Apa yang dimaksud dengan daya ledak otot?

Daya ledak otot

Daya ledak otot adalah kemampuan otot atau sekelompok otot seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerahkan dalam waktu sependek-pendeknya atau sesingkat-singkatnya.

Daya ledak selalu diperlukan dalam praktik olahraga yang bersifat eksplosif.

Apa yang dimaksud dengan daya ledak otot ?

Daya ledak dapat dinyatakan sebagai kekuatan eksplosif dan banyak dibutuhkan oleh cabang-cabang olahraga yang predominan kontraksi otot cepat dan kuat, kedua unsur ini saling berpengaruh.

Kekuatan dari sebuah otot ditentukan terutama oleh ukurannya, sehingga kekuatan dari sebuah otot dapat dipengaruhi oleh kadar testosteron dalam tubuhnya maupun dari suatu program latihan kerja yang akan meningkatkan ukuran dari otot.

Otot yang kuat mempunyai daya ledak yang besar, dan hampir dipastikan memiliki nilai kekuatan yang besar. Daya ledak otot merupakan gabungan antara kekuatan dan kecepatan atau pengerahan gaya otot maksimum yang menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif, serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot atau kemampuan otot untuk berkontraksi dengan kekuatan yang optimal dan maksimal dalam waktu yang secepat-cepatnya dalam mengatasi beban yang diterima.

Daya ledak (power) adalah kemampuan kerja otot (usaha) dalam satuan waktu (detik). Power ini merupakan hasil perkalian kerja (usaha) dengan kecepatan, sehingga satuan power adalah kg (kilogram) x meter/detik. Sedangkan kg x meter merupakan satuan usaha, dengan demikian power dapat diartikan sebagai usaha per detik.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka kemampuan daya ledak merupakan kombinasi kekuatan dengan kecepatan, sehingga dapat diperhitungkan berdasarkan atas kerja per satuan waktu.

Daya Ledak Otot Tungkai

Kemampuan daya ledak yang baik, terutama daya ledak otot tungkai, menentukan seseorang untuk mencapai prestasi optimal, sebab otot-otot tungkai merupakan pusat gerak yang utama bagi tubuh secara keseluruhan.3 Otot tungkai ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Otot tungkai atas yang terdiri dari: m. Abductor Femoris, m. Quadriceps Femoris (m. Rectus Femoris, m. Vastus Lateralis, m. Vastus Medialis, dan m. Vastus Intermedial), m. Fleksor Femoris (m. Biceps Femoris, m. Semimembranosus, m. Semitendinosus, dan m. Sartotius).

  • Otot tungkai bawah yang terdiri dari: m. Tibialis, m. Extensor Talangus Longus, m. Ekstensor Digitorum longus et brevis, m. Fleksor Hallucis Longus, m. Soleus, m. Gastrocnemius, dan lainnya.

  • Otot-otot kaki yang terdiri dari: m. Abductor Hallucis, m. Adductor Hallucis, m. Fleksor Hallucis Brevis, m. Fleksor Digitorum Brevis, dan m. Quadratus Plantaris.20

Faktor yang mempengaruhi daya ledak otot meliputi kekuatan otot dan kecepatan kontraksi. Otot yang kuat mempunyai daya ledak yang besar, dan hampir dipastikan memiliki nilai kekuatan yang besar.

Peningkatan daya ledak otot tungkai dapat dicapai dengan rangsangan latihan yang optimal yaitu latihan dengan intensitas tinggi dan repetisi yang cepat, sehingga daya ledak yang dihasilkan karena penggabungan kecepatan dan kekuatan juga menjadi lebih besar. Peningkatan tersebut dapat dicapai dengan bermacam-macam bentuk latihan fisik, seperti sprint training, lompat tali, squat jump, dan lainnya.

Faktor yang Mempengaruhi Daya Ledak Otot

Pada penelitian-penelitian sebelumnya didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi pengembangan kemampuan daya ledak otot yaitu:

  1. Kecepatan hantaran rangsang dari otak ke otot
  2. Jumlah serabut otot yang dilayani oleh sinyal yang dihantarkan
  3. Pengaruh sensory feedback dari otot yang berkontraksi yang melibatkan muscle spindle dan golgi tendon organs
  4. Jenis serabut otot yang terlibat
  5. Pemanfaatan energi pada otot (banyak sedikitnya ketersediaan ATP dan ATPase dalam otot)

Faktor yang mempengaruhi daya ledak otot bila dilihat lebih mendalam potensi daya ledak seseorang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal.

