Apa yang dimaksud dengan Gangguan Mental?

Gangguan mental merupakan hal yang paling ditakuti oleh banyak orang tua dimanapun berada. Mereka ingin agar anaknya bisa terlahir dengan sempurna dan tanpa ada cacat baik fisik maupun mental. Sehingga semua orang tua khususnya ibu melakukan berbagai hal agar bisa menjaga anaknya dengan baik, termasuk mencegah adanya gangguan mental. Sayangnya perlindungan itu belum tentu bisa didapatkan oleh semua anak, beberapa anak harus dianugerahkan hal yang “berbeda” dan seringkali dianggap remeh.

Padahal belum tentu juga anak tersebut berbeda dalam arti yang buruk. Bisa jadi dalam arti yang baik jika diarahkan. Banyak orang tua yang mengalami buta informasi atau ketidaktahuan akan gejala awal gangguan mental. Mereka hanya menganggap gejala tersebut sebagai keterlambatan yang bisa ditolerir padahal tidak. Lantas apa yang dimaksud dengan gangguan mental ?

Gangguan mental merupakan gangguan yang terjadi dan menyerang pikiran serta kejiwaan seseorang. Dimana umumnya gangguan ini tidak sepenuhnya menyebabkan anak tidak sadar atau gila, namun cenderung terlambat dan mengalami beberapa kejadian yang dianggap “diluar kendali”. Maka gangguan mental anak tentu terjadi pada anak, dan biasanya gangguan tersebut memang sudah ada sejak lahir.

Gangguan jiwa (Mental Illness) menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Terdapat bermacam-macam gangguan jiwa dengan penderita yang kerap kali dikucilkan, mendapat perlakuan diskriminasi, di isolasi bahkan hingga di pasung. Padahal perlakuan-perlakuan tersebut tidak akan membantu penderita sama sekali bahkan dapat menjadi lebih parah.

Sedangkan manusia dengan keterbelakangan mental yang berbeda dengan penyakit mental atau yang sering disebut dengan gangguan jiwa juga kerap kali mendapatkan perlakuan yang serupa.

Masalah gangguan jiwa yang menyebabkan menurunnya kesehatan mental ini ternyata terjadi hampir di seluruh negara di dunia. WHO (World Health Organization) yaitu suatu badan dunia PBB yang menangani masalah kesehatan dunia, memandang serius masalah kesehatan mental dengan menjadikan isu global WHO. WHO mengangkat beberapa jenis gangguan jiwa seperti Schizoprenia, Alzheimer, Epilepsi, keterbelakangan mental dan ketergantungan alkohol sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius lagi.

Penderita gangguan jiwa dan keterbelakangan mental sangatlah berbeda. Gangguan jiwa disebabkan karena banyak hal, salah satunya yang banyak terjadi di Indonesia karena pengalaman kehidupan yang di alami penderita sehingga mengganggu pikiran serta jiwa mereka, sedangkan pada penyandang keterbelakangan mental disebabkan karena rendahnya IQ yang membuat sikap dan perilaku mereka berbeda dengan manusia normal lainnya.

Penderita gangguan jiwa dan keterbelakangan mental adalah warga negara Indonesia dan memiliki hak-hak sama seperti warga negara Indonesia lainnya. Wartawan Majalah Time, Andrea Star Reese, pernah sempat mengunjungi Indonesia dan menemukan orang di daerah pelosok Indonesia lebih memilih memasung anggota keluarganya yang mengidap penyakit mental seperti Skizofrenia ketimbang membawanya ke rumah sakit.

Kendala umum bagi masyarakat Indonesia sehingga memilih memasung anggota keluarganya karena masalah akses ke perawatan; biaya pengobatan mahal dan kurangnya penyebarluasan informasi dasar.

Penderita gangguan kejiwaan atau mental masih dianggap sebagai hal yang memalukan atau sebuah aib bagi keluarga atau kerabat yang salah satu anggota keluarga mengalami gangguan kesehatan mental atau kejiwaan.

Masyarakat Indonesia beranggapan bahwa gangguan kesehatan mental atau kejiwaan tidak dapat disembuhkan sehingga bagi penderitanya layak dikucilkan. Minimnya pengetahuan tentang gangguan kesehatan mental atau kejiwaan, membuat masyarakat Indonesia memberikan penilaian bahwa penderita gangguan kesehatan mental atau kejiawaan berbeda dengan para penderita sakit fisik yang dapat disembuhkan maupun sulit disembuhkan. Sehingga labelling penderita gangguan kesehatan mental atau kejiwaan adalah ‘orang aneh’.

