© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan marah?

anger

Marah Menurut Spielberger (2008). seorang psikolog spesialis dalam studi tentang kemarahan, mengatakan :

"Anger is an emotional state varies in intensify mild irritation lo inensefiay and rage. Like other emotions, anger is accompanied by physiological and biological when you get angry1y, your hear/ rate and blood pressure go up, as do the levels of your energy hormones, adrenaline, and noradrenaline. "

Marah


Kemarahan adalah keadaan emosional yang intensitasnya bervariasi dari iritasi ringan hingga kemarahan yang intens dan balas dendam. Seperti bentuk emosi lainnya, rnarah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, begitu juga dengan Jev, "I hormon, adrenaline, dan noradrenaline.

Menu rut Davidoff ( 1991 :72), marah adalah suatu emosi yang mempunyai ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang disebabkan adanya kesalahan yang mungkin nyata salah atau mungkin tidak. 14 Marah adalah suatu emosi yang terentang mulai dari iritabilitas sampai agresivitas yang dialami oleh semua orang. Biasanya, kemarahan adalah reaksi terhadap stimulus yang tidak menyenangkan atau mengancam (Widjaya Kusuma dalam Y osep, 2007: 113). Stuart dan Sundeen ( dalam Y osep, 2007) juga menyatakan bahwa marah adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman.

Dalam A Critical Dictionmy of Poychoanalysis yang disusun oleh Charles Rycrof (dalam Purwanto & Mulyono, 2006), pengertian marah sebagai emosi dasar yang dibangkitkan secara khusus oleh frustasi (Primmy emotion, provoked typically by fi·ustration). Sedangkan pada Dictionary of Behavior Science dengan editor Benjamin wohnen (Purwanto & Mulyono, 2006), marah diartikan sebagai suatu reaksi ernosional kuat yang didatangkan oleh ancarnan, carnpur tangan, erangan kata-kata, penyerangan jelas, atau frustasi dan dicirikan dengan reaksi-reaksi gawat dari sistern syarafyang bebas dan dengan balasan-balasan serangan yangjelas atau tersembunyi.

Marah adalah reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada sistcm syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis ataujasmani maupun yang verbal atau lisan (Chaplin, 2002).

Berdasarkan teori-teori para ahli di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa marah adalah suatu reaksi emosional akut dan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman yang ditimbu\kan oleh suatu rangsangan dari luar ataupun dalam dirinya, disertai dengan perasaan tidak suka yang sangat kuat.

Respon Marah

Respon marah sifatnya fluktuatif (naik-turun) dalam rentang adaptif (menerima dan menolak).

  • Pernyataan (assertion) adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyata-kan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan menimbulkan masalah.

  • Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagalnya mencapai tujuan yang ti-dak realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. Dalam keadaan ini tidak ditemukan alternatiflain. Selanjutnya seseorang merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan, dan terlihat pasif.

  • Pasifadalah individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya. klien nampak pemalu, pendiam, sulit diajak bicara, karena rendah diri dan merasa kurang mampu.

  • Agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. Perilaku yang tampak dapat berupa: muka masam, bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.

  • Ngamuk adalah perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri, orang lain dan lingkungan.

Proses Marah


Stres dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan. Adapun respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui tiga cara yaitu:;

  • Mengungkapkan secara verbal
  • Menekan; dan
  • Menantang.

Dari tiga cara ini yang pertama adalah konstruktif (membangun) sedangkan dua cara yang lain adalah destruktif (merusak). Dengan melarikan diri atau menantang akan menimbulkan rasa bermusuhan, dan bila cara ini dipakai terus-menerus, maka kemarahan dapat diekspresikan pada diri sendiri atau lingkungan dan akan tampak sebagai depresi psikomatik atau agresif dan ngamuk (Yosep 2007: 1 14).

