© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Analisis Laporan Arus Kas?

Arus kas

Arus kas (cash flow) adalah suatu laporan keuangan yang berisikan pengaruh kas dari kegiatan operasi, kegiatan transaksi investasi dan kegiatan transaksi pembiayaan/pendanaan serta kenaikan atau penurunan bersih dalam kas suatu perusahaan selama satu periode.

Apa yang dimaksud dengan Analisis Laporan Arus Kas ?

Semakin banyaknya perusahaan yang mencantumkan laporan arus kas dalam laporan keuangan tahunan, membuat penggunaan informasi laporan arus kas sebagai alat analisis kinerja perusahaan semakin meningkat. Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas.

Menurut Darsono dan Ashari (2005) dalam bukunya “Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan”, analisis laporan arus kas ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen neraca dan laporan laba rugi sebagai alat analisis rasio adalah sebagai berikut:

Rasio Arus Kas Operasi (AKO)

Rasio arus kas operasi menghitung kemampuan arus kas operasi dalam membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi arus kas operasi dengan kewajiban lancar.

AKO = Jumlah Arus Kas Operasi / Kewajiban Lancar

Rasio arus kas operasi berada di bawah satu yang berarti terdapat kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban lancar, tanpa menggunakan arus kas dari aktivitas lain.

Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)

Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya (bunga, pajak, dan dividen preferen). Rasio ini diperoleh dengan laba sebelum pajak dan bunga (EBIT) dibagi bunga , penyesuaian pajak dan dividen preferen.

CAD = EBIT / (Bunga + Penyesuaian pajak + Dividen preferen)

Rasio yang besar menunjukan bahwa kemampuan yang lebih baik dari laba sebelum pajak dalam menutup komitmen – komitmen yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Rasio Cakupan Arus Kas Terhadap Bunga (CKB)

Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga dan pembayaran pajak dibagi pembayaran bunga.

CKB = (Arus Kas Operasi + Bunga + Pajak) / Bunga

Dengan rasio yang besar menunjukan bahwa arus kas operasi mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menutup biaya bunga sehingga kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar bunga sangat kecil.

Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang lancar berdasarkan arus kas operasi bersih. Rasio ini diperoleh dengan arus kas operasi ditambah dividen kas dibagi dengan hutang lancar.

CKHL = (Arus Kas Operasi + Dividen Kas) /Hutang Lancar

Rasio yang rendah menunjukan kemampuan yang rendah dari arus kas operasi dalam menutup hutang lancar.

Rasio Pengeluaran Modal (PM)

Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas dari operasi dibagi dengan pengeluaran modal.

PM = Arus Kas Operasi / Pengeluaran Modal

Rasio yang tinggi menunjukan kemampuan yang tinggi dari arus kas dalam membiayai pengeluaran modal.

Rasio Total Hutang (TH)

Rasio ini menunjukan jangka waktu pembayaran hutang oleh perusahaan dengan asumsi semua arus kas operasi digunakan untuk membayar hutang. Rasio ini diperoleh dari arus kas operasi dibagi dengan total hutang. Dengan mengetahui rasio ini, kita bisa menganalisis dalam jangka waktu berapa lama perusahaan akan mampu membayar hutang dengan menggunakan arus kas yang dihasilkan dari aktivitas operasional perusahaan.

Total Hutang = Arus Kas Operasi/ Total Hutang

Rasio yang cukup rendah menunjukan bahwa perusahaan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam membayar semua kewajibannya dari arus kas yang berasal dari aktivitas normal operasi perusahaan.

Rasio Kecukupan Arus Kas (KAK)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka 5 tahun mendatang. Rasio ini diperoleh dengan (laba sebelum pajak dan bunga minus pembayaran pajak minus pembayaran bunga – pengeluaran modal) dibagi (rata-rata hutang yang jatuh tempo setiap tahun selama lima tahun ).

KAK = (EBIT - Bunga - Pajak - Peng Modal) / Rata-rata Hutang Lancar selama 5th

Rasio yang rendah menunjukan bahwa kemampuan perusahaan yang rendah dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka 5 tahun mendatang.

