© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan belajar mengajar ?

Proses belajar mengajar

Proses belajar mengajar merupakan kegiatan akademik utama didalam pendidikan. Apa yang dimaksud dengan belajar mengajar ?

Belajar bukan hanya berupa kegiatan mempelajari suatu mata pelajaran di rumah atau di sekolah secara formal, tetapi belajar juga merupakan masalah setiap orang. Hampir semua kecakapan, keterampilan, pengetahuan, kebiasaan, kegemaran dan sikap manusia terbentuk, dimodifikasi, dan berkembang karena belajar. Kegiatan yang disebut belajar dapat terjadi di mana-mana, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun di lembaga pendidikan formal.

Terdapat beberapa pengertian tentang belajar mengajar atara lain :

  1. Learning can be defined as a change in behavior as a result of experience. The behavior as a result of experience. The behavior can be phyical and overt, or it can be inteliectual or attidinal, not easy seen.

    Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Tingkah laku dapat bersifat jasmaniah ( kelihatan ) dapat juga bersifat intelektual atau merupakan suatu sikap sehingga tidak mudah dilihat.

  2. Learning is the process by which an activity originates or changed thougt training procedures as distinguished from changed by factors not atributtables to training.

    Belajar merupakan suatu proses timbul atau berubahnya tingkah laku melalui latihan ( pendidikan )

  3. Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.

Seseorang dapat dikatakan telah belajar apabila padanya telah terjadi perubahan tertentu, misalnya semula tidak mampu berbahasa arab kemudian menjadi mahir berbahsa arab, semula tidak bisa mempergunakan alat komputer, kemudian dapat menggunakanya dengan baik. Semula tidak mengenal sopan santun, kemudian menjadi seseorang yang sangat sopan, demikian seteusnya sesuai dengan apa yang dipelajarinya. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa tidak semua perubahan yang terjadi dalam diri seseorang terjadi karena proses belajar. Ada perubahan yang terjadi karena proses belajar. Ada perubahan yang terjadi karena proses kematangan.

Referensi : Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media,1996).

Proses Belajar Mengajar


Belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk menghasilkan suatu perubahan, menyangkut pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai (Hamzah, 2009). Oemar Hamalik (2005) mendefinisikan belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar menurut Suhaenah Suparno (2001) merupakan suatu aktivitas yang menimbulkan perubahan yang relatif permanen sebagai akibat dari upaya-upaya yang dilakukannya. Mengajar adalah penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar (JJ. Hasibuan dan Moedjiono, 2002).

Menurut Suryosubroto (2002), mengajar pada hakekatnya adalah melakukan kegiatan belajar, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Suryosubroto melanjutkan proses belajar mengajar yaitu meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran. Menurut Martinis Yamin (2007), proses belajar mengajar merupakan proses yang sistematik, artinya proses yang dilakukan oleh guru dan siswa di tempat belajar dengan melibatkan sub-sub, bagian, komponen-komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Menurut Hamzah (2009) sesuai dengan 4 Pilar UNESCO bahwa dalam proses pembelajaran diperlukan:

  • Learning to know, yaitu peserta didik akan dapat memahami dan menghayati bagaimana suatu pengetahuan dapat diperoleh dari fenomena yang terdapat dalam lingkungannya.
  • Learning to do, yaitu menerapkan suatu upaya agar peserta didik menghayati proses belajar dengan melakukan sesuatu yang bermakna.
  • Learning to be, yaitu proses pembelajaran yang memungkinkan lahirnya manusia terdidik yang mandiri.
  • Learning to life together, yaitu pendekatan melalui penerapan paradigma ilmu pengetahuan, seperti pendekatan menemukan dan pendekatan menyelidik akan memungkinkan peserta didik menemukan kebahagiaan dalam belajar.

Pengajaran adalah suatu sistem, artinya suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang berinterelasi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya (Oemar Hamalik, 2003).

