Apa yang dimaksud dengan Gangguan Depresi Mayor?

depresi mayor

Banyak orang yang tidak mengetahui dan memahami mengenai gangguan psikologi yang ada di sekitar kita. Salah satu gangguan psikologi adalah gangguan depresi mayor.

Gangguan depresi mayor merupakan gangguan mood di mana seseorang merasakan kesedihan mendalam dan tidak mampu merasakan kesenangan, dalam durasi tertentu lalu hilang, namun seringkali kembali muncul di kemudian hari. (Kring, Johnson, Davison, & Neale, 2014).

Menurut DSM – IV – TR suatu gangguan depresif mayor didefinisikan sebagai satu atau lebih episode depresif berat tanpa adanya riwayat episode manik, campuran, atau hipomanik. Suatu episode depresif mayor harus dialami sekurang-kurangnya 2 minggu, dan secara tipikal seorang pasien mengalami depresi dan atau kehilangan minat dalam kebanyakan aktivitas.

Seseorang dengan diagnosis episode depresif mayor harus juga mengalami paling sedikit 4 simtom dari kriteria yang mana termasuk perubahan nafsu makan dan berat badan, perubahan tidur dan aktifitas, pengurangan energi, perasaan bersalah, masalah dalam berpikir dan dalam membuat keputusan, dan pikiran yang berulang tentang kematian atau bunuh diri.

Gangguan depresi mayor adalah tipe yang paling umum dari gangguan mood yang dapat di diagnosis. Prevalensi gangguan depresi di Indonesia ada sebanyak 11,60% dari jumlah penduduk di Indonesia sekitar 24.708.000 jiwa dan 50 % terjadi pada usia 20-50 tahun. WHO mencatat sekitar 121 juta orang di dunia menderita depresi.

Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda – beda pada masing – masing individu. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition Text Revision ( DSM – IV – TR ), merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk menegakkan diagnosis depresif.

Menurut DSM – IV – TR suatu gangguan depresif mayor didefinisikan sebagai satu atau lebih episode depresif berat tanpa adanya riwayat episode manik, campuran, atau hipomanik. Suatu episode depresif mayor harus dialami sekurang-kurangnya 2 minggu, dan secara tipikal seorang pasien mengalami depresi dan atau kehilangan minat dalam kebanyakan aktifitas.

Seseorang dengan diagnosis episode depresif mayor harus juga mengalami paling sedikit 4 simtom dari kriteria yang mana termasuk perubahan nafsu makan dan berat badan, perubahan tidur dan aktifitas, pengurangan energi, perasaan bersalah, masalah dalam berpikir dan dalam membuat keputusan, dan pikiran yang berulang tentang kematian atau bunuh diri.13,14 Usia rata-rata onset gangguan depresif adalah sekitar 40 tahun, dengan 50 persen dari semua pasien depresif dengan onset usia diantara 20 dan 50.

Kebanyakan penelitian dari pikiran dan perilaku bunuh diri dilakukan di negara-negara Barat, pendapatan individu yang tinggi dan tidak diketahui apakah perkiraan prevalensi dan faktor risiko yang diidentifikasi dalam studi-studi generalisasi di luar negara-negara tersebut. Penelitian terbaru di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Cina dan India menunjukkan terjadinya perilaku bunuh diri dapat sangat berbeda dari negara-negara berpenghasilan tinggi.

Pengalaman keputusasaan sering dikaitkan dengan gagasan bunuh diri. Gagasan bunuh diri mengacu pada pikiran menyakiti atau membunuh diri sendiri, dan frekuensi, intensitas, dan durasi pikiran seperti itu sangat bervariasi. Gagasan bunuh diri merupakan tidak adanya tindakan yang lebih menonjol dari adanya percobaan atau bunuh diri.

National Comorbidity Survey, sekitar 14% dari populasi Amerika melaporkan memiliki pikiran tentang bunuh diri, 4% punya rencana, dan 4,6% telah melakukan upaya. Probabilitas kumulatif transasi dari gagasan ke perencanaan bunuh diri sekitar 34%, 72% dari perencanaan bunuh diri ke percobaan bunuh diri, dan 26% dari gagasan bunuh diri dengan percobaan bunuh diri yang tidak direncanakan. Adanya perencanaan dan tidak adanya perencanaan memiliki perbedaan dimana 90% dari semua tidak direncanakan dan 60% dari upaya pertama perencanaan bunuh diri terjadi dalam 1 tahun awal munculnya gagasan.

