Apa yang dimaksud dengan Inverted Nipple ?

Inverted Nipple adalah puting susu terbenam adalah puting susu yang tidak dapat menonjol dan cenderung masuk kedalam, sehingga Air Susu Ibu (ASI) tidak dapat keluar dengan lancar.

Apa yang dimaksud dengan Inverted Nipple ?

Terdapat beberapa bentuk puting susu. Pada beberapa kasus seorang ibu merasa putingnya datar atau terlalu pendek akan menemui kesulitan dalam menyusui bayi. Hal ini bisa berdampak bayi tidak bisa menerima ASI dengan baik dan cukup.

Pada beberapa kasus, putting dapat muncul kembali bila di stimulasi, namun pada kasus-kasus lainnya, retraksi ini menetap.

Perbandingan Puting Susu normal dan inverted
Gambar Perbandingan Puting Susu normal dan inverted

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

  1. Kesulitan ibu untuk menyusui bayi
  2. Puting susu tertarik
  3. Bayi sulit untuk menyusui

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Adanya puting susu yang datar atau tenggelam dan bayi sulit menyusui pada ibu.

Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang dalam penegakan diagnosis

Penegakan Diagnostik (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan tidak memerlukan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis klinis ini terbagi dalam :

  1. Grade 1

    • Puting tampak datar atau masuk ke dalam
    • Puting dapat dikeluarkan dengan mudah dengan tekanan jari pada atau sekitar areola.
    • Terkadang dapat keluar sendiri tanpa manipulasi
    • Saluran ASI tidak bermasalah, dan dapat menyusui dengan biasa.
  2. Grade 2

    • Dapat dikeluarkan dengan menekan areola, namun kembali masuk saat tekanan dilepas
    • Terdapat kesulitan menyusui.
    • Terdapat fibrosis derajat sedang.
    • Saluran ASI dapat mengalami retraksi namun pembedahan tidak diperlukan.
    • Pada pemeriksaan histologi ditemukan stromata yang kaya kolagen dan otot polos.
  3. Grade 3

    • Puting sulit untuk dikeluarkan pada pemeriksaan fisik dan membutuhkan pembedahan untuk dikeluarkan.
    • Saluran ASI terkonstriksi dan tidak memungkinkan untuk menyusui
    • Dapat terjadi infeksi, ruam, atau masalah kebersihan
    • Secara histologis ditemukan atrofi unit lobuler duktus terminal dan fibrosis yang parah


Gambar Grade Inverted Nipple

Komplikasi
Risiko yang sering muncul adalah ibu menjadi demam dan pembengkakan pada payudara.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Non-Medikamentosa
Untuk puting datar/tenggelam (inverted nipple) dapat diatasi setelah bayi lahir, yaitu dengan proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebagai langkah awal dan harus terus menyusui agar puting selalu tertarik. Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengatasi puting datar/terbenam, yaitu:

  1. Penarikan puting secara manual/dengan tangan. Puting ditarik-tarik dengan lembut beberapa kali hingga menonjol.

  2. Menggunakan spuit ukuran 10-20 ml, bergantung pada besar puting. Ujung spuit yang terdapat jarum dipotong dan penarik spuit (spuit puller) dipindahkan ke sisi bekas potongan. Ujung yang tumpul di letakkan di atas puting, kemudian lakukan penarikan beberapa kali hingga puting keluar. Lakukan sehari tiga kali; pagi, siang, dan malam masing-masing 10 kali

  3. Jika kedua upaya di atas tidak memberikan hasil, ibu dapat memberikan air susunya dengan cara memerah atau menggunakan pompa payudara.

  4. Jika putting masuk sangat dalam, suatu usaha harus dilakukan untuk mengeluarkan putting dengan jari pada beberapa bulan sebelum melahirkan.


Gambar Koreksi Inverted Nipple


Gambar Koreksi Inverted Nipple dengan metode Syringe

Konseling dan Edukasi

  1. Menarik-narik puting sejak hamil (nipple conditioning exercises) ataupun penggunaan breast shield dan breast shell. Tehnik ini akan membantu ibu saat masa telah memasuki masa menyusui.

  2. Membangkitkan rasa percaya diri ibu dan membantu ibu melanjutkan untuk menyusui bayi. Posisikan bayi agar mulutnya melekat dengan baik sehingga rasa nyeri akan segera berkurang. Tidak perlu mengistirahatkan payudara, tetapi tetaplah menyusu on demand

Kriteria Rujukan: -

Prognosis

  1. Ad vitam : Bonam
  2. Ad functionam : Bonam
  3. Ad sanationam : Bonam

Sumber :
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan primer

Referensi

  1. Prawirohardjo, S. Saifuddin, A.B. Rachimhadhi, T. Wiknjosastro Gulardi H. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo.Edisi keempat cetakan ketiga. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010. 379
  2. Kementerian Kesehatan RI dan WHO. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2013.
  3. Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta.
  4. http://idai.or.id/public-articles/klinik/asi/manajemen-laktasi.html. 2014