Apa yang dimaksud darah haid atau menstruasi menurut ajaran Islam ?

fikih

(Bima Satria) #1

Menstruasi

Menstruasi, haid atau datang bulan adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause.


(Abila Rezfan Azkadina) #2

Darah haid adalah darah yang keluar dari kubul (farji) perempuan dalam keadaan normal (sehat), bukan disebabkan karena melahirkan atau robeknya selaput dara. Keluarnya darah haid bagi seorang wanita adalah merupakan fitrah atau pembawaan yang dianugerahkan oleh Allah SWT.

Pada dasarnya seorang wanita yang kedatangan haid itu berusia 12 tahun, dan keluarnya darah haid itu biasa terjadi sebulan sekali sampai ia mengalami menapause. Oleh karena itu, tidak ada dalil yang menunjukkan menunjukan adanya batasan usia tertentu bagi terhentinya darah haid. Jadi sekalipun sudah tua apabila masih melihat keluarnya darah dari farjinya, maka itupun masih tergolong darah haid.

Ada beberapa pendapat para Ulama dan Imam tentang darah haid :

  • Imam Maliki: Para ulama dalam madzhab ini mengatakan apabila seorang gadis / remaja yang masih berusia 9-13 tahun telah mengeluarkan darah, maka sebaiknya ia tanyakan kepada orang-orang di sekitarnya yang lebih dewasa dan berpengalaman, apakah darah yang keluar itu termasuk da- rah haid atau tidak. Para ulama madzhab ini menambahkan, bahwa darah yang keluar dari wanita yang sudah berusia 13-50 tahun, maka sudah pasti itu darah haid, selanjutnya darah yang keluar dari wanita yang keluar di usia 70 tahun, maka dapatlah dipastikan kalau darah itu bukan darah haid tapi darah istihadhah (darah penyakit), begitu juga bagi gadis yang belum mencapai usia 9 tahun, maka darah itu bukan darah haid melainkan darah penyakit.

  • Imam Hanafi : Ulama dalam madzhab ini mengatakan apabila ada seorang gadis yang sudah berusia 9 tahun lalu mengeluarkan darah, maka itu disebut darah haid. Dan hukum dari wanita yang sudah kedatangan haid adalah meninggalkan puasa dan shalat. Ulama madzhab ini menambahkan, wanita yang usianya sudah mencapai 55 tahun lebih dan masih mengeluarkan darah (warnanya hitam/merah tua) maka darah itu disebut darah haid.

  • Imam Syafi’i : Madzhab ini mengatakan bahwa haid itu bisa datang kapan saja, tidak ada batas akhir dari wanita untuk mengeluarkan darah haid, selagi ia masih hidup ia masih bisa mengeluarkan darah haid. Walaupun pada umumnya ia akan terhenti pada usia 62 tahun, yaitu yang biasa disebut dengan masa iyas (masa putus dari haid).

  • Imam Hambali : Madzhab ini berpendapat, bahwa masa iyas (masa putus darah haid) jatuh pada seorang wanita dikala usianya menginjak 50 tahun. Jadi kalau sesudah itu ia masih juga mengeluarkan darah dari fajrinya, maka itu bukan termasuk darah haid melainkan darah penyakit.

Para ulama mengatakan bahwa “Darah haid itu adalah najis. Oleh karena itu, seorang muslim yang hendak melakukan shalat dan apabila pakaiannya terkena darah haid, maka terlebih dahulu harus dibersihkan lalu dicuci”.

Rasulullah SAW bersabda :

Dari Asma’ ra. ia berkata, “Seorang wanita datang kepada Nabi SAW. Kemudian dia bertanya : Baju salah seorang dari kami terkena da- rah haid. Bagaimana cara membersihkannya? Nabi SAW. bersabda, “Awalnya buang darahnya, sesudah itu gosok-gosokkan kain itu den- gan ujung jari dengan memakai jari, kemudian siram, lalu pakailah (untuk) shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ahmad dan Abu Dawud dalam hal ini meriwayatkan, dari Abu Hurairah ra. Ia berkata:

“Sesungguhnya Khaulah binti Yasar pernah bertanya: Ya Rasulullah! Saya mempunyai kain hanya satu helai. Kain itu saya pakai selama haid. Bagaimana hal itu? Rasulullah SAW menjawab: Bila anda telah bersuci, maka bersihkanlah kain itu bagian yang terkena darah, kemu- dian pakailah (untuk shalat)”.

Khaulah bertanya lagi, “Ya Rasulullah: Cukuplah kiranya engkau cuci den- gan air, bekasnya tidak memberi mudharat (tidak membatalkan bagi sesucimu).

Ada beberapa tanda yang dijadikan sebagai patokan dalam menentukan apakah darah yang keluar dari farjinya seorang wanita itu darah haid atau bu- kan? Menurut sebagian ulama dan ahli medis mengatakan bahwa sifat dari da- rah haid adalah berbau amis / anyir dan busuk. Sedangkan warna darah yang keluar dari farji wanita itu berbeda-beda, ada yang darahnya berwarna hitam, merah, kuning, hijau dan kelabu.

Para ulama sepakat dalam satu pendapat, bahwa apabila darah yang keluar dari farji wanita itu berwarna merah atau hitam, maka itu sudah bisa dipastikan sebagai darah haid.

Pendapat para ulama diatas diperkuat dengan sabda Rasulullah SAW berikut ini:

Dari Urwah, dari Fatimah binti Abi Jahsy, bahwa ia mengeluarkan darah penyakit (istihadhah) maka warnanya kehitam-hitaman. Bila demikian, maka berhentilah kamu shalat. Tapi kalau tidak demikian maka berwudlulah lalu shalat. Karena (yang demikian itu) hanyalah merupakan keringat/gangguan otot”. (HR. Abu Dawud)

Daruquthni, Baihaqi dan al-Hakim menambahkan dengan sebuah hadits :

Itu tidak lain adalah penyakit yang menimpamu, atau gangguan setan, atau otot yang putus.

Asy-Syaukani mengatakan, bahwa hadits di atas dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan warna darah yang keluar dari farji wanita; termasuk darah haid atau bukan. Dengan kata lain, selain warna yang tersebut dalam hadits di atas berarti bukan darah haid melainkan darah istihadhah.

Ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan bagi mahidloh (wanita yang mengalami haid) untuk melakukannya, yaitu melakukan thawaf di Ka’bah, mengerjakan puasa, mendirikan shalat dan melakukan persetubuhan. Apabila keluarnya darah itu sudah berhenti, maka diwajibkan bagi wanita mahidlah itu untuk mandi besar/mandi wajib dan ibadah yang ditinggalkannya selama ia mengalami masa haid harus diqadha (diganti) kecuali ibadah shalat.

Para ulama mengharamkan bagi wanita yang sudah suci dari haid namun belum mandi besar dan sudah melakukan hubungan seksual (suami- istri), meskipun masa berhentinya itu pada akhir masa haid yang terpanjang.

Pendapat ulama di atas diperkuat dengan firman Allah SWT yang berbunyi:

Dan janganlah kamu (hai kaum laki-laki) mendekati (menyentuh) mereka (kaum wanita) sebelum mereka suci (sebelum mereka mandi). (QS. Al-Baqarah : 222)

Para ulama dalam madzhab Hanafi mengatakan, “Bila haid itu telah mele-

wati batas maksimal dari masa haid yang terpanjang yaitu 10 hari, maka boleh saja bersetubuh, meskipun darah itu belum keluar, atau sudah berhenti tapi belum mandi besar. Namun yang lebih afdhal dan lebih mustahab (disukai) melakukan persetubuhan sesudah mandi besar”. Mereka menambahkan, “Sedangkan kalau darah itu berhenti pada akhir masa haid yang biasa dialami dalam setiap bulannya, sebelum melampaui batas maksimal masa haid tersebut, maka tetap tidak halal melakukan hubungan intim sebelum mandi, atau bertayamum bila tidak ditemukan air.