Apa yang anda ketahui tentang Tanaman Tomat?

Tomat merupakan tanaman pangan yang menghasilkan buah bulat dengan kulit dan daging buah merah cerah serta mempunyai banyak biji.

Latar Belakang Tanaman Tomat ( Solanum lycopersicum )


Tanaman Tomat
Gambar 1. Tanaman Tomat
Sumber : Dispertan.bantenprov.go.id

Tomat ( Solanum lycopersicum ) termasuk sayuran buah yang paling digemari oleh setiap orang karena rasanya enak, segar, dan sedikit asam (Hamidi, 2017). Tanaman tomat berasal dari Benua Amerika, tersebar dari Amerika Tengah hingga Amerika Selatan (Shabira dkk., 2019). Tomat merupakan jenis tumbuhan diploid (Kouam et al., 2018). Tomat juga merupakan tanaman sayuran terbesar kedua yang ditanam dan dikonsumsi di seluruh dunia. Menurut database FAO, 181 juta ton tomat ditanam pada tahun 2018, yang menempati hampir 5 juta hektar lahan pertanian (Dariva et al., 2020). Buah tomat mengandung vitamin, mineral, dan zat antioksidan tingkat tinggi (karoten, terutama likopen) yang konsumsinya dikaitkan dengan penurunan kejadian penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker (Dariva et al., 2020).

Tanaman tomat pertama kali dibudidayakan oleh suku Aztec dan suku Inca pada tahun 700 SM. Penyebaran tomat di Indonesia dimulai dari Filipina dan negara-negara Asia lainnya pada abad ke-18. Komoditas tomat Indonesia ditingkat regional ASEAN memiliki prospek yang baik, menempati urutan kedua setelah Malaysia, sedangakan tahun 2016 produksi tomat Indonesia mencapai 883.233 ton, dari luas areal tanam sebesar 57.688 ha, dengan produktivitas 15,31 ton/ha. Produksi tomat di Aceh pada tahun 2015 mencapai 210.924 ton dengan luas areal tanam 946 ha dengan produktivitas 218,80 ha dan pada tahun 2016 produksi tanaman tomat meningkat sebesar 256.473 ton namun luar areal tanam menurun sebesar 811 dengan produktivitas 316,24 ton/ha. Tanaman tomat umumnya hidup di dataran tinggi, namun meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk konsumsi diperlukan perluasan areal tanam yaitu di dataran rendah (Shabira dkk., 2019).

Klasifikasi Tanaman Tomat


Nilai ekonomi tomat tinggi karena dalam menjalankan banyak peran penting kehidupan, tomat memiliki beberapa keunggulan. Peran-peran yang disinggung antara lain peran pemenuhan kebutuhan pangan, fungsi pemenuhan kebutuhan ekonomi, fungsi kesejahteraan dan fungsi estetika.
Tanaman tomat berdasarkan klasifikasinya termasuk :

Regnum : Spermatophyta (tanaman berbiji)
Divisio : Angiospermae (tanaman berbiji tertutup)
Classis : Dicotyledoneae (tumbuhan berbiji belah dan berkeping dua)
Ordo : Solanales (Tubiflorae)
Familia : Solanaceae
Genus : Lycopersicon
Species : Lycopersicon esculentum Mill / Solanum lycopersicum

Sumber : L. (Cahyono, 2008).

Morfologi Tanaman Tomat ( Solanum lycopersicum )



