Apa yang dimaksud dengan Harga diri atau Self-esteem?

Self esteem (Harga Diri) adalah evaluasi yang di buat oleh individu dan biasanya berhubungan dengan penghargaan terhadap dirinya.

Apa yang dimaksud dengan Self-esteem?

Self esteem adalah evaluasi yang di buat oleh individu dan biasanya berhubungan dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri, hal ini mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukan tingkat dimana individu itu menyakini diri sendiri mampu, penting, berhasil dan berharga.

Self esteem Menurut Ahli


Secara umum Self esteem merupakan suatu komponen evaluatif dari konsep diri, representasi diri yang lebih luas sehingga mencangkup aspek kognitif dan behavior yang bersifat menilai dan afektif. Blascovich & Tomaka (dalam Coetzee, 2005).

Menurut Santrok (2003) Self esteem merupakan dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Self esteem juga di sebut sebagai harga diri atau gambaran diri.

Roman (dalam Coetzee, 2005) menjabarkan Self esteem sebagai kepercayaan diri seseorang, mengetahui apa yang terbaik bagi diri dan bagaimana melakukannya. Clemens dan Bean (1995) juga menyatakan Self esteem adalah penilaian-penilaian seseorang tentang dirinya sendiri dari berbagai titik pandangan yang berbeda, apakah individu tersebut sebagai orang yang berharga dan sebaiknya.

Menurut Maslow (dalam Alwisol, 2002) Self esteem merupakan suatu kebutuhan manusia yang memerlukan pemenuhan atau pemuasan untuk dilanjutkan ke tingkat kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan terhadap Self esteem oleh Maslow dibagi menjadi dua jenis yaitu penghargaan diri dan penghargaan dari orang lain.

Maslow juga mengemukakan bahwa sekali seseorang merasa dicintai dan memiliki rasa (sense of belonging), maka mereka akan mengembangakn kebutuhan untuk penghargaan (need for esteem).

Dariuszky (2004) mengemukakan Self esteem sebagai penilaian seseorang bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan hidup dan mendapat kebahagiaan.
Atwater (dalam Dariuszky, 2004) mengemukakan, sebenarnya Self esteem adalah cara seseorang merasakan dirinya sendiri, dimana seseorang akan menilai tentang dirinya sehingga mempengaruhi perilaku dalam kehidupananya sehari-hari. Seseorang yang memiliki Self esteem yang tinggi, lebih menghargai dirinya atau melihat dirinya sebagai sesuatu yang bernilai dan dapat mengenali kesalahan-kesalahannya, tetapi tetap menghargai nilai-nilai yang ada pada dirinya (Rosenberg, dalam Sara Burnett dan Wright, 2002).

Menurut Brandent (2005) Self esteem adalah pengalaman bahkan kita cocok dengan kehidupan ini dan dengan persyaratan dari kehidupan lebih spesifik lagi. Self esteem adalah pertama, keyakinan dalam kemampuan untuk bertindak dan menghadapi tantangan hidup ini.
Kedua, keyakinan dalam hak kita untuk bahagia, perasaan berharga, layak, memungkinkan untuk menegasakan kebutuhan dan keinginan kita serta menikmati buah dari hasil kerja keras kita (Nathaniel Branden, 2005)

Self esteem adalah suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang di ungkapkan dalam sikap positif dan negatif. Self esteem berkaitan dengan bagaimana orang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Tambunan, 2001)

Berdasarkan beberapa definisi para tokoh di atas, maka di simpulkan bahwa Self esteem adalah suatu penilaian subyektif yang di buat individu sebagai hasil evaluasi mengenai dirinya yang tercermin dalam sikap positif atau negatif. Dengan mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju yang berasa dari berbagai sumber, Baik internal maupun eksternal diri.

Aspek-aspek Self esteem


Coopersmith (1967) menyebutkan terdapat empat aspek dalam Self esteem individu. Aspek-aspek tersebut yaitu power, significance, virtue, dan competence.

Kekuatan (Power)

Kekuatan atau power menunjukan pada adanya kemampuan seseorang untuk dapat mengatur dan mengontrol tingkah laku dan mendapat pengakuan atas tingkah laku tersebut dari orang lain. Kekuatan dinyatakan dengan pengakuan dan penghormatan yang diterima seorang individu dari orang lain dan adanya kualitas atas pendapat yang diutarakan oleh seorang individu yang nantinya diakui oleh orang lain.

Keberartian (Significance)

Keberartian atau significance menunjukan pada kepedulian, perhatian, afeksi dan ekspresi cinta yang di terima oleh seseorang dari orang lain yang menunjukkan adanya penerimaan dan popularitas individu dari lingkungan sosial. Penerimaan dari lingkungan ditandai dengan adanya kehangatan, respon yang baik dari lingkungan dan adanya ketertarikan lingkungan terhadap individu dan lingkungan menyukai individu sesuai dengan keadaan diri yang sebenarnya.

Kebajikan (Virtue)

Kebajikan atau virtue menunjukan suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral dan etika serta agama dimana individu akan menjauhi tingkah laku yang harus di hindari dan melakukan tingkah laku yang di izinkan oleh moral, etika dan agama. Dianggap memiliki sikap yang positif dan akhirnya membuat penilaian positif terhadap diri yang artinya seseorang telah mengembangkan Self esteem yang positif pada dirinya sendiri.

Kemampuan (Competence)

Kemampuan atau competence menunjukan sustu performasi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai prestasi (need of achievement) diman level dan tugas-tugas tersebut tergantung pada variasi usia seseorang. Self esteem pada masa remaja meningkat menjadi lebih tinggi bila remaja tahu apa tugas-tugas yang penting untuk mencapai tujuannya, dan karena mereka telah melakukan tugas-tugasnya tersebut atau tugas lain yang serupa. Para peneliti juga menemukan bahwa Self esteem remaja dapat meningkatkan saat remaja menghadapi masalah dan mampu menghadapinya ( dalam santrock, 2003).

Herter menyatakan bahwa pada individu tingkatan Self esteem yang berbeda dapat dipengaruhi beberapa hal yakni:

  1. Scholastic competence, yaitu merasa memiliki kemampuan dibidang akademik.
  2. Social competence, yaitu merasa diterima dan dihargai lingkungan/ teman sebaya.
  3. Athletic competence, yaitu merasa memiliki kemampuan di bidang olah raga.
  4. Phsycal appearance, yaitu merasa memiliki penampilan yang menarik.
  5. Job competence, yaitu merasa memiliki keahlian lebih.
  6. Romantic appeal, yaitu merasa memiliki daya tarik romantis terhadap orang lain.
  7. Behavioral conduct, yaitu mampu melakukan hal yang benar dan menghindari masalah.
  8. Close friendship, yaitu mampu menjalin dan mempertahankan hubungan dengan teman dekat.

Menurut james, individu akan memiliki Self esteem yang tinggi apabila individu tersebut merasa sangat baik terhadap salah satu aspek yang diperdulikannya. Oleh karena itu apabila individu merasa sangat baik terhadap salah satu aspek maka ia akan memiliki Self esteem yang tinggi, begitu pula sebaliknya apabila individu merasa sangat baik terhadap salah satu aspek maka individu tersebut akan memiliki Self esteem yang rendah.

Crocker dan Wolfe (Crocker,dkk: 2000) mengemukakan bahwa Self esteem dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu:

  • Familiy support/ dukungan keluarga
  • Competition/ kompetisi
  • Appearance/ penampilan
  • God’s Love/ anugerah tuhan
  • Academic competence/ kompetensi akademik
  • Virtue/ nilai moral
  • Approval from others/ penghargaan dari orang lain

Individu dapat memiliki berbagai persepsi yang berbeda mengenai dirinya dalam berbagai aspek, seperti hubungan sosial, kemampuan akademik, atau penampilan fisik yang akan membawa pada penerimaan yang luas terhadap diri sebagai objek yang multidimensional.

