Apa yang dimaksud dengan kemampuan kepemimpinan yang Evaluatif?

kepemimpinan yang Evaluatif

Sebagai seorang manusia, kita harus memiliki jiwa kepemimpinan. Jiwa kepemimpinan sangat diperlukan untuk berbagai hal dalam hidup kita, misalnya, memimpin sebuah organisasi, sebuah keluarga, memimpin para karyawan kantor, atau bahkan memimpin diri kita sendiri.

Banyak sekali karakter yang dapat membangun seseorang berjiwa kepemimpinan yaitu, cerdas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, berani mengambil resiko, memiliki kepekaan dan respek yang tinggi, komunikatif, juga mampu memotivasi rekan-rekannya agar dapat mencapai suatu target. Namun, ada satu karakter yang sesungguhnya tidak kalah penting dengan beberapa karakter utama diatas, yaitu evaluatif.

Evaluatif merupakan sebuah karakter dimana pemimpin rutin melakukan evaluasi terhadap kinerja dan aktivitas selama proses berlangsung. Banyak orang yang meremehkan pentingnya melakukan evaluasi setelah proses pencapaian target dilakukan, padahal evaluasi merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam meminimalisir kerugian, dan terjadinya hal-hal diluar prediksi.

Memang bukan suatu hal yang mudah untuk membiasakan diri melakukan evaluasi, karena bagi sebagian orang, hal yang sudah terjadi biarlah terjadi, sehingga seringkali kesalahan atau mungkin kekurangan dalam proses terabaikan, dan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan.

“Mencegah lebih baik daripada mengobati”

Mungkin itulah kata yang tepat untuk menunjukan bahwa hasil dari evaluasi adalah hal yang sangat penting untuk mencegah kesalahan pada proses pencapaian target selanjutnya.

Evaluasi sangat penting untuk dilakukan secara berkala. Dalam evaluasi, kita dapat menganalisis prosesnya, perencanaannya, source-nya, tenaga kerjanya, dan lainnya, untuk mengukur seberapa efektif dan efisien ativitas pencapaian target yang sudah kita lakukan.

Evaluasi dapat dilakukan dalam kondisi apapun, baik ketika proses berjalan tidak lancar, atau ketika proses berhasil. Berikut merupakan langkah-langkah dalam melakukan evaluasi menurut seorang Transformational Leadership Strategist TM, Hugh Ballou:

  1. What’s Working?
    Apa yang sudah kita lakukan dengan baik? Apa yang sudah kita capai? Temukan keahlian dan proses yang berharga yang dapat dipertahankan. Temukan sistem dan inti kompetensi yang berharga lalu kembangkan.

  2. What Needs Changing?
    Bukan suatu aktivitas yang kritis maupun negatif seperti yang terjadi ketika kita mencari weaknesses dalam SWOT (strategi perencanaan dalam manajemen: strengths, weaknesses, opportunities, and threats).

Melainkan mengidentifikasi hal-hal yang dapat dijalankan lebih baik lagi dari sebelumnya atau hal-hal yang mungkin dapat kita hentikan. Ini akan membuat sebuah perbedaan yang besar, maka lakukan langkah ini secara perlahan. Mungkin Anda ingin melihat hal-hal yang berkaitan jika dikombinasikan atau mengatur skala prioritas. Ini akan menjadi sebuah dasar untuk action plan Anda.

  1. New Things to Consider
    Ketika sudah melewati langkah 1 & 2, akan muncul sistem baru, keahlian, atau proses untuk dipertimbangkan. Hati-hati dan yakinlah disini bahwa Anda tidak terlalu banyak menambahkannya pada proses yang sudah sangat tercukupi.
    Dalam evaluasi tim, proses ini memungkinkan tim untuk menciptakan dan mengembangkan akuntabilitas peer-to-peer. Proses itu sendiri sangat berharga dan apa yang sedang terjadi saat ini menambahkan nilai yang begitu signifikan. Proses tersebut membangun kepercayaan dan menciptakan sinergi dalam suatu komunitas.