Jcnis-Jenis dan Tingkatan Marah


Kemarahan manusia terdiri dari berbagai macam dan tingkatan. Masing-masing manusia memiliki tingkatan dan perilaku yang berbeda-beda. Ghazali (dalam Purwanto & Mulyono, 2006) mengungkapkan bahwa kemarahan manusia itu banyak macamnya, ada yang cepat marah, cepat marah lalu cepat pula tenangnya, lam bat marah tapi cepat tenangya. Gymnastiar ( dalam Purwanto & Mu-lyono, 2006) juga menjelaskan lebih lanjut tentang macam-macam marah yang disebutkan Ghazali. Menurutnyajika ditimbang dari sudut kernarahan, ternyata orang dapat dikelompokkan dalarn ernpat jenis sebagai berikut:

  1. Lambat marah, lambat reda
    Orang yang memiliki tipe ini rnemiliki kesulitan dalam menjalin kembali hubungan harmonis yang sudah clijalin, hal ini dise-babkan durasi marah yang terlalu lama.

  2. Lambat marah dan cepat redanya
    Orang yang memiliki sifat seperti ini sangat sulit tersinggung, meskipun di depan matanya terjadi sesuatu yang benar-benar salah. la akan mencari seribu alasan untuk memaklumi kesalahan orang, memaalkan lalu melupakannya.

  3. Cepat marah dan lambat redanya
    Tipe sifat seperti ini akan menimbulkan kemarahan yang sangat berkepanjangan dan membekas.

  4. Cepat marah dan cepat redanya
    Tipe sifat ini cenderung fluktuatif. la mudah sekali marah dan mudah pula redanya.

Marah dibagi menjadi beberapa tingkatan (Hamzah dalam Purwanto & Mulyono, 2006), yaitu :

  1. Marah Berlebihan Suatu kondisi, dimana seseorang didominasi oleh marah yang dapat me buatnya keluar dari sifat rasional dan aturan agama. Terjadinya kondisi semacam ini karena timbul dari dua faktor, yakni faktor pembawaan dan kebi-asaan. Tidak sedikit orang mempunyai kebiasaan pemarah sebagai sifat bawaan, seakan-akan wajahnya cetminan dari sifat itu. Pembawaan itulah yang dapat menyulut panasnya kebiasaan hati, karena sifat marah memang disimbolkan bersumber dari api, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,
    "Marah itu menyulut api di hali bani Adam. Tidakkah engkau perhatikan ma/anya memerah dan ural lehernya mengembang. " (HR Tirmidzi).

    Faktor yang kedua sering diakibatkan oleh lingkungan yang gemar melampi-askan kemarahannya dan menyebut itu sebagai keberanian dan kejantanan. Sifat orang sepe1ti ini, bila diberitahu atau dinasihati, ia ticlak mampu mendengarkannya sebaliknya akan semakin meningkatkan kemarahannya.

  2. Marah yang Sedang Pada kondisi sepe1ti ini seseorang kehilangan kekuatan, ticlak berdaya. Imam Syafi’i berkata,

    "Siapa yang ditunlul oleh sualu kondisi unluk marah akan tetapi tidak marah, maka ia adalah keledai. "
    Dalam Alquran disebutkan :
    "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kl!fir, tetapi berkasih sayang sesama mereka … " (QS Al-Fath:29).

  3. Kombinasi antara keduanya Kondisi ini menunjukkan terdapat dorongan kuat yang ditimbulkan oleh rangsangan dari faktor rasional dan agarna. Seperti halnya ketika terpancing marah yang rnengharuskan agar melakukan pernbelaan atau pembalasan dan segera reda pada kondisi di mana diharuskan untuk kernbali berlaku seperti biasanya. Menurut Daradjat (2001), marah itu boleh dilakukan oleh seseorang pada kondisi te1tentu. Bila marah sering dilakukan oleh seseorang pada kondisi yang salah atau sebab yang tidak jelas, maka ha! itu merupakan tanda dari gangguan mental.

Ciri-Ciri Marah


Menurut Beck (dalam Purwanto & Mulyono, 2006), ciri-ciri marah yang terjadi pada seseorang bisa dilihat dari beberapa aspek biopsikososial-kultural-spiritual, seperti yang akan dijelaskan berikut:

  1. Aspek Biologis
    Respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem syaraf otonom bereaksi terrhadap sekresi epinerpin, sehingga tekanan darah meningkat, takikardi (frekuensi denyut jantung meningkat), Wajah merah, pupil melebar dan frekuensi pengeluaran urin meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal. tubuh kaku dan retleks cepat. Hal ini disebabkan energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.