Gambar 2. Tangkai dan Bunga Tomat

Sumber : pxhere.com

Tomat mempunyai akar tunggang yang tumbuh menembus kedua tanah dan akar serabut yang tumbuh menyebar kearah samping. Daun tanaman tomat berbentuk oval bagian tepi daun bergerigi dan membentuk celah-celah yang menyirip serta agak melengkung ke dalam. Daun berwarna hijau dan merupakan daun majemuk ganjil yang berjumlah sekitar 3-6 cm. Di antara daun yang berukuran besar biasanya tumbuh 1-2 daun yang berukuran kecil (Hamidi, 2017). Bunga tomat merupakan bunga sempurna karena benang sari atau tepung sari dan kepala putik atau kepala benang sari terbentuk pada bunga yang sama. Bentuk buah tomat bervariasi, tergantung varietasnya ada yang berbentuk bulat, agak bulat, agak lonjong dan bulat telur . Ukuran buahnya juga bervariasi, yang paling kecil memiliki berat 8 gram dan yang besar memiliki berat 180 gram. Buah yang masih muda berwarna hijau muda, bila telah matang menjadi merah (Hamidi, 2017).

Syarat Tumbuh Tanaman Tomat ( Solanum lycopersicum )


Iklim

Tanaman tomat dapat tumbuh dengan baik pada musim kemarau dengan pengairan yang cukup. Kekeringan banyak mengakibatkan banyak bunga yang gugur, lebih-lebih bila disertai dengan angin kering. Sebaliknya pada musim hujan pertumbuhannya kurang baik karena kelembapan dan suhu yang tinggi akan menyebabkan timbulnya banyak penyakit. Tanaman tomat memerlukan sinar matahari yang cukup. Sinar matahari berintensitas yang tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten yang lebih tinggi. Suhu yang cocok untuk pertumbuhan dan pembungaan tomat adalah 20-30°C pada siang hari dan 10-20°C pada malam hari, sedangkan pembentukan buah buruk pada suhu di bawah 15°C dan di atas 30°C (Rubatzky dan Yamaguci, 1997 dalam Nofriati, 2018).

Tanah

Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah lempung, kadar keasamannya antara 5-6, banyak mengandung humus dan air yang cukup (Arrahma, R. 2010 dalam Nofriati, 2018). Tanah yang selalu tergenang air menjadi tanaman yang kerdil dan mati. Pada tanah yang kurang subur ditanami pupuk hijau misalnya orok-orok.

Penyakit Utama yang Menyerang Tanaman Tomat dan Cara Pengendaliannya


Tomat adalah salah satu spesies tanaman sayuran terpenting di dunia. Ada kebutuhan untuk mengembangkan varietas baru yang memiliki karakteristik hasil lebih tinggi dan tahan penyakit. Tiga penyakit utama tanaman tomat adalah penyakit busuk daun, penyakit alternaria dan virus (Culbreath et al., 2003; Bost, 2013 dalam Kouam et al., 2018).

  • Penyakit busuk daun, yang ditularkan oleh Phytophthora infestans , ditandai dengan lesi basah pada daun yang membesar dan membentuk tanda hitam kehijauan dan tidak teratur (Bost, 2013 dalam Kouam et al., 2018).

  • Penyakit alternaria disebabkan oleh Alternaria solani dengan gejala utama daun menguning dengan cincin konsentris mengering (Bost, 2013 dalam Kouam et al., 2018).

  • Tanaman yang terinfeksi virus tomat menunjukkan gejala daun bercak cincin, nekrosis daun dan klorosis (Culbreath et al ., 2003 dalam Kouam et al., 2018).

Penting memperkirakan keragaman genetik yang tersedia dalam koleksi tanaman untuk perbaikan genetik tanaman dan perlu dilakukan analisis keterkaitan antar karakter untuk membantu dalam memilih sifat penting yang berkontribusi terhadap hasil (Kouam et al., 2018).

Penyakit busuk daun, yang ditularkan oleh Phytophthora infestans dan penyakit alternaria yang disebabkan oleh Alternaria solani dapat dikendalikan dengan pengendalian kimiawi (Fungisida protektan Kocide 54WDG dan Fungisida sistemik Starmyl 25WP). Tanaman yang terinfeksi virus tomat dapat dikendalikan dengan pengendalian mekanik (tanaman dicabut dan dibakar). Selain pengendalian tersebut, beberapa teknik pengendalian lain yaitu pengendalian kimiawi (nematisida, pemberian CaCl2, dll), pengendalian bercocok tanam (rotasi tanaman dan pengairan), dimana biasanya dilakukan untuk mencegah tanaman tomat dari penyakit akar / bengkak akar (Hamidi, 2017).