Dengan memberikan pengetahuan mengenai kesehatan mental atau kejiwaan (termasuk psikososial) kepada masyarakat maka secara bertahap stigma ‘orang aneh yang harus dikucilkan’ akan sedikit demi sedikit berkurang, dan bagi keluarga yang anggotanya memiliki gangguan kesehatan mental atau kejiwaan akan langsung memberikan pengobatan di tempat yang sesuai, selain itu dengan terbukanya pikiran masyarakat maka secara berkala profesi pekerja sosial dalam bidang medis khususnya akan ikut terangkat.

Gangguan jiwa atau gangguan mental adalah sindrom pola perilaku individu yang berkaitan dengan suatu gejala penderitaan dan pelemahan didalam satu atau lebih fungsi penting dari manusia, yaitu fungsi psikologik, perilaku, biologik, gaangguan tersebut mempengaruhi hubungan antara dirinya sendiri dan juga masyarakat (Maramis, 2010).

Gangguan jiwa atau mental illnes adalah keadaan dimana seseorang mengalami kesultan mengenai persepsinya tentang kehidupan, hubungan dengan orang lain, dan sikapnya terhadap dirinya sendiri. Gangguan jiwa merupakan suatu gangguan yang sama halnya dengan gangguan jasmaniah lainnya, tetapi gangguan jiwa bersifat lebih kompleks, mulai dari yang ringan seperti rasa cemas, takut hingga tingkat berat berupa sakit jiwa (Budiono, 2010)

Gangguan jiwa adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami gangguan dalam pikiran,perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala atau perubahan perilaku yang bermakna, serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia ( UU.RI No.18, 2014)

Faktor Yang Menyebabkan Gagguan Jiwa

Gejala yang paling utama pada gangguan jiwa terdapat pada unsur kejiwaan, biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi terdapat beberapa penyebab dari beragai unsur yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu muncul gangguan kejiwaan.

Menurut Maramis 2010 dalam Buku Ajar Keperawatan Jiwa, sumber penyebab gangguan jiwa dapat dibedakan atas :

  1. Faktor Somatik (Somatogenik),yaitu akibat gangguan pada neuroanatomi, neurofisiologi,dan nerokimia, termasuk tingkat kematangan dan perkembangan organik, serta faktorpranatal dan perinatal.

  2. Faktor Psikologik (Psikogenik), yaitu keterkaitan interaksi ibu dan anak, peranan ayah,persaingan antara saudara kandung, hubungan dalam keluarga,pkerjaan, permintaan masyarakat. Selain itu, faktor intelegensi, tingkat perkembangan emosi, konsep diri, dan pola adaptasi juga akan mempengaruhi kemampuan untuk menghadapi masalah. Apabila keadaan tersebut kurang baik, maka dapat menyebabkan kecemasan, depresi, rasa malu, dan rasa bersalah yang berlebihan.

  3. Faktor Sosial Budaya, yang meliputi faktor kestabilan keluarga, pola mengasuh anak, tingkat ekonomi, perumahan, dan masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka, fasilitas kesehatan, dan kesejahteraan yang tidak memadai, serta pengaruh mengenai keagamaan.

Tanda dan Gejala Gangguan Jiwa

Tanda dan gejala yang muncul pada pasien dengan gangguan jiwa menurut Maramis tahun 2010 diantaranya :

  1. Normal dan Abnormal

Abnormal berarti menyimpang dari yang normal. Seseuatu dikatakan abnormal apabila terdapat suat norma, dan seseorang tersebut telah menyimpang dari batas-batas norma

  1. Gangguan Kesadaran

Kesadaran mrupakan kemampuan individu dalam mengadakan pembatasan terhadap lingkungannya serta dengan dirinya sendiri (melalui panca inderanya).apabila kesadaran tersebut baik maka orientasi (waktu, tempat, dan orang) dan pengertian yang baik serta pemakaian informasi yang masuk secara efektfif (melalui ingatan dan pertimbangan).

