan tujuan pendekatan behavioristik adalah mengembangkan hubungan kehangatan, empati serta membatasi perilaku sebagai faktor interaksi antara faktor bawaan dengan lingkungannya dengan tujuan mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan memperkuat perilaku yang tidak diharapkan agar dapat menemukan perilaku yang tepat.

Teknik-teknik yang digunakan dalam proses Pendekatan Behavioristik


Berikut ini dikemukakan beberapa tehnik konseling behavioristik:

  1. Desensitisasi Sistematik
    Desensitiasi sistematik adalah salah satu teknik yang paling luas digunakan dalam terapi tingkah laku. Desensitiasi sistematik digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu ( Corey, 2009).

  2. Terapi Implosif atau Pembanjiran
    Dalam terapi implosif, konselor memunculkan stimulusstimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan konselor berusaha mempertahankan kecemasan klien. Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang membayangkan stimulus sumber kecemasan dan konsekuensi yang diharapkan tidak muncul, akhirnya stimulus yang mengancam tidak memiliki kekuatan dan neurotiknya menjadi hilang (Latipun, 2008).

  3. Latihan Asertif
    Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang biasa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan dan menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. Latihan asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar.

  4. Terapi Aversi
    Teknik aversi dilakukan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki (simptomatik) terhambat kemunculannya. Teknik aversi digunakan secara luas sebagai metode untuk membawa seseorang kepada tingkah laku yang diinginkan.

  5. Pengondisian
    Operan Tingkah laku operan yaitu tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Menurut Skinner, jika suatu tingkah laku diganjar, maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut masa mendatang akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku merupakan inti pengkondisian operan (Corey, 2009).

Beberapa teknik dalam proses pendekatan behavioristik diatas, dapat disimpulkan bahwa peneliti menggunakan teknik pengondisian operan. Pengondisian operan adalah proses belajar dengan mengendalikan semua respon yang muncul sesuai konsekuensi (resiko) yang mana organisme akan cenderung untuk mengulang respon-respon yang diikuti penguatan. Hal ini sebagaimana yang digambarkan oleh Skinner sebagai salah satu tokoh behavioristik yang mengemukakan bahwa suatu tingkah laku jika diganjar, maka probabilitas kemunculan perubahan tingkah laku yang baru akan tinggi.

Pendekatan behavioristik adalah pendekatan yang mengubah tingkah laku yang maladaptif menjadi tingkah laku yang adaptif dengan melalui teknikteknik dalam pendekatan behavioristik. Behaviorisme artinya serba tingkah laku. Psikologi behaviorisme adalah psikologi tingkah laku dan menekankan pada tingkah laku. Behaviorisme didasarkan pada ajaran materialisme. Pada tahun-tahun selanjutnya, psikologi behaviorisme mengalami perkembangan sangat pesat.

Behavioristik merupakan suatu pendekatan terapi tingkah laku yang berkembang pesat dan sangat populer, dikarenakan memenuhi prinsip-prinsip kesederhanaan, kelogisan, mudah dipahami dan diterapkan, serta adanya penekanan perhatian pada perilaku yang positif.

Pendekatan Behavioristik adalahsuatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia, dalil dasarnya adalah bahwa tingkah laku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan mengungkapkan hukumhukum yang mengendalikan tingkah laku.

Pendekatan behavioristik adalah suatu pendekatan psikologi yang berpendirian bahwa organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial atau psikologis, dimana perilaku adalah hasil pengalaman dan perilaku dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan.

Menurut A. Supratikna pendekatan Behavioristik adalah pendekatan yang menerapkan prinsip penguatan stimulus respon. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat apabila diberi penguatan. Penguatan tersebut terbagi atas penguatan positif dan penguatan negatif.

Ciri-ciri Pendekatan Behavioristik

Dalam setiap pendekatan pasti mempunyai ciri-ciri tertentu, berikut adalah ciri-ciri pendekatan behavioristik :

  1. Memusatkan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik.

  2. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment.

  3. Perumusan prosedur treatment yang spesifin yang sesuai dengan masalah.

  4. Penaksiran obyektif atas hasil-hasil terapi.

Adapun karakteristik pendekatan behavioristik adalah :

  1. Didasarkan pada teori yang dirumuskan secara tepat dan konsisten yang mengarah kepada kesimpulan yang dapat diuji.

  2. Berasal dari hasil penelaahan eksperimental yang secara khusus direncanakan untuk menguji teori-teori dan kesimpulannya.