Pada penelitian yang dilakukan Isometsa dkk pada tahun 1994, terhadap semua individu yang melakukan bunuh diri di Finlandia dalam 1 tahun adalah bahwa sebagian besar korban bunuh diri itu merupakan depresi mayor dan banyak yang tidak menerima pengobatan untuk depresi. Hanya 3% yang telah menerima antidepresan pada dosis terapi, dan hanya 7% yang telah menerima psikoterapi setiap minggu.

Selain itu, tidak satu pun dari 24 subyek psikotik telah diberikan perawatan yang memadai. Isometsa dkk, menyimpulkan bahwa depresi bukan hanya faktor risiko terjadinya bunuh diri tetapi tidak diberikannya pengobatan ataupun pengobatan yang tidak adekuat yang menyebabkan terjadinya bunuh diri. Di antara pasien dengan gangguan mood, ciri psikotik tidak menyebabkan peningkatkan yang signifikan risiko bunuh diri.

Suatu penilaian bunuh diri harus dilakukan pada setiap pasien yang terlihat dalam pengaturan darurat psikiatri, terlepas dari apakah pasien mengakui adanya gagasan bunuh diri atau telah melakukan percobaan bunuh diri. Salah satu penelitian menemukan empat pertanyaan berikut menjadi gambaran sensitif untuk risiko bunuh diri : "Apakah ada jangka waktu dua minggu di mana Anda memiliki sulit tidur, di mana Anda merasa tertekan, sedih , atau kehilangan minat dalam berbagai hal; di mana Anda telah merasa tidak berharga, sederhana atau memiliki rasa bersalah, atau di mana Anda merasa putus asa untuk jangka waktu yang lama ?”.

Major Depresive Episode


  1. Terdapat lima atau lebih simtom yang ada selama periode 2 minggu dan terlihat adanya perubahan dari fungsi sebelumnya paling sedikit satu simtom lainnya, (1) mood depresif, (2) hilangnya minat dan rasa nyaman.

Catatan: Jangan memasukkan gejala-gejala yang jelas-jelas karena suatu kondisi medis umum, atau waham atau halusinasi yang tidak sejalan dengan mood.

  • Mood depresif hampir sepanjang hari, seperti yang ditunjukkan baik oleh laporan subjektif (misalnya merasa sedih atau kosong) maupun pengamatan yang dilakukan oleh orang lain (misalnya tampak sedih atau menangis).

Catatan: Pada anak-anak dan remaja, dapat berupa mood yang iritabel

  • Hilangnya minat atau kesenangan secara jelas dalam semua atau hampir semua aktivitas sepanjang hari, hampir setiap hari (seperti yang ditunjukkan baik oleh keterangan subjektif maupun pengamatan yang dilakukan oleh orang lain).

  • Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang melakukan diet atau penambahan berat badan (misalnya perubahan berat badan lebih dari 50% dalam satu bulan) atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari.

Catatan: Pada anak – anak , pertimbangkan kegagalan mencapai pertambahan berat badan yang diharapkan.

  • Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.

  • Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (teramati oleh orang lain, tidak semata-mata perasaan subjektif dari kegelisahan atau menjadi lamban).

  • Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari.

  • Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak sesuai (yang mungkin bersifat waham) hampir setiap hari (tidak semata-mata mencela diri sendiri atau perasaan bersalah karena sakit).

  • Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian, atau tidak dapat mengambil keputusan, hampir setiap hari (baik oleh keterangan subkjetif maupun yang teramati oleh orang lain).

  • Pikiran tentang kematian yang berulang (bukan hanya rasa takut akan kematian), ide bunuh diri yang berulang tanpa suatu rencana spesifik, atau suatu usaha bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.

  1. Gejala-gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.

  2. Gejala-gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.

  3. Gejala-gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang disalah gunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum (misalnya hipotiroidisme).

  4. Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh dukacita, yaitu setelah kehilangan orang yang dicintai, gejala-gejalanya menetap lebih dari 2 bulan atau ditandai oleh hendaya fungsional yang jelas, preokupasi morbid dengan rasa tidak berharga, ide bunuh diri, gejala psikotik atau retardasi psikomotor.

Gangguan depresi mayor adalah salah satu gangguan depresi yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan pada individu di semua usia dan ras. Global Burden of Disease (GBD) of theWorld Health Organitation (WHO) telah menunjukkan terjadinya masalah yang sama di seluruh dunia bahwa gangguan depresi mayor, meningkatkan risiko terjadinyapercobaan bunuh diri yang jika tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan tindakan bunuh diri (complete suicide) yang memakan banyak korban jiwa yang sia-sia.

