© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Kista Dentigerous?

Kista dentigerous adalah kista yang terbentuk disekitar mahkota gigi yang belum erupsi. Kista ini mulai terbentuk bila cairan menumpuk di dalam lapisan-lapisan epitel email yang tereduksi atau diantara epitel dan mahkota gigi yang belum erupsi.

Apa yang dimaksud dengan Kista Dentigerous ?

Kista dentigerous merupakan kantung tertutup berbatas epitel atau kantung jaringan ikat yang berbatas epitel squamosa berlapis yang terbentuk di sekitar mahkota gigi yang tidak erupsi atau dentikel dan terdapat cairan.

Kista ini melekat pada cemento-enamel junction hingga jaringan folikular yang menutupi mahkota gigi yang tidak erupsi.

Kista dentigerous yang terjadi pada saat erupsi dinamakan dengan kista erupsi, biasanya menghalangi erupsi. Separuh bagian dari kista ini biasanya sudah tidak dibatasi oleh tulang.

Kista dentigerous juga disebut sebagai kista folikular sebab merupakan hasil pembesaran folikel, berasal dari akumulasi cairan antara epitel email tereduksi dan email gigi.

Etiologi dan Patogenesis


Etiologi kista dentigerous biasanya berhubungan dengan:

  • gigi impaksi,
  • gigi yang erupsinya tertunda,
  • perkembangan gigi, dan
  • odontoma.

Ada dua teori mengenai pembentukan kista dentigerous. Teori pertama menyatakan bahwa kista disebabkan oleh akumulasi cairan antara epitel email tereduksi dan mahkota gigi. Tekanan cairan mendorong proliferasi epitel email tereduksi ke dalam kista yang melekat pada cemento-enamel junction dan mahkota gigi.

Teori kedua menyatakan bahwa kista diawali dengan rusaknya stellate reticulum sehingga membentuk cairan antara epitel email bagian dalam dan bagian luar. Tekanan cairan tersebut mendorong proliferasi epitel email luar yang menyisakan perlekatan pada gigi di bagian cemento- enamel junction; lalu epitel email dalam tertekan ke atas permukaan mahkota.

Kista terbentuk mengelilingi mahkota dan melekat pada cemento- enamel junction dari gigi. Saat telah terbentuk sempurna, mahkota akan berprotrusi ke dalam lumen, dan akar-akarnya memanjang ke sisi luar kista.

Pada setiap teori, cairan menyebabkan proliferasi kistik karena kandungan hiperosmolar yang dihasilkan oleh cellular breakdown dan produk-produk sel sehingga menyebabkan gradien osmotik untuk memompa cairan ke dalam lumen kista.5,8,9,16,20

image
Gambar Kista Dentigerous: low power view menunjukkan perlekatan dinding kista terhadap leher gigi. (Diambil dari buku “Oral Disease Clinical and Pathological Correlations 3rd Edition”. )

image
Gambar Ilustrasi kista dentigerous. Perhatikan perlekatannya pada cemento-enamel junction. (Diambil dari buku “Oral and Maxillofacial Pathology A Rationale for Diagnosis and Treatment”.)

Klasifikasi


Klasifikasi kista dentigerous ada tiga tipe, yaitu tipe sentral, lateral, dan sirkumferensial, sesuai dengan posisi berkembangnya kista pada mahkota gigi.

  1. Kista Dentigerous Sentral
    Kista mengelilingi mahkota secara asimetris, menggerakkan gigi ke arah yang berlawanan dengan erupsi normal.

    Kista Dentigerous Sentral
    Gambar Kista dentigerous tipe sentral menunjukkan mahkota terproyeksi ke dalam rongga kista. (Diambil dari buku “Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Edition”.)

  2. Kista Dentigerous Lateral
    Pada tipe lateral, kista berkembang pada sisi mesial dan distal dari gigi dan meluas jauh dari gigi, hanya menutupi sebagian mahkota gigi, menyebabkan miringnya gigi ke arah yang tidak diliputi kista.

    Kista Dentigerous Lateral
    Gambar Kista dentigeorus tipe lateral menunjukkan kista yang besar di sepanjang akar mesial gigi impaksi. (Diambil dari buku “Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Edition”.)

  3. Kista Dentigerous Sirkumferensial
    Pada tipe sirkumferensial, seluruh organ email di sekitar leher gigi menjadi kistik, sering menyebabkan gigi bererupsi menembus kista sehingga menghasilkan gambaran seperti kista radikular.

    Kista Dentigerous Sirkumferensial
    Gambar Kista dentigerous tipe sirkumferensial menunjukkan kista meluas sepanjang akar mesial dan distal gigi yang tidak erupsi. (Diambil dari buku “Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Edition”.)

