Apa yang dimaksud dengan Alexithymia?

Dalam dunia psikologi terdapat gangguan yang disebut Alexithymia. Lalu, apa yang dimaksud dengan gangguan psikologis Alexithymia?

Alexithymia merupakan sebuah disregulasi emosi. Pemahaman teoritis mengenai konstruk ini menjadi sangat penting karena alexithymia tak dapat dipahami secara harafiah berdasarkan etiologi katanya saja. Lebih dalam lagi, alexithymia merupakan bentuk minimnya penghayatan subjektif terhadap pengalaman emosional. Hal ini menjadi sangat penting agar penggunaan istilah alexithymia ini dapat tepat sasaran, tidak ditempelkan secara asal kepada setiap orang yang terlihat kaku, pendiam, dan atau dingin. Tentunya pelabelan seperti ini bertentangan dengan usaha WHO yang hendak terus menekan medikalisasi dan institusionalisasi dalam penanganan kesehatan mental (WHO, 2013).

Definisi alexithymia telah disepakati sebagai:

  • kesulitan mengidentifikasikan perasaan dan membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh akan gairah (arousal) emosi;
  • kesulitan menjelaskan perasaan kepada orang lain;
  • keterbatasan dalam proses imajinasi, yang terwujud dalam kurangnya fantasi;
  • gaya kognisi yang berorientasi pada stimulus eksternal (Nemiah, Freyberger & Sifneos, 1976; Taylor, 1994; Taylor, Bagby, & Parker, 1999).

Seseorang yang memiliki level alexithymia tinggi disebut alexithymic individuals. Selama ini alexithymia dikenal sebagai komorbid gangguan psikologis (FeldmanHall, Dalgleish, & Mobbs, 2015) dan alexithymia muncul pada berbagai gangguan psikologis. Prevalensi individu yang memiliki level alexithymia tinggi dalam populasi umum mencapai 9%-17% pada laki-laki, dan mencapai 5%-10% (Mattila, et al., 2009) pada perempuan. Sedangkan pada kelompok klinis dapat mencapai 70% (Bourke, Taylor, Parker & Bagby dalam Hammidi, Rostami, Farhoodi, & Abdolmanafi, 2010).

Individu dengan level alexithymia tinggi kesulitan mengidentifikasi keadaan emosi yang sedang mereka alami. Pengalaman emosi yang kuat mungkin mereka rasakan, akan tetapi mereka tidak mampu mengetahui alasan di balik emosi tersebut (Thompson, 2009). Individu tersebut kesulitan membedakan perasaan dengan sensasi tubuh saat mereka mengalami dorongan emosional (Nemiah, Freyberger, & Sifneos dalam Taylor & Bagby, 2014)

Monteboracci, Codispoti, Baldaro, & Rossi (2004) berpen- dapat bahwa alexithymia merupakan salah satu konsekuensi dari kegagalan kelekatan dan ikatan (bonding).

Alexithymia merupakan suatu konstruk psikologis yang pertama kali dikemukakan oleh Sifneos tahun 1972. Alexithymia berasal dari kata a yang berarti kekurangan, lexis yang berarti kata dan thymos yang berarti suasana hati atau emosi (Sifneos, Apfel-Savitz, & Frankel, 1977;Timoney & Holder, 2013). Sifneos mendeskripsikan alexithymia sebagai kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengkomunikasikan perasaan, kesulitan dalam membedakan perasaan dan sensasi somatik dari dorongan emosi, rendahnya fantasi dan imajinasi, serta berkaitan dengan externally oriented cognitive style (Hamidi, Reza, Farzad, & Atefeh, 2010). Alexithymia didefinisikan sebagai suatu konstruk psikologi yang memiliki karakteristik kesulitan mengalami serta mendefinisikan emosi dan perasaan (Sifneos, 1972; Taylor & Bagby, 2004; Mattila, Saarni, Salminen, Huhtala, Sintonen & Joukamaa, 2009; Konrath, Novin, & Li, 2012).