Gangguan depresif mayor digambarkan dengan hilangnya ketertarikan atau kesenangan akan aktivitas yang biasa dilakukan. Gejala yang tampak berupa: gangguan fungsi sosial dan aktivitas yang terjadi selama kurang lebih dua minggu, tanpa adanya riwayat perilaku manik. Gangguan depresi mayor di diagnosis berdasarkan pada munculnya satu atau lebih episode depresi mayor tanpa adanya riwayat episode manic (berhubungan dengan maniak, seperti dalam fase manic dari gangguan bipolar) atau hypomanic (mengacu pada keadaan maniak yang lebih ringan atau kegirangan).

Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu di antara mood depresi (merasa sedih, putus asa, atau terpuruk) atau kehilangan minat/rasa senang dalam semua atau berbagai aktivitas untuk periode waktu paling sedikit 2 minggu.

Gangguan depresi mayor adalah tipe paling umum dari gangguan mood yang dapat di diagnosis, dengan perkiraan prevalensi semasa hidup berkisar antara 10% hingga 25% untuk wanita dan 5% hingga 12% untuk pria (Health, 2010). Depresi mayor, khususnya pada episode yang lebih berat atau parah, dapat disertai dengan cirri psikosis, seperti delusi bahwa tubuhnya digerogoti penyakit (Coryell dkk., 1996). Orang dengan depresi berat juga dapat mengalami halusinasi, seperti mendengar suara-suara orang lain, atau iblis, yang mengutuk mereka atas kesalahan yang dipersepsikan.

Episode-episode depresi mayor dapat berlangsung dalam jangka bulanan atau satu tahun atau bahkan lebih (Health, 2010). Ratarata orang dengan depresi mayor dapat diperkirakan mengalami empat episode selama hidupnya (Judd, 1997).

Ciri-ciri Diagnostik dari suatu Episode Depresi Mayor

Suatu episode depresi mayor ditandai dengan munculnya lima atau lebih ciri-ciri atau simptom-simptom selama suatu periode 2 minggu, yang mencerminkan suatu perubahan dari fungsi sebelumnya. Paling tidak satu dari ciri-ciri tersebut harus melibatkan

  1. Mood yang depresi, atau

  2. Kehilangan minat atau kesenangan dalam beraktivitas.

Selain itu, penegakkan diagnosis memerlukan hadirnya empat simptom tambahan, seperti gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, perasaan tidak berarti, pikiran untuk bunuh diri, dan sulit berkonsentrasi.

Faktor-faktor Risiko dalam Depresi Mayor

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan depresi mayor meliputi usia (onset awal lebih umum terjadi pada dewasa muda daripada dewasa yang lebih tua); status sosioekonomi (orang dengan taraf sosio ekonomi yang lebih rendah memiliki risiko yang lebih besar dibanding mereka dengan taraf yang lebih baik); dan status pernikahan (orang yang berpisah atau bercerai memiliki risiko yang lebih tinggi daripada orang yang menikah atau tidakpernah menikah).

Wanita memiliki kecenderungan hampir dua kali lipat lebih besar daripada pria untuk mengalami depresi mayor. Meski perbedaan hormonal atau perbedaan biologis lainnya yang terkait dengan gender kemungkinan berpengaruh, namun sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa perbedaan gender sebagian besar disebabkan oleh lebih banyaknya jumlah stress yang dihadapi wanita dalam kehidupan kontemporer.

Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, dengan berbagai gambaran klinis yakni gangguan episode depresif, gangguan distimik, gangguan depresif mayor dan gangguan depresif unipolar serta bipolar. Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang.

Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya.

Depresi sering terjadi pada wanita dengan usia 25-44 tahun, dan puncaknya pada masa hamil. Faktor sosial seperti stres dari masalah keluarga dan pekerjaan. Hal ini disebabkan karena harapan hidup pada wanita lebih tinggi, kematian pasangan mungkin juga menyebabkan angka yang tinggi untuk wanita tua mengalami depresi.

Penilaian gejala depresi seperti perasaan sedih atau kekecewaan yang kuat dan terus menerus yang mempengaruhi aktivitas normal, menunjukan prevalensi seumur hidup sebanyak 9-20%.(3) Pada kriteria lain yang digunakan pada depresi berat, prevalensi depresi 3% untuk pria dan 4-9% untuk wanita. Resiko seumur hidup 8-12% untuk pria dan 20-28% untuk wanita. Sekitar 12-20% pada orang yang mengalami episode akut berkembang menjadi sindrom depresi kronis, dan diatas 15% pasien yang mengalami depresi lebih dari 1 bulan dapat melakukan bunuh diri.

Depresi disebabkan oleh kombinasi banyak faktor. Adapun faktor biologis, faktor bawaan atau keturunan, faktor yang berhubungan dengan perkembangan seperti kehilangan orang tua sejak kecil, faktor psikososial, dan faktor lingkungan, yang menjadi satu kesatuan mengakibatkan depresi.