  3. Memandang simptom sebagai respon bersyarat yang tidak sesuai.

Pendekatan Behavioristik

Aliran Psikologis di Rusia dipelopori oleh Ivan Petrovich Pavlov, dan dikenal sebagai aliran behaviorisme di Rusia timbul aliran behaviorisme. Semula aliran behaviorisme timbul di Rusia tetapi kemudian berkembang pula di Amerika, dan merupakan aliran yang mempunyai pengaruh cukup lama. Pendekatan tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Pendekatan tingkah laku bertujuan menghilangkan simptom-simptom yang salah sesuai (maladaptif) serta membentuk tingkah laku baru. Pendekatan tingkah laku dirumuskan sebagai teknik khusus yang menggunakan dasar psikolgi (khususnya proses belajar) untuk mengubah perilaku seseorang secara kuantitatif. Perlunya sesuatu yang dirubah karena ada maladaptif yang menyebabkan terganggunya kestabilan pribadinya.

Behaviorisme artinya serba tingkah laku. Psikologi behaviorisme adalah psikologi tingkah laku dan menekankan pada tingkah laku. Behaviorisme didasarkan pada ajaran materialisme. Pada tahun-tahun selanjutnya, psikologi behaviorisme mengalami perkembangan sangat pesat. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian behavioristik adalah pendekatan yang mengubah tingkah laku yang maladaptif menjadi tingkah laku yang adaptif dengan melalui teknikteknik dalam pendekatan behavioristik. Diantara tokoh-tokoh psikologi behaviorisme dari Amerika Serikat yang sangat konsen pada penelitian-penelitian di bidang psikologi behaviorisme di antaranya J.B. Watson, Tolman, Hull, dan lain-lain.

Teori-Teori Pendekatan Behavioristik

a. Ivan Petroch Pavlov (1849-1936)

Aliran psikologi di Rusia di pelopori oleh Ivan Petrovich Pavlov, dan dikenal sebagai aliran behaviorisme di Rusia. Menurut Pavlov aktivitas organisme dapat dibedakan atas :

  1. Aktivitas yang bersifat reflektif, yaitu aktivitas organisme yang tidak disadari oleh organisme yang bersangkutan.

  2. Aktivitas yang disadari, yaitu aktivitas atas kesadaran organisme yang bersangkutan. Ini merupakan respons atas dasar kemauan sebagai suatu reaksi terhadap stimulus yang diterimanya.

Pavlov dalam eksperimennya mengguanakan anjing sebagai binatang coba. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila air liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang yang telah disediakan. Menurut Pavlov apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengaluarkan air liur, ini merupakan respons yang alami, respons yang reflektif, yang disebut sebagai respons yang tidak berkondisi. Apabila anjing mendengar bunyi bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ini juga merupakan respons yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak berkondisi atau gerak telinga sebagai stimulus yang berkondisi. Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat dibentuk pada anjing suatu perilaku atau respons apabila anjing mendengar bunyi bel lalu mengeluarkan air liur. Hal inlah yang kemudian diteliti secara eksperimental oleh Pavlov.

Dalam eksperimen ini, hasil pada akhirnya bunyi bel berkedudukan sebagai stimulus yang berkondisi dan mengeluarkan air liur sebagai respons berkondisi. Apabila bunyi bel diberikan setelah diberikan makanan, maka tidak akan terjadi respons yang berkondisi tersebut. Sama halnya apabila eksperimen tersebut di aplikasikan pada proses pembelajaran. Guru akan memberikan tugas kepada siswa untuk membiasakan contoh materi yang diberikan oleh guru. Dan apabila siswa tersebut dapat mengaplikasikan contoh tersebut dan dapat menjadikan kebiasaan dalam perilakunya, guru akan memberikan penghargaan kepada siswa tersebut. Perintah tersebut diulang hingga beberapa kali tugas, hingga siswa tersebut benarbenar dapat membiasakan contoh tersebut tanpa diberikan penghargaan kembali.

b. Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Menurut Thorndike asosiasi antara sense of impression dan impuls to action , disebutnya sebagai koneksi atau connection , yaitu usaha untuk menggabungkan antara kejadian sensoris dengan perilaku. Thorndike menitikberatkan pada aspek fungsional dari perilaku, yaitu bahwa proses mental dan perilaku berkaitan dengan penyesuaian diri organisme terhadap lingkungannya. Karena itu Thorndike diklasifikasikan sebagai behavioris yang fungsional, berbeda dengan Pavlov sebagai behavioris asosiatif.

