Apa yang Dimaksud dengan Mekanisasi Pertanian?

Program-Infrastruktur-dan-Mekanisasi-Pertanian-Cegah-Migrasi-Profesi-Petani-doc.Kementan-ivoox.id_

Mekanisasi pertanian atau alat dan mesin pertanian (alsintan) merupakan cabang dari ilmu Teknik Pertanian (Agricultural Engineering) dengan pokok soal telaah berupa kegiatan usahatani (semua komoditas), kehidupan perdesaan, pengolahan hasil pertanian dan bentuk-bentuk kegiatan pertanian lain yang terkait dengan usahatani. Mekanisasi pertanian sebagai perangkat teknologi dalam usahatani mempunyai tujuan spesifik untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja,mempercepat serta efisiensi proses, dan menekan biaya produksi.

Sumber

Handaka, H. & Prabowo, A. (2014). Kebijakan Antisipatif Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Analisis Kebijakan Pertanian, 11(1), 27-44. http://dx.doi.org/10.21082/akp.v11n1.2013.27-44
Sumber Gambar: Program Infrastruktur dan Mekanisasi Pertanian Cegah Migrasi Profesi Petani | iVoox Indonesia

1 Like

A. Definisi Mekanisasi Pertanian

Mekanisasi atau penggunaan mesin pertanian merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, meningkatkan mutu dan nilai tambah produk, serta pemberdayaan petani. Tujuan penggunaan mesin di pertanian adalah untuk meningkatkan daya kerja manusia dalam proses produksi pertanian, di mana setiap tahapan dari proses produksi tersebut dapat menggunakan alat dan mesin pertanian. Dengan demikian, mekanisasi pertanian diharapkan dapat meningkatkan efisiensi tenaga manusia, derajat dan taraf hidup petani, kuantitas dan kualitas produksi pertanian, memungkinkan pertumbuhan tipe usaha tani dari tipe subsisten menjadi tipe pertanian perusahaan, serta mempercepat transisi bentuk ekonomi Indonesia dari sifat agraris menjadi sifat industri. Keberhasilan pengembangan mekanisasi pertanian bergantung pada kondisi agroklimat, sistem ekonomi, dan budaya yang sejalan dengan peluang ekonomi penerapan alat dan mesin pertanian.

B. Sejarah Mekanisasi Pertanian di Indonesia

1. Dekade 1950-1960

  • Pada tahun 1950, terdapat pemanfaatan alat mesin pertanian peninggalan Belanda dari rice estate di Sekon, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur dan di Kruik, Merauke, Papua yang bertujuan sebagai pengganti sistem bo-wong atau kebo-uwong, yaitu tenaga manusia sebagai penarik bajak dalam pengolahan tanah untuk diganti dengan tenaga hewan atau mesin.
  • Pada tahun 1951, diresmikan Bagian Mekanisasi Pertanian pada Departemen Pertanian di Jakarta.
  • Pada tahun 1952, didirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Mekanisasi Pertanian dengan bantuan pemerintah Amerika Serikat melalui International Cooperation Administration (ICA).

2. Dekade 1960-1970

  • Pada tahun 1962, peralatan mesin bantuan dari Eropa Timur dan traktor kecil dari Jepang diperkirakan didistribusikan sebanyak 10.000 unit seperti traktor tangan untuk pengolahan tanah, pompa air, dan penggilingan padi (rice milling unit).
  • Pada tahun 1966, peralatan mesin pertanian yang berasal dari impor sudah mulai masuk. Akibatnya pengembangan alat mesin pertanian di dalam negeri menjadi lebih maju dengan memodifikasi alat impor tersebut.

3. Dekade 1970-1980

  • Pada tahun 1974, peralatan mesin pertanian mulai dirintis oleh NV. Haji Kala dengan mendatangkan traktor mini 12,5 HP merek KUBOTA. Kemudian PT Antara and Co. juga memasarkan traktor mini 13 HP merek Satoh dan PT Andipa memasarkan traktor mini 15 HP merek Shibaura.
  • Pada tahun 1975, Dr. Soedjatmiko MA, menciptakan Konsep Sistem dan Pola Pengembangan Mekanisasi Selektif dan Spesifik Lokasi.
  • Pada tahun 1976, berdiri PT Yamindo yang memproduksi beberapa mesin pertanian seperti mesin pemecah kulit gabah (rice husker), mesin pemutih beras (rice polisher), traktor tangan, dan traktor mini (4WD).
  • Pada tahun 1979, didirikan PT Tri Ratna Diesel, yang merupakan bagian dari PT Rutan Machinery Trading Co. yang memproduksi mesin diesel (di bawah lisensi Mitsubishi).

4. Dekade 1980-1990

  • Pada tahun 1981-1982, dikembangkan mesin perontok padi (power thresher) tipe IRRI yang telah dimodifikasi. Pertama kali dibuat oleh Bengkel Dragon, Bukittinggi, Sumatera Barat. Di samping itu petani juga telah menggunakan traktor tangan, pompa air, dan sprayer untuk pembasmi hama penyakit tanaman.
  • Pada tahun 1983, berdiri jurusan mekanisasi/teknik pertanian di Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat.
  • Pada tahun 1984, berdiri jurusan mekanisasi pertanian di Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang (Makassar), Sulawesi Selatan.