  2. Aspek Emosional
    Seseorang yang marah merasa tidak nyaman, merasa tidak berdaya,jengkel, frustasi, dendam, ingin berkelahi, mengamuk, bermusuhan, sakit hati, menya-lahkan dan menuntut.

  3. Aspek Intelektual
    Pada gangguan fungsi pancaindera dapat terjadi penyimpangan persepsi se-seorang sehingga hal itu dapat menimbulkan marah. Sebagian besar pengalaman kehidupan seseorang melalui proses intelektual. Peran pancain-dera sangat penting untuk beradaptasi pada lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Oleh karena itu, perlu diperhatikan cara seseorang marah, mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan marah, bagaimana informasi diproses, diklasifikasikan dan diin-tegrasikan.

  4. Aspek Sosial
    Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan emosi marah sering merangsang kemarahan dari orang lain, dan menimbulkan penolakan dari orang lain. Sebagian orang menyalurkan kemarahan dengan menilai dan mengkritik tingkah Jaku orang lain, sehingga orang lain merasa sakit hati. Proses tersebut dapat menyebabkan seseorang mf narik diri dari orang lain.

  5. Dalam memenuhi kebutuhan
    Seseorang memerlukan saling berhubungan dengan orang lain. Pengalaman marah dapat mengganggu hubungan interpersonal sehingga beberapa orang memilih menyangka atau berpura-pura tidak marah uniuk memperlahankan hubungan tersebut. Pengungkapan marah bisa juga merefleksikan budaya. Aspek Spiritual Keyakinan, nilai dan moral mempengaruhi ungkapan marah seseorang. Aspek tersebut mempengaruhi hubungan seseorang dengan lingkungan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimilikinya akan dapat rnenimbulkan kernarahan dan dirnanifestasi dengan amoral dan rasa tidak berdosa.

Nuh (2005) juga menjelaskan beberapa ciri-ciri marah yang dapat dideteksi, di antaranya :

  • Membesarnya pembuluh darah dan urat leher disertai merahnya wajah dan kedua mata.
  • Cemberut dan mengerutnya wajah dan dahi.
  • Tetjadi permusuhan kepada pihak lain melalui lisan, tangan. kaki atau saran lainnya.
  • Membalas permusuhan orang lain dengan permusuhan pula tanpa memperhitungkan akibat yang ditimbulkannya.

Hawwa (2003) menjabarkan ciri-ciri marah secara rinci sebagai berikut :

  • Pada wajah. Terlihat perubahan warna kulit rnenjadi kurang pucat, ujung-ujungjari bergetar keras, tirnbul buih pada sudut mulut, bola mata mernerah, hidung kernbang-kernpis, gerakan rnenjadi tidak terkendali serta terjadi perubahan-peruhahan lain pada fisik.

  • Pada mulut. Yaitu dengan mudahnya mengeluarkan kata makian, celaan, kata-kata yang menyakitkan, dan ucapan-ucapan keji.

  • Pada anggota tubuh. Yaitu perasaan ingin mernukul, melukai, merobek, bahkan membunuh. Jika marah itu tidak i:erlarnpiaskan pada orang yang dimarahinya, kekesalannya akan berbalik kepada dirinya sendiri. Iajuga akan merobek-robel pakaiannya, rnernukuli tubuhnya, mernukulkan tangannya ke tanah dan jatuh pingsan karena sangat kesalnya. Kalaupun tidak melakukan demikian, besar kemungkinan ia akan mencari sasaran lain, sepe1ii melemparkan piring, memukul binatang, dan mencaci-rnaki sebagaimana tingkah Jaku orang yang kurang waras.

  • •Pada hati. Di dalam hatinya akan timbul rasa benci. dendam dan dengki, menyembunyikan keburukan, merasa gembira dalam dukanya, dan merasa sedih atas kegembiraannya, rnernutuskan hubungan dan menjelek-jelekkannya.