Crocker, dkk menyatakan bahwa individu dapat mengalami peningkatan Self esteem karena adanya kesuksesan dalam aspek yang bersangkutan, sementara kegagalan dapat menimbulkan penurunan Self esteem.

Heatheron dan Polivy menyebutkan bahwa ada tiga aspek Self esteem yaitu:

  • Performance Self esteem, mengacu pada kompetensi umum termasuk kecakapan intelektual, prestasi di sekolah, kapasitas yang berkaitan dengan diri, dan keberhasilan. Individu yang memiliki Self esteem tinggi adalah individu yang percaya bahwa mereka pandai dan mampu

  • Social Self esteem, mengacu pada bagaimana seseorang mempercayai persepsi orang lain terhadap dirinya, dalam hal ini mengenai penerimaan lingkungan soaial terhadap diri individu. Menurut Santrock (2002) dukungan emosional dan penghargaan sosial dari orang lain juga memiliki kekuatan tersendiri dalam mempengaruhi Self esteem. Beberapa anak yang memiliki Self esteem yang rendah biasanya berasal dari keluarga yang mengalami konflik, kondisi dimana mereka mengalami pelecehan atau ditolak dan dukungan tidak mereka dapatkan.

  • Physical Self esteem, mengapa pada bagaimana individu mengandung tubuh fisiknya, termasuk penampilan yang menarik dan citra tubuh. Penampilan diri yang tidak menarik membuat individu menjadi rendah diri. Tiap cacat fisik merupakan sumber memalukan dan mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya, daya tarik fisik menimbulkan penilaian yang menyenangkan terhadap citra kepribadian dan menambah dukungan sosial (Hurlock, 1990).

    Menurut Harter, penampilan fisik dan penerimaan sosial/ teman sebaya memiliki korelasi yang lebih kuat terhadap Self esteem secara gelobal.

Tingkat dan Karakteristik Self esteem


Karakteristik Self esteem tinggi

Individu dengan Self esteem tinggi cenderung puas dengan karakter dan kemampuan diri. Adanya penerimaan dan penghargaan dari yang positif ini memberikan rasa aman dalam menyesuaikan diri yang positif ini memberikan rasa aman dalam menyesuaikan diri atau bereaksi terhadap stimulus dan lingkungan sosial. Individu dengan Self esteem tinggi lebih bahagia dan lebih efektif dalam menghadapi tuntutan lingkungan dari pada individu dengan Self esteem rendah.

Individu dengan Self esteem tinggi lebih suka mengambil peran yang aktif dalam kelompok sosial dan untuk mengekspresikan pandangannya secara terus menerus dan efektif. Tidak bermasalah dengan rasa takut dan perasaan yang saling bertentangan, tidak terbebani dengan keraguan diri, dan gangguan kepribadian, individu dengan Self esteem yang tinggi terlihat bergerak secara langsung dan realistis untuk tujuan pribadinya.

Individu dengan Self esteem tinggi lebih mandiri menyesuaikan diri dengan situasi, menunjukan kepercayaan yang besar bahwa mereka akan berhasil.

Menurut Coopersmith individu dengan Self esteem yang tinggi lebih asertif/tegas, mandiri dan kreatif. Individu tersebut juga kurang menerima definisi sosial mengenai realita kecuali mereka menyampaikan dengan pengamatan mereka sendiri, dimana lebih fleksibel dan imaginatif, dan mampu untuk menemukan soslusi orisinil terhadap suatu masalah.

Karakteristik Self esteem rendah

Individu dengan Self esteem rendah memiliki rasa kurang percaya diri dalam menilai kemampuan dan atribut-atribut dalam dirinya. Hal ini membuat individu tidak mampu mengekspresikan diri dalam lingkungan sosialnya. Mereka kurang mampu melawan tekanan untuk menyesuaikan diri dan kurang mampu untuk merasakan stimulus yang mengancam. Individu menarik diri dari orang lain dan memiliki persaan tertekan secara terus menerus. Individu ini merasa inferior, takut atau malu, membeci dirinya, kurang mampu menerima dirinya, dan bersikap patuh atau submissif.

Individu dengan Self esteem rendah menunjukan level kecemasan yang lebih tinggi, dan lebih banyak menunjukan simtom psikosomatis dan perasaan depresi.

Individu ini juga percaya bahwa mereka memiliki kesulitan yang besar dalam membentuk hubungan pertemanan ketimbang individu dengan Self esteem tinggi dan rendah. Individu dengan Self esteem yang rendah mungkin terlibat dalam aktivitas yang menyimpang dan memiliki masalah psikologis.

Andrews dkk, (dalam Itasari, 2006) individu dengan Self esteem yang tinggi secara umum memiliki pengetahuan mengenai dirinya yang lebih baik dibanding individu dengan Self esteem rendah.

Self esteem yang tinggi juga berhubungan dengan keterlibatan yang aktif dalam kehidupan sehari-hari, sikap yang lebih optimis, dan kesehatan psikologis yang lebih baik. Sebaliknya, individu dengan Self esteem yang rendah seringkali merasa tidak memadai dan tidak cakap, berharap untuk gagal, dan seringkali mudah menyerah. Hal ini menimbulkan kegagalan dalam kehidupan.

Seseorang dengan harga diri yang rendah kurang memiliki konsepsi diri yang jelas, berpikir kurang baik mengenai diri mereka sendiri, seringkali memilih tujuan akhir yang tidak realistik atau melarikan diri juga dihadapkan pada tujuan akhir bersama, cenderung pesimistis tentang masa depan, serta memiliki reaksi-reaksi emosional dan behavioral yang merugikan dalam bentuk kritik atau berbagai macam umpan balik yang bersifat negatif.

Rosenberg menjelaskan bahwa individu dengan harga diri yang rendah seringkali mengalami depresi dan ketidakbahagiaan, memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, menunjukan implus-implus agresivitas yang lebih besar, mudah marah dan mendendam, serta selalu menderita kareana ketidakpuasan akan kehidupan sehari-hari.

Individu dengan harga diri yang cenderung mencari bukti bahwa dirinya kurang memiliki kecakapan, sedangkan mereka yang memiliki harga diri yang tinggi memotivasi diri untuk menemukan bukti yang memperkuat semangat mereka. Mereka yang telah berhasil menampilkan diri akan mengatribusika hasil kesuksesan pada karakteristik internalnya, sedangkan individu-individu dengan harga diri yang rendah cenderung mengatribusikan kesuksesan mereka pada pengaruh eksternal.

Kebutuhan Akan Self esteem


Self esteem yang tinggi sangat penting bagi setiap orang, mereka akan menjadi efektif dan produktif serta dapat melakukan hubungan dengan orang lain dalam cara-cara sehat dan positif. Karena itu setiap orang perlu mengalami dirinya sebagai seseorang yang berharga, mampu untuk menguasai tugas dan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan.

Menurut Hernawati (2005) memiliki Self esteem yang baik juga merupakan tiket untuk membuat pilihan bagus tentang tubuh dan pikiran seseorang. Jika dianggap penting dan memiliki penghargaan diri yang baik, mereka cukup pintar untuk membuat keputusan sendiri. Menghargai keamanan, perasaan dan kesehatan yang menyeluruh tentang diri sendiri. Tingginya keyakinan diri sendiri terdiri atas pikiran dan perasaan positif yang dimiliki tentang dirinya sendiri. Hal itu mempengaruhi pikiran dan perasaan positif yang dimiliki tentang dirinya sendiri.

Hal itu mempengaruhi pikiran, tindakan, dan perasaan tentang orang lain. Seperti seberapa sukseskah seseorang dalam hidup. Perolehan keyakinan diri yang tinggi bisa memahami dan menikmati perbedaan orang lain, dan lebih menawarkan keterbukaaan diri sendiri kepada lingkungannya.

Menurut Jones, posisi Self esteem menunjukan bahwa seseorang memiliki kebutuhan untuk meningkatakan evaluas dirinya dan mempertahakan atau menjelaskan perasaan tentang kepuasan, nilai dan keefektifan personal.

