Apa yang dimaksud dengan Lean Startup ?


(Labib Imam Hidayat) #1

Lean Startup

Berbicara tentang masalah startup memang tidak ada habisnya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Sehingga seringkali muncul istilah learn startup. Tidak banyak orang yang tahu tentang Lean Startup, apa itu Lean Startup? , apa itu metode atau konsep atau sistem pengetatan pengeluaran keuangan seminim mungkin atau apa? Apa makna sebenarnya? Apa mitos nya dan apa kebenarannya?

Apa itu Lean Startup


Kebanyakan orang berpikir “Lean” mereka pasti berpikir startup tersebut menghabiskan uang sesedikit mungkin atau berjalan pada anggaran yang ketat. Itu adalah hal yang kurang tepat. Mari kita bahas melalui definisi “Lean Startup” Eric Ries.

Menurut Eric Ries, Lean startup adalah sebuah proses penciptaan startup yang berfokus pada cepatnya penciptaan prototype startup dengan tujuan asumsi pengujian.

Feedback pelanggan digunakan untuk menggerakkan setiap iterasi yang memungkinkan untuk evolusi lebih cepat daripada proses tradisional. Berdasarkan kesimpulan dari pendapat Eric Ries maka lean startup merupakan metode atau konsep yang disebut Metodologi Lean Startup, metodologi ini adalah proses, dimana proses ini dilakukan dengan cepat untuk membangun prototype agar dapat menguji asumsi user atau pelanggan dengan pelayanan yang nyata

Alur proses Lean Startup


Didalam lean startup terdapat sebuah rumusan yang menggambarkan detail alur dari learn startup itu sendiri disebut dengan Validate Learning. Konsep ini mempertemukan 3 hal yaitu build, learn, measure, ketiga konsep tersebut bergabung didalam suatu life cylce yaitu lean cylce,

Berdasarkan gambar tersebut setiap ide akan dijadikan sebagai build atau dibangun kemudian akan diberikan kepada pelanggang dan diukur dengan tingkat kebutuhan dan kepuasan pelanggan, hasil dari ukuran tersebut akan dijadikan sebuah data yang akan di pelajari dan akan menghasilkan ide berikutnya untuk dimasukan kedalam sebuah sistem. cylce tersebut akan terus diulang selama keinginan atau kepuasan pelanggan

Metode yang digunakan pada Lean Startup


Pada dasarnya Metode Lean Startup adalah sebuah metode yang berfokus pada cepatnya penciptaan prototype dengan tujuan pengujian asumsi. Feedback pelanggan digunakan untuk menggerakkan setiap iterasi yang memungkinkan untuk evolusi lebih cepat daripada proses tradisional. Ada beberapa tahapan dalam Metode Lean Startup, tahapan itu adalah sebagai berikut:

1.Tahapan Pertama : Market Validation

Market Validation adalah tahapan untuk memastikan bahwa asumsi problem yang kita definisikan memang benar-benar ada, terjadi pada banyak orang, merupakan problem yang penting dan seterusnya. Ada juga yang menyebut tahap ini sebagai tahap “Market Development/Customer Development”. Pada tahap ini, assessment, survey, penggunaan landing page diperlukan.

2.Tahapan Kedua : Product Validation

Product Validation adalah tahapan untuk memastikan bahwa konsep solusi/prototype solusi yang dibangun adalah yang paling pas/ paling efektif yang dapat menjawab problem valid pada tahap-1. Ada juga menyebut tahap ini sebagai tahap “Penciptaan MVP (Minimum Viable Product)”. Pada tahap inilah mock-up/prototype diperlukan.

3.Tahapan Ketiga : Business Validation

Business Validation untuk memastikan bahwa dari proses penyelesaian problem dengan solusi tersebut memang memiliki nilai bisnis, bisa juga mencarikan model bisnis yang paling pas untuk skema problem-solusi yang sudah valid pada tahap-1 & tahap-2 tersebut. Nah model bisnis yang paling baik adalah yang memiliki karakter sustainable & growing. Sustainable dalam arti akan bertahan lama (selamanya jika mungkin) dan growing secara eksponensial, dimana pendapatan dapat dipicu agar tumbuh secara eksponensial dan pengeluaran dapat ditekan agar tumbuh secara linier.

Pada dasarnya lean startup adalah salah satu cara dimana mengatur keseimbangan dengan ide dan kepuasan pelanggan, dimana saat ini tingkat kepuasan pelanggan adalah nomor 1, pengembangan berharap dengan adanya konsep ini maka tingkat kepuasan pelanggan akan mempengaruhi ide selanjutnya didalam sebuah start up dan akan menyelesaikan suatu masalah.