1 Like

Emosi secara harviah berasal dari bahasa Perancis yaitu emotion, dari emovoir yang berarti kegembiraan. Dalam bahasa Latin emovere yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Goleman (2009) mengatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian marah adalah perasaan tidak senang karena diperlakukan tidak sepantasnya. Chaplin (terjemahan Kartono, 2011) merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organism mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya dan perubahan perilaku.

Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus) dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku approach (mengarah) atau avoidance (pengelakan) terhadap sesuatu dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi (Walgito, 2010).

Suharman (1995) mengartikan bahwa marah adalah suatu emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas simpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat disebabkan adanya kesalahan yang mungkin nyata atau tidak nyata. Sedangkan Safaria berpendapat bahwa marah merupakan sesuatu yang bersifat sosial dan biasanya terjadi jika mendapat perlakuan tidak adil atau tidak menyenangkan di dalam interaksi sosial (2009).

Albin mengungkapkan bahwa rasa marah merupakan emosi yang sangat sukar bagi setiap orang, baik dalam hal menerima ataupun untuk mengungkapkannya. Rasa marah menunjukkan bahwa suasana perasaan tersinggung oleh seseorang atau sesuatu sudah tidak baik (Safaria, 2009).

Chaplin (terjemahan Kartono, 2011) mendefinisikan marah merupakan suatu reaksi emosional akut yang ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang termasuk ancaman lahiriah, pengekangan diri dari lisan dan kekecewaan.

Emosi marah merupakan salah satu jenis emosi yang dianggap sebagai emosi dasar dan bersifat universal. Semua orang dari semua budaya memiliki emosi marah dan biasanya, marah dianggap sebagai bagian yang tidak terpisah dari agresi, kekejaman, dan kekerasan. Oleh karenanya pembahasan marah biasanya selalu dikatkan dengan agresi dan kekerasan karena emosi marah dinilai negatif oleh masyarakat karena sifatnya destruktif.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa marah merupakan reaksi emosional yang terjadi akibat adanya perasaan yang tidak menyenangkan terhadap lingkungan dan perasaan tidak suka dalam interaksi sosial.

Aspek-Aspek Emosi Marah


Marah memiliki beberapa aspek menurut Beck (dalam Purwanto dan Mulyono, 2006), yaitu:

  • Aspek Bilogis

Respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem syaraf otonom bereaksi terhadap sekresi eoinerpin, sehingga tekanan darah meningkat, frekuensi denyut jantung meningkat, wajah merah, pupil melebar, dan frekuensi pengeluaran air urin meningkat. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan, ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh kaku dan reflek cepat. Hal ini disebabkan energi yang dikeluarkan saat marah bertambah.

  • Aspek Emosional

Seorang yang marah merasa tidak nyaman, merasa, tidak berdaya, jengkel, frustasi, dendam, ingin berkelahi, mengamuk, bermusuhan, sakit hati, menyalahkan, dan menuntut.

  • Aspek Intelektual

Sebagian pengalaman kehidupan seseorang melalui intelektual. Peran panca indera sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. Oleh karena itu, perlu diperhatikan cara seseorang marah, mengidentifikasi keadaan yang menyebebkan marah, bagaimana informasi di proses, diklasifikasi dan diintegrasikan. Pada gangguan fungsi panca indera dapat terjadi penyimpangan persepsi seseorang sehingga menimbulkan marah.

  • Aspek Sosial

Meliputi interaksi sosial, budaya, konsep rasa percaya, dan ketergantungan. Emosi marah sering merangsang kemarahan dari orang lain dan menimbulkan penolakan dari orang lain. Pengalaman marah dapat mengganggu hubungan interpersonal sehingga beberapa orang memilih menyangkal atau berpura-pura tidak marah untuk mempertahankan hubungan tersebut. Cara orang mengungkapkan marah dan merefleksikan latar belakang budayanya.