  1. Gangguan Ingatan

Ingatan berdasarkan tiga proses yaitu, pencatatan atau regristasi (mencatat atau meregristasi sesuatu pengalaman didalam susunan saraf pusat); penahanan atau retensi (menyimpan atau menahan catatan tersebut) ; dan pemanggilan kembali atau “recall” (mengigat atau mengeluarkan kembali catatan itu).

  1. Gangguan Orientasi

Gangguan orientasi atau Disorientasi timbul sebagai akibat gangguan kesadarandan dapat menyangkut waktu, tempat, atau orang. Gangguan Afek dan Emosi. Afek ialah nada perasaan, menyenangkan atau tidak (seperti kebanggan, kekecewaan, kasih sayang) yang menyertai suatu pikiran dan biasanya bermanifestasi afek ke luar dan disertai oleh banyak komponen fisiologik.

  1. Gangguan Psikomotor

Psikomotor merupakan gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa, gangguan psikomotor dapat berupa :

  • Hipokinesia atau hipoaktivitas : gerakan atau aktivitas berkurang

  • Stupor Katatonic : reaksi terhadap lingkungan sangat berkurang, gerakan dan aktivitas menjadi sangat lambat.

  • Katalepsi : mempertahankan posisi tubuh secara kaku posisi badan tertentu.

  • Fleksibilitas serea : memetahankan posisi badan yang dibuat padanya oleh orang lain.

  • Hiperkinesia : pergerakan atau aktivitas yang berlebihan

  • Gaduh gelisah katatonik : aktivtas motorik yang kelihatannya tidak bertujuan, yang berkali-kali dan seakanakan tidak dipengaruhi oelh rangsangan dari luar

  • Berisikap aneh : dengan sengaja mengambil sikap atau posisi badan yang tidak wajar

  • Grimas : miik yang aneh dan ebrulang-ulang

  • Stereotype : gerakan salah satu anggota badan yang berkalikali dan tidak bertujuan.

  • Gangguan proses berfikir, proses berfikir meliputi proses pertimbangan, pemahaman, ingatan serta penalaran.

  • Gangguan persepsi

  • Gangguan intelegensi

  • Gangguan kepribadian.

Kondisi mental adalah dasar emosi yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk cara berpikir, berkomunikasi, belajar, ketahanan psikologis dan rasa percaya diri. Ketika seseorang mengalami tekanan mental yang sangat mengganggu sehingga menghambat aktivitas, maka kondisi tersebut bisa jadi termasuk mental illness. Di Indonesia, penderita gangguan mental diidentikkan dengan sebutan ‘orang gila’ atau ‘sakit jiwa’, dan sering mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan hingga dipasung. Padahal, penderita gangguan mental bisa dibawa ke rumah sakit untuk diberikan pengobatan. Gangguan mental bisa diobati dengan psikoterapi dan obat-obatan. Pada kasus tertentu, dokter akan memberikan kombinasi kedua metode pengobatan tersebut serta menyarankan pasien menjalani gaya hidup yang sehat.

Gejala Gangguan Mental

Gejala dan tanda gangguan mental tergantung pada jenis gangguan jiwa yang dialami. Penderita bisa mengalami gangguan pada emosi, pola pikir, dan perilaku. Beberapa contoh gejala gangguan mental adalah:

  • Waham atau delusi, yaitu meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
  • Halusinasi, yaitu sensasi ketika seseorang melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.
  • Suasana hati yang berubah-ubah dalam periode-periode tertentu.
  • Perasaan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.
  • Perasaan cemas dan takut yang berlebihan dan terus menerus, sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Gangguan makan misalnya merasa takut berat badan bertambah, cenderung memuntahkan makanan, atau makan dalam jumlah banyak.
  • Perubahan pada pola tidur, seperti mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur, serta gangguan pernapasan dan kaki gelisah saat tidur.
  • Kecanduan nikotin dan alkohol, serta penyalahgunaan NAPZA.
  • Marah berlebihan sampai mengamuk dan melakukan tindak kekerasan.
  • Perilaku yang tidak wajar, seperti teriak-teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa sendiri, serta keluar rumah dalam kondisi telanjang.

Selain gejala yang terkait dengan psikologis, penderita gangguan mental juga dapat mengalami gejala pada fisik, misalnya sakit kepala, sakit punggung, dan sakit maag.