Gambaran Klinis


Jumlah kasus kista dentigerous cukup banyak sehingga menjadi kista odontogenik kedua yang paling banyak terjadi setelah kista radikular. Gigi yang menjadi asal-muasal kista absen secara klinis sebab melibatkan gigi yang biasanya impaksi atau telat erupsi. Sebagian besar berhubungan dengan gigi molar tiga mandibula, lalu juga dengan kaninus maksila, molar tiga maksila, dan premolar dua mandibula.

Meskipun demikian kista ini tetap bisa terjadi pada semua gigi yang tidak erupsi, di mana pada mahkota gigi tersebut terdapat lumen kista. Kista dentigerous hampir selalu melibatkan gigi permanen meskipun pada beberapa kasus ditemukan adanya keterlibatan gigi sulung. Beberapa kasus lainnya berhubungan dengan gigi supernumerary atau dengan odontoma.

Karena berhubungan dengan gigi impaksi maka kemungkinan terjadinya kista ini akan bertambah seiring bertambahnya usia. Sebagai contoh seseorang berusia 50 tahun dengan gigi impaksi, kemungkinannya memiliki kista dentigerous lebih besar dibandingkan dengan pasien 21 tahun dengan gigi impaksi pula. Namun karena sebagian besar masyarakat telah membuang gigi impaksinya saat masih muda, maka kelompok usia muda (dekade ke-2 dan ke-3) mendominasi statistik yang ada.

Penelitian terakhir menunjukkan terjadi pemerataan jumlah kasus dari berbagai usia dalam lima dekade terakhir ini. Kista dentigerous terjadi dua kali lipat lebih banyak pada pria dibandingkan wanita.

Kista dentigerous biasanya asimtomatik kecuali bila ukurannya menjadi sangat besar (10-15cm) atau bila terjadi infeksi sekunder sehingga akan terasa sakit. Infeksi sekunder ini sering terjadi. Dapat pula menyebabkan ekspansi rahang. Ada kemungkinan terjadi fraktur patologis. Fraktur patologis dan infeksi ini dapat mempengaruhi sensasi nervus alveolar inferior dan pleksus nervus alveolar superior sehingga menyebabkan parastesia.

Kista dapat terdeteksi melalui pemeriksaan radiografik rutin, atau dalam proses mencari penyebab retained deciduous tooth, atau pada pemeriksaan ekspansi klinis.

Kista dapat terjadi pada pasien dengan cleidocranial dysostosis dan kadang juga terjadi pada kelainan hipoplastik amelogenesis imperfekta dan menyebabkan beberapa atau bahkan banyak gigi menjadi nonvital.

Gambaran Radiografik


Ukuran normal ruang folikular kurang dari 2,5 mm pada radiograf intraoral dan 3 mm pada radiograf panoramik; spasi yang lebih besar dianggap sebagai kista. Temuan diagnostik yang penting yakni kista dentigerous melekat pada cemento-enamel junction. Beberapa kista dentigerous terlihat eksentrik, berkembang dari aspek lateral folikel sehingga kista malah menempati area di sebelah mahkota, bukan di atas mahkota.

Kista yang berhubungan dengan molar tiga maksila seringkali tumbuh ke dalam maxillary antrum dan biasanya ukurannya sudah cukup besar sebelum akhirnya ditemukan. Kista yang melekat pada mahkota molar tiga mandibula dapat memanjang sampai ke ramus.

image
Gambar Kista yang melibatkan ramus mandibula. (Diambil dari buku “Oral Radiology Principles and Interpretation 4th Edition”.)

image
Gambar Kista dentigerous menyebabkan pergeseran gigi kaninus ke dalam ruang maxilary antrum serta menggeser insisif lateral dan premolar satu. (Diambil dari buku “Oral Radiology Principles and Interpretation 4th Edition”.)

image
Gambar Coronal CT image menggunakan algoritma tulang memperlihatkan gigi molar tiga maksila yang bergeser ke dalam ruang maxillary antrum. (Diambil dari buku “Oral Radiology Principles and Interpretation 4th Edition”.)

Kista dentigerous biasanya memiliki korteks yang berbatas jelas dengan outline berbentuk kurva atau sirkuler. Jika terjadi infeksi, korteksnya hilang. Lesi berbentuk unilokular, namun efek multilokular dapat dihasilkan dari ridge dinding tulang. Kista dentigerous biasanya soliter, bila terlihat multipel mungkin disertai dengan sindrom nevoid basal sel karsinoma.

Secara radiografik, aspek internal kista terlihat radiolusen kecuali untuk mahkota gigi yang terlibat. Kista terlihat translusen dan compressible ketika ekspansi kista menyebabkan resorpsi tulang kortikal.

