© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Al-‘Adl atau Maha Adil ?

al-'Adl

Nilai yang terkandung di dalam al-'Adl:

Barangsiapa yang beriman dan membaca “Ya Adl” sebanyak 133x pada setiap selesai shalat Shubuh dan Magrib, Insya Allah apa yang diniatkannya itu akan terlaksana serta bisa menjadi hakim yang benar-benar adil dalam menghakami suatu perkara.

Apa yang dimaksud dengan Al-‘Adl atau Maha Adil ?

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Hujurat [49]: 9)

Kata Al-‘Adl terambil dari kata ‘adala yang terdiri dari huruf-huruf ‘ain, dal, dan lam. Rangkaian huruf-huruf ini mengandung dua makna yang bertolak belakang, yakni “lurus dan sama” dan “bengkok, berbeda”.

Selain itu, kata Al-‘Adl secara bahasa berasal dari kata ‘adala-ya’dilu. Kata ini termasuk golongan kata yang memiliki dua makna yang saling berlawanan. Kata Al-‘Adl dapat berarti lurus, sama, dan bengkok. Ketepatan makna tergantung konteksnya dalam kalimat.

Seorang yang adil adalah yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan itulah yang menjadikan seorang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih.

Nama Al-‘Adl tidak ditemukan dalam Al-Qur’an, tetapi ayat yang berbicara tentang keadilan Allah dapat kita temukan dengan mudah dalam Al-Qur`an.

Salah satunya dalam kalam Allah surat Ali Imran: 182, yang artinya,

“…dan bahwa Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya….”

Dan kalam-Nya, yang artinya,

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (al-Anbiyâ`: 47).

Allah Al-‘Adl artinya Allah Mahaadil dalam seluruh tindakan dan keputusan-Nya. Allah menempatkan segala sesuatu sesuai posisi, kondisi, dan ukurannya, sesuai dengan hikmah dan ilmu- Nya yang mahaluas. Allah dengan adil mencurahkan rahmat- Nya kepada seluruh makhluk-Nya di muka bumi, baik yang kafir maupun mukmin.

Allah Mahaadil yang akan memberikan balasan setimpal kepada seluruh makhluk-Nya kelak di akhirat, sesuai dengan amal masing-masing. Allah tidak akan menzalimi makhluk-Nya sedikit pun. Maka,

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah….” (an-Nisâ`: 40).

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (az-Zalzalah: 7-8).

Antara nama Al-‘Adl dan Al-Hakam sangatlah erat hubungannya. Dengan dua nama tersebut, seluruh keputusan Allah untuk makhluk-Nya dan hukum syariat yang diturunkan untuk mengatur umat manusia, pastilah adil dan bijak. Sekalipun pandangan manusia yang sangat sempit mungkin berbicara lain. Hal itu karena manusia selalu melihat dengan pandangan kemanusiaannya yang lemah, terbatas, dan tidak komprehensif.

Haruslah dipahami bahwa adil itu tidak harus sama, tetapi menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Referensi :

  • Dr. Hasan el-Qudsy, The Miracle of 99 Asmaul Husna, Ziyad Book, 2014
  • Sulaiman Al-Kumayi, Asma’ul Husna For Super Woman, Semarang, Pustaka Nuun, 2009

Al ‘Adl adalah nama Allah yang ke-29 dari 99 Asmaul Husna. Al-‘Adl berarti Yang Maha Adil. Nama Al-‘Adl berasal dari kata ‘adala yang berarti lurus dan sama. Orang yang adil adalah orang yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama, bukan ukuran ganda. Persamaan inilah yang menunjukkan orang yang adil tidak berpihak kepada salah seorang yang berselisih. Ada juga yang memaknai adil sebagai penempatan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Allah dinamai Al-‘Adl karena keadilan Allah adalah sempurna. Dengan demikian semua yang diciptakan dan ditentukan oleh Allah sudah menunjukkan keadilan yang sempurna. Hanya saja banyak di antara kita yang tidak menyadari atau tidak mampu menangkap keadilan Allah terhadap apa yang menimpa makhluk-Nya. Karena itu sebelum menilai sesuatu itu adil atau tidak, kita harus dapat memperhatikan dan mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan kasus yang akan dinilai.

Akal manusia tidak dapat menembus semua dimensi. Seringkali ketika manusia memandang sesuatu secara sepintas dinilainya buruk, jahat, atau tidak adil, tetapi jika dipandangnya secara luas dan menyeluruh justeru sebaliknya malah merupakan keindahan, kebaikan, atau keadilan. Tahi lalat secara sepintas (sempit) terlihat buruk, namun jika berada di tengah-tengah wajah seseorang dapat terlihat indah. Begitu juga memotong kaki seseorang (amputasi) terlihat kejam, namun ketika dikaitkan dengan penyakitnya yang mengharuskannya untuk dipotong kakinya, maka sudah suatu keharusan. Di situlah makna keadilan yang memang tidak gampang menilainya.

Allah telah menciptakan manusia, menyempurnakan ciptaannya, dan menjadikannya adil dalam arti seimbang dan cenderung kepada keadilan. Allah berfirman:

Artinya: “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang,” (QS. al-Infithar (82): 7).

Seimbang dalam arti semuanya diletakkan Allah pada tempatnya dan dengan kadar yang cukup serta sesuai untuk berperanan sebagaimana dengan fungsi yang dituntut darinya. Dengan demikian, ia pun memiliki potensi untuk cenderung kepada keadilan dan berbuat adil.

Seseorang yang ingin meneladani Allah dalam sifat al-‘Adil, setelah meyakini keadilan-Nya, dituntut untuk menegakkan keadilan terhadap keluarga, ibu bapak dan dirinya, bahkan terhadap musuhnya sekalipun

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. an-Nisa’ (4): 135)

Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah (5): 8).

Allah bersifat al-Adl artinya yang Maha Adil. Menurut kamus besar bahasa Indonesia ; adil adalah sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak. Maksud Allah memiliki sifat adil adalah bahwa Allah adalah Dzat yang memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi.

Demikian pula dengan hidup kita, Allah akan meminta pertanggungjawaban segala apapun yang Allah titipkan/bekalkan kepada kita. Kita yang diberi keleluasaan rizki janganlah merasa bahwa itu semua hadiah, bukan! Itu adalah titipan yang dipercayakan kepada kita untuk digunakan membangun sarana dan prasarana umum yang digunakan oleh umat. Bersyukurlah, bahwa golongan ini dipilih oleh Allah dengan ujian syukur. Jika bersyukur, maka akan Allah tambahkan, namun jika ingkar terhadap tugas maka siksa Allah sangat pedih.

Bagi yang diberi kesempitan/kesederhanaan rizki, jangan menggugat! Karena yakinlah kita yang diberi kesederhanaan rizki adalah golongan yang dipilih oleh Allah dengan ujian sabar. Barang siapa yang bersabar, maka dia akan naik derajat dan menjadi orang yang berbahagia. Bagaimana tidak berbahagia, disaat pertanggungjawaban di akhirat, orang-orang miskin ini tidak akan banyak pertanyaan dari Allah. Orang-orang miskin ini hanya akan mempertanggungjawabkan umur mereka.