Kapan harus ke dokter

Segeralah berkonsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) bila Anda mengalami gejala di atas, terutama jika beberapa gejala tersebut muncul secara bersamaan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Bila orang di sekitar Anda menunjukkan gejala gangguan mental, ajak dia berbagi dan bicara baik-baik mengenai gejala yang dialaminya. Jika memungkinkan, ajak dia menemui psikiater.

Lekas ke IGD rumah sakit jiwa jika muncul gelagat untuk melukai diri sendiri dan orang lain, terutama jika muncul keinginan untuk bunuh diri. Bila hal tersebut terjadi pada orang di sekitar Anda, tetaplah bersamanya dan hubungi nomor darurat.

Penyebab Gangguan Mental

Belum diketahui secara pasti apa penyebab gangguan mental. Namun, kondisi ini diketahui terkait dengan faktor biologis dan psikologis, sebagaimana akan diuraikan di bawah ini:

Faktor biologis (atau disebut gangguan mental organik)

  • Gangguan pada fungsi sel saraf di otak.
  • Infeksi, misalnya akibat bakteri Streptococcus .
  • Kelainan bawaan atau cedera pada otak.
  • Kerusakan otak akibat terbentur atau kecelakaan.
  • Kekurangan oksigen pada otak bayi saat proses persalinan.
  • Memiliki orang tua atau keluarga penderita gangguan mental.
  • Penyalahgunaan NAPZA dalam jangka panjang.
  • Kekurangan nutrisi.

Faktor psikologis

  • Peristiwa traumatik, seperti kekerasan dan pelecehan seksual.
  • Kehilangan orang tua atau disia-siakan di masa kecil.
  • Kurang mampu bergaul dengan orang lain.
  • Perceraian atau ditinggal mati oleh pasangan.
  • Perasaan rendah diri, tidak mampu, marah, atau kesepian.

Diagnosis Gangguan Mental

Untuk menentukan jenis gangguan mental yang diderita pasien, psikiater akan melakukan pemeriksaan medis kejiwaan dengan mewawancarai pasien atau keluarganya. Pertanyaan yang akan diajukan meliputi:

  • Gejala yang dialami, termasuk sejak kapan gejala muncul dan dampaknya pada aktivitas sehari-hari.
  • Riwayat penyakit mental pada pasien dan keluarganya.
  • Peristiwa yang dialami pasien di masa lalu yang memicu trauma.
  • Obat-obatan dan suplemen yang pernah atau sedang dikonsumsi.

Guna menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah tes darah.

Melalui tes darah, dokter dapat mengetahui apakah gejala pada pasien disebabkan oleh gangguan tiroid, kecanduan alkohol, atau penyalahgunaan NAPZA.

Contoh Gangguan Mental

Setelah melakukan sejumlah pemeriksaan, dokter dapat menentukan jenis gangguan mental yang dialami pasien. Dari sekian banyak jenis gangguan mental, beberapa yang paling sering terjadi adalah:

1. Depresi

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan biasa yang berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada depresi bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

2. Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan mental yang menimbulkan keluhan halusinasi, delusi, serta kekacauan berpikir dan berperilaku. Skizofrenia membuat penderitanya tidak bisa membedakan antara kenyataan dengan pikirannya sendiri.

3. Gangguan kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang membuat penderitanya merasa cemas dan takut secara berlebihan dan terus menerus dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Penderita gangguan kecemasan dapat mengalami serangan panik yang berlangsung lama dan sulit dikendalikan.

4. Gangguan bipolar

Gangguan bipolar adalah jenis gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati. Penderita gangguan bipolar dapat merasa sangat sedih dan putus asa dalam periode tertentu, kemudian menjadi sangat senang dalam periode yang lain.

5. Gangguan tidur

Gangguan tidur merupakan perubahan pada pola tidur yang sampai mengganggu kesehatan dan kualitas hidup penderitanya. Beberapa contoh gangguan tidur adalah sulit tidur (insomnia), mimpi buruk (parasomnia), atau sangat mudah tertidur (narkolepsi).

Pengobatan Gangguan Mental

Pengobatan gangguan mental tergantung pada jenis gangguan yang dialami dan tingkat keparahannya. Selain terapi perilaku kognitif dan pemberian obat, dokter juga akan menyarankan pasien menjalani gaya hidup yang sehat.

Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang bertujuan mengubah pola pikir dan respons pasien, dari negatif menjadi positif. Terapi ini menjadi pilihan utama untuk mengatasi gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, gangguan kecemasan, gangguan bipolar, dan gangguan tidur.

Pada banyak kasus, dokter akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, agar pengobatan menjadi lebih efektif.

Obat-obatan

Untuk meredakan gejala yang dialami penderita dan meningkatkan efektifitas psikoterapi, dokter dapat meresepkan sejumlah obat berikut:

Perubahan gaya hidup

Menjalani gaya hidup sehat dapat memperbaiki kualitas tidur penderita gangguan mental yang juga mengalami gangguan tidur, terutama bila dikombinasikan dengan metode pengobatan di atas. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

  • Mengurangi asupan gula dalam makanan.
  • Memperbanyak makan buah dan sayur.
  • Membatasi konsumsi minuman berkafein.
  • Berhenti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Melakukan olahraga secara rutin.
  • Makan cemilan dengan sedikit karbohidrat sebelum tidur.
  • Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari.

Jika mengalami gangguan mental yang cukup parah, penderita perlu menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Demikian juga jika penderita tidak bisa menjalani perawatan mandiri atau sampai melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Komplikasi Gangguan Mental

Gangguan mental dapat menyebabkan komplikasi serius, baik pada fisik, emosi, maupun perilaku. Bahkan, satu gangguan mental yang tidak diatasi bisa memicu gangguan mental lainnya. Beberapa komplikasi yang bisa muncul adalah:

  • Perasaan tidak bahagia dalam hidup.
  • Konflik dengan anggota keluarga.
  • Kesulitan menjalin hubungan dengan orang lain.
  • Terasing dari kehidupan sosial.
  • Kecanduan rokok, alkohol, atau NAPZA.
  • Keinginan untuk bunuh diri dan mencelakai orang lain.
  • Terjerat masalah hukum dan keuangan.
  • Rentan sakit akibat sistem kekebalan tubuh menurun.

Pencegahan Gangguan Mental

Tidak semua gangguan mental dapat dicegah. Namun, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko serangan gangguan mental, yaitu:

  • Tetap berpartisipasi aktif dalam pergaulan dan aktivitas yang disenangi.
  • Berbagilah dengan teman dan keluarga saat menghadapi masalah.
  • Lakukan olahraga rutin, makan teratur, dan kelola stres dengan baik.
  • Tidur dan bangun tidur teratur pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Jangan merokok dan menggunakan NAPZA.
  • Batasi konsumsi minuman beralkohol dan minuman berkafein.
  • Konsumsi obat-obatan yang diresepkan dokter, sesuai dosis dan aturan pakai.
  • Segera ke dokter bila muncul gejala gangguan mental.

Gangguan mental sekarang banyak dialami oleh anak-anak muda atau kaum milenial dikarenakan persoalan dunia yang kian kompleks, seperti susahnya mengejar IP Cumlaude, atau buntunya insipirasi saat mengerjakan skripsi, dan lain-lain. Kesulitan ini dikarenakan banyaknya distraksi yang muncul seiring dengan makin canggihnya teknologi, sehingga tidak jarang banyak kaum millennial yang menderita gangguan mental. Namun yang lebih berhabaya lagi adalah karena kurangnya informasi tentang gangguan mental banyak kaula muda yang sering melakukan self diagnose , yaitu upaya untuk mendiagnosis dirinya sendiri berdasarkan informasi dari internet, pengalaman, dari teman maupun keluarga. Padahal diagnosis hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis professional. Hal ini dikarenakan self diagnose berbahaya bagi gangguan mental yang belum tentu dialami.

Bahaya yang ditimbulkan oleh self diagnose adalah self diagnose menimbulkan resiko yang berdampak negatif. Misalkan, seseorang telah mendiagnosis dirinya sendiri mengidap gangguan kecemasan. Padahal jika ia meminta pertolongan kepada tenaga medis professional bisa saja ia mengidap penyakit fisik, bukan gangguan mental. Karena misdiagnose tersebut, dan melakukan penanganan yang salah terhadap apa yang dideritanya, penyakit tersebut dapat bertambah parah dan yang ditakutkan adalah tidak dapat ditolong. Oleh sebab itu perlu disadari apabila kita mengidap gejala-gejala yang berkaitan gangguan mental, alangkah lebih baiknya kita langsung menemui ahlinya saja.

Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar.

Seseorang yang bermental sehat dapat menggunakan kemampuan atau potensi dirinya secara maksimal dalam menghadapi tantangan hidup, serta menjalin hubungan positif dengan orang lain.

Sebaliknya, orang yang kesehatan mentalnya terganggu akan mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikir, serta kendali emosi yang pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku buruk.

Penyakit mental dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat merusak interaksi atau hubungan dengan orang lain, namun juga dapat menurunkan prestasi di sekolah dan produktivitas kerja. oleh sebab itu, sudah saatnya kita menjalankan pola hidup sehat

Terdapat beberapa jenis masalah kesehatan mental dan berikut ini adalah tiga jenis kondisi yang paling umum terjadi.

Stres

Stres adalah keadaan ketika seseorang mengalami tekanan yang sangat berat, baik secara emosi maupun mental.

Seseorang yang stres biasanya akan tampak gelisah, cemas, dan mudah tersinggung. Stres juga dapat mengganggu konsentrasi, mengurangi motivasi, dan pada kasus tertentu, memicu depresi.

Stres bukan saja dapat memengaruhi psikologi penderitanya, tetapi juga dapat berdampak kepada cara bersikap dan kesehatan fisik mereka.

Berikut ini adalah contoh dampak stres terhadap perilaku seseorang:

  • Menjadi penyendiri dan enggan berinteraksi dengan orang lain.
  • Enggan makan atau makan secara berlebihan.
  • Marah-marah, dan terkadang kemaharan itu sulit dikendalikan.
  • Menjadi perokok atau merokok secara berlebihan.
  • Mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Penyalahgunaan obat-obatan narkotika.

Berikut ini adalah masalah kesehatan yang dapat timbul akibat stres:

  • Gangguan tidur
  • Lelah
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Nyeri dada
  • Nyeri atau tegang pada otot
  • Penurunan gairah seksual
  • Obesitas
  • Hipertensi
  • Diabetes
  • Gangguan jantung

Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres, sebagian di antaranya adalah masalah keuangan, hubungan sosial, atau tuntutan di dalam pekerjaan. Untuk mengatasi stres, kunci utamanya adalah mengidentifikasi akar permasalahan dan mencari solusinya.

Penanggulangan stres juga bisa dilakukan dengan mengaplikasikan nasihat-nasihat yang disarankan dalam manajemen stres yang baik, seperti:

  • Belajar menerima suatu masalah yang sulit diatasi atau hal-hal yang tidak dapat diubah.
  • Selalu berpikir positif dan memandang bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup ada hikmahnya.
  • Meminta saran dari orang terpercaya untuk mengatasi masalah yang sedang dialami.
  • Belajar mengendalikan diri dan selalu aktif dalam mencari solusi.
  • Melakukan aktivitas fisik, meditasi, atau teknik relaksasi guna meredakan ketegangan emosi dan menjernihkan pikiran.
  • Melakukan hal-hal baru yang menantang dan lain dari biasanya guna meningkatkan rasa percaya diri.
  • Menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.
  • Melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial untuk membantu orang lain. Cara ini dapat membuat seseorang lebih tabah dalam menghadapi masalah, terutama jika bisa membantu seseorang yang memiliki masalah lebih berat dari yang dialaminya.
  • Menghindari cara-cara negatif untuk meredakan stres, misalnya merokok, mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, atau menggunakan narkoba.
  • Bekerja dengan mengedepankan kualitas bukan kuantitas, agar manajemen waktu lebih baik dan hidup juga lebih seimbang.

Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan adalah kondisi psikologis ketika seseorang mengalami rasa cemas berlebihan secara konstan dan sulit dikendalikan, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-harinya.

Bagi sebagian orang normal, rasa cemas biasanya timbul pada suatu kejadian tertentu saja, misalnya saat akan menghadapi ujian di sekolah atau wawancara kerja. Namun pada penderita gangguan kecemasan, rasa cemas ini kerap timbul pada tiap situasi. Itu sebabnya orang yang mengalami kondisi ini akan sulit merasa rileks dari waktu ke waktu.

Selain gelisah atau rasa takut yang berlebihan, gejala psikologis lain yang bisa muncul pada penderita gangguan kecemasan adalah berkurangnya rasa percaya diri, menjadi mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi, dan menjadi penyendiri.