Kepuasan akan kebutuhan Self esteem akan membentuk perasaan dan sikap percaya diri yang positif, kekuatan, kemampuan dan perasaan berguna baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Sebaliknya, jika pemenuhan akan kenutuhan tidak diperoleh atau individu memperoleh rintangan dalam memenuhi kebutuhan menyebabkan munculnya perasaan dan sikap inferioritas, canggung, perasaan lemah, dan tidak berdaya. Persepsi diri yang negatif ini kemudian akan memunculkan perasaan khawatir dan ketakutan yang mendasar, perasaan tidak berguna dan ketidakberdayaan menghadapi tuntutanhidup dan penilaian diri yang rendah jika berhadapan dengan orang lain.

Kebutuhan Self esteem juga berbeda-beda untuk setiap individu. Variasi perbedaan individu tercermin dalam perilakunya dan orang dengan Self esteem tinggi biasanya lebih merasa puas sehubungan dengan kebutuhan ini dari pada orang dengan Self esteem rendah.

Harga diri merupakan penilaian yang dibuat oleh setiap individu yang mengarah pada dimensi negatif dan positif (Baron, dkk, dalam Simbolon, 2008). Menurut Santrock (dalam Desmita, 2010), harga diri adalah dimensi penilaian yang menyeluruh dari diri.

Harga diri (Self-Esteem) juga sering disebut dengan Self-Worth atau Self-Image.

Frey dan Carlock mengungkapkan bahwa harga diri adalah penilaian yang mengacu pada penilaian positif, negatif, netral dan ambigu yang merupakan bagian dari konsep diri, tetapi bukan berarti cinta diri sendiri. Individu dengan harga diri yang tinggi menghormati dirinya sendiri, mempertimbangkan dirinya berharga, dan melihat dirinya sama dengan orang lain. Sedangkan harga diri rendah pada umumnya merasakan penolakan, ketidak puasan diri dan meremehkan diri sendiri.

Coopersmith mendefinisikan harga diri sebagai suatu penilaian yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya sendiri.Penilaian tersebut mencerminkan sikap penerimaan dan penolakan serta menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga.

Berdasarkan beberapa teori dapat disimpulkan bahwa harga diri adalah penilaian individu yang bersifat positif atau negatif mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri.

Karakteristik Harga Diri


Coopersmith mengemukakan bahwa ciri-ciri individu berdasarkan tingkat harga dirinya, yaitu:

Harga diri positif

  1. Menganggap diri sendiri sebagai orang yang berharga dan sama baiknya dengan orang lain yang sebaya dengan dirinya dan menghargai orang lain.

  2. Dapat mengontrol tindakannya terhadap dunia luar dirinya dan dapat menerima kritik dengan baik.

  3. Menyukai tugas baru dan menantang serta tidak cepat bingung bila sesuatu berjalan diluar rencana.

  4. Berhasil atau berprestasi dibidang akademik, aktif dan dapat mengekspresikan dirinya dengan baik.

  5. Tidak menganggap dirinya sempurna, tetapi tahu keterbatasan diri dan mengaharapkan adanya pertumbuhan dalam dirinya.

  6. Memiliki nilai-nilai dan sikap yang demokratis serta orientasi yang realistis.

  7. Lebih bahagia dan efektif menghadapi tuntutan dari lingkungan.

Harga diri negatif

  1. Menganggap dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan tidak sesuai, sehingga takut gagal untuk melakukan hubungan sosial. Hal ini seringkali menyebabkan individu yang memiliki harga diri yang rendah, menolak dirinya sendiri dan tidak puas akan dirinya.

  2. Sulit mengontrol tindakan dan perilakunya terhadap dunia luar dirinya dan kurang dapat menerima saran dan kritikan dari orang lain.

  3. Tidak menyukai segala hal atau tugas yang baru, sehingga akan sulit baginya untuk menyesuaiakan diri dengan segala sesuatu yang belum jelas baginya.

  4. Tidak yakin akan pendapat dan kemampuan diri sendiri sehingga kurang berhasil dalam prestasi akademis dan kurang dapat mengekspresikan dirinya dengan baik.

  5. Menganggap dirinya kurang sempurna dan segala sesuatu yang dikerjakannya akan selalu mendapat hasil yang buruk, walaupun dia telah berusaha keras, serta kurang dapat menerima segala perubahan dalam dirinya.

  6. Kurang memiliki nilai dan sikap yang demokratis serta orientas yang kurang realistis.

  7. Selalu mearasa khawatir dan ragu-ragu dalam menghadapi tuntutan dari lingungan.

Menurut Coopersmith (1967) harga diri adalah:

“By self esteem we refer to the evaluation which the individual makes and customerily maintains with regard to himself; it expresses an attitude of approval or disapproval and indicates the extent to which the individual believes himself to be capable, significant, succesful and worthy. Self esteem is a personal judgement of worthiness that is expressed in the attitude the individual holds towards himself.

Frey & Curlock (1984) menyatakan bahwa harga diri (self esteem) adalah:

“Self esteem is evaluative term, it refers to negative, positive, neutral, ambiguous judgment that one places on the self concept. Self esteem is not self love, but the evaluation one places on the self concept.”

Menurut Atwater & Duffy ( 2002), harga diri adalah:

”Self esteem is the personal evaluation of ourselves and the resulting feelings of worth associated with our self concept.”

Coopersmith dalam Burns, R.B (1993) menyebutkan harga diri mengacu kepada evaluasi seseorang tentang dirinya sendiri, baik positif maupun negatif dan menunjukkan tingkat di mana individu meyakini dirinya sendiri sebagai individu yang mampu, penting, berhasil dan berharga. Dengan kata lain, harga diri merupakan penilaian individu tentang dirinya yang diekspresikan melalui tingkah lakunya sehari-hari.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa harga diri adalah evaluasi terhadap perasaan dan penilaian individu tentang dirinya. Harga diri berpengaruh besar terhadap harapan individu, tingkah laku dan penilaian individu tentang dirinya sendiri dan orang lain. Penilaian tersebut mencerminkan sikap penerimaan atau penolakan terhadap diri dan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya berharga.

Komponen Harga Diri


Menurut Felker (1974), komponen dari harga diri adalah:

  • Feeling of belonging, yaitu perasaan individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dan individu tersebut diterima oleh anggota kelompok lainnya. Ia akan memiliki penilaian yang positif akan dirinya jika ia merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Individu akan menilai sebaliknya jika ia merasa ditolak atau tidak diterima oleh kelompok tersebut.

  • Feeling of competence, yaitu perasaan individu bahwa ia mampu melakukan sesuatu untuk mencapai hasil yang diharapkan. Jika ia berhasil mencapai tujuan maka ia akan memberikan penilaian yang positif terhadap dirinya. Selain itu, ia merasa percaya terhadap pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berhubungan dengan kehidupannya.

  • Feeling of worth, yaitu perasaan individu bahwa dirinya berharga. Individu yang memiliki perasaan berharga akan menilai dirinya secara positif, merasa yakin terhadap diri sendiri, dan mempunyai harga diri atau self respect.

Karakteristik Individu Berdasarkan Harga Diri

Coopersmith (1967), membagi tingkat harga diri individu menjadi dua golongan yaitu:

Individu dengan harga diri yang tinggi:

  1. aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik;
  2. berhasil dalam bidang akademik dan menjalin hubungan sosial;
  3. dapat menerima kritik dengan baik;
  4. percaya pada persepsi dan reaksinya sendiri;
  5. tidak terpaku pada dirinya sendiri atau hanya memikirkan kesulitannya sendiri;
  6. memiliki keyakinan diri, tidak didasarkan atas fantasi, karena mempunyai kemampuan, kecakapan dan kualitas diri yang tinggi;
  7. tidak terpengaruh oleh penilaian orang lain tentang kepribadiannya;
  8. lebih mudah menyesuaikan diri dengan suasana yang menyenangkan sehingga tingkat kecemasannya rendah dan memiliki ketahanan diri yang seimbang.