Referensi :

  1. http://searchcio.techtarget.com/definition/Lean-startup
  2. http://theleanstartup.com/principles
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Lean_startup

(Nicky Setyowati) #2

Lean Startup pada intinya adalah sebuah metode pembuatan sebuah produk yang berorientasi dengan kecepatan pembuatan produk dan kepuasan pengguna. Kuncinya tetap di bagaimana membuat sebuah produk. Produk adalah sesuatu yang dijual oleh perusahaan pada konsumen-nya. Desain produk adalah seluruh aktifitas untuk membuat produk dimulai dari melihat potensi market yang dilanjutkan dengan produksi, penjualan dan pengiriman produk tersebut ke konsumen.

Karakteristik Desain produk yang baik antara lain adalah :

  1. Mengutamakan kualitas yang diukur dari produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kesediaan konsumen untuk membeli produk tersebut.
  2. Biaya pembuatan produk yang sesuai dengan Value dari produk tersebut. Dimana biaya pembuatan produk akan berpengaruh pada harga jual dan keuntungan produk.
  3. Memperhitungkan dimensi kualitas sebuah produk yang termasuk didalamnya (Chen et al, 2015)

Untuk membahas Lean Startup, sebaiknya juga sedikit menyinggung proses pengembangan produk yang umum digunakan, yaitu Product Development Process.

Product Development Process

Proses pengembangan produk secara umum terbagi menjadi beberapa fase.

Proses Pengembangan Produk
Gambar Proses Pengembangan Produk (Ulrich, Eppinger, 2012)

Proses diawalai dengan suatu fase perencanaan, yang berkaitan dengan kegiatan – kegiatan pengembangan teknologi dan penelitian tingkat lanjut. Output fase perencanaan adalah pernyataan misi proyek, yang merupakan intput yang dibutuhkan untuk memulai tahap pengembangan konsep dan merupakan pentunjuk bagi tim pengembangan. Penyelesaian dari proses pengembangan produk adalah peluncuran produk yang kemudian produk sampai kepada konsumen.

Dalam proses Pengembangan produk tercakup didalamnya kegiatan – kegiatan yang sangat penting dilakukan yaitu :

  1. Identifikasi kebutuhan pelanggan. Sasaran kegiatan ini adalah untuk memahami kebutuhan konsumen dan mengkomunikasikannya secara efektif kepada tim pengembangan.

  2. Penetapan spesifikasi target. Spesifikasi merupakan terjemahan dari kebutuhan konsumen menjadi kebutuhan secara teknis.

  3. Penyusunan konsep. Konsep produk adalah sebuah gambaran atau perkiraan mengenai teknologi, prinsip kerja, dan bentuk produk.

  4. Pemilihan konsep. Pemilihan konsep merupakan kegiatan dimana berbagai konsep dianalisis secara berturutturut, kemudian dieliminasi untuk mengidentifikasi konsep yang paling menjanjikan.

  5. Pengujian konsep. Satu atau lebih konsep diuji untuk mengetahui apakah kebutuhan konsumen telah terpenuhi, memperkirakan potensi pasar dari produk, dan mengidentifikasi beberapa kelemahan yang harus diperbaiki selama proses pengembangan selanjutnya.

  6. Penentuan spesifikasi akhir. Spesifikasi target yang telah ditentukan di awal proses ditinjau kembali setelah proses dipilih dan diuji.

  7. Perencanaan proyek. Pada kegiatan akhir pengembangan konsep ini, tim membuat suatu jadwal pengembangan secara rinci, menentukan strategi untuk meminimasi waktu pengembangan, dan mengidentifikasi sumber daya yang digunakan untuk menyelesaikan proyek.

  8. Analisis ekonomi. Analisis ekonomi digunakan untuk memastikan kelanjutan program pengembangan menyeluruh dan memecahkan tawar-menawar spesifik, misalnya antara biaya manufaktur dan biaya pengembangan…

  9. Analisa produk-produk pesaing. Pemahaman mengenai produk pesaing adalah penting untuk penentuan posisi produk baru yang berhasil dan dapat menjadi sumber ide yang kaya untuk rancangan produk dan proses produksi.

  10. Pemodelan dan pembuatan prototype. Setiap tahapan dalam proses pengembangan konsep melibatkan banyak bentuk model dan prototipe. Hal ini mencakup antara lain model pembuktian konsep yang akan membantu tim pengembangan dalam menunjukkan kelayakan model yang ditunjukkan kepada konsumen untuk mengevaluasi keergonomisan dan gaya, sedangkan model lembar kerja adalah untuk pilihan teknis.

Lean Startup


Proses Lean Startup pada prinsipnya bertujuan untuk mengurangi waste dengan meningkatkan frekuensi kontak dengan customer, sehingga pengujian dapat dilakukan dan menghindari asumsi pasar yang tidak benar sedini mungkin dan akhirnya mendapatkan produk yang valid.