Alexithymia sebagai Trait Kepribadian


Alexithymia awalnya ditemukan berdasarkan observasi klinis pada pasien medis dan psikiatris (Taylor, Bagby, & Parker,1997), Alexithymia tidak melulu dipandang sebagai suatu gangguan psikologis. Selama ini ada tiga pandangan mengenai alexithymia, yaitu alexithymia dianggap sebagai suatu kondisi, suatu trait kepribadian atau juga sebagai suatu gangguan psikologi (Thompson, 2009). Alexithymia dikonsepkan sebagai gangguan atau psikopatologi yang diakibatkan berbagai faktor misalnya trauma atau juga sebagai akibat dari disfungsi otak bagian kanan (Taylor, Bagby, & Parker, 1997;Lo, 2014).

Beberapa penelitian cenderung mendukung anggapan alexithymia sebagai trait kepribadian (Timoney & Holder, 2013). Taylor, Bagby & Parker (1997) menjelaskan bahwa alexithymia tidak dikonsepkan sebagai fenomena kategorikal ( all-or-none ), melainkan sebagai suatu trait kepribadian yang terdistribusi normal di populasi umum. Hasil penelitian mendukung asumsi sifat dimensional dari konstruk ini. Review terhadap penelitian juga cenderung menunjukkan sifat stabil dari alexithymia (Kurukivi & Saarijärvi, 2014) . Lo (2014) setuju dengan berbagai peneliti yang mendefinisikan alexithymia sebagai variabel perbedaan individual yang berkaitan dengan kepercayaan akan nilai emosi dalam kehidupan sosial. Lo (2014) meneruskan bahwa kepercayaan akan nilai emosi dalam kehidupan sosial tersebut dibangun dalam konteks perkembangan .

Alexithymia merupakan suatu konstruk kepribadian yang menggambarkan kesulitan dalam regulasi afek dan dikenal sebagai satu dari faktor pemicu gangguan medis dan psikiatris (Taylor, Bagby, & Parker, 1997). Individu yang mengalami alexithymia mampu menyadari ada respons emosi serta mampu berpikir, tetapi emosi dan pemikiran tersebut tidak terhubung (Sifneous, 1987).

Seseorang yang memiliki level alexithymia tinggi disebut alexithymic individuals. Selama ini alexithymia dikenal sebagai komorbid gangguan psikologis (FeldmanHall, Dalgleish, & Mobbs, 2015) dan alexithymia muncul pada berbagai gangguan psikologis.

Alexithymia merupakan konstruk yang dikembangkan oleh Sifneos dari bahasa Yunani yang artinya “tidak ada kata untuk emosi”, a yang artinya kekurangan, lexis yang artinya kata, dan thymos yang artinya suasana hati atau emosi (Sifneos, 1973). Alexithymia dijelaskan sebagai konstruk yang menggambarkan defisitnya kognitif dalam memproses emosi (Taylor & Bagby, 2004).

Taylor, Bagby, dan Parker (1997), menegaskan bahwa alexithymia tidak digambarkan sebagai fenomena kategorikal (all-or-none) namun sebuah konstruk kepribadian yang terdistribusi normal pada populasi umum. Hal ini dapat menyimpulkan bahwa alexithymia adalah trait kepribadian yang dikaraktersitikan dengan defisitnya proses kognitif dan regulasi emosi (Bagby dkk., 1994; Taylor, 1984)

Aspek-aspek Alexithymia

Bagby, Parker, dan Taylor (1994), menyebutkan bahwa ada empat aspek alexithymia .

  1. Aspek pertama adalah kesulitan dalam mengidentifikasi perasaan dan membedakan antara perasaan dan sensasi jasmani dari arousal emotional.

  2. Aspek kedua adalah kesulitan dalam mendeskripsikan perasaan kepada orang lain, dikaitkan dengan gangguan afeksi yang dijelaskan oleh Nemiah dan Sifneos (1970).

  3. Aspek ketiga adalah kesulitan dalam mendeskripsikan perasaan kepada orang lain.

  4. Aspek keempat adalah tipe kognitif yang berorientasi pada eksternal, dikaitkan dengan pensee operatoire yang dijelaskan oleh Marty dan de M’Uzan (1963) atau disebut dengan pemikiran operatif.