Thorndike mengajukan pengertian tersebut dari eksperimennya dengan puzzle box . Dari eksperimennya Thorndike mengajukan adanya tiga macam hukum yang sering dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, yaitu :

  1. Hukum kesiapan (the law of readinnes).

  2. Hukum latihan (the law of exercise)

  3. Hukum efek (the law of effect).

Menurut Thorndike belajar yang baik harus adanya kesiapan dari organisme yang bersangkutan. Apabila tidak adanya kesiapan, maka hasil bekajarnya tidak akan baik. Secara praktis hal tersebut dapat dikemukakan bahwa :

  1. Apabila pada organisme adanya kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, dan organisme itu dapat melaksanakan kesiapannya itu, maka organisme tersebut akan megalami kepuasan.

  2. Apabila pada organisme adanya kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, tetapi organisme itu tidak dapat melakukannya, maka organisme itu akan mengalami kekecewaan atau frustasi.

  3. Apabila organisme itu tidak mempunyai kesiapan untuk melakukan atau aktivitas, tetapi disuruh melakukannya, maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.

Eksperimennya yang khas adalah dengan kucing, dipilih yang masih muda yang kebiasaan-kebiasaannya masih belum kaku, dibiarkan lapar, lalu dimasukkan ke dalam kurungan. Konstruksi pintu kurungan itu dibuat sedemikian rupa, sehingga kalau kucing menyentuh tombol tertentu pintu kurungan akan terbuka dan kucing dapat keluar dan mencapai makanan yang ditempatkan diluar kurungan itu sebagai hadiah atau daya penarik bagi si kucing yang lapar itu. Pada usaha yang pertama kucing masih melakukan bermacam-macam gerakan yang kurang relevan bagi pemecahan problemnya. Waktu yang dibutuhkan dalam usaha yang pertama ini adalah lama. Percobaan yang sama seperti itu dilakukan secara berulang-ulang, pada usaha berikutnya ternyata waktu dibutuhkan makin singkat. Hal ini disimpulkan bahwa kucing sebenarnya tidak mengerti cara membebaskan diri dari kurungan itu, tetapi dia belajar mencamkan respon-respon yang benar dan menghilangkan atau meninggalkan respon yang salah.

Sama halnya dengan guru memberikan tugas yang mana siswa tersebut pada dasarnya tidak mengetahui maksud atau jawaban yang nantinya akan dijawab. Akan tetapi dengan adanya guru memberikan hadiah secara cuma-cuma kepada siswa apabila siswa dapat menjawab atau mengetahui pertanyaan tersebut. Para siswa akhirnya berlomba-lomba menacari jawaban pertanyaan tersebut dimana pun, seperti di internet, di buku atau kepada orang yang lebih faham dengan pertanyaan yang diberikan oleh guru.

Ciri-ciri Pendekatan Behavioristik

Dalam setiap pendekatan pasti mempunyai ciri-ciri tertentu, berikut adalah ciri-ciri pendekatan behavioristik :

  • Memusatkan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik.

  • Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment.

  • Perumusan prosedur treatment yang spesifin yang sesuai dengan masalah.

  • Penaksiran obyektif atas hasil-hasil terapi

Adapun karakteristik pendekatan behavioristik adalah :

  • Didasarkan pada teori yang dirumuskan secara tepat dan konsisten yang mengarah kepada kesimpulan yang dapat diuji.

  • Berasal dari hasil penelaahan eksperimental yang secara khusus direncanakan untuk menguji teori-teori dan kesimpulannya.

  • Memandang simptom sebagai respon bersyarat yang tidak sesuai.

  • Memandang symptom sebagai bukti adanya kekeliruan hasil belajar.

  • Memandang bahwa simptom-simptom tingkah laku itu ditentukan berdasarkan perbedaan individual yang terbentuk secara kondisional dan antonom, sesuai dengan lingkungan masing-masing.

Dengan demikian perilaku tidak hanya mengubah gejala perilakunya menjadi akhlak terpuji saja, namun akan terjadi perubahan dalam keseluruhan pribadinya, sehingga pendekatan behavioristik juga dapat disebut dengan psikoterapi. Jadi pendekatan behavioristik juga bertujuan menghilangkan simptomsimptom yang maladaptif serta membentuk tingkah laku yang baru dalam segi akhlak terpuji.

Referensi

http://digilib.uinsby.ac.id/5501/5/Bab%202.pdf