Individu dengan harga diri yang rendah:

  1. memiliki perasaan inferior
  2. takut gagal dalam membina hubungan sosial
  3. terlihat sebagai orang yang putus asa dan depresi
  4. merasa diasingkan dan tidak diperhatikan
  5. kurang dapat mengekspresikan diri
  6. sangat tergantung pada lingkungan
  7. tidak konsisten
  8. secara pasif mengikuti lingkungan
  9. menggunakan banyak taktik mempertahankan diri (defense mechanism)
  10. mudah mengakui kesalahan

Harga diri

Dalam kajian psikologi, istilah self-esteem diterjemahkan sebagai harga diri. Begitupun dalam perkembangan selanjutnya, self-esteem juga didefinisikan sebagai evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan individu dalam memandang dirinya yang mengekspresikan sikap menerima atau menolak, juga mengindikasikan besarnya kepercayaan inidividu terhadap kemampuannya, keberartiannya, kesuksesan dan keberhargaan.

Berikut adalah definisi harga diri atau self esteem menurut beberapa ahli :

  • Self-esteem merupakan dimensi evaluatif global dari diri. Harga diri juga diacu sebagai nilai diri. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaaan dan keberartian diri. Individu yang mempunyai harga diri positif akan menghargai dan menerima dirinya apa adanya. Santrock (2002)

  • Self-esteem adalah evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu, sikap seseorang terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi postif-negatif. Baron dan Byrne (2003)

  • Self-esteem merupakan evaluasi individu mengenai hal‐hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengekspresikan sikap menerima atau menolak, juga mengindikasikan besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan dan keberhargaannya. Hal tersebut diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan, seperti adanya penghargaan, penerimaan dan perlakuan orang lain terhadap individu yang bersangkutan. Coopersmith (1967)

  • Self-esteem sebagai penilaian seseorang bahwa dirirnya mampu menghadapi tantangan hidup dan mendapat kebahagian. Dariuszky (2004)

  • Selfesteem adalah cara seseorang merasakan dirinya sendiri, dimana seseorang akan menilai tentang dirinya sehingga mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari-hari. Atwater

  • Selfesteem adalah komponen evaluatif dari konsep diri, yang terdiri dari evaluasi positif dan negatif tentang diri sendiri yang dimiliki seseorang”. Worchel, dkk.

  • Harga diri yaitu harga yang kita tempatkan pada diri kita. Minchinton (1993)

  • Harga diri adalah penilaian dari keberhargaan diri sebagai manusia, berdasarkan pada setuju atau tidak setuju dari diri kita dan perilaku kita. Minchinton (1993)

Seseorang yang memiliki self-esteem yang tinggi, lebih menghargai dirinya atau melihat dirinya sebagai sesuatu yang bernilai dan dapat mengenali kesalahan-kesalahannya, tetapi tetap menghargai nilai-nilai yang ada pada dirinya

Individu yang mempunyai pandangan positif dan keyakinan atas kemampuan yang dimiliki akan memberi penghargaan pada dirinya sendiri. Individu yang menilai dirinya positif cenderung untuk bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri. Sebaliknya orang yang menilai dirinya negatif secara relatif tidak sehat, cemas, tertekan dan pesimis tentang masa depannya dan mudah atau cenderung gagal.

Komponen Self-esteem


Menurut Coopersmith (1967), komponen self-esteem adalah:

Keberhasilan Diri

Keberhasilan mempunyai arti berbeda untuk masing‐masing individu. Bagi beberapa orang keberhasilan diwakili oleh penghargaan yang berupa materi dan popularitas. Terdapat empat area keberhasilan selfesteem, yaitu:

  1. Significance (Penerimaan)

    Significance merupakan penerimaan perhatian dan kasih sayang dari orang lain. Penerimaan ditandai dengan adanya kehangatan, tanggapan, minat, serta rasa suka terhadap individu sebagaimana individu itu sebenarnya serta popularitas. Penerimaan juga tampak dalam pemberian dorongan dan semangat ketika individu membutuhkan dan mengalami kesulitan, minat terhadap kegiatan dan gagasan individu, ekspresi kasih sayang dan persaudaraan, disiplin yang relatif ringan, verbal dan rasional, serta sikap yang sabar.

  2. Power (Kekuatan)

    Power menunjukkan suatu kemampuan untuk bisa mengatur dan mengontrol tingkah laku orang lain berdasarkan pengakuan dan rasa hormat yang diterima individu dari orang lain. Kesuksesan dalam area power diukur dengan kemampuan individu dalam mempengaruhi arah tindakan dengan mengendalikan perilakunya sendiri dan orang lain. Kekuatan meliputi penerimaan, perhatian dan perasaan terhadap orang lain.

  3. Competence (Kompetensi)

    Competence dimaksudkan sebagai keberhasilan dalam mencapai prestasi sesuai tuntutan, baik tujuan atau cita‐cita, baik secara pribadi maupun yang berasal dari lingkungan sosial. Kesuksesan dalam area competence ditandai dengan tingginya tingkat performa, sesuai dengan tingkat kesulitan tugas dan tingkat usia.

  4. Virtue (Kebajikan)

    Menunjukkan adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral, etika dan agama. Seseorang yang mengikuti kode etik dan moral yang telah mereka terima dan terinternalisasi di dalam diri mereka berasumsi bahwa perilaku diri yang positif ditandai dengan keberhasilan memenuhi kode‐kode tersebut. Perasaan harga diri seringkali diwarnai dengan kebajikan, ketulusan, dan pemenuha spiritual.

Nilai dan Aspirasi

Nilai diperoleh dari pengalaman dan apa yang ditanamkan oleh orang tua sejak kecil pada diri individu. Penilaian atau evaluasi diri individu ditentukan oleh keyakinan‐keyakinan individu mengenai bagaimana orang lain mengevaluasi dan memberikan penilaian atas dirinya (society’s judgement).

Penilaian dari lingkungan tersebut akan menginternalisasi dan menjadi batasan tingkah laku individu. Penilaian terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam melakukan sesuatu sebagai bagian dari identitas diri dapat membuat individu merasa berharga, baik secara pribadi maupun secara sosial. Individu yang mempunyai self-esteem rendah akan mempunyai tingkat aspirasi rendah. Sebaliknya, individu yang mempunyai self-esteem tinggi akan mempunyai aspirasi yang tinggi.

Pertahanan

Pertahanan individu diwakili oleh kemampuan mereka di dalam berusaha untuk melawan dari ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu. Individu dengan self-esteem yang tinggi akan mempertahankan kemampuan dalam bersaing. Sebaliknya, individu dengan self-esteem rendah tidak mampu mempertahankan kemampuan yang dimiliki dan cenderung kalah dalam bersaing. Mereka tidak mampu mengekspresikan atau mempertahankan diri serta tidak mampu mengatasi kelemahan yang dimiliki.

Individu yang berharga diri tinggi mampu mengatasi penyebab stress dan situasi yang membingungkan atau sulit dan mempunyai aspirasi serta tujuan di dalam hidupnya. Mereka mempunyai pertahanan di dalam diri mereka dengan cara memberikan kepercayaan dan dukungan kepada orang lain bahwa dia juga mempunyai kemampuan.

Dalam hal ini, pertahanan yang dimaksud tidak hanya mengatasi kecemasan tetapi juga mampu menginterpretasi bahwa individu tersebut mampu memimpin orang lain secara aktif dan asertif. Sebaliknya, individu dengan self-esteem rendah sulit mengatasi kecemasan dan tidak mampu menjadi pemimpin yang aktif dan asertif.

self esteem atau harga diri

Tingkatan Self-esteem


Menurut Baron dan Byrne (2005) memiliki self-esteem tinggi berarti individu menyukai dirinya sendiri atau dengan kata lain mengevaluasi dirinya secara positif. Evaluasi ini sebagian berasal dari pendapat orang lain dan sebagian lagi berasal dari pengalaman khusus.

Menurut Coopersmith (Muryono 2011) dijelaskan bahwa anak-anak yang memiliki self-esteem tinggi akan menjadi anak yang sukses, aktif, percaya diri dan optimis. Sebaliknya yang self-esteem rendah akan mengalami depresi, tertutup dan penakut.