Proses dan dampak alexithymia

Adapun beberapa literatur yang menunjukkan bagaimana proses dan dampak alexithymia yang dapat dipahami melalui asosiasinya dengan variabel lain. Kesulitan dalam mengidentifikasi serta menjelaskan perasaan pada individu dengan tingkat alexithymia yang tinggi, menunjukkan hubungan yang positif dengan meningkatnya depresi dan kecemasan (Hendryx, Haviland, & Shaw, 1991). Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa ada 32,1% individu yang memiliki alexithymia yang tinggi pada mereka yang sedang mengalami depresi (Honkalampi, Hintikka, Tanskanen, Lehtonen, & Viinamäki, 2000).

Di sisi lain, sebuah penelitian menunjukkan bahwa individu dengan alexithymia yang tinggi cenderung memiliki adaptabilitas dan pengelolaan stres yang rendah. Hal tersebut berkaitan dengan karakteristik alexithymia yang intolerant terhadap stres dan sumber daya adaptif yang terbatas (Parker dkk., 2001). Berkaitan dengan respons terhadap stressor, Connelly dan Denney (2007), individu dengan alexithymia yang tinggi memiliki kecenderungan untuk menunjukkan afek negatif subjektif yang tinggi.

Berkaitan dengan kepribadian, Timoney dan Holder (2013), menjabarkan bahwa individu dengan alexithymia yang tinggi memiliki tingkat prevalensi yang tinggi pada depresi dan kecemasan. Level alexithymia yang tinggi juga dikaitkan dengan rendahnya kesadaran diri ( self-consciousness ). Sehubungan dengan hal itu, tingginya depresi, kecemasan, kerentanan serta rendahnya kesadaran ini merupakan karakteristik dari neuroticism yang tinggi.

Alexithymia pertama kali diperkenalkan oleh Sifneos sebagai konstruk psikologis pada tahun 1972. Alexithymia berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kurangnya, lexis yang berarti kata, dan tymos yang berarti emosi (Sifneos, 1973).

Nemiah, Freybeerger, dan Sifneos (dalam Hamidi dkk, 2010) mendeskripsikan alexithymia sebagai kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengkomunikasikan perasaan, kesulitan dalam membedakan perasaan dan sensasi tubuh dari dorongan emosi, rendahnya fantasi dan imajinasi, serta berkaitan dengan pemikiran yang berorientasi eksternal.

Alexithymia dikonseptualisasikan sebagai trait kepribadian yang tersebar secara normal dalam populasi umum (Taylor & Bagby, 1997). Alexithymia mempunyai ciri utama adanya kerusakan pada fungsi afektif dan kognitif seseorang sehingga menurunkan kemampuan mengelola emosi dengan baik dan menyebabkan defisiensi empati (Thompson, 2009).

Alexithymia merupakan kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengkomunikasikan perasaan, kesulitan dalam membedakan perasaan dan sensasi somatic dari dorongan emosi, rendahnya fantasi dan imajinasi, serta berkaitan dengan pemikiran yang berorientasi eksternal.

Karakteristik Alexithymia

Menurut Taylor, Bagby, dan Parker (1997) menjelaskan beberapa fitur alexitymia, yaitu :

  1. Kesulitan mengenali perasaan
    Individu dengan alexithymia mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengidentifikasi keadaan emosi yang sedang mereka alami. Mereka mungkin merasakan pengalaman emosi yang kuat, seperti kesedihan yang mendalam atau kemarahan yang besar, namun mereka tidak mampu menggambarkan alasan dibalik emosi tersebut (Thompson, 2009). Individu akan sulit membedakan perasaan mereka dengan sensasi tubuh mereka saat mengalami dorongan emosional ( Nemiah, Freyberger, dan Sifneos dalam Taylor & Bagby, 2013). Contohnya , “seringkali saya tidak memahami emosi yang sedang saya rasakan”.