  1. Faktor Internal
    Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh atlet sendiri diantaranya: jenis kelamin, berat badan, panjang anggota gerak, kebugaran fisik, dan usia.

    • Jenis kelamin akan mempengaruhi kekuatan dan kecepatan otot dengan adanya perbedaan hormon testosteron pada laki-laki dan wanita. Perbedaan terjadi sangat mencolok setelah seseorang mengalami pubertas, pada usia 18 tahun ke atas, laki-laki mempunyai kekuatan dua kali lebih besar daripada wanita.

    • Pembesaran masa otot dapat meningkatkan kekuatan otot. Kekuatan otot erat kaitannya dengan berat badan, semakin besar berat badan seseorang karena tebal otot yang meningkat, maka kekuatan otot akan bertambah.

    • Tinggi badan adalah jarak dari alas kaki sampai titik tertinggi pada posisi kepala dalam posisi berdiri. Tinggi badan akan mempengaruhi pertumbuhan organ tubuh lainnya yaitu panjang lengan dan panjang tungkai.

    • Kesegaran jasmani seseorang merupakan salah satu parameter dalam memberikan pembebanan latihan, sebab tingkat kesegaran jasmani yang kurang dapat mengakibatkan kelelahan sehingga tidak dapat melakukan pelatihan secara maksimal.

    • Perbedaan dan penambahan usia atau umur sangat menentukan kekuatan otot. Tenaga mencapai puncak pada umur 20 tahun.7 Selain itu usia dapat menunjukkan tingkat kematangan yang dikaitkan dengan pengalaman.

  2. Faktor Eksternal

    • Suhu lingkungan yang panas akan berpengaruh terhadap aktivitas kerja otot karena sebagian dari volume darah akan dibawa ke kulit untuk mengkompensasi kelebihan panas dan mempercepat terjadinya pengeluaran keringat. Sedangkan suhu lingkungan yang dingin, tubuh akan bereaksi untuk mengimbangi konsentrasi panas tubuh dengan reaksi menggigil, memerlukan energi tambahan.

    • Kelembaban relatif menentukan proses pelatihan dalam hal kenyamanan pada saat latihan. Kelembaban relatif di Indonesia berkisar antara 70-80%. Kelembaban udara yang cukup tinggi atau di atas 90% akan mempengaruhi kesanggupan pengeluaran panas tubuh akibat aktivitas pelatihan melalui evaporasi. Sedangkan bila kelembaban udara di bawah 80% maka akan mempengaruhi keseimbangan panas tubuh oleh karena metabolisme meningkat akibat adanya aktivitas tubuh untuk mengimbangi suhu dingin sehingga tubuh mengeluarkan energi yang lebih besar untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu lingkungan.

Pengukuran Daya Ledak Otot

Tes yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi peningkatan kemampuan anaerobik pada atlet atau individu adalah tes vertical jump. Telah disebutkan bahwa tes ini lebih baik dalam mengukur daya (power) karena pada tes vertical jump ini dapat diukur sekaligus baik jarak loncatan secara vertikal dan daya keluaran (power output). Ketinggian yang dapat dicapai pada tes vertical jump memiliki korelasi secara langsung dengan sejumlah kerja (force) yang diproduksi oleh serabut-serabut otot.

Pada saat tes vertical jump berlangsung, jumlah total ketinggian dan daya maksimal (peak power) dapat diukur, usaha mekanik yang dikerjakan untuk melakukan loncatan juga dapat dideterminasikan dengan menggunakan jarak yang telah diukur.

Dibandingkan tes yang lain, seperti tes wingate cycle ergometer, tes ini tidak mahal, mudah dilakukan, dan tidak membutuhkan peralatan yang banyak, sehingga tes ini dapat mudah dilakukan di lapangan.

Prosedur pengukuran daya ledak otot dengan tes metode vertical jump adalah dengan melakukan pemanasan dinamis selama 8-10 menit, kemudian ujung jari tangan subjek ditaburi kapur dan berdiri menyamping dari dinding tempat tes akan dilakukan, dengan kedua kaki rapat dan menapak ke lantai, kemudian tangan sampel yang telah ditaburi kapur diangkat semaksimal mungkin kemudian memberi tanda di dinding dengan ujung jarinya (M1).

Subjek kemudian meloncat setinggi mungkin dari posisi yang statis dan memberi tanda di dinding dengan ujung jarinya (M2). Peneliti mengukur dan mencatat data jarak dari M1 ke M2. Tes vertical jump dilakukan dengan 3 kali pengulangan. Peneliti kemudian menghitung dan menilai rata-rata dari hasil loncatan yang dilakukan masing-masing sampel penelitian.

1 Like