Brehm dan Kassin mengemukakan bahwa individu dengan self-esteem tinggi mempunyai pandangan positif dan keyakinan atas kemampuan yang dimiliki akan memberi penghargaan pada dirinya sendiri. Individu yang menilai dirinya positif cenderung untuk bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri. Sebaliknya orang yang menilai dirinya negatif secara relatif tidak sehat, cemas, tertekan dan pesimis tentang masa depannya dan mudah atau cenderung gagal.

Orang yang harga dirinya rendah memiliki suatu sikap mengalah diri (self-defeating) yang dapat memperangkap diri mereka sendiri ke dalam suatu lingkaran setan. Biasanya karena mereka mengharapkan kegagalan, mereka menjadi cemas, menunjukkan usaha-usaha yang sedikit/kecil dan menghilangkan tantangan-tantangan penting dalam kehidupan mereka. Kemudian ketika mereka gagal melakukannya, orang yang harga dirinya rendah menyalahkan diri mereka sendiri, pada gilirannya hal ini mengarahkan mereka untuk merasa lebih tidak kompeten lagi.

Menurut Minchinton (1993) self-esteem bukanlah sifat atau aspek tunggal saja, melainkan sebuah kombinasi dari beragam sifat dan perilaku. Dalam Maximum Self-Esteem, Michinton (1993) memaparkan tentang tingkatan self-esteem dalam tiga hal, sebagai berikut:

Perasaan tentang Diri Sendiri

  1. Menerima diri sendiri, yaitu individu dapat menerima dirinya secara nyata dan penuh, nyaman dengan keadaan dirinya, dan memiliki perasaan yang baik mengenai dirinya, apapun kondisi yang dihadapi. Individu memandang bahwa dirinya memiliki keunikan tersendiri, meskipun ada sifat-sifat, kemampuan, atau keterampilan yang tidak dimiliki.

  2. Memaafkan diri sendiri. Individu memiliki keyakinan mendalam bahwa mereka adalah penting dan berarti, walaupun bukan untuk orang lain, setidaknya untuk dirinya sendiri. Individu mengasihani dan memaafkan dirinya dari ketidaksempurnaan.

  3. Menghargai nilai pribadi. Individu tidak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Tidak merasa lebih baik ketika dipuji atau lebih buruk ketika dkritik. Perasaannya tidak tepengaruh oleh kondisi eksternal atau pada hal yang akan atau yang telah dilakukannya.

  4. Mengendalikan emosi diri. Individu dengan harga diri tinggi memegang kendali atas emosinya sendiri. Sebaliknya, keadaan yang buruk dapat mempengaruhi perasaan individu dengan harga diri rendah, akibatnya suasana hatipun menurun. Tiap kali individu mengatakan sesuatu tentang dirinya, apakah temanteman, guru, pimpinan, orangtua atau saudara kandung, ia akan menerima komentar tersebut begiu saja dan membiaran pikiran orang melumpuhkan kehidupannya. Komentar itu bisa berupa sesuatu yang negatif atau berlawanan dengan penilaiannya. Kemudian ia pun mulai mempercayai ucapan orang tersebut meskipun jauh di lubuk hatinya, itu tidak benar.

Perasaan tentang Hidup

  1. Menerima kenyataan. Perasaan terhadap hidup berarti menerima tanggung jawab atas setiap bagian hidup yang dijalaninya. Individu dengan harga diri yang tinggi akan dengan lapang dada tidak menyalahkan keadaan hidup ini atas segala masalah yang dihadapinya. Ia sadar bahwa semuanya terjadi berkaitan dengan pilihan dan keputusan sendiri, bukan karena faktor eksternal. Individu yang memiliki harga diri yang tinggi akan membangun harapan ataupun cita-cita secara realistis sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Perasaan individu terhadap hidup juga menentukan apakah akan menganggap sebuah masalah adalah rintangan hebat atau kesempatan bagus untuk
    mengembangkan diri.

  2. Memegang kendali atas diri sendiri. Individu dengan harga diri tinggi juga tidak berusaha mengendalikan orang lain atau situasi yang ada. Sebaliknya individu dapat dengan mudah mengetahui waktu yang tepat untuk mengubah sikap dan menyesuaikan diri dengan keadaan.

Perasaan tentang Individu Lain

  1. Menghargai orang lain. Individu dengan toleransi dan penghargaan yang sama terhadap semua orang yang berarti memiliki harga diri yang baik. Ia percaya bahwa setiap orang termasuk dirinya memiliki hak yang sama dan patut dihormati.

  2. Bijaksana dalam hubungan. Menerima keberadaan individu lain, fleksibel, dan bertanggung jawab dalam hubungan. Individu dapat melihat semua orang adalah layak dan pantas. Individu dengan harga diri yang tinggi mampu memandang hubungannya dengan orang lain secara bijaksana.

Tingkatan Self-esteem


Menurut Coopersmith (1967) dalam penelitiannya mengenai selfesteem berusaha mengelompokkan subjek menjadi tiga kelompok, yaitu individu dengan self-esteem tinggi, individu dengan self-esteem sedang, dan individu dengan self-esteem rendah. Masing‐masing kelompok mempunyai ciri‐ciri tersendiri.

Uraian mengenai ciri-ciri dan masing‐masing kelompok tersebut adalah sebagai berikut:

  • Self-esteem Tinggi

    Individu dengan self-esteem tinggi adalah individu yang yakin atas karakter dan kemampuan dirinya. Individu tersebut mempunyai ciri‐ciri seperti aktif, ekspresif, cenderung berhasil dalam akademik dan kegiatan sosial, percaya diri yang didasarkan pada kemampuannya, ketrampilan sosial dan kualitas pribadinya. Selain itu, lebih mandiri, kreatif, dan yakin akan pendapatnya serta mempunyai motivasi untuk menghadapi masa depan cenderung mempunyai ambisi dan cita‐cita yang tinggi. Individu tersebut akan menerima dan memberikan penghargaan positif terhadap dirinya sehingga akan menumbuhkan rasa aman dalam menyelesaikan diri atau bereaksi terhadap stimulus dari lingkungan sosial.

  • Self-esteem Sedang

    Individu dengan self-esteem sedang pada dasarnya mempunyai kesamaan dengan individu yang mempunyai harga diri tinggi dalam hal penerimaan diri. Individu ini cenderung optimis dan mampu menangani kritik, namun tergantung pada penerimaan sosial, yaitu sikap terbuka dan menyesuaikan diri dengan baik apabila lingkungan bisa menerima.

  • Self-esteem Rendah

    Individu dengan self-esteem rendah menunjukkan sikap kurang percaya diri dan tidak mampu menilai kemampuan diri. Rendahnya penghargaan diri mengakibatkan individu tidak mampu mengekspresikan dirinya di lingkungan sosial dan tidak mempunyai keyakinan diri, merasa tidak aman dengan keberadaannya dilingkungan. Individu tersebut kurang berani menyatakan pendapatnya, kurang aktif dalam masalah sosial, pesimis dan perasaannya dikendalikan oleh pendapat yang ia terima dari lingkungan.

Menurut Brehm dan Kassin, individu dengan self-esteem tinggi mempunyai pandangan positif dan keyakinan atas kemampuan yang dimiliki akan memberi penghargaan pada dirinya sendiri. Individu yang menilai dirinya positif cenderung untuk bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri. Sebaliknya orang yang menilai dirinya negatif secara relatif tidak sehat, cemas, tertekan dan pesimis tentang masa depannya dan mudah atau cenderung gagal.

Menurut Baron dan Byrne (2005) memiliki self-esteem tinggi berarti individu menyukai dirinya sendiri atau dengan kata lain mengevaluasi dirinya secara positif. Evaluasi ini sebagian berasal dari pendapat orang lain dan sebagian lagi berasal dari pengalaman khusus.