  2. Kesulitan mendeskripsikan perasaan melalui kata-kata
    Individu dengan Alexithymia juga kesulitan dalam mengungkapkan perasaan mereka kepada orang lain. Ketika mereka merasakan perasaan tidak nyaman mengenai sesuatu yang berubah di dalam tubuh mereka- ,peningkatan detak jantung, merona atau merasakan perasaan yang menggebu-gebu, mereka tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat saat diminta menjelaskan mengenai perasaan atau emosi yang mereka alami (Thompson, 2009). Contohnya, “saya sulit menemukan istilah yang tepat bagi perasaan saya”.

  3. Keterbatasan proses imajinasi
    Imajinasi adalah fenomena kompleks yang merupakan kemampuan individu untuk menciptakan gambaran secara mental di dalam pikiran berdasarkan pengalaman konkret-sensori (Thompson, 2009). Individu dengan alexithymia memiliki keterbatasan dalam proses imajinasi. Thompson (2009) menjelaskan proses imajinasi memiliki fungsi penting sebagai kemampuan untuk membayangkan emosi, harapan, keinginan, kebutuhan dan bagaimana individu memenuhi hal tersebut, berperan dalam meregulasi intesitas dan ekspresi emosi; serta kemampuan untuk menempatkan, membayangkan diri sebagai orang lain yang merupakan kemampuan dasar empati.

    Taylor, Bagby, & Parker (1997) menyebutkan kekurangan bahkan tidak adanya fantasi mengenai perasaan dan dorongan merupakan bukti keterbatasan proses imajinasi yang dialami individu dengan level alexithymia tinggi. Proses imajinasi penting di dalam pengaturan emosi, pencarian solusi terhadap konflik yang dialami serta meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi yang tercermin dalam kemampuan berempati (Thompson, 2009). Salah satu contonya adalah, “saya cenderung mudah menganalisa suatu masalah daripada menggambarkannya”.

  4. Externally oriented cognitive style
    Individu dengan level alexithymia tinggi memiliki cognitive style yang berfokus pada detail-detail kejadian-kejadian eksternal. Dua karakteristik alexithymia (keterbatasan fantasi dan externally oriented thinking style) yang disebutkan Nemiah, Freyberger & Sifneos sesuai dengan istilah “la pensée opératoire” (dalam Taylor & Bagby, 2013). Marty dan de M’Uzan mencetuskan istilah “la pensée opératoire” yang berarti pemikiran operasional (Guttman & Laporte, 2002).

    Pemikiran berorientasi eksternal melibatkan prioritas untuk memunculkan hal-hal dan peristiwa ke pemahaman di luar individu daripada pemahaman pikiran dan perasaan yang ada di dalam diri individu. Individu dengan level alexithymia tinggi cenderung memiliki fokus bicara pada fakta eksternal dan fakta objektif dibanding melakukan instrospeksi perasaan mereka atau perasaann yang orang lain alami (Guttman & Laporte, 2002). Salah satu contonya adalah, “saya cenderung mudah menganalisa (menguraikan/menelaah) suatu masalah daripada menggambarkannya (membayangkan/menceritakan kembali)”.

Menurut Timoney dan Holder (2013) konstruk alexithymia mencakup empat fitur utama berikut :

  1. Kesulitan mengidentifikasi dan menggambarkan perasaan subjektif
    Orang dengan alexithymia mengalami kesulitan dalam mengenali emosi mereka, contohnya ketika mereka sedang marah, senang, sedih, maupun kecewa mereka tidak tahu pasti emosi apa yang sedang mereka rasakan.

  2. Kesulitan membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh dari gairah emosional
    Orang dengan alexithymia mengalami kesulitan membedakan sensasi tubuh mereka dengan perasaan yang mereka rasakan, contohnya mereka merasa cemas atau tertekan, mereka berkata bahwa mereka mengalami sakit perut, tapi ketika ditanyakan mereka tidak yakin apakah mereka sakit perut karna cemas atau tidak.

  3. Proses imajinasi terbatas
    Individu dengan alexithymia mengalami keterbatasan dalam berimajinasi yang berfungsi sebagai kemampuan untuk membayangkan emosi, harapan, keinginan, dan membayangkan diri menjadi orang lain.