Tujuan pendidikan dan pengajaran


Tujuan pengajaran menurut Oemar Hamalik (2005) adalah sejumlah hasil pengajaran yang dinyatakan dalam artian siswa belajar, yang secara umum mencakup pengetahuan baru, keterampilan dan kecakapan, serta sikap-sikap yang baru yang diharapkan oleh guru dicapai oleh siswa sebagai hasil pengajaran. Oemar Hamalik melanjutkan bahwa tujuan pengajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pengajaran. Menurut

Martinis Yamin (2007), tujuan pembelajaran merupakan sasaran yang hendak dicapai pada akhir pengajaran, serta kemampuan yang harus dimiliki siswa. Tujuan pembelajaran menurut Hamzah, Nina Lamatenggo, dan Satria Koni (2010) adalah arah yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan belajar dan juga mengefisienkan cara yang dilakukan untuk memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal.

Tujuan pembelajaran biasanya diarahkan pada salah satu kawasan dari taksonomi yang dikenal dengan Taksonomi Bloom. Taksonomi Bloom terdiri dari tiga wilayah yakni wilayah kognitif, afektif, dan psikomotorik (Hamzah, Nina Lamatenggo, dan Satria Koni, 2010).

  • Wilayah Kognitif
    Wilayah kognitif merupakan wilayah yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi.

  • Wilayah Afektif
    Wilayah afektif merupakan satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi (penghargaan), dan penyesuaian perasaan sosial.

  • Wilayah Psikomotor
    Wilayah psikomotor mencakup tujuan yang berkaitan dengan keterampilan (skill) dan bersifat manual atau motorik.

Peserta didik atau siswa

Peserta didik, menurut ketentuan umum pasal 1 Undang-Undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Ali Imron, H.Burhanuddin, dan Maisyaroh (2003) adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Menurut Ali Imron, H.Burhanuddin, dan Maisyaroh (2003), peserta didik adalah mereka yang sedang mengikuti program pendidikan pada suatu sekolah atau jenjang pendidikan tertentu.

Tenaga kependidikan khususnya guru

Guru atau pengajar yaitu orang (atau anggota sebuah tim) yang memanfaatkan hasil perencanaan dan juga ikut dalam perencanaan pengajaran, mengenal siswa dengan baik, menguasai cara pengajaran dan persyaratan program pengajaran dengan bantuan perancang, mampu melaksanakan semua rincian dari hampir semua unsur perencanaan, bertanggung jawab dalam mengujicobakan dan kemudian menerapkan rencana pengajaran yang dikembangkan (Martinis Yamin, 2007: 15).

Perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum

Perencanaan pengajaran menurut Oemar Hamalik (2005: 108) meliputi memilih isi mata ajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.

Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan belajar. Strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung (Hamzah, 2009).
Komponen strategi pembelajaran menurut Hamzah (2009) terdiri dari:

  • Kegiatan Prapembelajaran
    Kegiatan prapembelajaran dianggap penting karena dapat memotivasi anak didik, mereka juga akan mendapat petunjuk yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran.

  • Penyajian Informasi
    Penyajian informasi harus dilakukan karena dengan adanya penyajian informasi, anak didik akan tahu seberapa jauh materi pembelajaran yang harus mereka pelajari

  • Peran Serta Anak Didik
    Anak didik harus diberi kesempatan berlatih (terlibat) dalam setiap langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran.

  • Pengetesan
    Ada empat macam tes acuan patokan yang dapat digunakan, yaitu: tes tingkah laku masukan, prates, tes sisipan, dan pascates. Pengetesan perlu dilakukan untuk memberikan umpan balik bagi pengajar untuk memperbaiki, merevisi, baik materi pembelajaran, strategi pembelajaran, maupun strategi pengetesan.

  • Kegiatan Tindak Lanjut
    Kegiatan tindak lanjut harus dilakukan karena rancangan pembelajaran dalam mata pelajaran tertentu dapat dikuasai seluruhnya oleh anak didik diukur dari penguasaan pascates.