  • Aspek Spiritual

Keyakinan, nilai dan moral mempengaruhi ungkapan marah seseorang. Aspek tersebut mempengaruhi hubungan seseorang dengan lingkungan. Hal yang bertentangan, dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan dan dimanifestasikan dengan moral dan rasa tidak berdosa.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan Emosi Marah


Menurut Zaquest secara garis besar emosi marah bisa disebabkan oleh faktor internal dan eksternal (Kurniawan, 2012), berikut penjelasannya :

1. Faktor Internal

Menyangkut kontrol diri seseorang, pola pandang yang dianutnya serta kebiasaan yang ditumbuhkannya dalam merespons suatu permasalahan.

2. Faktor Eksternal

Situasi-situasi di luar diri seseorang yang memancing respon emosional, latar belakang, serta budaya dan lingkungan sekitar.

Menurut Purwanto dan Mulyono (2006) secara garis besar sebab yang menimbulkan marah itu terdiri dari faktor fisik dan faktor psikis, yakni :slight_smile:

  • Faktor Fisik

Sebab- sebab yang mempengaruhi faktor fisik antara lain:

  1. Kelelahan yang berlebihan. Misalnya orang yang terlalu lelah karena kerja keras akan lebih mudah marah dan mudah sekali tersinggung serta dapat menjadi penyebab utama menurunnya kondisi fisik pada seseorang.
  2. Zat-zat tertentu yang bisa menyebabkan marah. Misalnya jika otak kurang mendapat zat asam, orang itu lebih mudah marah.
  3. Hormon kelamin pun dapat mempengaruhi kemarahan seseorang.
  • Faktor Psikis

Faktor psikis yang menimbulkan marah adalah erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Terutama sekali yang menyangkut apa yang disebut “konsep diri yang salah” yaitu bahwa anggapan seseorang terhadap dirinya sendiri yang salah. Konsep diri yang salah menghasilkan pribadi yang tidak seimbang dan tidak matang. Karena seseorang akan menilai dirinya sendiri sangat berlainan sekali dengan kenyataan yang ada.

Beberapa konsep diri yang salah dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. MC = Minderwaardigheid Complex (Rasa rendah diri), yaitu menilai dirinya sendiri lebih rendah dari yang sebenarnya.
  2. Superiority Complex (Sombong), yaitu menilai dirinya sendiri sangat penting melebihi kenyataan yang ada.
  3. Egosentris atau terlalu mementingkan dirinya sendiri, yang menilai dirinya sangat penting melebihi kenyataan.

Bentuk-bentuk emosi marah


Nay (dalam adiati, 2012), seorang ahli anger management (pengelolaan marah) menyebutkan berbagai bentuk kemarahan.

Untuk istilah bentuk kemarahan disebut sebagai wajah kemarahan adalah sebagai berikut :

  • Pasif-agresi

Karakteristik yang dapat dilihat adalah menahan pujian, perhatian atau kepedulian; mungkin “melupakan” atau tidak menaati komitmen; menjaga jarak ketika marah; melakukan sesuatu yang diketahui dapat membuat kesal orang lain; dan bisa berlangsung lama.

  • Sarkasme

Karakteristik yang dimunculkan adalah melontarkan sindiran yang menyakitkan; membuka aib seseorang di hadapan orang lain atau mempermalukan di depan umum; mengeraskan suara dan sikap yang dapat membuat orang tidak suka.

  • Kemarahan dingin

Biasanya ditandai dengan menjauhkan diri dari orang lain selama beberapa waktu; menjaga jarak; menolak menunjukan apa yang menjadi masalah; dan cenderung menghindari pembicaraan emosional ketika marah.

  • Permusuhan

Menunjukkan suatu gejolak perasaan, meninggikan volume suara lebih tertekan; berlaku seolah-olah diburu waktu; menunjukkan tanda- tanda frustasi dan kekesalan terhadap orang lain yang lamban atau tidak memenuhi ekspektasi kompetensi dan kinerja yang tinggi.

  • Agresif

Suara yang meninggi, melontarkan kata-kata keras dan atau menghina; kutukan, sumpah serapah dan tuduhan; memiliki pikiran atau gambaran mental untuk menyakiti orang lain; dan menumpahkan kemarahan dengan menyentuh, mendorong, menghadang atau memukul.

