Apa yang dimaksud dengan antropologi sastra?

Sastra dan antropologi –ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau (KBBI Daring, 2017), dengan segala budayanya, ide/gagasannya, ritual dan karya-karyanya-- mempunyai hubungan yang erat bahkan tidak terpisahkan. Karya sastra baik genre puisi, prosa fiksi, maupun drama selalu memperbincangkan manusia dalam segala segi kehidupannya yang berkaitan dengan keyakinan/kepercayaan, ritual-ritual keagamaan, gagasan dan kearifan lokalnya, filsafat hidupnya, karya seni budayanya, mata pencaharian, dan aspek komunitasnya.

Sebenarnya Benson (1993) sudah lama tertarik untuk melakukan pengkajian sastra dengan kacamata antropologi. Ia kemudian berusaha menulis buku Anthropology and Literature. Dalam tulisannya ia berusaha menelusuri dan menyandingkan antropologi dan sastra. Lewat pengantar buku tersebut, dia menyatakan bahwa karyanya merupakan reinkarnasi dari edisi khusus Journal of the Steward Anthropological Society. Melihat judul jurnal ini, berarti ada keterkaitan pula antara sastra, antropologi, dan sosial. Kaitan sastra dan antropologi menumbuhkan antropologi sastra. Adapun kaitan antara sastra dengan keadaan sosial telah melahirkan Sosiologi Sastra yang telah banyak dibahas dalam berbagai kajian.

Dunia sastra dan antropologi sering mempelajari keduanya untuk melengkapi pemahaman terhadap kehidupan manusia. Kalau demikian, paling tidak ada dua kedekatan sastra dan antropologi, yaitu :

  • sastra dan antropologi memiliki kedekatan objek penelitian yang mengarah ke fenomena realitas hidup manusia;

  • sastra dan antropologi memiliki kedekatan metodologis, artinya keduanya banyak memanfaatkan tafsir-tafsir fenomena simbolis;

  • sastra dan antropologi cenderung memeliharan konsep kekerabatan (trah) sebagai simbol konteks kehidupan (Endraswara, 2013).

Menurut Ratna (2005), antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti ‘manusia’. Jadi, antropologi adalah ilmu tentang manusia lengkap dengan budayanya. Manusia adalah makhluk berbudaya, kaya akan ide dan gagasan. Adapun sastra menurut Eagleton (2006), adalah tulisan imajinatif dalam artian fiksi. Fiksi merupakan karya imajinatif yang merupakan hasil kreasi manusia terhadap realitas sosial budaya di lingkungannya. yang secara harfiah tidak harus benar. Artinya**, sastra atau fiksi, merupakan hasil pengamatan dan refleksi pengarang terhadap realitas kehidupan setelah melalui proses kontemplasi dengan mengerahkan daya imajinasinya.**

Meminjam istilah seni Wellek dan Warren (1989), sastra adalah kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Sebagai karya kreasi, kebebasan berkarya tentu terbuka bagi setiap pengarang. Esensi estetika sastra dan keilmiahan antropologi melebur dalam antropologi sastra. Oleh karena itu, dunia fiksi dapat dikisahkan seolah-olah seperti sedang melaporkan hasil pengkajian etnografi.