Tahap validasi awal dimulai dengan hipotesa siapa (calon) customer, apa kebutuhannya, berapa banyak dan sebagainya. Kemudian hipotesa konsumen tersebut di validasi langsung kepada calon konsumen untuk menentukan apakah produk sudah sesuai dengan yang diinginkan (Blank, 2012)

Dalam sebuah bisnis, Lean Startup merupakan metode yang meminimalisasi risiko, terutama dengan cara mengandalkan iterasi (langkah pengulangan) dari product ke market untuk mendapatkan feedback yang berkualitas secepat mungkin dan sesering mungkin dari market (Blank, 2012).

Hal lain yang penting dalam metode Lean Startup adalah Validated Learning yang dapat didefinisikan sebagai proses untuk mencari tahu fakta yang relevan terkait dengan desain sebuah produk. Pada proses ini diawali dengan menggunakan asumsi / hipotesa yang kemudian diuji dengan eksperimen lapangan untuk memperoleh tanggapan dari calon pelanggan apakah hipotesis yang dibuat benar.

Proses utama Lean Startup
Gambar Proses utama Lean Startup

Siklus atau proses utama dalam Lean Startup adalah Build Measure dan Learn. Tujuan dari Build-Measure-Learn adalah untuk memberikan fakta yang dibutuhkan dalam Validated Learning, proses dari Build-Measure-Learn digambarkan sebagai tiga tahap yang berulang sebagai berikut:

  • Build: Buat produk berdasarkan hipotesis-hipotesis inti yang telah diuji dengan Validated Learning. Untuk pertama kali produk yang dibuat berupa Minimum Viable Product (“MVP”). MVP adalah produk dalam bentuk minimal yang hanya memiliki fitur-fitur inti untuk menguji lebih lanjut hipotesis-hipotesis yang belum tervalidasi.

  • Measure: Kumpulkan data reaksi,saran, masukan dan umpan balik dari pengguna MVP dan ukur hasil yang diperoleh dengan tujuan memperoleh pengetahuan terkait hiposis yang diuji.

  • Learn: Buat kesimpulan dari hasil proses Measure apakah hipotesis yang diuji benar atau salah. Hasil dari tahap Learn kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan perbaikan atau perubahan terhadap produk atau strategi.

Kesimpulan yang diambil dari proses ini juga menentukan keputusan apakah kemudian Pendiri Startup harus “Persevere” atau “Pivot”. Persevere adalah melanjutkan proses pengembangan dengan strategi atau produk yang sama, sedangkan Pivot adalah melakukan perubahan atau mengganti sebagian atau seluruh strategi atau produk

Perbandingan Product Process Development dan Lean Startup.


Dari penjabaran kedua metode dalam proses desain produk dapat dilihat persamaan dan perbedaan utama dalam prosesnya.

  • Berfokus pada Konsumen. Dalam hal orientasi pada pengguna, kedua metode mempunyai kesamaan. Pengguna atau konsumen merupakan hal yang penting dan harus dipastikan dalam prosesnya terdapat proses identifikasi kebutuhan konsumen yang bahkan tersembunyi dan tidak terucapkan seperti halnya kebutuhan yang eksplisit. Kemudian, dari identifikasi menjadi basis untuk menyusun spesifikasi produk dan dikembangkan oleh tim pengembang.

  • Proses Desain. Jika dibandingkan kedua metode, proses pengembangan produk (Ulrich, Eppinger, 2012) terlihat sangat detail dan lebih dilakukan dalam konteks yang statik. Mulai dari analisa market, sumberdaya yang diperlukan dan diakhiri dengan prototype. Proses iterasi atau validasi dilakukan setelah System-Level Design.

Sedangkan dalam proses Lean Startup proses dilakukan mulai dari saat perencanaan dan pembentukan Value dari produk seperti terlihat pada Gambar di bawah ini. Iterasi tersebut dilakukan sampai tahap akhir secara cepat.

Proses Iterasi dalam Lean Startup
Gambar Proses Iterasi dalam Lean Startup

Perubahan (Pivot) dapat terjadi bahkan pada saat tahap planning hingga akhir sehingga dipastikan diakhir proses akan mendapatkan produk yang valid. Dengan kata lain Lean Startup melakukan proses pengembangan dan impelentasi secara parallel, dimana pada Proses Pengembangan Produk proses implementasi dilakukan proses desain selesai. Pada saat ini diaplikasikan pada perusahaan khususnya dalam pengembangan produk baru, maka dipastikan akan meningkatkan kemungkinan produk yang sesuai dengan keinginan konsumen dan juga mengurangi waktu yang dibutuhkan mulai dari desain produk hingga sampai ke market. Namun dibutuhkan komunikasi yang baik ditiap bagian dalam perusahaan khususnya antara desainer dan tim pengembangan produk yang bisa jadi mempunyai cara pandang dan berpikir yang berbeda.

Sumber : Wisnu Sakti Dewobroto, Iveline Anne Marie, Pendekatan Lean Startup pada Desain Produk dan Teknik Perancangan Fasilitas pada Kondisi Iklim Bisnis yang Penuh dengan Ketidakpastian, Universitas Trisakti