1) Faktor biologis

Faktor biologis yang dapat menyebabkan terjadinya depresi dapat dibagi menjadi dua hal yaitu disregulasi biogenik amin dan disregulasi neuroendokrin. Abnormalitas metabolit biogenik amin yang sering dijumpai pada depresi yaitu 5 hydroxy indoleacetic acid (5HIAA), homovalinic acid (HVA), 3-methoxy 4-hydrophenylglycol (MHPG), sebagian besar penelitian melaporkan bahwa penderita gangguan depresi menunjukkan berbagai macam abnormalitas metabolik biogenikamin pada darah, urin dan cairan serebrospinal. Keadaan tersebut endukung hipotesis ganggua depresi berhubungan dengan disregulasi biogenikamin. Dari biogenik amin, serotonin dan norepinefrin merupakan neurotransmiter yang paling berperan dalam patofisiologi depresi.

Penurunan regulasi reseptor beta adrenergic dan respon klinik antidepresan mungkin merupakan peran langsung sistem noradrenergik dalam depresi. Bukti lain yang juga melibatkan reseptor beta2-presinaptik pada depresi, telah mengaktifkan reseptor yang mengakibatkan pengurangan jumlah pelepasan norepinephrin. Reseptor beta2-presinaptik juga terletak pada neuron serotonergik dan mengatur jumlah pelepasan serotonin.

2) Faktor Psikososial

Peristiwa kehidupan dengan stressful sering mendahului episode pertama, dibandingkan episode berikutnya. Ada teori yang mengemukakan adanya stres sebelum episode pertama menyebabkan perubahan biologi otak yang bertahan lama. Perubahan ini menyebabkan perubahan berbagai neurotransmiter dan sistem sinyal intraneuron. Termasuk hilangnya beberapa neuron dan penurunan kontak sinaps. Dampaknya, seorang individu berisiko tinggi mengalami episode berulang gangguan mood, sekalipun tanpa stressor dari luar.

Orang dengan beberapa gangguan kepribadian seperti, obsesifkompulsif, histeris, dan yang ada pada garis batasnya, mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terkena depresi dari pada orang dengan kepribadian antisosial atau paranoid. Pada pengertian psikodinamik depresi dijelaskan oleh Sigmund Freud dan dikembangkan oleh Karl Abraham yang diklasifikasikan dalam 4 teori:

(1) gangguan pada hubungan bayi dan ibu selama fase oral (10- 18 bulan awal kehidupan) sehinga bisa terjadi depresi;

(2) depresi dapat dihubungkan dengan kehilangan objek secara nyata atau imajinasi;

(3) Introjeksi dari kehilangan objek adalah mekanisme pertahanan dari stress yang berhubungan dengan kehilangan objek tersebut

(4) karena kehilangan objek berkenaan dengan campuran cinta dan benci, perasaan marah berlangsung didalam hati.

3) Faktor Genetik

Dari faktor bawaan atau keturunan menerangkan apabila salah seorang kembar menderita depresi, maka kemungkinan saudara kembarnya menderita pula sebesar 70 . Kemungkinan menderita depresi sebesar 15 pada anak, orang tua, dan kakak-adik dari penderita depresi. Apabila anak yang orangtuanya pernah menderita depresi, sejak lahir diadopsi oleh keluarga yang tidak pernah menderita depresi, ternyata kemungkinan untuk menderita depresi 3 kali lebih besar dibandingkan anak - anak kandung keluarga yang mengadopsi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Depresi

Banyak hal yang bisa menjadi faktor risiko timbulnya depresi, yaitu :

  1. Usia Rata-rata usia onset untuk gangguan depresif berat adalah kira-kira 40 tahun; dan 50% dari pasien memiliki onset anatara usia 20-50 tahun.

  2. Jenis kelamin Pada pengamatan yang hampir uiversal, terlepas dari kultur atau negara, terdapat prevalensi gangguan depresif berat yang dua kali lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya kesehatan maternal.

  3. Pendidikan Terdapat hubungan yang signifikan pendidikan dengan depresi pada usia dewasa-tua. Tingkat pendidikan berkaitan dengan kesehatan fisik yang baik. Penelitian di Inggris menyebutkan bahwa lansia yang hanya menamatkan pendidikan dasar mempunyai risiko terhadap depresi 2,2 kali lebih besar.

  4. Status pernikahan Pada umumnya, gangguan depresif berat terjadi paling sering pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat atau yang tercerai atau berpisah.

Referensi

http://eprints.undip.ac.id/50217/3/ARHATYA_MARSASINA_22010112120008_Lap.KTI_Bab2.pdf