Menurut Ratna (2011), antropologi sastra adalah analisis terhadap karya sastra yang di dalamnya terkandung unsur-unsur antropologi. Dalam hubungan ini jelas karya sastra menduduki posisi dominan, sebaliknya unsur-unsur antropologi sebagai pelengkap. Mengingat disiplin antropologi sangat luas maka antropologi sastra dibatasi pada unsur budaya yang ada dalam karya sastra. Dari deskripsi di atas, dapat dikemukakan bahwa antropologi sastra adalah analisis dan pemahaman terhadap karya sastra dalam kaitannya dengan kebudayaan. Analisis unsur kebudayaan dalam karya sastra dipandang penting. Menurut Sudikan (dalam Ratna, 2011), antropologi sastra mutlak diperlukan dikarenakan beberapa alasan. Pertama sebagai perbandingan terhadap psikologi sastra dan sosiologi sastra. Kedua, antropologi sastra diperlukan dengan pertimbangan kekayaan kebudayaan seperti diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa antropologi sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mencoba mengkaji karya sastra dengan memandangnya sebagai karya yang sarat dengan dimensi kebudayaan. Dimensi kebudayaan itu antara lain hubungan unsur-unsur kebudayaan berserta ciri-cirinya seperti tradisi, citra primordial, citra arketipe, aspek-aspek kearifan lokal dengan fungsi dan kedudukannya masing-masing. Antropologi juga mencakup suku-suku bangsa dengan subkategorinya seperti; trah, klen dan kasta. Bentuk kecenderungan manusia untuk membentuk komunitas dalam organisasi sosial yang saling membantu dan hidup dalam kebersamaan sebagai peguyuban tertentu, seperti; masyarakat pecinaan, Arab, pesantren, dan lain-lain, merupakan garapan antropologi. Juga mengenai masyarakat daerah-daerah tertentu seperti kampung Bali, Jawa, Minangkabau, Batak, Makassar, Mandar, Bugis, Papua. Antropologi juga menyoroti kelompok-kelompok keluarga tertentu yang tercakup dalam golongan priyayi dan orang kecil, bangsawan dan orang awam, dan santri dan abangan.

Penelaah antropologi sastra membutuhkan pengalaman budaya yang disebut partisipasi budaya. Dengan partisipasi budaya, penelaah akan semakin mendalami ruh sastra. Pengalaman budaya adalah pengalaman langsung menjadi pelaku dalam peristiwa budaya, dari persiapan sampai akhir. Konteks sosial dan budaya yang terdapat dalam sastra amat luas cakupannya. Dalam konteks inilah maka seorang peneliti antropologi sastra harus mampu menangkap sebuah pengalaman sosiokultural di dalamnya.

Penelaah antropologi sastra membutuhkan wawasan kultural yang luas, termasuk wawasan interdisipliner bahkan multidisipliner . Hal ini sejalan dengan pendapat Culler (dalam Kurniawan, 2001), bahwa “The challenge of literature now is how can this work cocern us, astonish us, fulfill us?”. Artinya, tantangan dunia sastra dewasa ini adalah bagaimana karya itu (1) mencemaskan kita, (2) menakjubkan kita, dan (3) memenuhi kebutuhan kita. Sangat jelas ketiga hal itu terkait erat dengan budaya. Pengkajian antropologi sastra merupakan telaah atas berbagai genre sastra puisi, prosa fiksi (novel dan cerpen), drama, dan cerita rakyat lalu mengaitkannya dengan konteks sosial budayanya.

Selain memiliki wawasan luas tentang budaya, penelaah antropologi sastra harus menggauli teks sastra secara intens. Dalam proses menggauli sastra itu penelaah akan memperoleh pemahaman aspek budaya yang terkandung di dalam teks sastra yang sangat berguna dalam pemahaman dan pengayaan makna sastra.

Seperti diketahui bahwa karya sastra itu meskipun mengandung makna seperti benda mati. Makna karya sastra bersifat implisit. Oleh karena itu makna sastra harus diupayakan oleh penelaah antropologi sastra –meminjam istilah Teeuw (1984)-- untuk merebutnya (lihat Endraswara, 2013). Hal itu sejalan dengan pandangan Barker (dalam Strinati, 2003), bahwa penelaah sastra boleh memodifikasi pesan dalam merekonstruksi makna. Dalam hal ini harus dipahami bahwa teks sastra merupakan karya yang sarat akan makna akan tetapi makna itu harus direbutnya. Dalam karya sastra banyak sekali bagian-bagian yang kosong yang sengaja dibuka oleh seorang sastrawan untuk diisi oleh pembaca/penelaah. Di sinilah berlaku hukum atau teori resepsi sastra bahwa makna sastra bergantung pada horison harapan pembaca.