Dariuszky (2004) berpendapat bahwa karakterisik individu yang memiliki self-esteem tinggi adalah sebagai berikut:

  • Pada umumnya, mereka tidak terlalu kuatir dengan keselamatan hidupnya dan lebih berani mengambil risiko.

  • Mereka bersedia mempertanggung jawabkan kegagalan maupun kesalahannya.

  • Mereka mempunyai harapan-harapan yang positif dan realistis atas ikhtiarnya maupun hasil ikhtiarnya.

  • Mereka dapat menemukan bukti atau alasan yang kuat untuk menghargai diri mereka atas keberhasilan yang mereka raih.

  • Pada umumnya, mereka memandang dirinya sama dan sederajat dengan orang lain.

  • Mereka cenderung melakukan aktivitas-aktivitas yang bertujuan memperbaiki atau menyempurnakan dirinya.

  • Mereka relatif puas dan berbahagia dengan keadaan hidupnya. Kemampuannya cukup bagus dalam hal menyesuaikan diri.

  • Umumnya mereka memiliki perasaan-perasaan yang positif.

Karakterisik individu yang memiliki self-esteem rendah sebagai berikut:

  • Mereka sering sulit menemukan hal-hal yang positif dalam tindakan yang mereka lakukan.

  • Mereka cenderung cemas mengenai hidupnya, dan cenderung kurang berani mengambil risiko.

  • Mereka cenderung kurang menghargai keberhasilan yang mereka raih.

  • Mereka terlalu peduli akan tanggung jawabnya atas kegagalan yang mereka perbuat, dan sering mencari-cari dalih untuk membuktikan bahwa mereka telah bertindak buruk.

  • Mereka merasa rendah diri ketika berhadapan dengan orang lain.

  • Mereka cenderung tidak termotivasi oleh keinginan untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri tetapi melakukan segala hal yang mampu mereka lakukan hanya untuk melindungi diri mereka dari kegagalan atau kekecewaan, jadi bukan karena termotivasi untuk menyempurnakan diri.

  • Mereka kurang puas dan kurang berbahagia dengan hidupnya, dan kurang mampu menyesuaikan diri.

  • Pikiran mereka cenderung mudah terserang perasaan depresi, putus asa, dan niat bunuh diri.

Harga diri merupakan penilaian yang dibuat oleh setiap individu yang mengarah pada dimensi negatif dan positif (Baron, dkk). Menurut Santrock, harga diri adalah dimensi penilaian yang menyeluruh dari diri. Harga diri ( Self-Esteem) juga sering disebut dengan Self-Worth atau Self-Image.

Frey dan Carlock mengungkapkan bahwa harga diri adalah penilaian yang mengacu pada penilaian positif, negatif, netral dan ambigu yang merupakan bagian dari konsep diri, tetapi bukan berarti cinta diri sendiri. Individu dengan harga diri yang tinggi menghormati dirinya sendiri, mempertimbangkan dirinya berharga, dan melihat dirinya sama dengan orang lain. Sedangkan harga diri rendah pada umumnya merasakan penolakan, ketidak puasan diri dan meremehkan diri sendiri.

Sedangkan Coopersmith mendefinisikan harga diri sebagai suatu penilaian yang dilakukan oleh individu terhadap dirinya sendiri.Penilaian tersebut mencerminkan sikap penerimaan dan penolakan serta menunjukkan seberapa jauh individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, berhasil dan berharga. Kesadaran tentang diri dan perasaan terhadap diri sendiri tersebut akan menimbulkan suatu penilaian terhadap diri sendiri baik positif maupun negatif.

Individu yang memiliki harga diri yang positif akan menerima dan menghargai dirinya sendiri sebagaimana adanya, serta tidak cepat menyalahkan dirinya atas kekurangan dan ketidak sempurnaan dirinya, ia selalu merasa puas dan bangga dengan hasil karyanya sendiri dan selalu percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sedangkan individu yang memiliki harga diri yang negatif merasa dirinya tidak berguna, tidak berharga dan selalu menyalahkan dirinya atas ketidak sempurnaan dirinya, ia cenderung tidak percaya diri dalam melakukan setiap tugas dan tidak yakin dengan ide-ide yang dimilikinya (Santrock).

Harga diri yang rendah seringkali menjadi penghambat bagi individu untuk memulai bergaul dengan teman sebayanya. Individu akan menjadi minder atau tidak percaya diri dan sulit membangun interaksi, serta merasa terasing dan terkucilkan ditengah teman-temannya sehingga ia cenderung menarik diri.

Timbulnya harga diri yang rendah pada individu ini adalah sebagai bentuk manifestasi reaksi emosional yang tidak menyenangkan bagi individu akibat dari cara pandang atau penilaian negatif terhadap diri sendiri. Padahal, penilaian negatif itu belum tentu benar adanya sehingga mengakibatkan munculnya rasa rendah diri jika berhadapan dengan orang lain (Surya, 2006).

Harga diri merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi manusia yang dapat memberi perasaan bahwa dirinya berhasil, mampu dan berguna sekalipun ia memiliki kelemahan dan pernah mengalami kegagalan. Kebutuhan akan harga diri tidak akan pernah berhenti sehingga mendominasi perilaku individu (Daradjat, 1990).

Terpuaskannya akan rasa harga diri pada individu akan menghasilkan sikap percaya diri, rasa berharga, rasa kuat, rasa mampu, dan perasaan berguna. Sebaliknya, frustasi atau terhambatnya pemuasan kebutuhan akan rasa harga diri itu akan menghasilkan sikap rendah diri, rasa tak pantas, rasa lemah, rasa tak mampu, dan rasa tak berguna yang menyebabkan individu tersebut mengalami kehampaan, keraguan, dan keputus asaan dalam menghadapi tuntutan-tuntutan hidupnya, serta memiliki penilaian yang rendah atas dirinya sendiri dalam kaitannya dengan orang lain (Koswara, 1991).

Berdasarkan beberapa teori dapat disimpulkan bahwa harga diri adalah penilaian individu yang bersifat positif atau negatif mengenai hal- hal yang berkaitan dengan penghargaan terhadap dirinya sendiri.

Aspek-aspek Harga Diri


Harga diri terdiri empat aspek yang dikemukakan oleh Coopersmith (dalam Tyas, 2010), yaitu:

  • Kekuatan (Power)

    Kekuatan atau power menunjuk pada adanya kemampuan seseorang untuk dapat mengatur dan mengontrol tingkah laku dan mendapat pengakuan atas tingkah laku tersebut dari orang lain. Kekuatan dinyatakan dengan pengakuan dan penghormatan yang diterima seorang individu dari orang lain dan adanya kualitas atas pendapat yang diutarakan oleh seseorang individu yang nantinya diakui oleh orang lain.

  • Keberartian (significance)

    Keberartian atau significance menunujuk pada kepedulian, perhatian, afeksi, dan ekspresi cinta yang diterima oleh seseorang dari orang lain yang menunjukkan adanya penerimaan dan popularitas individu dari lingkungan sosial. Penerimaan dari lingkungan ditandai dengan adanya kehangatan, respon yang baik dari lingkungan dan adanya ketertarikan lingkungan terhadap individu dan lingkungan menyukai individu sesuai dengan keadaan diri yang sebenarnya.

  • Kebajikan (virtue)

    Kebajikan atau virtue menunjuk pada adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral dan etika serta agama dimana individu akan menjauhi tingkah laku yang harus dihindari dan melakukan tingkah laku yang diizinkan oleh moral, etika, dan agama. Seseorang yang taat terhadap nilai moral, etika dan agama dianggap memiliki sikap yang positif dan akhirnya membuat penilaian positing terhadap diri yang artinya seseorang telah mengembangkan harga diri positif pada diri sediri.

  • Kemampuan (competence)

    Kemampuan atau competence menunjuk pada adanya performansi yang tinggi untuk memenuhi keutuhan mencapai prestasi dimana level dan tugas-tugas tersebut tergantung pada variasi usia seseorang.

