© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Leukoedema?

Leukoedema

Leukoedema terlihat adanya diskolorasi (perubahan warna) mukosa menjadi tampak keputihan, diffuse, dan filmy (seperti lapisan film), dengan banyak lipatan-lipatan permukaan yang diakibatkan mengkerutnya mukosa. Lesi tidak dapat dikelupas, dan menghilang atau memudar saat mukosa diregangkan. Etiologinya belum ditetapkan. Faktor penyebabnya adalah merokok, alkohol, infeksi bakteri, kondisi saliva dan interaksi elektrokimia.

Leukoedema merupakan salah satu dari variasi normal mukosa rongga mulut. Kondisi ini pertama kali ditemukan dan dinamakan pada tahun 1953. Leukoedema merupakan kondisi kronis dimana mukosa rongga mulut memiliki penampakan berwana abu-abu dan opak.

Leukoedema terlihat sebagai lesi yang berlipat-lipat dan berwana putih sampai putih kebiru-biruan pada mukosa bukal. Penampakan berwarna putih keabuan pada leukoedema mirip dengan penampakan lesi awal leukoplakia. Lesi ini tidak terlihat sebagai suatu kesatuan tersendiri, namun garis tepinya nampak bercampur atau bergabung dengan jaringan mukosa normal disekitarnya.

Saat area yang terlibat diregangkan, penampakan berwarna putih ini akan hilang atau akan menjadi sulit untuk terlihat. Mukosa yang diregangkan tersebut kemudian akan terlihat seperti mukosa normal dalam warna serta teksturnya.

Namun, saat mukosa yang diregangkan itu direlaksasi atau dikembalikan ke keadaan semula, gambaran klinis sebelumnya akan kembali terlihat.

Penyebab


Beberapa referensi menyatakan bahwa etiologi dari leukoedema tidak diketahui. Namun referensi lainnya menyatakan bahwa leukoedema merupakan hasil dari iritasi mukosa tingkat rendah yang terjadi secara berulang. Iritan tingkat rendah tersebut antara lain dapat berupa oral hygiene yang buruk, makanan pedas, dan juga tembakau.

Kelihatannya terdapat korelasi positif antara leukoedema dengan penggunaan tembakau, rokok, dan cerutu. Selain itu, cheek biting juga dipercaya merupakan salah satu faktor penyebabnya.

Berdasarkan literatur oleh J. J. Pindborg (1973), prevalensi dari leukoedema telah ditentukan melalui beberapa studi epidemiologi dan berkisar antara 0,02% di India sampai 16,9% di Papua Nugini, dimana terdapat hubungan yang kuat antara leukoedema dengan merokok dengan stick (tembakau impor yang dibungkus dengan koran). Studi prevalensi di India oleh A. L. Mathew juga menyatakan bahwa prevalensi dari leukoedema lebih tinggi diantara para perokok daripada yang tidak merokok, dengan kecenderungan meningkat seiring bertambahnya usia.

Leukoedema umumnya terjadi pada mukosa bukal secara bilateral. Tetapi, leukoedema dapat juga terjadi pada mukosa bukal dan palatum lunak (namun jarang). Referensi lain juga menyatakan bahwa lesi ini juga dapat meluas ke faucial pillars dan lidah. Leukoedema memiliki prevalesi lebih tinggi diantara ras Negroid atau orang kulit hitam lainnya daripada orang kulit putih. Kemungkinan lebih tingginya persentase leukoedema pada kelompok pasien tertentu (seperti orang kulit hitam) mengindikasikan adanya pengaruh herediter. Penemuan ini didukung oleh literatur oleh J. J. Pindborg (1973) yang menyatakan bahwa di Uganda, leukoedema ditemukan sebesar 16,5% pada orang Afrika, tetapi hanya 2,2% dri orang Asia.

Leukoedema bukan merupakan kondisi precancerous. Selain itu, belum pernah dilaporkan adanya perubahan ke arah malignan pada leukoedema . Kondisi ini tidak memerlukan perawatan. Bila merokok merupakan faktor penyebabnya, maka penghentian kebiasaan ini dapat menyebabkan perbaikan.

Leukoedema
Gambar Leukoedema