  4. Gaya kognitif yang berorientasi eksternal
    Individu dengan level alexithymia tinggi cenderung memiliki fokus bicara pada fakta eksternal dan fakta objektif dibanding melakukan instrospeksi perasaan mereka atau perasaann yang orang lain alami (Guttman & Laporte, 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi Alexithymia

Faktor-faktor yang mempengaruhi alexithymia adalah :

  1. Kecerdasan emosi
    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Parker, Taylor, dan Bagby (2001) menunjukkan hasil bahwa alexithymia terkait erat dengan kecerdasan emosi, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kecerdasan emosi memiliki hubungan yang negatif dengan alexitymia. Menurut Steiner (2003) menjelaskan bahwa kecerdasan emosi adalah suatu kemampuan yang dapat mengerti emosi diri sendiri dan orang lain, serta mengetahui bagaimana emosi diri sendiri terekspresikan untuk meningkatkan maksimal etis sebagai kekuatan pribadi.

  2. Attachment Style
    Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Usaci & Puscasu, (2015) menunjukkan adanya hubungan antara gaya kelekatan dengan alexithymia. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa adanya hubungan yang negatif antara secure attachment style dengan alexithymia, dan adanya hubungan yang positif antara fearful dan preoccupied attachment style dengan alexithymia. Santrock (2014) menerangkan beberapa pengertian kelekatan (attachment) dalam bahasa sehari-hari, attachment mengacu pada suatu relasi antara dua orang yang memiliki perasaan yang kuat satu sama lain dan melakukan banyak hal bersama untuk melanjutkan relasi itu.

    Attachement merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan individu melalu interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya (Cartney & Dearing, 2002). Gaya-gaya yang berbeda pada awalnya dibangun pada saat masih bayi, tetapi perbedaan dalam kelekatan akan mempengaruhi perilaku interpersonal sepanjang hidup (Baron & Byrne, 2005).

    Gaya kelekatan ini memiliki peranan penting pengembangan alexithymia terkait dengan hubungan dengan pengasuh, seperti pengabaian emosi, respon afeksi yang buruk dalam komunikasi, kurangnya kesempatan pengungkapan emosi anak, bahkan berdampak pada kapasitas regulasi emosi.

  3. Post Traumatic Stress Disorder
    Menurut Thompson (2009) trauma merupakan salah satu penyebab terjadinya alexithymia pada seseorang. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, (DSM-IVTR), PTSD didefinisikan sebagai suatu kejadian atau beberapa kejadian trauma yang dialami atau disaksikan secara langsung oleh seseorang berupa kematian atau ancaman kematian, cidera serius, ancaman terhadap integritas fisik atas diri seseorang.

    PTSD ini menyebabkan gangguan dalam kekurangan kapasitas untuk membentuk symbol imajinatif, keurangnya kapasitas dalam mengungkapkan perasaan, ketidak mampuan untuk mencari kesenangan (anhedonia) dan kurangnya toleransi terhadap kondisi emosi.

Alexithymia merupakan suatu konstruk psikologis yang pertama kali dikemukakan oleh Sifneos tahun 1972. Alexithymia berasal dari kata a yang berarti kekurangan, lexis yang berarti kata dan thymos yang berarti suasana hati atau emosi (Sifneos, Apfel-Savitz, & Frankel, 1977;Timoney & Holder, 2013).

Sifneos mendeskripsikan alexithymia sebagai kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengkomunikasikan perasaan, kesulitan dalam membedakan perasaan dan sensasi somatik dari dorongan emosi, rendahnya fantasi dan imajinasi, serta berkaitan dengan externally oriented cognitive style (Hamidi, Reza, Farzad, & Atefeh, 2010).

Alexithymia didefinisikan sebagai suatu konstruk psikologi yang memiliki karakteristik kesulitan mengalami serta mendefinisikan emosi dan perasaan (Sifneos, 1972; Taylor & Bagby, 2004; Mattila, Saarni, Salminen, Huhtala, Sintonen & Joukamaa, 2009; Konrath, Novin, & Li, 2012).

