© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Egosentrisme?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, egosentrisme didefinisikan sebagai sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal.

Apa yang dimaksud dengan egosentrisme?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, egosentrisme didefinisikan sebagai sifat dan kelakuan yang selalu menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala hal. Egosentrisme merupakan istilah psikologi yang bermakna diferensiasi yang tidak sempurna antara diri (the self) dengan dunia di luar diri (the world),termasuk orang lain; kecenderungan individu untuk melihat (perceive), memahami (understand), dan menafsirkan (interpref), dunia menurut pandangan dirinya. Dalam kamus istilah psikologi (Kartono dalam Chaplin, 2008), egosentrisme didefinisikan sebagai menyangkut diri sendiri, keasyikan terhadap diri sendiri.

Menurut Piaget, berkaitan denggan kemampuan berbicara dan berfikir yang diarahkan pada kebutuhan pribadi. Sementara egosentrisme didefinisikan sebagai kecenderungan menilai obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa berdasarkan kepentingan pribadi dan menjadi kurang sensitive terhadap kepentingan-kepentingan atau hal-hal yang menyangkut orang lain; menurut Piaget, merupakan ketidakmampuan memahami bahwa orang lain juga mempunyai kepentingan atau pandangan yang mungkain berbeda dengan yang dimilikinya (Kartono & Gulodalam Chaplin, 2003). Shaffer (2009) mendefinisikan egosentrisme sebagai kecenderungan untuk memandang dunia dari perspektif pribadi seseorang tanpa menyadari bahwa orang lain bias memiliki sudut pandang yang berbeda.

Dari beberapa pengertian umum yang telah dikemukakan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa egosentrisme adalah kemampuan persepsi yang terbatas pada kepentingan dan/atau kebutuhan pribadi, tidak berorientasi pada pemisahan/pembedaan antara diri sendiri dengan orang/objek lain (Fauzi, 2010). Prevalensi egosentrisme pada individu telah ditemukan untuk mengurangi antara usia 15 dan 16 (Louw, 1998). Namun, orang dewasa juga rentan menjadi egosentris atau memiliki reaksi atau perilaku yang dapat dikategorikan sebagai egosentris (Tesch, Whitbourne & Nehrke, 1978 dalam anonymous, 2012). Frankenberger (2000) diuji remaja (14-18 tahun) dan dewasa (20-89) pada tingkat mereka egosentrisme dan kesadaran diri. Ditemukan bahwa kecenderungan egosentris telah diperpanjang sampai awal masa dewasa dan bahwa kecenderungan ini juga hadir di tahun-tahun dewasa tengah. Berdasarkan teori-teori di atas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri egosentrisme adalah :

  • Mementingkan diri sendiri
  • Kurangnya rasa peduli (kurang peka terhadap keadaan sosial)
  • Kurangnya rasa empati sosial (merasa dirinya paling benar)

Dalam suatu studi, penggabungan diri lain dan perasaan bahwa orang lain adalah seseorang dalam suatu diri dan dapat melihat apa yang seseorang tersebut lihat meningkatkan kecenderungan individual egosentris dalam penilaian yang terlalu tinggi terhadap karakteristik diri mereka sendiri (Vorauer & Cameron, 2002)