Analisis arus kas sangat diperlukan mengingat beban biaya yang diperlukan dan arus kas masuk bersih yang akan dihasilkan dari sebuah usaha. Selain itu, untuk mengevaluasi proposal investasi berdasarkan estimasi arus kas yang akan diperoleh, pertama-tama harus ditetapkan pedoman yang akan digunakan untuk mengukur nilai dari setiap proposal.

Arus Kas yang Relevan


Menurut Brigham dan Houston (2004), langkah yang paling penting dan paling sulit dalam capital budgeting adalah mengestimasi arus kas proyek, pengeluaran investasi dan arus kas masuk bersih tahunan setelah proyek dijalankan, hal ini disebabkan karena banyaknya variabel, individu dan departemen yang berpartisipasi dalam proses ini.

Langkah awal dalam estimasi arus kas adalah mengidentifikasi arus kas yang relevan, yaitu arus kas khusus yang harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan. Dalam hal ini, yang akan digunakan adalah arus kas bebas, bukan laba akuntansi, sebagai alat ukur. Perusahaan menerima dan mampu mereinvestasikan arus kas bebas, sedangkan laba akuntansi hanya tampak ketika didapatkan bukan ketika uang itu benar-benar ada di tangan. Arus kas bebas dengan tepat mencerminkan waktu dari manfaat dan biaya, yakni ketika uang diterima, kapan dapat direinvestasikan, dan kapan harus dibayarkan (Arthur, 2005).

Arus Kas Inkremental


Arus kas harus diukur berdasarkan inkremental, yaitu arus kas dari suatu proyek tertentu harus diukur berdasarkan selisih antara arus kas perusahaan dengan atau tanpa proyek yang bersangkutan. Meskipun dalam beberapa kasus suatu proyek baru mungkin mengambil penjualan dari proyek perusahaan yang ada sekarang, namun dalam kasus lain usaha baru mungkin benar-benar bisa membawa penjualan baru ke lini yang sudah ada. Intinya adalah arus kas apa pun yang masuk ke bagian mana pun dari perusahaan itu yang mungkin dihasilkan dari keputusan yang diambil harus diperhitungkan pada saat mengambil keputusan itu (Arthur, 2005).

Perhitungan Arus Kas Bebas

Menurut Dayananda (2002), secara umum arus kas bebas suatu proyek akan termasuk ke dalam salah satu dari tiga kategori berikut ini:

  • Pengeluaran awal
    Pengeluaran awal mencakup arus kas keluar yang langsung diperlukan untuk membeli aktiva dan untuk mengoperasikannya. Jumlah ini mencakup biaya memasang aktiva itu (harga pembelian aktiva plus pengeluaran apa pun yang terkait dengan pengiriman atau pemasangan) dan pengeluaran tunai non biaya seperti kenaikan kebutuhan modal kerja. Biaya setelah pajak dari berbagai pengeluaran yang terjadi sebagai akibat dari investasi baru juga harus dimasukkan sebagai arus kas keluar.

  • Arus kas bebas tahunan
    Arus kas bebas tahunan berasal dari arus kas operasi, perubahan dalam modal kerja, dan pengeluaran modal apa pun yang terjadi. Dalam perhitungan akan dimulai dengan laporan pro forma lalu setelah itu dilakukan penyesuaian untuk depresiasi bunga, dan modal kerja, serta pengeluaran modal apa pun yang terjadi.

  • Arus kas akhir
    Perhitungan arus kas akhir umumnya mencakup nilai sisa proyek ditambah atau dikurangi pendapatan atau kerugian kena pajak apa pun yang terkait dengan penjualannya. Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi arus kas akhir antara lain nilai sisa proyek setelah pajak, pengeluaran kas yang terkait dengan penghentian proyek dan pendapatan kembali atas pengeluaran non biaya yang terjadi pada saat awal proyek dimana hal ini mencakup investasi modal kerja.