Kista dentigerous memiliki kecenderungan untuk menggeser dan meresorpsi gigi tetangga. Dilaporkan ada 50% kasus kista dentigerous yang menyebabkan resorpsi akar gigi tetangga. Kista biasanya akan menggeser gigi yang terlibat ke arah apikal. Tingkat pergeserannya dapat bervariasi. Sebagai contoh, gigi molar tiga maksila atau kaninus dapat terdorong ke dasar orbita, dan gigi molar tiga mandibula dapat tergeser ke regio kondil atau koronoid atau bahkan sampai ke korteks inferior mandibula. Dasar dari maxillary antrum dapat bergeser jika kista menginvaginasi antrum. Kista juga dapat menggeser kanalis nervus alveolar inferior ke arah inferior. Kista yang pertumbuhannya lambat tersebut juga seringkali mampu memperluas batas kortikal luar dari rahang yang terlibat.

image
Gambar Resorpsi akar distal gigi molar dua. (Diambil dari buku “Oral Radiology Principles and Interpretation 4th Edition”.)

Gambaran Histopatologis


Dinding kista dibentuk oleh folikel gigi ketika dinding kista melekat pada cervico-enamel junction. Gambarannya bervariasi, umumnya terdiri atas lapisan dinding jaringan ikat tipis, dilapisi epitel gepeng yang bersatu dengan epitel email tereduksi, meliputi mahkota gigi. Kapsul biasanya tersusun oleh jaringan kolagen yang agak padat dan kadang terlihat sel datia.

Kadang terjadi inflamasi pada dinding kista di sekitar perlekatan gigi pada cervico-enamel junction. Sering terjadi infeksi sekunder sehingga terjadi akantosis dari rete ridge dengan infiltrasi sel radang.

Pada kista dentigerous yang tidak terinflamasi, batas epitelnya kira-kira berketebalan 4-6 lapisan sel. Batas jaringan epitel konektif biasanya datar meskipun pada beberapa kasus terjadi inflamasi kronis atau infeksi sekunder sehingga terjadi hiperplasia epitel. Batas epitel tidak berkeratin.

image
Gambar Kista dentigerous terinflamasi menunjukkan dinding epitel yang lebih tipis dengan hyperplastic rete ridge. (Diambil dari buku “Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Edition.”)

image
Gambar Kista Dentigerous non-inflamasi menunjukkan lapisan tipis dinding epitel tak berkeratin. (Diambil dari buku “Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Edition.”)

Pada 25% kasus kista dentigerous mandibula dan 50% kasus kista dentigerous maksila dapat ditemukan area fokal sel-sel mukus. Kadang juga terlihat sel bersilia. Elemen sel sebasea juga kadang terlihat dalam struktur dindingnya.

Kadang terdapat area keratinisasi (metaplasia berkeratin) dan hasil aspirasi kista ini kadang membingungkan untuk membedakannya dengan keratosis. Elemen berkeratin yang menandakan adanya proses metaplastik, harus bisa dibedakan dari dinding keratosis odontogenik sebab perbedaan tersebut menyerupai multipotensialitas dinding epitel odontogenik dari kista dentigerous.

Dapat juga terjadi proliferasi cell rests of Serres pada dinding kista. Meskipun gambaran diagnostik ini penting namun juga dapat membingungkan sebab biasanya proliferasinya luas sehingga menyerupai tumor odontogenik.

image
Gambar Scattered mucous cell dapat terlihat pada dinding epitel kista dentigerous (Diambil dari buku “Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Edition.”)

Potensial Neoplastik

Dinding epitel kista dentigerous dapat bertransformasi sehingga dapat terjadi komplikasi, yakni transformasi neoplastik dari epitel kistik menjadi ameloblastoma. Suatu penelitian menunjukkan bahwa 17% kasus ameloblastoma diawali dengan adanya riwayat kista dentigerous.

Transformasi malignansi lebih sedikit terjadi dibandingkan dengan tranformasi ameloblastik. Kemungkinan tranformasi malignansi tersebut dapat berupa karsinoma ameloblastik namun jarang terjadi. Malignansi yang paling sering dihubungkan dengan kista dentigerous yakni karsinoma sel skuamosa dan karsinoma mukoepidermoid.

Selain adanya kemungkinan terjadinya rekurensi setelah pembedahan yang tidak sempurna, beberapa komplikasi lainnya juga dapat terjadi, seperti :

a. Perkembangan Ameloblastoma

  • Berkembang pada dinding kista dentigerous dari lapisan atau sisa-sisa epitel.
  • Hasil penelitian dari 641 kasus ameloblastoma, 17% kasus berkaitan dengan gigi impaksi/folikular/kista dentigerous. Disposisi dari proliferasi epitel neoplastik dalam bentuk ameloblastoma ini lebih sering ditemui pada kista dentigerous dibandingkan kista odontogenik lainnya.
  • Manifestasi formasi tumor ini sebagai penebalan nodular pada dinding kista tetapi gambaran klinis yang jelas sulit ditentukan sehingga perlu pemeriksaan mikroskopis dari jaringan kista dentigerous tersebut.

b. Perkembangan Karsinoma Epidermoid

  • Perkembangannya berasal dari lapisan epitel.
  • Faktor predisposisi dan mekanisme perkembangan belum diketahui, tetapi kejadiannya menampakkan unequivocal.

c. Perkembangan Karsinoma Mukoepidermoid

  • Merupakan bentuk tumor kelenjar saliva malignan dari lapisan epitel kista dentigerous yang mengandung sel sekresi mukus.
  • Lebih jarang terjadi dibandingkan karsinoma epidermoid.
  • Sering terjadi pada kista dengan impaksi molar tiga mandibula.

Diagnosis, Perawatan, dan Prognosis


Awalnya dilakukan aspirasi pada lesi. Kista dentigerous menghasilkan straw-colored fluid. Jika aspirasi tidak menghasilkan cairan apapun, implikasinya lesi ini merupakan lesi yang solid sehingga pada kasus tersebut sebaiknya dilakukan biopsi. Jika lesi menghasilkan darah, pertimbangan pertama hal tersebut mungkin terjadi karena angiogram, masuknya jarum menyebabkan perdarahan. Jika pada aspirasi kedua yang dilakukan beberapa hari kemudian juga menghasilkan darah dan darah menyembur dari jarum dengan syringe barrel disconnected atau Doppler sounding yang positif untuk suara vaskular maka dibutuhkan angiogram.

Computed Tomography (CT) Scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) Scan dapat dilakukan untuk membedakan antara kista yang berisi cairan dan tumor solid. Namun densitas cairan kistik sangat beragam, dapat serupa dengan konsistensi tumor solid tipe lainnya sehingga membuat perbandingannya jadi membingungkan.

Kista dentigerous yang berukuran kecil (kurang dari 2cm) biasanya dapat dienukleasi dengan mudah, bersamaan dengan pencabutan gigi yang berhubungan dengan kista tersebut. Enukleasi kista yang diikuti dengan manipulasi ortodontik untuk mempertahankan gigi yang terlibat telah berhasil digunakan (seperti pada gigi kaninus maksila). Jika enukleasi beresiko buruk terhadap struktur di sekitarnya maka eksternalisasi/penestrasi dapat dilakukan sebagai pendekatan alternatif untuk mengurangi ukuran kista, selanjutnya diikuti dengan enukleasi.

image
Gambar Kista dentigerous besar yang dienukleasi dari mandibula. (Diambil dari buku “Oral and Maxillofacial Pathology A Rationale for Diagnosis and Treatment”.)

Meskipun biasanya kista hanya melibatkan satu gigi namun pada kista yang membesar maka kista tersebut juga dapat mempengaruhi beberapa gigi lainnya yang ada di dekatnya.

Bila kista dentigerous mencapai ukuran yang besar, menghasilkan pergeseran ekstrim dari gigi impaksi yang berhubungan. Pergeseran gigi yang terjadi bisa jauh dari posisinya yang normal terutama pada regio maksila, sehingga gigi asal kista akan sulit ditentukan. Gigi tersebut dapat bermigrasi ke arah suborbital, baik ke prosesus koronoid atau kondiloid. Jika fraktur patologis mengancam, kadang dipilih cangkok tulang autologous untuk rekonstruksinya sesegera mungkin.

Marsupialisasi dilakukan pada kista dentigerous yang berukuran besar. Hal ini kurang ideal untuk dilakukan sebab menimbulkan resiko terbentuknya ameloblastoma in situ atau microinvasive ameloblastoma atau transformasi neoplastik lainnya dari dinding kista yang berkembang menjadi penyakit yang lebih invasif. Marsupialisasi juga menyebabkan proses penyembuhan bekas luka lebih lambat, perawatan pascaoperasi lebih rumit, dan reduksi pada regenerasi tulang akhir. Indikasi marsupialisasi, yakni:

  1. jika marsupialisasi memungkinkan gigi untuk erupsi spontan atau dipandu secara ortodontik ke posisi fungsionalnya pada lengkung rahang, atau

  2. jika ahli bedah mengidentifikasi resiko terjadinya kerusakan gigi yang berkembang atau bundel neurovaskular selama enukleasi.

Prognosisnya baik sekali dan tidak ada kemungkinan rekurensi setelah enukleasi. Namun kista residual dapat berkembang jika lesi tidak dienukleasi dengan sempurna.