Karakteristik Alexithymia

Nemiah, Freyberger, & Sifneos (dalam Taylor & Bagby, 2014) menyebutkan 4 ciri atau karakteristik alexithymia sebagai berikut 1) kesulitan mengenali perasaan 2) kesulitan mendeskripsikan perasaan melalui kata-kata 3) keterbatasan proses imajinasi 4) Externally Oriented Cognitive Style .

Individu dengan level alexithymia tinggi kesulitan mengidentifikasi keadaan emosi yang sedang mereka alami. Pengalaman emosi yang kuat mungkin mereka rasakan, akan tetapi mereka tidak mampu mengetahui alasan dibalik emosi tersebut (Thompson, 2009). Individu tersebut kesulitan membedakan perasaan dengan sensasi tubuh saat mereka mengalami dorongan emosional (Nemiah, Freyberger, & Sifneos dalam Taylor & Bagby, 2014)

Individu dengan level alexithymia tinggi juga kesulitan dalam mengungkapkan perasaan kepada orang lain. Mereka tidak mampu menemukan kata yang tepat saat diminta menjelaskan mengenai perasaan atau emosi yang mereka alami (Nemiah, Freyberger, & Sifneos dalam Taylor & Bagby, 2014;Thompson, 2009).

Individu dengan level alexithymia tinggi memiliki cognitive style yang berfokus pada detail-detail kejadian-kejadian eksternal. Dua karakteristik alexithymia (keterbatasan fantasi dan externally oriented thinking style ) yang disebutkan Nemiah, Freyberger & Sifneos sesuai dengan istilah “ la pensée opératoire ” (Taylor & Bagby, 2014). Marty dan de M’Uzan mencetuskan istilah “ la pensée opératoire ” yang berarti pemikiran operasional (Guttman & Laporte, 2002).

Etiologi Alexithymia

Alexithymia baik sebagai suatu gangguan psikologis maupun sebagai suatu konstruk kepribadian telah diteliti dengan berbagai sudut pandang teori yang berbeda. Penelitian-penelitian mencoba menjelaskan asal atau sebab alexithymia .

Definisi Alexithymia

Alexithymia didefinisikan sebagai gangguan dalam mengidentifikasi, membedakan dan menggambarkan emosi diri kepada orang lain. Ciri utama pada alexithymia yaitu adanya kerusakan pada kedua fungsi afektif dan kognitif seseorang sehingga menurunkan kemampuan mengelola emosi dengan baik dan menyebabkan defisisensi (Taylor, Bagby, & Luminet, 2000; Thompson, 2009)

Seseorang dengan alexithymia mampu menampilkan emosi, namun mereka tidak memahami perubahan emosi yang terjadi. Kondisi ini membuat seseorang dengan alexithymia mengalami keterbatasan dalam fungsi personal dan iterpersonal. Hal itu berpotensi menyebabkan seseorang mengurangi interaksi sosial (Parker, Taylor & Bagby, 2001; Thompson, 2009)

Terdapat 3 komponen alexithymia yang saling terkait, yaitu kesulitan mengidentifikasi perasaan, kesulitan menggambarkan perasaan, dan pemikiran yang berorientasi eksternal (Kooiman, Spinhoven 7 Trijsburg, 2002). Menurut Thompson (2009) kesulitan mengidentifikasi perasaan ditandai dengan ketidakmampuan mengenali keadaan emosi diri. Kesulitan menggambarkan perasaan tersebut ditandai dengan ketidakmampuan mengelaborasi pengolahan rangsangan emosional dan mengungkapkannya dalam bahasa verbal dan non verbal kepada orang lain. Dan yang terakhir pemikiran berorientasi eksternal melibatkan preferensi untuk memunculkan hal – hal dan peristiwa ke pemahaman ekstrapersonal daripada pemahaman pikiran dan perasaan intrapersonal.

Referensi

https://repository.mercubuana.ac.id/33109/1/Abstrak.pdf