Pemuliaan tanaman tomat tahan kekeringan


Perbaikan genetik tomat yang dibudidayakan untuk hasil dan kualitas biasanya dapat dicapai melalui pemilihan genotipe dengan kombinasi karakter yang diinginkan yang mungkin ada di alam atau melalui hibridisasi. Zamir (2001) dalam Kouam et al., (2018), menjelaskan bahwa plasma nutfah liar merupakan sumber gen yang sangat berharga untuk perbaikan tanaman. Varietas komersial dan eksotik yang dikembangkan melalui program pemuliaan mendapat banyak manfaat dari penggunaan tumbuhan asli dan liar. Misalnya ketahanan terhadap penyakit yang muncul pada beberapa varietas tomat modern yang berasal dari tumbuhan liar (Rick dan Chetelat, 1995 dalam Kouam et al., 2018).

Perubahan iklim telah menyebabkan berkurangnya ketersediaan air untuk pertanian di beberapa wilayah di dunia, yang membuatnya tidak praktis untuk menanam tanaman dengan kebutuhan air tinggi seperti tomat di beberapa lokasi. Oleh karena itu, dalam skenario ketidakamanan air saat ini, para peneliti mengembangkan kultivar dengan hasil tinggi dan tidak banyak membutuhkan air melalui pemuliaan tanaman sehingga dianggap sebagai strategi yang paling menjanjikan. Program pemuliaan tanaman didasarkan pada penemuan alel yang menguntungkan untuk sifat yang diminati dan mentransfer alel ini ke plasma nutfah elit. Pada tomat, ketahanan terhadap kekeringan diamati pada spesies liar, terutama Solanum pennellii Cor, karena asal dan evolusinya di lereng barat Andes di Peru tengah, wilayah yang sangat kering. S. pennellii menunjukkan beberapa mekanisme adaptif yang memastikan kelangsungan hidupnya di lingkungan yang gersang. Tanaman S. pennellii mampu mempertahankan hidrasi jaringan lebih lama dibandingkan tanaman S. lycopersicum setelah suspensi air (Dariva et al., 2020).

Tomat adalah tanaman dengan permintaan air tinggi yang menghasilkan buah berdaging yang dikonsumsi baik segar maupun olahan. Agar bisa dijual di pasar segar, buah tomat harus hadir dalam ukuran minimal (misalnya, di Brazil buah tomat harus berdiameter minimal 55 mm). Dikarenakan 93–95% komposisi buah tomat adalah air, produksi buah yang dapat dipasarkan tanpa irigasi di lokasi di mana curah hujan jarang dan tidak teratur tidak mungkin dilakukan. Oleh karena itu, pemuliaan tomat tahan kekeringan bertujuan untuk mengembangkan genotipe unggul, ukurannya memadai, yang membutuhkan pasokan air yang lebih rendah tetapi teratur sepanjang siklus pertumbuhan. Pengenalan ciri-ciri tahan kekeringan, yang terkait dengan hasil tinggi di bawah rezim air rendah, menjadi plasma nutfah elit diperlukan pada program pemuliaan tersebut. Solanum pennellii adalah spesies yang banyak dipelajari tentang ketahanan tomat terhadap kekeringan (Dariva et al., 2020).

Teknik Budidaya Tomat


Tanaman tomat ditanam secara intensif artinya bahwa tomat diusahakan secara sungguh-sungguh. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor resiko yang cukup besar dan iklim yang sudah tidak bisa dibaca secara pasti. Kriteria-kriteria teknis untuk seleksi benih tanaman tomat adalah memilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat biasanya sulit tumbuh.

Teknik Penyemaian Benih

Berdasarkan tempat persemaiannya, penyemaian benih tomat dibedakan menjadi dua jenis:

  1. Persemaian di Bedengan
    Mengolah lahan yang akan digunakan sebagai bedengan agar gembur dengan cara dicangkul sedalam 30 cm. Lebar bedengan 110-120 cm dan tinggi sekitar 30 cm. Bedengan dibuat secara membujur dari Utara ke Selatan. Tambahkan pupuk kandang halus yang telah matang ke dalam lahan bedengan, aduk secara merata. Untuk ukuran bedengan 1 x 2 m, pupuk kandang yang diberikan sebanyak 10-20 kg. Perbandingan antara tanah dan pupuk kandang yang biasa digunakan adalah 1 : 3 atau 1 : 4 (Hamidi, 2017).

  2. Persemaian di Kotak Semai
    Kotak semai terbuat dari kayu dengan panjang 50-60 cm, lebar 30-40 cm, dan tinggi 25-30 cm. Isi kotak semai dengan media berupa campuran tanah dan pupuk kandang setinggi 12 cm. Media semai tersebut kemudian dipadatkan sedikit demi sedikit. Basahi media semai sehari sebelum tanam (Hamidi, 2017).

Peluang bibit dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dapat terlihat dari penyapihan. Lubangi media dalam bumbunan dengan jari sedalam kurang lebih 1 cm. Tanam bibit, lalu timbun kembali dengan tanah, serta sedikit ditekan. Siram bibit dengan air secukupnya setiap pagi dan sore hari. Dalam proses adaptasi bibit, penyapihan memegang peranan penting. Dari penyapihan, kemungkinan bibit tumbuh dan matang dengan baik dapat dilihat. Wadah yang digunakan untuk penyapihan bisa terbuat dari daun pisang atau polybag berukuran 5 cm x 8 cm berbentuk bumbunan. Langkah-langkah penyapihan adalah (Hamidi, 2017):

  1. Dalam bentuk campuran tanah dan pupuk kandang halus, isi bumbunan dengan media tanam dengan perbandingan 1: 1.

  2. Petik benih dari persemaian yang akan disapih dan pindahkan ke kantong atau timbunan plastik.

  3. Dengan ujung jari Anda sedalam sekitar 1 cm, buat istirahat di media di tumpukan.

  4. Tanam benih, lalu isi kembali dengan tanah, dan beri beban pada benih.

  5. Tempatkan benih di bawah naungan tumpukan.

  6. Setiap pagi dan sore, sirami benih dengan air yang cukup.

  7. Penyapihan berlangsung selama 14-21 hari atau setinggi 15 cm setelah semai dan memiliki 4 atau 5 daun.

Teknik Penanaman


  1. Menentukan Pola Tanam
    Tomat Dimungkinkan untuk menanam 2 bentuk jarak tanam, yaitu sistem dirempel dan sistem bebas.

    • Sistem dirempel
      Pada sistem ini diberi jarak persegi atau segitiga sama sisi berukuran 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm. Cara menanam dengan metode ini menyarankan agar sedini mungkin pucuk yang sedang tumbuh diambil (dipotong) sedemikian rupa sehingga tanaman hanya memiliki satu batang tanpa cabang (Hamidi, 2017).

    • Sistem bebas
      80 cm x 100 cm; 80 cm x 80 cm; 80 cm x 100 cm; 100 cm x 100 cm adalah jarak antar sistem bebas. Persegi, persegi panjang, atau segitiga sama sisi dapat menjadi bentuk yang digunakan. Pada skema ini, cara tanam bertujuan agar tunas yang menjulang menjadi cabang yang lebar dan mudah berubah-ubah (Hamidi, 2017).

  2. Membuat lubang tanam
    Bedengan yang disiapkan untuk penanaman bibit harus disiram agar lembab sehari sebelumnya. Kemudian dibuat lubang tanam dengan diameter 7-8 cm dan kedalaman 15 cm pada petak yang telah diisi mulsa plastik (Hamidi, 2017).

  3. Proses Penanaman
    Menggunakan mulsa plastik hitam dan perak jika penanaman dilakukan pada musim kemarau. Letakkan atap plastik bening (tembus pandang) di atas bedengan yang akan ditanam terlebih dahulu jika tomat ditanam pada musim hujan (Hamidi, 2017).

Penggunaan pupuk kimia belum tentu memberikan kualitas dan kuantitas buah yang optimal. Pupuk kimia seperti urea juga menyebabkan pencemaran tanah dan penurunan kesuburan tanah jika digunakan dalam jumlah banyak. Namun, beberapa tanaman hortikultura seperti tomat membutuhkan urea dalam jumlah tinggi agar tumbuh dengan baik. Untuk menghadapi masalah tersebut, perlu dicari pupuk alternatif untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan meningkatkan kualitas dan kuantitas buah. Makroalga (rumput laut) coklat merupakan salah satu sumber daya alam pulau Lombok yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa makroalga coklat mengandung beberapa jenis senyawa bioaktif termasuk hormon pertumbuhan dan beberapa jenis nutrien makro dan mikro seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, dan Na. Makroalga coklat juga dilaporkan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kuantitas buah tanaman. Ekstrak rumput laut coklat khususnya Turbinaria murayana efektif meningkatkan kualitas pasca panen dan umur simpan buah tomat yang meliputi jumlah buah per tanaman, rata-rata bobot segar, tekstur dan umur simpan selama 7 hari penyimpanan (Widyastuti dkk, 2019).

Penanganan Pascapanen Tomat


Tomat dapat mengalami kerugian setelah dipanen, sebagaimana komoditas nabati lainnya. Kerusakan ini terutama disebabkan oleh anomali fisiologis, hama dan penyakit, dan kerusakan mekanis. Pada penanganan pasca panen, risiko kehilangan kualitas sayuran termasuk tomat berkisar 50% (FAO, 2013 dalam Nofriati, 2018). Buah akan kehilangan sumber airnya dari pohon induk setelah dipungut, sedangkan proses respirasi berlangsung dengan kadar air yang tinggi berkisar 75-95%. Tomat adalah buah dengan pola respirasi iklim, pola respirasi ditandai dengan peningkatan laju respirasi secara bertahap dan perkembangan etilen seiring dengan pematangan (Winarno dan Wirakartakusumah, 1981 dalam Nofriati, 2018). Tren iklim ini ditujukan untuk tomat dan dapat ditentukan jika petani memanen tomat setelah matang sepenuhnya (warna merah 90-100%) bahwa siklus segar tomat sangat pendek, rentan terhadap kerugian fisiologis setelah pengolahan, dan kerusakan mekanis selama periode transportasi lapangan ke pasar.

Tomat dapat dipanen bila tanaman berumur 75 hari setelah tanam atau setelah benih berumur 3 bulan. Saat cuaca cerah, waktu panen lebih baik dilakukan dengan memotong tangkai buah sambil memegang ujung buah di antara tangan anda. Tomat yang digunakan harus segar karena untuk produksi, dilakukan dengan memetik tomat yang sudah matang dan berwarna merah saat masih di dalam pohon. Jika ditujukan untuk pemasaran jarak jauh, paling baik tomat dipetik saat buah masih segar atau masih dalam keadaan hijau, yaitu sekitar 3-7 hari sebelum tomat menjadi merah, sedangkan untuk tujuan pemasaran yang dekat, tomat dapat dipetik saat tomat berwarna kekuningan (Pantastico, 1989 dalam Nofriati, 2018). Satu per satu tomat dipanen dan dipilih buah yang siap dipetik. Dari warna kulit buah, ukuran buah, keadaan daun dan batang tanaman merambat, dapat dilihat syarat tomat masak yang optimal untuk dipetik yaitu:

  1. Perubahan warna kulit buah dari hijau menjadi kekuning-kekuningan.

  2. Bagian tepi daun tua telah mengering.

  3. Akar tanaman menguning / mengering.

Pemanenan dapat dilakukan dengan alat panen (pisau) agar tomat tidak rusak. Panen tomat yang benar dapat meminimalkan penurunan kualitas hasil panen tomat sebesar 10% (Yanti dkk., 2016 dalam Nofriati, 2018).

Pemanenan dan pascapanen dalam sistem agribisnis diumumkan oleh FAO pada tahun 1979 sebagai masalah besar kedua (Second Generation Problem), karena adanya kehilangan hasil yang tinggi baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam proses penyediaan pangan. Hasil studi atau sampel menunjukkan bahwa persentase kerugian pada produk hortikultura segar adalah 40% sampai 50% (Cahyono, 2002 dalam Nofriati, 2018). Hal ini diperkuat dengan sifat biokimia dari produk hortikultura segar yang mudah rusak. Oleh karena itu, dari panen hingga pasca panen, barang-barang ini perlu penanganan yang lebih baik. Karakteristik produk itu sendiri, informasi, pengetahuan dan pemahaman pelanggan sangat dipengaruhi oleh praktek penanganan yang baik untuk panen dan pasca panen atau good handling practice (GHP) (produsen atau petani).

Secara umum tahapan pascapanen buah tomat adalah sebagai berikut:

  1. Sortasi dan Grading
    Sortasi tomat bertujuan untuk memiliah atau menyeleksi tomat yang baik dari yang sudah layu (busuk, berlubang karena serangga, dan lain-lain) atau sesuai permintaan pasar. Tujuan grading atau pengklasifikasian adalah untuk mengelompokkan ukuran tomat berdasarkan grade. Ada banyak kelompok kelas atau ukuran, termasuk kelas satu (kelas A), kelas dua (B) dan kelas tiga ©. Setiap tomat dipetik / ditempatkan ke dalam kotak atau toples terpisah sesuai dengan kelasnya. Harga tomat akan ditentukan oleh pengelasan.

3
Gambar 3. Sortasi dan Grading

Sumber : ppg.spada.ristekdikti.go.id

  1. Pencucian dan Pembersihan
    Pencucian dimaksudkan untuk membersihkan kotoran seperti tanah, serbuk sari, dan residu pestisida yang menempel pada permukaan kulit buah tomat. Asalkan cairan pembersih industri kualitas makanan yang umum digunakan dan tersedia, mencuci tomat dilakukan dengan merendam tomat dalam air di baskom. Setelah direndam, untuk menghilangkan cairan pembersih, tomat dicuci kembali dengan air bersih karena cairan pembersihnya cukup panas sehingga tomat akan cepat busuk jika tidak dicuci dengan benar.

  2. Pengemasan dan Pelabelan
    Pengemasan ditujukan untuk melindungi tomat dari kerusakan mekanis, proses pengiriman, dan juga dapat memasukkan nilai tambah estetika yang mempengaruhi harga. Kemasan tomat yang sehat harus mampu melindungi tomat, atau barang lainnya, dari pengaruh lingkungan (sinar matahari dan kelembaban). Kemasan yang dapat digunakan adalah kemasan styrofoam, kemasan mika, kemasan plastik polietilen (PE) dan plastik saran / film kemasan tomat styrofoam dan mika (polipropilen) selama 8 hari, sedangkan pada suhu ruangan tahan selama 7 hari tanpa kemasan plastik (Lila, 2015 dalam Nofriati, 2018).

    Tomat harus dibungkus dengan kertas koran atau plastik berlubang dan disimpan pada suhu 11-13oC selama penyimpanan rumah tangga di lemari es. Dengan demikian tomat akan bertahan hingga dua minggu (Risni, 2015 dalam Nofriati, 2018). Pelabelan membantu memasukkan detail label. Nama produsen atau tandanya bisa menjadi label yang digunakan dalam kemasan tomat. Bahan lain, seperti keunggulan produk atau spesifikasi produk, juga dapat dicantumkan pada label.

  3. Penyimpanan
    Nilai ekonomis produk hortikultura bergantung pada kesegaran produk dan daya simpannya yang tahan lama. Kemampuan penyimpanan yang tahan lama ini tergantung pada bagaimana kita menyimpan buah-buahan dengan lingkungan yang sesuai dan juga bagaimana kita memasok tanaman dengan dosis nutrisi yang tepat. Penyimpanan biasa dilakukan sebelum produk didistribusikan ke pasar seluruh maupun sebagian dengan alasan tertentu. Tercapainya tujuan untuk menjaga kualitas sayuran tetap segar dan mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan, petani sebaiknya tidak menyimpan tomat dalam waktu lama.

    Secara umum ada tiga jenis penyimpanan sayuran, khususnya tomat, yaitu cold storage (suhu rendah), controlled atmosphere storage (CAS), dan adjusted atmosphere storage (MAS). Dalam upaya mempertahankan kesegaran dan memperpanjang umur simpan produk, teknik pendinginan atau teknik penyimpanan suhu rendah direkomendasikan sebagai teknik terbaik. Kader (1992) dalam Nofriati (2018), mencatat bahwa umur simpan dapat diperpanjang hingga tiga kali lebih lama dengan pengawetan pada suhu optimal. Sistem pendingin berupa ruangan pendingin atau box ice merupakan salah satu unit pendingin yang mudah diaplikasikan.

    Untuk mencegah mekanisme respirasi dan pertumbuhan mikroorganisme, suhu cairan pendingin perlu dijaga pada tingkat yang optimal untuk produk tertentu. Penurunan aroma, rasa manis dan rasa tomat yang rendah terlihat pada buah tomat yang disimpan pada suhu 5oC selama 4 hari. Dengan aplikasi kertas parut / koran sebagai peredam, penyimpanan yang sehat untuk tomat matang pada suhu 15oC.

Pengangkutan


Tujuan pengangkutan dalam kegiatan pasca panen adalah untuk mengangkut tomat dari kebun ke gudang penyimpanan atau pusat pemasaran, seperti pasar grosir, pasar lokal atau supermarket. Penting untuk memahami cara pengorganisasian komoditas atau pembungkusan pada saat pengiriman. Untuk mengurangi risiko kerusakan, hindari menumpuk produk atau mencampur produk selama pengangkutan. Saat menangani barang yang mudah rusak seperti tomat, pengangkutan harus cepat dan aman atau konsisten. Saat suhu lingkungan dingin, perjalanan bisa lebih aman pada malam atau dini hari (Utama dan Nyoman, 2013 dalam Nofriati, 2018).

REFERENSI

Cahyono, I. B. (2008). Tomat, Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen . Kanisius.

Dariva, F. D., Copati, M. G. F., Pessoa, H. P., Alves, F. M., de Oliveira Dias, F., de Toledo Picoli, E. A., … & Nick, C. (2020). Evaluation of anatomical and physiological traits of Solanum pennellii Cor. associated with plant yield in tomato plants under water-limited conditions. Scientific reports . 10 (1): 1-13.

Hamidi, A. (2017). Budidaya Tanaman Tomat. Aceh: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Aceh .

Kouam, E. B., Dongmo, J. R., & Djeugap, J. F. (2018). Exploring morphological variation in tomato (Solanum lycopersicum): A combined study of disease resistance, genetic divergence and association of characters. Agricultura Tropica et Subtropica . 51 (2): 71-82.

Nofriati, D. (2018). Penanganan Pascapanen Tomat.

Shabira, S. P., Hereri, A. I., & Kesumawati, E. (2019). Identifikasi Karakteristik Morfologi dan Hasil Beberapa Jenis Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum) di Dataran Rendah. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian . 4 (2): 51-60.

Widyastuti, S., Geraldine, B. A., Sunarwidhi, A. L., Ariyana, M. D., Prasedya, E. S., & Sunarpi, H. (2019). The use of brown algae extract to extend shelf life and improve post harvest quality of tomato fruit. In AIP Conference Proceedings (Vol. 2199, No. 1, p. 070008). AIP Publishing LLC.

1 Like