Sastra menjadi media yang bagus untuk pengembangan budaya agar pembaca sastra semakin arif dalam mengarungi kehidupannya di masyarakat. Dengan membaca karya sastra pembaca akan makin dewasa dalam menyikapi kehidupan yang mahaluas yang penuh dengan dinamika dan romantika. Dalam kaitan itu, daya tarik penelitian antropologi sastra kiranya memiliki dua jalur penting.

  • Pertama, jalur struktur dinamik sastra, yakni dengan cara mengambil sebagian unsur, baru ditinjau secara antropologi sastra. Penelitian ini masih berlandaskan struktur karya sastra.

  • Kedua, jalur refleksi sastra, maksudnya peneliti juga boleh melepaskan diri dari struktur sastra, tetapi tetap mencermati refleksi budaya secara parsial. Misalkan saja, aspek budaya kawin paksa, ruwatan, bersih desa, dan lain-lain.

Penelitian disesuaikan dengan kondisi dan pandangan hidup masing- masing wilayah. Melalui penelitian parsial ini, berarti asumsi bahwa penelitian antropologi sastra cenderung diterapkan dengan observasi jangka panjang tidak selalu benar. Penelitian dapat dilakukan dalam waktu relatif pendek, tergantung kebutuhan. Oleh karena tergolong interdisiplin baru, tentu ilmu ini membutuhkan pendalaman. Terlebih lagi jika akan dimasukkan dalam mata kuliah, tentu perlu dikaji ulang.

Yang paling penting, ketika hendak menganalisis karya sastra, perlu seleksi terlebih dahulu. Objek penelitian yang akan dijadikan bahan analisis ada beberapa hal, antara lain :

  • memilih karya yang melukiskan etnografi pada masyarakat lokal, sederhana, belum tertata, tetapi memiliki pemikiran cerdas;

  • memilih karya-karya yang melukiskan berbagai tradisi lokal, kekerabatan, trah;

  • memilih karya yang penuh tantangan, jebakan, petualangan (Endraswara, 2013). Dalam analisis antropologi sastra, karya-karya sastra etnis yang berbasis lokalitas lazimnya lebih menarik dianalisis daripada karya sastra yang mengungkapkan budaya global.

Pengkajian terhadap karya sastra yang mengandung aspek budaya etnik, kearifan lokal --dari daerah Aceh, Bugis, Nusa Tenggara Barat, Jawa, Batak, Dayak Kalimantan Barat, dan Papua–, pandangan dunia pengarang, tema, motif dan konsep-konsep tertentu, budaya Barat dan Timur dalam karya sastra, diduga berpotensi menjadi lahan menarik untuk penelitian antropologi sastra.

Kumpulan cerpen Umar Kayam Sri Sumarah (1975) dan novel Para Priyayi (1992), trilogi novel Ahmad Tohari seperti Ronggeng Dukuh Paruk (1982-1986), novel Bekisar Merah (1996), kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang (2013), novel Canting karya Arswendo Atmowiloto (1999), prosa liris Pengakuan Pariyem Dunia Batin Wanita Jawa karya Linus Suryadi AG (1981), kumpulan cerpen magis Danarto Adam Makrifat (1981) dan Godlop (1982), juga berpotensi mengandung unsur-unsur antropologis yang kaya. Tingkatan dalam bahasa Bali yang berkaitan erat dengan struktur sosial (kasta), misalnya, dapat pula dikaji melalui studi antropologis dalam kaitannya dengan masyarakat dengan kelas-kelas sosial sebagai pendukungnya. Masalah itu juga akan menjadi studi psikologis yang menarik jika dikaitkan dengan dampak psikologis masyarakat pendukungnya.

Pengkajian antropologi sastra atas karya sastra tertentu dilakukan melalui struktur karya sastra sedangkan kajian antropologi dalam kaitannya sebagai karya budaya atau seni. Artinya, karya sastra merupakan unsur primer, bukan sekunder. Perlu diketahui bahwa kajian antropologi sastra menyangkut masalah kebudayaan. Oleh karena itu selain melalui penokohan, unsure kebudayaan dapat juga dikaji melalui latar, seperti latar masyarakat Jawa, Tengger, Batak, Minangkabau, Dayak, Tengger, Bugis, Papua, dan sebagainya. Seperti halnya sosiologi sastra dan psikologi sastra, antropologi sastra juga berfungsi untuk mempublikasikan dan mensosialisasikan khasanah budaya bangsa yang amat kaya dan beragam. Dengan kajian antropologi sastra diharapkan kebudayaan lokal beserta dan kearifan lokalnya dari berbagai etnis dan suku bangsa dapat menjadi milik bangsa Indonesia secara nasional. Dengan demikian, kajian antropologi sastra memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa.

Antropologi sastra, demikian Ratna (2011), berfungsi untuk;

  1. melengkapi analisis ekstrinsik di samping sosiologi sastra dan psikologi sastra,

  2. mengantisipasi dan mewadahi kecenderungan- kecenderungan baru hasil karya sastra yang di dalamnya banyak dikemukakan masalah-masalah kearifan lokal,

  3. diperlukan dalam kaitannya dengan keberadaan bangsa Indonesia, di dalamnya terkandung beraneka ragam adat kebiasaan seperti; mantra, pepatah, motto, pantun, yang sebagian besar juga dikemukakan secara estetis dalam bentuk sastra,

  4. wadah yang sangat tepat bagi tradisi dan sastra lisan yang selama ini menjadi wilayah perbatasan disiplin antropologi sastra,

  5. mengantisipasi kecenderungan kontemporer yaitu perkembangan multidisiplin baru.
    Antropologi dan sastra memiliki dasar disiplin ilmu yang berbeda. Harus dipahami bahwa hakikat antropologi adalah fakta empiris sedangkan sastra adalah hasil kreasi imajinatif. Karya sastra merupakan refleksi atas peristiwa dan realitas dunia nyata dalam lingkungan sosial pengarangnya. Oleh karena itu, karya sastra harus tetap menjadi perhatian utama dalam kajian antropologi sastra sedangkan antropologhi merupakan pelngkap untuk menkaji aspek- aspek budaya yang terkandung di dalamnya.

Secara definitive, antropologi sastra adalah studi mengenai karya sastra dengan relevansi manusia (anthropos). Antropologi sastra merupakan pendekatan interdisiplin yang paling baru dalam ilmu sastra.

Lahirnya model pendekatan antropologi sastra dipicu oleh tiga sebab utama, yaitu: a) baik sastra maupun antropologi menganggap bahasa sebagai objek penting, dan b) kedua disiplin mempermasalahkan relevansi manusia budaya, dan c) kedua disiplin juga mempermasalahkan tradisi lisan, khususnya cerita rakyat dan mitos.

Aspek yang kedua sering menimbulkan masalah dalam membedakan batas-batas penelitian diantara antropologi dan sastra. Sosiologi sastra, psikologi sastra, dan antropologi sastra, sebagai ilmu social humaniora jelas mempermasalahkan manusia dalam masyarakat, sekaligus memberikan intensitas pada sastra dan teori sastra. Perbedaannya, sosiologi sastra mempermasalahkan masyarakat, psikologi sastra pada aspek-aspek kejiwaan, antropologi sastra pada kebudayaan. Antropologi sastra memberikan perhatian pada manusia sebagai agen cultural, system keekrabatan, system mitos, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Antropologi sastra cenderung memusatkan perhatiannya pada masyarakat kuno, sedangkan sosiologi sastra cenderung memusatkan perhatiannya pada masyarakat modern, masyarakat kompleks. Karya sastra dengan masalah mitos, bahasa dengan kata-kata arkhais menarik dianalisis dari segi antropologi sastra, sedangkan karya sastra dengan masyarakat kompleks menarik dari segi sosiologi sastra.