Self esteem, menurut Rosenberg, adalah suatu bentuk evaluasi dari sikap yang didasarkan pada perasaan keberhargaan diri individu, yang bisa berupa perasaan-perasaan positif atau negatif. Self esteem termasuk kedalam komponen afektif dan kognitif, dan bukan hanya masalah pribadi atau psikologis tetapi juga interaksi sosial.

Sedangkan Guindon (2010) mendefinisikan self esteem sebagai suatu evaluasi terhadap konsep diri, dan memliki dua elemen integral yaitu kompetensi dan achievement , dan kedua elemen ini menentukan self-worth seseorang.

Secara spesifik, Branden (1994) menyatakan self esteem sebagai :

  • Kepercayaan mengenai kemampuan diri untuk berpikir dan mengatasi tantangan hidup.

  • Kepercayaan dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan, perasaan berharga, pantas, menyatakan kebutuhan dan keinginan diri, mencapai nilai yang dianut dan menikmati hasil dari upaya yang telah dilakukan.

Self esteem sebagai kepercayaan atas kemampuan (competence) dan kepercayaan atas keberhargaan (worthy). Self esteem biasa juga disebut sebagai self worth atau self image.

Pembahasan mengenai self esteem tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan self concept .

Secara konseptual, self atau diri memang memiliki dua komponen, yaitu kognitif dan evaluatif.

Self concept merupakan komponen kognitif yang berupa skema berisi ingatan-ingatan konkret pada atribut-atribut diri seperti sifat dan karakteristik yang menggambarkan siapa dirinya. Sementara itu self esteem merupakan komponen evaluatif yang berisi sikap individu dalam mengevaluasi diri mereka sebagai objek yang diekspresikan melalui sikap suka ataupun tidak suka terhadap diri (Robson, 1988).

Dapat disimpulkan bahwa self concept hanya berisikan bagaimana inividu menggambarkan dirinya sedangkan self esteem sudah terdapat penilaian terhadap gambaran diri tersebut yang menimbulkan rasa suka atau tidak suka maupun puas atau tidak puas. Jadi perbedaan antara self concept dan self esteem adalah self concept lebih bersifat deskriptif sedangkan self esteem lebih bersifat evaluatif.

Self esteem (juga dikenal sebagai harga diri) mengacu pada sejauh mana kita menerima atau menyetujui diri kita sendiri, atau seberapa besar kita menghargai diri sendiri. Harga diri selalu melibatkan tingkat evaluasi dan kita mungkin memiliki pandangan positif atau negatif tentang diri kita sendiri.

Harga diri tinggi (kami memiliki pandangan positif tentang diri kami sendiri)
Ini cenderung mengarah ke :

  • Percaya diri pada kemampuan kita sendiri
  • Penerimaan diri
  • Tidak khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain
  • Optimisme

Harga diri rendah (kami memiliki pandangan negatif tentang diri kami sendiri)
Ini cenderung mengarah ke :

  • Kurang percaya diri
  • Ingin menjadi / terlihat seperti orang lain
  • Selalu mengkhawatirkan apa yang dipikirkan orang lain
  • Pesimisme

Argyle (2008) percaya ada 4 faktor utama yang mempengaruhi harga diri.

  1. Reaksi Orang Lain
    Jika orang mengagumi kita, menyanjung kita, mendengarkan dengan penuh perhatian dan setuju dengan kita, kita cenderung mengembangkan citra diri yang positif. Jika mereka menghindari kita, mengabaikan kita, memberi tahu kita hal-hal tentang diri kita yang tidak ingin kita dengar, kita mengembangkan citra diri yang negatif.

  2. Perbandingan dengan Orang Lain
    Jika orang yang kita bandingkan dengan diri kita sendiri tampaknya lebih sukses, lebih bahagia, lebih kaya, lebih tampan daripada diri kita sendiri, kita cenderung mengembangkan citra diri yang negatif. Tetapi, jika mereka kurang berhasil daripada kita, citra kita akan positif.

  3. Peran Sosial
    Beberapa peran sosial membawa gengsi misalnya, dokter, pilot maskapai, presenter TV, pesepakbola premiership dan ini mempromosikan harga diri. Peran lain membawa stigma. E.g., seorang tahanan, pasien rumah sakit jiwa, kolektor sampah atau orang yang menganggur.

  4. Identifikasi
    Peran tidak hanya “di luar sana.” Mereka juga menjadi bagian dari kepribadian kita, yaitu kita identitas dengan posisi yang kita tempati, peran yang kita mainkan, dan kelompok yang kita miliki.

Referensi

https://www.simplypsychology.org/self-concept.html

Harga diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang mempunyai peran penting dan berpengaruh besar terhadap sikap dan perilaku individu. Menurut Coopersmit bahwa : “Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan, keberhargaan”. Secara singkat, harga diri adalah “Personal judgment” mengenai perasaan berharga atau berarti yang diekspresikan dalam sikap-sikap individu terhadap dirinya”.

Stuart dan Sundeen mengatakan bahwa harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal dirinya. Dapat disimpulkan bahwa harga diri menggambarkan sejauhmana individu tersebut menilai dirinya sebagai orang yang memiliki kemampuan, keberartian, berharga, dan kompeten. Baron dan Byrne menyebutkan harga diri sebagai penilaian terhadap diri yang dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki orang lain dalam menjadi pembanding.

Sedangkan Harper memberikan pengertian tentang harga diri adalah penilaian diri yang dipengaruhi oleh sikap, interaksi, penghargaan dan penerimaan orang lain terhadap individu. Shahizan mengungkapkan bahwa harga diri merupakan evaluasi positif dan negatif tentang diri sendiri yang dimiliki seseorang. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Gecas dan Rosenberg mendefinisikan harga diri sebagai evaluasi positif yang menyeluruh tentang dirinya.

Menurut Maslow , melihat harga diri sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Kebutuhan akan rasa harga diri ini oleh Maslow dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri yang mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian dan kebebasan. Individu ingin mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya.

  2. Penghargaan dari orang lain, antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya disini individu akan berusaha memenuhi kebutuhan akan harga diri, apabila kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memilikinya telah terpenuhi atau terpuaskan.

Harga diri adalah penilaian individu terhadap dirinya sendiri secara positif atau negatif yang dipengaruhi oleh interaksi dengan orang-orang yang penting dilingkungannya serta dari sikap, penerimaan, penghargaan dan perlakuan orang lain terhadap dirinya.

Aspek- Aspek Harga Diri


Menurut Coopersmith terdapat empat aspek : kekuatan, signifikan, kebajikan dan kompetensi:

  1. Keberartian Diri (Significance)
    Hal itu membuat individu cenderung mengembangkan harga diri yang rendah atau negatif. Jadi, berhasil atau tidaknya individu memiliki keberartian diri dapat diukur melalui perhatian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh lingkungan.

  2. Kekuatan Individu (Power)
    Kekuatan di sini berarti kemampuan individu untuk mempengaruhi orang lain, serta mengontrol atau mengendalikan orang lain, di samping mengendalikan dirinya sendiri. Apabila individu mampu mengontrol diri sendiri dan orang lain dengan baik maka hal tersebut akan mendorong terbentuknya harga diri yang positif atau tinggi, demikian juga sebaliknya. Kekuatan juga dikaitkan dengan inisiatif. Pada individu yang memiliki kekuatan tinggi akan memiliki inisiatif yang tinggi. Demikian sebaliknya.

  3. Kompetensi (Competence)
    Kompetensi diartikan sebagai memiliki usaha yang tinggi untuk mendapatkan prestasi yang baik, sesuai dengan tahapan usianya. Misalnya, pada remaja putra akan berasumsi bahwa prestasi akademik dan kemampuan atletik adalah dua bidang utama yang digunakan untuk menilai kompetensinya, maka individu tersebut akan melakukan usaha yang maksimal untuk berhasil di bidang tersebut. Apabila usaha individu sesuai dengan tuntutan dan harapan, itu berarti invidu memiliki kompetensi yang dapat membantu membentuk harga diri yang tinggi. Sebaliknya apabila individu sering mengalami kegagalan dalam meraih prestasi atau gagal memenuhi harapan dan tuntutan, maka individu tersebut merasa tidak kompeten. Hal tersebut dapat membuat individu mengembangkan harga diri yang rendah.