Diagnosis Banding


Dilihat dari kondisi biologisnya, diagnosis banding kista dentigerous, yakni keratosis odontogenik, ameloblastoma in situ, atau microinvasive ameloblastoma dalam kista dentigerous, invasive ameloblastoma, dan ameloblastic fibroma pada remaja muda dan anak- anak. Jika kista dentigerous terjadi pada maksila anterior, kista odontogenik adenomatoid akan menjadi pertimbangan utama sebagai diagnosis bandingnya, khususnya jika terjadi pada pasien muda.

Diagnosis utama kista dentigerous didapat berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologis.

Kista dentigerous adalah kantung tertutup berbatas epitelium atau kantung jaringan ikat berbatas epitelium skuamosa berlapis yang terbentuk di sekeliling mahkota gigi yang tidak erupsi atau dental anomali dan terdapat cairan.

Etiologi dan Pathogenesis


Ada 2 teori yang menerangkan proses terjadinya kista dentigerous yang asalnya dari folikel gigi.

  • Teori pertama mengatakan diawali oleh pengumpulan cairan diantara REE dan permukaan email dari mahkota gigi. Pengumpulan cairan ini menimbulkan tekanan yang merangsang proliferasi REE untuk menjadi kista.

  • Teori kedua dikatakan awalnya adalah pecahnya retikulum stelata sehingga terjadi pengumpulan cairan antara lapisan inner dan outer dari REE sehingga tekanan cairan yang timbul akan menyebabkan proliferasi dari lapisan luar epitelium email. Pada kedua teori ini tampak proliferasi kistik ditimbulkan oleh cairan hiperosmolar, karena perbedaan tekanan osmotic, dapat menarik cairan masuk ke lumen kista.

Kista dentigerous merupakan kista yang berasal dari separasi folikel sekitar gigi yang belum erupsi atau impaksi. Kista terbentuk ketika cairan berakumulasi diantara epitel email tereduksi dengan mahkota gigi. Kista dentigerus berkembang dari proliferasi sisa organ email atau epitel email.

Berdasarkan pernyataan di atas, kista dentigerous diasosiasikan dengan gigi yang impaksi. Begitu juga dengan gigi yang impaksi, banyak juga diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologikal, hal ini termasuk pembentukan lesi kistik, dimana salah satunya adalah kista dentigerous, pembentukan neoplasma, pericoronitis, periodontitis dan patologikal resorpsi akar, serta begitu juga dengan efek detrimental pada gigi tetangganya.

Menurut Daley dan Wycoski, kista dentigerous berhubungan dengan jenis kelamin dikarenakan hubungannya dengan ukuran rahang yang kecil. Sedangkan ukuran rahang yang kecil merupakan salah satu penyebab gigi impaksi.

Klasifikasi


Klasifikasi kista dentigerous yaitu tipe sentral, lateral, dan sirkumferensial sesuai posisi dimana kista terbentuk dalam hubungannya dengan mahkota gigi.

  1. Tipe sentral : Kista mengelilingi mahkota secara simetris, bergerak ke arah berlawanan sampai kekuatan erupsi normalnya. Pada tipe sentral pembentukan kista terjadi sebelum degenerasi organ enamel yang meliputi mahkota gigi. Kista dentigerous sentral yang mengelilingi keseluruhan mahkota gigi secara berangsung-angsur akan membesar

    Kista Dentigerous. Tipe sentral menunjukan mahkota terproyeksi kedalam rongga kista
    Gambar Kista Dentigerous. Tipe sentral menunjukan mahkota terproyeksi kedalam rongga kista (Sumber: Riden, K. Key Topics in Oral and Maxillofacial Surgery. 1998 )

  2. Tipe lateral : Kista terbentuk pada sisi mesial atau distal gigi dan meluas jauh dari gigi, hanya disekitar mahkota. Kista ini terbentuk pada bagian email yang menetap setelah bagian atas permukaan oklusal telah berubah menjadi dental kutikel.

    Kista Dentigerous. Tipe lateral menunjukan kista yang besar sepanjang akar mesial gigi yang tidak erupsi
    Gambar Kista Dentigerous. Tipe lateral menunjukan kista yang besar sepanjang akar mesial gigi yang tidak erupsi. (Sumber: Riden, K. Key Topics in Oral and Maxillofacial Surgery. 1998 )

  3. Tipe sirkumferensial : Seluruh email disekitar leher gigi menjadi kista, sering menyebabkan gigi untuk erupsi melalui kista (seperti lingkaran donat), menghasilkan gambaran yang mirip dengan kista radikular.13

Kista Dentigerous. Tipe sirkumferensial menunjukan kista meluas sepanjang akar mesial dan distal gigi yang tidak erupsi
Gambar Kista Dentigerous. Tipe sirkumferensial menunjukan kista meluas sepanjang akar mesial dan distal gigi yang tidak erupsi. (Sumber : Neville, Brad W, D.D.S. Oral & Maxillofacial Pathology 2nd Ed. 2002)

Menurut Archer kista dentigerous dibagi menjadi :

  1. Kista Dentigerous (Folikular) Sentral
    Bentuk paling umum; kista ini menutupi mahkota gigi secara sentral.

  2. Kista Dentigerous (Folikular) Lateral
    Perbedaan kista ini dengan kista dentigerous sentral hanya pada lokasinya. Kista tidak menutupi mahkota tetapi berpindah ke posisi yang lain.

  3. Kista Dentigerous (Folikular) Multilokular
    Kista ini berkembang dari gabungan beberapa kista-kista kecil; biasanya ditemukan pada area M3 mandibula.

Gambaran Klinis


Biasanya kista dentigerous terjadi sebelum usia 20 tahun dan lebih sering pada pria. Sedangkan menurut Freitas, range umur untuk laporan kasus kista dentigerous sangat bervariasi, dari usia 3 – 57 tahun. Dan menurut Murad, lesi biasanya sering terjadi pada dekade hidup kedua dan ketiga. Dimana mayoritas pasien kasus kista ini berusia muda dibawah umur 30 tahun (72.7%). Lokasi paling banyak yakni ditemukan pada regio molar ketiga mandibula (56%).

Kasus kista dentigerous yang terjadi di Baghdad, Iraq, lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita, dengan rasio 1,5 : 1.14 Sedangkan pada studi yang dilakukan di Sicily, Italia, ditemukan bahwa dari 149 kista yang didiagnosis, 91 kista ditemukan pada pria dan 58 pada wanita (rasio pria dan wanita 1,57 : 1).

Daley dan Wycoski mengatakan bahwa ditemukannya kecenderungan pada pria, dikarenakan hubungannya dengan ukuran rahang yang lebih kecil pada wanita sekaligus kesadaran yang lebih besar untuk melakukan ekstraksi profilaktik pada gigi yang impaksi.

Mourshed menemukan bahwa 4 dari setiap 500 pasien melakukan pemeriksaan full-mouth x-ray memiliki kista dentigerous. Ketika dihubungkan dengan gigi yang belum erupsi, ada 3,6 kista dentigerous per 100 pasien yang setidaknya memiliki 1 gigi yang belum erupsi. Secara bertentangan, 2,6 pasien dengan gigi yang belum erupsi memiliki kista dentigerous. Kista dentigerous mengililingi mahkota gigi yang belum erupsi, biasanya 95 gigi geligi supernumerari.

Kista dentigerous hampir selalu melibatkan gigi geligi permanent, walaupun ada beberapa laporan mengenai keterlibatan gigi sulung. Gigi permanent yang paling sering terlibat adalah molar 3 mandibula dan kaninus maxilla, dimana gigi geligi tersebut yang paling sering mengalami impaksi. Insidensi kista dentigerous pada rahang sebesar 10-15 %.

Terdapat kaitan antara perkembangan gigi impaksi dengan transformasi dari epitel email tereduksi.22 Investigator lainnya ada yang menyebutkan kaitan retikulum stelata dengan pembentukan kista dentigerous. Kadang- kadang berhubungan dengan gigi supernumerari atau odontoma.

Kista yang kecil biasanya asimtomatik dan ditemukan hanya pada pemeriksaan radiografik rutin atau saat pengambilan film untuk menentukan penyebab gigi tidak erupsi. Secara klinis, lesi menunjukkan pembengkakan yang fluktuan dan bulat dari alveolar ridge diatas daerah gigi yang sedang erupsi.

Kista ini terbentuk di sekitar mahkota dan perlekatannya terdapat di cementoenamel junction gigi tersebut. Ketika telah terbentuk sempurna, mahkota berprotusi ke dalam lumen dan akarnya memanjang keluar dari kistanya. Biasanya asimtomatik, kecuali jika kista berkembang menjadi besar sekali atau terinfeksi. Walaupun kista biasanya hanya melibatkan satu gigi, namun ketika kista tersebut membesar dapat melibatkan beberapa mahkota gigi yang berdekatan, sehingga gigi dapat tergeser dari posisi normalnya, khususnya di maksila.

Kista ini dapat tumbuh menjadi cukup besar, dan kista yang besar dapat menyebabkan ekspansi tulang pada area sekitarnya yang disertai rasa sakit. Lebih ekstensif lagi dapat menyebabkan asimetri wajah. Kista ini dapat terinfeksi melalui jalur hematogen, dan dapat terkait dengan adanya rasa sakit dan bengkak. Infeksi dapat terjadi karena erupsi gigi sebagian atau karena perluasan lesi periapikal atau periodontal yang mempengaruhi gigi sekitar. Kista dapat mencapai ukuran yang signifikan, biasanya berhubungan dengan perluasan tulang kortikal namun jarang mencapai ukuran yang dapat mempengaruhi pasien hingga terjadi fraktur patologis.

Keterlibatan kista pada molar 3 rahang bawah yang tidak erupsi dapat menyebabkan gaung pada seluruh ramus hingga prosesus koronoid dan kondil dan ekspansi plate kortikal akibat tekanan dari lesi, menyebabkan pergerakan molar 3 ke arah yang dapat mengkompresi inferior border mandibula. Keterlibatan kista pada kaninus rahang atas menyebabkan terjadinya ekspansi anterior maksila dan secara superfisial mengakibatkan sinusitis akut atau selulitis.

Gambaran Radiografik


Lesinya terlihat unilocular radiolusensi yang berhubungan dengan gigi yang tidak bererupsi atau odontoma. Bentuknya membulat atau melengkung dengan batas yang jelas. Radiolusensi berbatas jelas dengan mengalami kortikasi, dengan adanya sklerotik atau osteitis, hanya muncul jika terjadi infeksi sekunder.

Radiograf kista terlihat sebagai pericoronal radiolucency yang diselubungi oleh jaringan kortikal dimana harus dibedakan dari ruang folikular normal. Kadang terdapat pseudolokulasi sebagai hasil dari trabekulasi atau penggabungan dinding yang keras (tulang).38 Lesi dapat menjadi cukup besar dan kemungkinan untuk terjadinya penetrasi kortikal lebih besar jika ukurannya bertambah. Pada gambar radiograf ruang follicular dari molar 3 besarnya sekitar 2 mm, dimana 3 mm merupakan batasan dari gigi kaninus yang impaksi.
Terdapat kesamaan tampilan antara kista dentigerous kecil dengan folikel yang hiperplastik.

Odontogenik keratosis dan ameloblastoma juga kadang menyelubungi mahkota gigi, dan keduanya dapat menciptakan tampilan radiografik seperti kista dentigerous. Oleh karena itu identifikasi intraoperatif dari lesi kistik ini, paling baik dilakukan dengan cara dirujuk ke ahli oral pathologi. Sebagai petunjuk umum, jika ruang folikular di sekitar mahkota lebih besar dari 3 mm diagnosis dapat merupakan kista dentigerous. Lebar ruang pericoronal 2,5 mm atau lebih merupakan daerah minimal yang dibutuhkan untuk diagnosis kista dentigerous. Karena itu diperlukan pengertian lebih lanjut mengenai folikel gigi itu sendiri.

Kista Dentigerous. Lesi radiolusen melibatkan mahkota premolar mandibula yang tidak erupsi
Gambar Kista Dentigerous. Lesi radiolusen melibatkan mahkota premolar mandibula yang tidak erupsi. (Sumber : Neville, Brad W, D.D.S. Oral & Maxillofacial Pathology 1st Ed. 1995)

Gambaran Mikroskopik


Spesimennya menunjukkan jaringan ikat fibrokolagen yang padat sebagai gambar utamanya, dengan beberapa area yang lebih jarang dan myxomatous. Epithelial rest odontogenik biasanya tersebar di spesimennya, dengan konsentrasi di sekitar lumen atau batas epitelialnya meningkat. Batas luminalnya terdiri dari squamous epitelium yang bertingkat dan ber-nonkeratin.

Pada gigi yang berkembang tidak wajar jika ditemukan reduced epithelium enamel dengan eosinofilik sitoplasma serta berbentuk kubus sampai persegi panjang. Tetapi pecahan kolesterol dan sel “Giant” yang multinukleus, dengan badan Rushton angular merupakan penemuan yang biasa. Keseluruhan lumen mungkin tidak dibatasi dengan epithelium, bahkan beberapa bagian terlihat dibatasi hanya oleh jaringan ikat.

Kadang juga ditemukan numerous mucous cells, sel bersilia, dan yang paling jarang yakni sel sebasea di sisi (lining) epitel.

