© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Alexithymia?

Dalam dunia psikologi terdapat gangguan yang disebut Alexithymia. Lalu, apa yang dimaksud dengan gangguan psikologis Alexithymia?

Alexithymia merupakan sebuah disregulasi emosi. Pemahaman teoritis mengenai konstruk ini menjadi sangat penting karena alexithymia tak dapat dipahami secara harafiah berdasarkan etiologi katanya saja. Lebih dalam lagi, alexithymia merupakan bentuk minimnya penghayatan subjektif terhadap pengalaman emosional. Hal ini menjadi sangat penting agar penggunaan istilah alexithymia ini dapat tepat sasaran, tidak ditempelkan secara asal kepada setiap orang yang terlihat kaku, pendiam, dan atau dingin. Tentunya pelabelan seperti ini bertentangan dengan usaha WHO yang hendak terus menekan medikalisasi dan institusionalisasi dalam penanganan kesehatan mental (WHO, 2013).

Definisi alexithymia telah disepakati sebagai:

  • kesulitan mengidentifikasikan perasaan dan membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh akan gairah (arousal) emosi;
  • kesulitan menjelaskan perasaan kepada orang lain;
  • keterbatasan dalam proses imajinasi, yang terwujud dalam kurangnya fantasi;
  • gaya kognisi yang berorientasi pada stimulus eksternal (Nemiah, Freyberger & Sifneos, 1976; Taylor, 1994; Taylor, Bagby, & Parker, 1999).

Seseorang yang memiliki level alexithymia tinggi disebut alexithymic individuals. Selama ini alexithymia dikenal sebagai komorbid gangguan psikologis (FeldmanHall, Dalgleish, & Mobbs, 2015) dan alexithymia muncul pada berbagai gangguan psikologis. Prevalensi individu yang memiliki level alexithymia tinggi dalam populasi umum mencapai 9%-17% pada laki-laki, dan mencapai 5%-10% (Mattila, et al., 2009) pada perempuan. Sedangkan pada kelompok klinis dapat mencapai 70% (Bourke, Taylor, Parker & Bagby dalam Hammidi, Rostami, Farhoodi, & Abdolmanafi, 2010).

Individu dengan level alexithymia tinggi kesulitan mengidentifikasi keadaan emosi yang sedang mereka alami. Pengalaman emosi yang kuat mungkin mereka rasakan, akan tetapi mereka tidak mampu mengetahui alasan di balik emosi tersebut (Thompson, 2009). Individu tersebut kesulitan membedakan perasaan dengan sensasi tubuh saat mereka mengalami dorongan emosional (Nemiah, Freyberger, & Sifneos dalam Taylor & Bagby, 2014)

Monteboracci, Codispoti, Baldaro, & Rossi (2004) berpen- dapat bahwa alexithymia merupakan salah satu konsekuensi dari kegagalan kelekatan dan ikatan (bonding).

Alexithymia merupakan suatu konstruk psikologis yang pertama kali dikemukakan oleh Sifneos tahun 1972. Alexithymia berasal dari kata a yang berarti kekurangan, lexis yang berarti kata dan thymos yang berarti suasana hati atau emosi (Sifneos, Apfel-Savitz, & Frankel, 1977;Timoney & Holder, 2013). Sifneos mendeskripsikan alexithymia sebagai kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengkomunikasikan perasaan, kesulitan dalam membedakan perasaan dan sensasi somatik dari dorongan emosi, rendahnya fantasi dan imajinasi, serta berkaitan dengan externally oriented cognitive style (Hamidi, Reza, Farzad, & Atefeh, 2010). Alexithymia didefinisikan sebagai suatu konstruk psikologi yang memiliki karakteristik kesulitan mengalami serta mendefinisikan emosi dan perasaan (Sifneos, 1972; Taylor & Bagby, 2004; Mattila, Saarni, Salminen, Huhtala, Sintonen & Joukamaa, 2009; Konrath, Novin, & Li, 2012).

Alexithymia sebagai Trait Kepribadian


Alexithymia awalnya ditemukan berdasarkan observasi klinis pada pasien medis dan psikiatris (Taylor, Bagby, & Parker,1997), Alexithymia tidak melulu dipandang sebagai suatu gangguan psikologis. Selama ini ada tiga pandangan mengenai alexithymia, yaitu alexithymia dianggap sebagai suatu kondisi, suatu trait kepribadian atau juga sebagai suatu gangguan psikologi (Thompson, 2009). Alexithymia dikonsepkan sebagai gangguan atau psikopatologi yang diakibatkan berbagai faktor misalnya trauma atau juga sebagai akibat dari disfungsi otak bagian kanan (Taylor, Bagby, & Parker, 1997;Lo, 2014).

Beberapa penelitian cenderung mendukung anggapan alexithymia sebagai trait kepribadian (Timoney & Holder, 2013). Taylor, Bagby & Parker (1997) menjelaskan bahwa alexithymia tidak dikonsepkan sebagai fenomena kategorikal ( all-or-none ), melainkan sebagai suatu trait kepribadian yang terdistribusi normal di populasi umum. Hasil penelitian mendukung asumsi sifat dimensional dari konstruk ini. Review terhadap penelitian juga cenderung menunjukkan sifat stabil dari alexithymia (Kurukivi & Saarijärvi, 2014) . Lo (2014) setuju dengan berbagai peneliti yang mendefinisikan alexithymia sebagai variabel perbedaan individual yang berkaitan dengan kepercayaan akan nilai emosi dalam kehidupan sosial. Lo (2014) meneruskan bahwa kepercayaan akan nilai emosi dalam kehidupan sosial tersebut dibangun dalam konteks perkembangan .

Alexithymia merupakan suatu konstruk kepribadian yang menggambarkan kesulitan dalam regulasi afek dan dikenal sebagai satu dari faktor pemicu gangguan medis dan psikiatris (Taylor, Bagby, & Parker, 1997). Individu yang mengalami alexithymia mampu menyadari ada respons emosi serta mampu berpikir, tetapi emosi dan pemikiran tersebut tidak terhubung (Sifneous, 1987).

Seseorang yang memiliki level alexithymia tinggi disebut alexithymic individuals. Selama ini alexithymia dikenal sebagai komorbid gangguan psikologis (FeldmanHall, Dalgleish, & Mobbs, 2015) dan alexithymia muncul pada berbagai gangguan psikologis.