Pengertian Marah

Menurut istilah, marah berarti perubahan internal atau emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna mengobati apa yang ada di dalam hati. Pengertian marah dirumuskan secara singkat dalam A Critical Dictionary of Psychoanalysis yang disusun oleh Charles Rycroft sebagai emosi dasar yang dibangkitkan secara khusus oleh frustasi.

Maxwell Maltz menyatakan bahwa marah adalah frustasi, suatu jenis frustasi yang meledak dimana seseorang mengubah suatu perasaan terluka yang pasif menjadi suatu tindakan penghancuran disengaja yang aktif (Mulyono, 2005).

Davidoff (1991 dalam Purwanto, 2005) mengatakan bahwa marah adalah suatu emosi yang mempunyai ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat disebabkan adanya kesalahan yang mungkin nyata salah atau mungkin pula tidak.

Menurut Purwanto dan Mulyono (2005) marah adalah suatu reaksi emosional yang terlatih atau terbiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Marah adalah keadaan psikologis yang menyimpang watak seseorang dari jalan yang dialami (Hartati, 2005). Budiman dan Baraja menyebutkan bahwa marah sebagai suatu emosi yang disebabkan seseorang menghadapi keadaan yang tidak disukainya, atau bertentangan dengan kemauannya (Wetrimudrison, 2005).

Power & Dalgleish (1989 dalam Schieman, 1999) beranggapan bahwa para peneliti umumnya setuju bahwa marah adalah emosi yang tidak mengenakkan dan menimbulkan konflik serta suatu peristiwa interpersonal yang biasanya menimbulkan penilaian negatif dari diri atau masyarakat. Marah merupakan bagian dari emosi dan merupakan suatu respon, dorongan sekaligus tujuan dari seseorang. Dengan demikian marah dapat merupakan respon dari situasi yang tidak mengenakkan, dapat mendorong seseorang untuk berbuat agresi maupun dapat sebagai cara untuk mencapai tujuan (Sumarni, 1995).

Dapat disimpulkan bahwa marah adalah ekspresi emosi manusia dalam melampiaskan ketidakpuasan, kekecewaan atau kesalahannya ketika terjadi gejolak emosional yang tidak terkendalikan, tidak mengenakkan dan menimbulkan konflik serta suatu peristiwa interpersonal yang biasanya menimbulkan penilaian negatif dari diri atau masyarakat, juga merupakan suatu respon, dorongan sekaligus tujuan dari seseorang serta dioperasionalisasikan sebagai perasaan-perasaan dan ekspresi perilaku.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ekspresi Marah

Menurut Schieman (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi ekspresi marah individu adalah:

  • Pendidikan.

Individu yang berpendidikan tinggi kurang suka memperlihatkan marah, dibandingkan dengan mereka yang kurang berpendidikan. Pendidikan merefleksikan kualitas penilaian seseorang, pengaturan-diri, kompetensi, atau penghindaran kritik sosial jika seseorang menunjukkan marahnya.

  • Usia.

Individu yang lebih tua kurang suka menampilkan emosi marahnya. Adanya pengalaman membangun kemampuan untuk mengatur respon-respon emosional pada frustrasi dan aspek-aspek yang tidak dapat diprediksikan dalam kehidupan.

Strategi Pengendalian Marah

Putnam & Wilson (1989 dalam Haar & Krah, 1999:70) memperkenalkan tiga respon spesifik, yaitu:

  • Gaya kontrol (control type), merujuk pada perilaku yang menggunakan suatu konfrontasi langsung dengan lawan untuk mencapai minat-minat mereka sendiri.

  • Gaya orientasi pada pemecahan (solution-oriented style), dirancang untuk mencapai suatu kompromi yang mencerminkan minat dari kedua belah pihak.

  • Gaya nirkonfrontasi (nonconfrontational style), ditujukan untuk mengurangi situasi konflik dengan cara menghindar atau mengalah.

Reaksi Marah

Menurut Fehr (1999), pada saat marah orang bereaksi dengan berbagai cara, antara lain:

  • Menghindar atau menolak situasi

  • Berperilaku agresif (langsung atau tidak langsung)

  • Mendiskusikan situasi

  • Mengekspresikan perasaan

  • Negosiasi