  4. Ketaatan Individu Dan Kemampuan Memberi Contoh (Virtue)
    Ketaatan individu terhadap aturan dalam masyarakat serta tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari norma dan ketentuan yang berlaku di masyarakat akan membuat individu tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat. Demikian juga bila individu mampu memberikan contoh atau dapat menjadi panutan yang baik bagi lingkungannya, akan diterima secara baik oleh masyarakat. Jadi ketaatan individu terhadap aturan masyarakat dan kemampuan individu memberi contoh bagi masyarakat dapat menimbulkan penerimaan lingkungan yang tinggi terhadap individu tersebut. Penerimaan lingkungan yang tinggi ini mendorong terbentuknya harga diri yang tinggi. Demikian pula sebaliknya.

Karekteristik Harga Diri


Harga diri seorang tergantung bagaimana dia menilai tentang dirinya, yang dimana hal ini akan mempengaruhi perilau dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian individu ini diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersifat tinggi dan negatif. Menurut Coopersmith harga diri mempunyai beberapa karakteristik, yaitu:

  1. Harga diri sebagai sesuatu yang bersifat umum.
  2. Harga diri bervariasi dalam berbagai pengalaman.
  3. Evaluasi diri.

Individu yang memiliki harga diri tinggi menunjukkan perilaku menerima dirinya apa adanya, percaya diri, puas dengan karakter dan kemampuan diri dan individu yang memiliki harga diri rendah, akan menunjukkan perhargaan buruk terhadap dirinya sehingga tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Coopersmith (dalam Simbolon, 2008) mengemukakan bahwa ciri-ciri individu berdasarkan tingkat harga dirinya, yaitu:

  • Harga diri positif
  1. Menganggap diri sendiri sebagai orang yang berharga dan sama baiknya dengan orang lain yang sebaya dengan dirinya dan menghargai orang lain.
  2. Dapat mengontrol tindakannya terhadap dunia luar dirinya dan dapat menerima kritik dengan baik.
  3. Menyukai tugas baru dan menantang serta tidak cepat bingung bila sesuatu berjalan diluar rencana.
  4. Berhasil atau berprestasi dibidang akademik, aktif dan dapat mengekspresikan dirinya dengan baik.
  5. Tidak menganggap dirinya sempurna, tetapi tahu keterbatasan diri dan mengharapkan adanya pertumbuhan dalam dirinya.
  6. Memiliki nilai-nilai dan sikap yang demokratis serta orientasi yang realistis.
  7. Lebih bahagia dan efektif menghadapi tuntutan dari lingkungan.
  • Harga diri negatif
  1. Menganggap dirinya sebagai orang yang tidak berharga dan tidak sesuai, sehingga takut gagal untuk melakukan hubungan sosial. Hal ini seringkali menyebabkan individu yang memiliki harga diri yang rendah, menolak dirinya sendiri dan tidak puas akan dirinya.
  2. Sulit mengontrol tindakan dan perilakunya terhadap dunia luar dirinya dan kurang dapat menerima saran dan kritikan dari orang lain.
  3. Tidak menyukai segala hal atau tugas yang baru, sehingga akan sulit baginya untuk menyesuaiakan diri dengan segala sesuatu yang belum jelas baginya.
  4. Tidak yakin akan pendapat dan kemampuan diri sendiri sehingga kurang berhasil dalam prestasi akademis dan kurang dapat mengekspresikan dirinya dengan baik.
  5. Menganggap dirinya kurang sempurna dan segala sesuatu yang dikerjakannya akan selalu mendapat hasil yang buruk, walaupun dia telah berusaha keras, serta kurang dapat menerima segala perubahan dalam dirinya.
  6. Kurang memiliki nilai dan sikap yang demokratis serta orientasi yang kurang realistis.
  7. Selalu merasa khawatir dan ragu-ragu dalam menghadapi tuntutan dari lingkungan.
Referensi

Self esteem berasal dari bahasa Inggris, Self diri, sendiri, dirinya (sendiri), dapat mengatur sendiri. Esteem adalah penghargaan, mempunyai penghargaan tinggi terhadap seseorang, mengaggumi, menjunjung seseorang, menghargai sopan santun. Self esteem adalah penghargaan diri terhadap seseorang maupun dirinya sendiri.

Penghargaan diri terdiri atas dua komponen yang saling terkait. Pertama, percaya diri dalam menghadap hidup yang penuh tantangan, kemampuan diri. Kedua, kebahagiaan yang penuh makna: respek terhadap diri sendiri.

Singkatnya, definisi penghargaan diri merupakan pengaturan untuk menguji seseorang yang dianggap berkompeten dalam menguasai tantangan kehidupan yang mendasar dan berwujud kebahagiaan yang bermakna.

Harga diri mengandung arti suatu hasil penelitian individu terhadap dirinya yang dungkapkan dalam sikap- sikap yang dapat bersifat positif dan negatif. Bagiamana seseorang menilai tentang dirinya sendiri akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupanya sehari- hari.

Macam Self esteem

1. Self esteem Tinggi

Menurut Myers dan Myers, individu yang memiliki harga diri tinggi akan cenderung respek terhadap dirinya, menganggap dirinya berharga,tidak menghendaki dirinya sempurna atau lebih baik dari orang lain namun juga tidak berfikir dirinya buruk, secara realistis keterbatasan interpersonal yang dimilikinya, meskipun ada kepuasan namun mengharapkan untuk tetap tumbuh dan berkembang.

Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Frey dan Carclock bahwa orang yang memiliki harga diri tinggi biasanya memiliki sifat mampu menghargai dan menghormati dirinya sendiri, berpandangan bahwa dirinya sendiri sejajar dengan orang lain, cenderung tidak menjadi perfeksionis, mengenali keterbatasannya, selalu memiliki harapan untuk tumbuh dan berkembang lebih baik.

2. Self esteem Rendah

Sebaliknya seseorang yanng memiliki harga diri yang negatif akan cenderung merasa bahwa dirinya tidak mampu dan tidak berharga. Disamping itu seseorang yang memiliki harga diri negatif tidak akan berani mengambil resiko dan mencari tantangan- tantangan baru dalam hidupnya, lebih senang menghadapi hal- hal yang sudah dikenal dengan baik serta menyenangi hal- hal yang tidak penuh dengan tuntutan, cenderung tidak merasa yakin akan pemikiran- pemikiran serta perasaan yang dimilikinya, cenderung takut menghadapi respon dari orang lain, tidak mampu membina komunikasi yang baik dan cenderung merasa hidupnya tidak bahagia.

Proses Pembentukan Harga Diri

Pembentukan harga diri merupakan sebuah proses fenomenologis, karena ada dalam pandangan dan pikiran seseorang yang bisa saja sesuai atau tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Harga diri global yang positif sangat penting bagi perkembangan kepribadian yang sehat. Seorang yang memiliki masalah harga diri bukan saja hanya gagal meraih potensi mereka seutuhnya, tapi juga cenderung menjadi pencemas dan menunjukkan simptom- simptom kecemasan.

Faktor Harga Diri

Harga diri di pengaruhi oleh beberpa faktor yang akan diuraikan dibawah ini:

  1. Sikap dan perilaku orang tua serta hubungan dalam keluarga. Penghargaan diri pada masa anak- anak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku orang tua.

  2. Guru- guru dan teman sebaya dan sekolah, ketika anak- anak semakin besar, ia mulai berkenalan dengan dunia diluar lingkungan keluarganya.

  3. Gender juga merupakan salah satu faktor pembentuk harga diri. Penelitian mengenaihubungan antara gender dan harga diri telah banyak dilakukan diluar negeri dan menemukan bahwa harga diri laki- laki lebih tinggi dari perempuan khususnya pada masa remaja.

  4. Persepsi terhadap penampilan fisik. Seorang yang memiliki fisik yang sempurna (cantik, menarik dan tanpa adanya kecacatan).