Kista Dentigerous. Batas kista yang khas terdiri dari sel skuamos epithelium non-keratinisasi berlapis yang ditunjang oleh jaringan fibrous yang tidak meradang
Gambar Kista Dentigerous. Batas kista yang khas terdiri dari sel skuamos epithelium non-keratinisasi berlapis yang ditunjang oleh jaringan fibrous yang tidak meradang. (Sumber : Lee, K. W. Atlas Berwarna Patologi Mulut.1989)

Kista dentigerous. Kista dentigerous inflamasi menunjukan epithelial lining yang lebih tebal dengan hyperplastic rete ridges
Gambar Kista dentigerous. Kista dentigerous inflamasi menunjukan epithelial lining yang lebih tebal dengan hyperplastic rete ridges. (Sumber : Neville, Brad W, D.D.S. Oral & Maxillofacial Pathology 1st Ed. 1995)

Kista dentigerous. Sel mukos yang tersebar tampak dalam epithelial lining
Gambar Kista dentigerous. Sel mukos yang tersebar tampak dalam epithelial lining. (Sumber : Neville, Brad W, D.D.S. Oral & Maxillofacial Pathology 1st Ed. 1995)

Potensi Neoplastik


Kista dentigerous dapat bertransformasi menjadi neoplasma sebenarnya, dengan riset menunjukkan bahwa 17% dari ameloblastoma dihubungkan dengan kista dentigerous yang sudah ada. Transformasi ameloblastik lebih sering terjadi dibandingkan transformasi malignan. Tetapi transformasi yang paling jarang terjadi adalah karsinoma ameloblastik. Transformasi malignan yang paling sering dihubungkan dengan kista dentigerous adalah karsinoma sel skuamosa; mukoepidermoid karsinoma juga memungkinkan.

Beberapa komplikasi potensial yang dapat terjadi selain kemungkinan terjadinya rekurensi akibat pembedahan yang tidak sempurna, adalah :

  1. Perkembangan ameloblastoma

    • Berkembang pada dinding kista dentigerous dari lapisan epitelium atau sisa epitelial.

    • Hasil penelitian dari 641 kasus ameloblastoma, 17% kasus berkaitan dengan gigi impaksi / folikular / kista dentigerous. Disposisi dari proliferasi epitelial neoplastik dalam bentuk ameloblastoma ini lebih sering ditemui pada kista dentigerous dibandingkan kista odontogenik lainnya.

    • Manifestasi formasi tumor ini sebagai penebalan nodular pada dinding kista tetapi gambaran klinis yang jelas sulit ditentukan, sehingga perlu pemeriksaan mikroskopis dari jaringan kista dentigerous tersebut.

  2. Perkembangan karsinoma epidermoid

    • Perkembangannya berasal dari lapisan epitelium.

    • Faktor predisposisi dan mekanisme perkembangan belum diketahui

  3. Perkembangan karsinoma mukoepidermoid

    • Merupakan bentuk dari tumor kelenjar saliva malignant dari lapisan epitelium kista dentigerous yang mengandung sel sekresi mukus

    • Lebih jarang terjadi dibandingkan karsinoma epidermoid

    • Sering terjadi pada kista dengan impaksi molar 3 rahang bawah.

Perawatan dan Prognosis

Kista dentigerous biasanya mudah untuk dilakukan enukleasi dengan gigi yang berhubungan dilakukan pula ekstraksi. Enukleasi dari kista tersebut dapat diikuti dengan perawatan ortodontik, untuk menahan gigi yang bersangkutan.

Untuk kista yang lebih besar harus di-marsupialisasi jika enukleasi dan ekstraksi gigi dapat menghasilkan destruksi saraf dan pembuluh darah terhadap gigi serta struktur anatomi disekitarnya, seperti sinus maxillary, rongga nasal ataupun rongga orbita.18 Pada kasus di mana kista mempengaruhi sebagian besar mandibula, pendekatan awalnya meliputi masupialisasi kista untuk memungkinkannya terjadi dekompresi (pengurangan tekanan udara) dan penyusutan pada lesi, dengan demikian mengurangi luas bagian yang dibedah nantinya.

Untuk mendapat akses ke kistanya, diperlukan pembuatan mukoperiosteal flap yang cukup. Alternatifnya gigi dapat ditransplantasi ke alveolar ridge atau diekstraksi, lalu kista dienukleasi.

Prognosisnya baik, dengan tanpa adanya rekurensi. Tetapi, kista residual mungkin dapat berkembang jika lesi tidak di enukleasi secara sempurna.

Diagnosis Banding


Diagnosis banding radiolusensi perikoronal meliputi odontogenik keratosis, ameloblastoma, dan tumor odontogenik lainnya. Transformasi ameloblastik dari batas kista dentigerous juga bisa menjadi dignosis banding. Bedanya jika ameloblastoma dapat berupa multikistik sedangkan untuk kista dentigerous biasnya unikistik. Tumor odontogenik adenomatoid bisa menjadi pertimbangan bila ada radiolusensi perikoronal anterior, dan fibroma ameloblastik bila ada lesi yang terjadi di rahang posterior pasien usia muda.