Sementara itu, gejala fisik yang mungkin menyertai masalah gangguan kecemasan antara lain:

  • Sulit tidur
  • Badan gemetar
  • Mengeluarkan keringat secara berlebihan
  • Otot menjadi tegang
  • Jantung berdebar
  • Sesak napas
  • Lelah
  • Sakit perut atau kepala
  • Pusing
  • Mulut terasa kering
  • Kesemutan

Meski penyebab gangguan kecemasan belum diketahui secara pasti, beberapa faktor diduga dapat memicu munculnya kondisi tersebut. Di antaranya adalah trauma akibat intimidasi, pelecehan, dan kekerasan di lingkungan luar ataupun keluarga.

Faktor risiko lainnya adalah stres berkepanjangan, gen yang diwariskan dari orang tua, dan ketidakseimbangan hormon serotonin dan noradrenalin di dalam otak yang berfungsi mengendalikan suasana hati. Gangguan kecemasan juga dapat dipicu oleh penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Sebenarnya, gangguan kecemasan dapat diatasi tanpa bantuan dokter melalui beberapa cara, seperti mengonsumsi makanan bergizi tinggi, cukup tidur, mengurangi asupan kafein, minuman beralkohol, atau zat penenang lainnya, tidak merokok, berola raga secara rutin, dan melakukan metode relaksasi sederhana, seperti yoga atau meditasi.

Jika pengobatan mandiri tidak memberikan perubahan, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Penanganan dari dokter biasanya meliputi pemberian obat-obatan antiansietas serta terapi kognitif.

Depresi

Depresi merupakan gangguan suasana hati yang menyebabkan penderitanya terus-menerus merasa sedih. Berbeda dengan kesedihan biasa yang umumnya berlangsung selama beberapa hari, perasaan sedih pada depresi bisa berlangsung hingga berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Selain memengaruhi perasaan atau emosi, depresi juga dapat menyebabkan masalah fisik, mengubah cara berpikir, serta mengubah cara berperilaku penderitanya. Tidak jarang penderita depresi sulit menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Bahkan pada kasus tertentu, mereka bisa menyakiti diri sendiri dan mencoba bunuh diri.

Berikut ini adalah beberapa gejala psikologi seseorang yang mengalami depresi:

  • Kehilangan ketertarikan atau motivasi untuk melakukan sesuatu.
  • Terus-menerus merasa sedih, bahkan terus-menerus menangis.
  • Merasa sangat bersalah dan khawatir berlebihan.
  • Tidak dapat menikmati hidup karena kehilangan rasa percaya diri.
  • Sulit membuat keputusan dan mudah tersinggung.
  • Tidak acuh terhadap orang lain.
  • Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Berikut ini adalah dampak depresi terhadap kesehatan fisik yang mungkin dapat terjadi:

  • Gangguan tidur dan badan terasa lemah.
  • Berbicara atau bergerak menjadi lebih lambat.
  • Perubahan siklus menstruasi pada wanita.
  • Libido turun dan muncul sembelit.
  • Nafsu makan turun atau meningkat secara drastis.
  • Merasakan sakit atau nyeri tanpa sebab.

Ada beragam hal yang dapat memicu terjadinya depresi, mulai dari peristiwa dalam hidup yang menimbulkan stres, kehilangan orang yang dicintai, merasa kesepian, hingga memiliki kepribadian yang rapuh terhadap depresi.

Selain itu, depresi yang dialami seseorang juga bisa disebabkan oleh penderitaan akibat penyakit parah dan berkepanjangan, seperti kanker dan gangguan jantung, cedera parah di kepala, efek dari konsumsi minuman beralkohol berlebihan dan obat-obatan terlarang, hingga akibat faktor genetik dalam keluarga.

Dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter jika merasakan gejala-gejala depresi selama lebih dari dua minggu dan tidak kunjung mereda. Apalagi jika gejala depresi tersebut sampai mengganggu proses pendidikan, pekerjaan, dan hubungan sosial,

Penanganan depresi oleh dokter akan disesuaikan dengan tingkat keparahan depresi yang diderita masing-masing pasien. Bentuk penanganan bisa berupa terapi konsultasi, pemberian obat-obatan antidepresi, atau kombinasi keduanya.

Sumber: http://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental