Apa yang dimaksud dengan berpikir kritis ?

pengembangan_siswa
berpikir_kritis

(Lia Permata Sari) #1

Berpikir kritis

Berpikir kritis adalah seni menganalisis gagasan berdasarkan penalaran logis. Berpikir kritis bukanlah berpikir lebih keras, melainkan berpikir lebih baik.

Apa yang dimaksud dengan berpikir kritis ?


(Ava Nafiza Wibowo) #2

Berpikir kritis merupakan proses mental untuk menganalisis informasi yang diperoleh. Informasi tersebut didapatkan melalui pengamatan, pengalaman, komunikasi, atau membaca. Berpikir kritis adalah sebuah proses sistematis yang memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan pendapat mereka sendiri. Berpikir kritis meliputi berpikir secara reflektif dan produktif serta mengevaluasi bukti.

Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya adalah :

  1. Menurut John Chaffe, berpikir kritis didefinisikan sebagai berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses berpikir itu sendiri. Maksudnya tidak hanya memikirkan dengan sengaja, tetapi juga meneliti bagaimana kita dan orang lain menggunakan bukti dan logika.

  2. Menurut Dacey dan Kenny, pemikiran kritis adalah “The ability to think logically, to apply this logical thinking to the assessment of situations, and to make good judgments and decision”, yang berarti kemampuan berpikir secara logis, dan menerapkannya untuk menilai situasi dan membuat keputusan yang baik.

  3. Menurut Gerhand berpikir kritis merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan penerimaan dan penguasaan data, analisis data, evaluasi data dan mempertimbangkan aspek kualitatif dan kuantitatif, serta membuat seleksi atau membuat keputusan berdasarkan hasil evaluasi.

  4. Menurut Seriven dan Paul berpikir kritis merupakan sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan.

  5. Glazer mendefinisikan berpikir kritis matematika dari beberapa literasi. Menurutnya berpikir kritis matematika tidak didefinisikan secara eksplisit, berpikir kritis dapat dirujuk dari kombinasi pemecahan masalah, penalaran dan pembuktian matematika.

Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir secara logis, reflektif, sistematis dan produktif yang diaplikasikan dalam menilai situasi untuk membuat pertimbangan dan keputusan yang baik.

Karakteristik Berpikir Kritis

Berpikir kritis merupakan suatu bagian dari kecakapan praktis, yang dapat membantu seorang individu dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis ini mempunyai karakteristik tertentu yang dapat dilakukan dan dipahami oleh masing-masing individu.

Seifert dan Hoffnung menyebutkan beberapa komponen berpikir kritis, yaitu :

  1. Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah- langkah logis lainnya secara mental.

  2. Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut.

  3. Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.

  4. Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.


(Angelina Kyla Justina) #3

Nickerson mendefinisikan berpikir kritis sebagai “reflection or thought about complex issues, often for the purpose of choosing actions related to those issues.”

Yang dimaksud dengan pemikiran kritis adalah pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber (lisan atau tulisan), dan berpikir secara reflektif dan evaluatif.

Untuk dapat berpikir kritis, terdapat beberapa proses yang harus dilalui. Proses yang dilewati dalam berpikir kritis, secara umum, adalah:

1. Berpikir Analitis

Artinya: dari satu masalah, pikiran kita membuang ciri-ciri umum sesuatu sehingga tinggal ciri-ciri khas dari sesuatu tersebut. Yang meliputi:

  • Pengertian pengalaman, yaitu: pengertian yang diperoleh dari pengalaman yang berturut-turut.

  • Pengertian kepercayaan, yaitu: pengertian yang terbentuk dari kepercayaan.

  • Pengertian logis, yaitu: pengertian yang terbentuk dari satu tingkat ke tingkat yang lain.

2. Berfikir integrative

Artinya: pikiran kita menggabungkan (menguraikan) beberapa pengertian, sehingga menjadi tanda khas dari masalah itu. Yang meliputi: pendapat positif, dan pendapat negatif.

3. Berfikir evaluative

Artinya: pikiran kita menggabungkan pendapat-pendapat tersebut yang meliputi: keputusan dari pengalaman-pengalaman, keputusan dari tanggapan-tanggapan, dan keputusan dari pengertian-pengertian.

4. Orientasi pemecahan masalah terhadap keputusan

Artinya: pikiran kita menarik suatu keputusan dari keputusan-keputusan yang lain. Yang meliputi:

  • Kesimpulan induksi, yaitu: kesimpulan yang ditarik dari keputusan- keputusan yang khusus untuk mendapatkan yang umum.

  • Kesimpulan deduksi, yaitu: kesimpulan yang ditarik dari keputusan- keputusan yang umum untuk mendapatkan yang khusus.

  • Kesimpulan analogis, yaitu: kesimpulan yang ditarik dengan cara membandingkan situasi yang satu dengan situasi yang lain, yang sudah kita kenal kurang teliti, sehingga kesimpulan analogi ini biasanya kurang benar.

Referensi ;
Desmita, Psikologi Perkembangan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013.