5. Dekade 1990-2000

  • Pada tahun 2003, disusun Peta Kesepadanan Tingkat Teknologi Alsintan berdasarkan hasil studi keteknikan pertanian selama tahun 1998-2003 serta dukungan data dan hasil penelitian proyek LREP (Puslitbangtanak).
  • Pada tahun 2005, dihasilkan Peta Arahan Seleksi Tingkat Teknologi Mekanisasi Pertanian dibuat sebagai panduan bagi pelaku agribisnis dalam hal menentukan jenis teknologi alat dan mesin pertanian yang cocok untuk lahan sawah dan lahan kering.

C. Peran Mekanisasi dalam Pembangunan Pertanian

Fokus pembangunan ekonomi Indonesia adalah pembangunan pertanian, dengan alasan karena pertanian merupakan sektor yang menghidupi lebih dari 50 persen tenaga kerja di Indonesia, di samping penguasaan sumber daya pertanian yang sangat mendukung. Pada saat reformasi ekonomi, beban sektor ini sangat berat namun tetap mampu menjadi tulang punggung ekonomi. Dengan demikian, sektor pertanian akan tetap penting dalam perekonomian serta tetap berperan dalam pembangunan nasional. Keterkaitan yang erat antara pertanian dan industri serta jasa senantiasa menuntut kebijaksanaan pembangunan pertanian yang dinamis sejalan dengan transformasi perekonomian yang sedang terjadi. Keberlangsungan pertanian dengan beban yang berat ini membutuhkan dukungan mekanisasi pertanian.

D. Dampak Kebijakan Pengembangan Mekanisasi Pertanian di Indonesia

1. Realokasi Anggaran dan Peningkatan Bantuan Alsintan kepada Petani

  • Kementerian Pertanian menemukan masalah bahwa alokasi dan penggunaan anggaran alat dan mesin pertanian (alsintan) belum efektif dan efisien. Hal ini sebagai dampak dari alokasi yang belum tepat dan penggunaan yang tidak fokus pada program prioritas.
  • Melalui realokasi anggaran, perubahan struktur alokasi anggaran bantuan sarana kepada petani dari hanya 35% pada tahun 2014 dapat menjadi 70% persen pada tahun 2017.
  • Kebijakan realokasi anggaran tersebut dilakukan dengan memangkas anggaran perjalanan dinas, seminar, workshop, rapat, pertemuan-pertemuan, rehab, dan pembangunan gedung, serta anggaran pendukung lainnya.
  • Pembelajaran yang dapat dipetik dari penataan anggaran sejak tahun 2015 adalah efektivitas dan efisiensi yang menjadi sebuah keharusan dalam mempercepat pencapaian swasembada pangan. Sebelumnya, perencanaan pembangunan pertanian dilakukan berbasis money follows function yang ternyata tidak efektif dan tidak efisien.

2. Dampak Penyebaran Alsintan Secara Massal terhadap Kelembagaan Petani

  • Dua kelembagaan yang berkembang sebagai dampak langsung program mekanisasi pertanian adalah Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) dan Brigade Alsintan.
  • Lembaga pengelola alsintan yang dikembangkan Kementan adalah UPJA yang merupakan satu unit usaha dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). UPJA menyediakan penyewaan jasa alsintan, terutama untuk petani yang berada di kelompok tani anggota Gapoktan tersebut. Kehadiran UPJA dalam menyediakan jasa alsintan memang dibutuhkan masyarakat tani. UPJA dapat menutupi kekurangan ketersediaan tenaga kerja pertanian, terutama untuk pengolahan tanah. Selain itu, penyediaan jasa alsintan oleh UPJA akan meningkatkan pendapatan petani dalam usaha tani, karena meringankan beban petani untuk biaya produksi usaha taninya.
  • Selain dalam UPJA, pengelolaan alsintan juga dilakukan dalam format keorganisasian yang lain, yakni Brigade Alsintan. Brigade Alsintan berada di dinas pertanian (provinsi dan kabupaten/kota) serta pada TNI (Kodim dan Korem). Di lapangan, pihak Brigade telah menerapkan pola dan prosedur peminjaman alat sedemikian rupa sepertiharus diketahui kelompok tani, PPL, dan Dinas Pertanian setempat.
  • Bantuan Alsintan yang masif ke petani telah memberikan dampak yang nyata, mulai dari level mikro (usahatani dan pendapatan petani), dan level makro pada ekonomi nasional (impor alsintan) dan terhadap perkembangan industri alsintan.
Sumber

Aldillah, R. (2016). Kinerja Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian dan Implikasinya dalam Upaya Percepatan Produksi Pangan di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 34(2), 163-177. Kinerja Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian dan Implikasinya dalam Upaya Percepatan Produksi Pangan di Indonesia | Aldillah | Forum penelitian Agro Ekonomi

Sulaiman, A. A., et al. (2018). Revolusi Mekanisasi Pertanian Indonesia. Jakarta: IAARD PRESS. Revolusi Mekanisasi Pertanian