Itulah langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam mengevaluasi proses yang kita jalani untuk mencapai suatu target. Evaluasi perlu dilakukan secara rutin dan berkala, dilakukan dalam setiap tahap pada setiap proses, dan dilakukan sedetil-detilnya. Evaluasi akan menghasilkan rancangan proses yang lebih efektif dan efisien untuk proses selanjutnya.

Referensi:

  1. http://transformationalstrategist.com/leadership-skills-evaluation/
  2. https://hbr.org/2004/01/what-makes-a-leader
  3. http://www.notredameonline.com/resources/leadership-and-management/what-makes-an-effective-leader/#.V_Z6uTSKTYg

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari sebenarnya kita sering membuat suatu kegiatan evaluasi dan selalu menggunakan prinsip untuk mengukur dan menilai seseorang.

Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia, akan tetapi kata ini adalah kata serapan dari bahasa Inggris yaitu “evaluation” yang berarti penilaian atau penaksiran. Evaluasi dapat diartikan sebagai proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut akan digunakan sebagai analisis situasi program berikutnya.

Jadi untuk Evaluasi masukan dari orang lain merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Dan dapat dicontohkan pula seperti : Apabila ada seseorang yang memberikan kepada kita 2 pensil yang berbeda ukuran , yang satu panjang dan yang satu lebih pendek dan kita diminta untuk memilihnya, maka otomatis kita akan cenderung memilih pensil yang panjang karena akan bisa lebih lama digunakan. Kecuali memang ada kriteria lain sehingga kita memilih sebaliknya. contoh diatas maka dapat disimpulkan bahwa kita selalu melakukan penilaian sebelum menentukan pilihan untuk memilih suatu objek/benda.

Langkah – langkah mengukur kemudian menilai sesuatu sebelum kita mengambilnya itulah yang dinamakan mengadakan evaluasi yakni mengukur dan menilai. Kita tidak dapat mengadakan evaluasi sebelum melakukan aktivitas mengukur dan menilai.

Dan evaluasi sendiri sebenarnya memiliki banyak pengertian dari beberapa tokoh. Standar yang dipakai untuk mengevaluasi suatu kegiatan tertentu dapat dilihat dari tiga aspek utama menurut (Umar, 2002 : 40), yaitu;

  • Utility (manfaat) = Hasil evaluasi hendaknya bermanfaat bagi manajemen untuk pengambilan keputusan atas program yang sedang berjalan.
  • Accuracy (akurat) = Informasi atas hasil evaluasi hendaklah memiliki tingkat ketepatan tinggi.
  • Feasibility (layak) = Hendaknya proses evaluasi yang dirancang dapat dilaksanakan secara layak.

Ada beberapa model yang dapat dicapai dalam melakukan evaluasi (Umar, 2002 : 41-42), yaitu:

  • Sistem assessment
    Yaitu evaluasi yang memberikan informasi tentang keadaan atau posisi suatu sistem. Evaluasi dengan menggunakan model ini dapat menghasilkan informasi mengenai posisi terakhir dari sauatu elemen program yang tengah diselesaikan.

  • Program planning
    Yaitu evalusi yang membantu pemilihan aktivitas-aktivitas dalam program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhannya.

  • Program implementation
    Yaitu evaluasi yang menyiapkan informasi apakah program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat seperti yang telah direncanakan.

Tokoh Umar Kayam sendiri (dalam konteks percakapan antar teman biasa disapa UK), lulus sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (1955), meraih M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat (1963), dan meraih Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat (1965). Ia pernah menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969). Dosen Universitas Indonesia,Umar Kayam termasuk yang banyak melakukan terobosan dalam banyak bidang kehidupan yang melibatkan dirinya. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, ia dikenal sebagai salah seorang pelopor dalam terbentuknya kehidupan teater kampus. Ketika menjadi Dirjen Radio dan Televisi, ia dikenal sebagai tokoh yang membuat kehidupan perfilman menjadi semarak. Sewaktu menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), dia mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Pada saat menjadi dosen di almamaternya, ia mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik di bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar seni di kampus, dan sebagainya. Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak.

Sumber:

2 Likes