Apa yang anda ketahui tentang Tanaman teh?

Tanaman teh

Tanaman teh merupakan keluarga keluarga Camellia, dimana yang paling umum adalah Camelia sinensis

Tanaman teh adalah salah satu tanaman subtropis yang paling kuat. Tanaman ini selalu dipangkas untuk membentuk semak rendah dan untuk mendorong produksi daun serta membantu pemetikan. Negara penghasil utama teh adalah India, Bangladesh, Sri Lanka, Cina, Indonesia dan Jepang.

Daun yang dikeringkan biasanya digunakan sebagai munuman teh

Tanaman Teh

Teh ( Camellia sinensis (L.) Kuntze), ialah tanaman perenial atau tanaman tahunan yang merupakan salah satu produk agribisnis Indonesia yang telah lama dibudidayakan dan dikonsumsi sebagai salah satu minuman penyegar secara global. Teh (species Camellia ) diyakini berasal dari daerah perbatasan Assam – Myanmar di barat hingga Yunnan dan Sichuan di Cina Timur, serta dari selatan melewati Thailand hingga Vietnam (Kingdom-Ward, 1950; Mair dan Hoh, 2009; Carr, 2018). Genus Camellia berasal dari hutan dataran tinggi di Asia Tenggara, dimana tanaman teh dapat tumbuh menjadi pohon setinggi 9 – 12 m, atau semak bertangkai banyak. Teh dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan curah hujan yang cukup, drainase yang baik, dan tanah yang sedikit asam sedangkan, di Indonesia teh dapat tumbuh baik dengan ketinggian antara 600 – 2000 m dpl, tanah andosol, dengan iklim tropis (PTPN VIII, 2017).

Teh diklasifikasikan ke dalam Kingdom: Plantae; Sub-kingdom: Tracheobionta; Superdivisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub-kelas: Dilleniidae; Ordo: Theales; Famili: Theaceae; Genus: Camellia ; Species: Camellia sinensis (L.) Kuntze (USDA, 2020). Secara umum tanaman teh yang dibudidayakan secara komersial terdiri atas dua varietas utama, yaitu Camellia sinensis (L.) Kuntze var. assamica (J. Masters) Kitam dan Camellia sinensis (L.) Kuntze var. sinensis (Rohdiana, 2015; USDA, 2020).

Morfologi Tanaman Teh

Tanaman teh merupakan tanaman yang biasanya dibudidayakan untuk dipanen daunnya. Teh memiliki perakaran tunggang dengan berbatang tunggal atau jamak, mahkota bunga berwarna putih terdiri atas lima hingga tujuh kelopak bunga ( petal ) yang berada disekitar putik dan benang sari. Bentuk daun ovate, oblong, elliptic, lanceolate (IPGRI, 1997). Menurut Kartasapoetra (1992), daun teh memiliki morfologi sebagai berikut:

  1. Helai daun cukup tebal dan kaku dengan menempel pada tangkai pendek, berbentuk sudip melebar hingga memanjang dengan tidak melebihi 5 cm.
  2. Bagian atas permukaan daun mengkilat serta pada permukaan bawah daun muda terdapat rambut apabila tua maka akan menjadi licin.
  3. Tepi daun bergerigi dan menggulung ke bawah, berkelenjar khas dan terbenam.


(Sumber: Driem, 1957)

Di Indonesia teh varietas C. sinensis var. sinensis dicirikan dengan tipe semak, berdaun kecil, dan toleran terhadap cuaca dingin sedangkan, C. sinensis var. assamica dicirikan dengan tipe pepohonan yang tinggi, berdaun lebar, dan kurang toleran terhadap cuaca dingin (Udarno dan Martono, 2013; Rosdiana, 2015).

Budidaya Tanaman Teh

Syarat tumbuh tanaman teh yaitu diperlukan curah hujan 2.000 – 2.500 mm/tahun, dengan jumlah hujan pada musim kemarau rata-rata tidak kurang dari 100 mm. Suhu yang diperlukan berkisar antara 13 - 15°C dengan kelembaban relatif tidak kurang dari 70%, ketinggian tempat 400 – 1.200 m dpl, cocok ditanam pada tanah dengan struktur remah, kadar B.O cukup, licin apabila dipirid, dengan pH 4.5 – 6.0 (Effendi et al . 2010; Effendi et al . 2012). Dalam praktek budidaya tanaman teh yang baik ( Good Agricultural Practices ) upaya yang perlu dilakukan ialah mengatasi kekeringan dan intensitas cahaya matahari. Penggunaan pohon pelindung dapat mengatasi kekeringan dan mempertahankan kelembaban, serta mengurangi terpapar sinar matahari secara langsung (Kartawijaya, 1995). Sudut elevasi yang tepat juga menjadi penentu penerimaan intensitas cahaya matahari yang cukup bagi tanaman teh. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan untuk menjaga produktivitas tanaman teh.

Teknologi Produksi Tanaman Teh

Tanaman teh dapat diperbanyak secara generatif dengan biji atau secara vegetatif dengan stek.

A. Perbanyakan menggunakan Bahan Tanaman Biji
Biji teh yang telah masak kurang lebih 8 bulan setelah pembungaan dengan ciri-ciri warna kulit hitam mengkilat, biji penuh berisi, berat jenis lebih berat dari air, dan tidak menunjukkan abnormalitas. Persemaian biji dilakukan di tanah atau dengan polybag. Pengecambahan dilakukan dengan menghamparkan biji di hamparan pasir yang dicampur fungisida setebal 5 cm dan ditutup kembali. Setelah berkecambah, penanaman dilakukan di polybag setelah bibit berumur 2 tahun makan dilakukan pemindahan bibit ke lapangan.

B. Perbanyakan menggunakan Bahan Tanaman Asal Stek
Ranting stek yang berumur 4 bulan diambil dan dipotong setinggi 15 cm dari bidang pangkasan. Stek diambil sepanjang satu ruas dan memiliki satu helai daun. Stek yang digunakan ialah bagian tengah yang berwarna hijau tua. Persemaian dilakukan ditempat terbuka agar mendapat cahaya matahari yang maksimal. Bedengan diupayakan memiliki lebar satu meter dengan panjang 15 meter. Jarak tanam yang optimal yaitu 60 cm sedangkan, antar bedengan dibuat parit untuk irigasi sedalam 10 cm. Penanaman dilakukan di dalam polybag dengan tangkai stek dicelupkan pada larutan fungisida selama 1 – 2 menit.

Penanaman teh dapat dilaksanakan dengan dua cara: persiapan lahan penanaman baru (new planting) dan persiapan lahan penanaman ulang (re-planting). Sebelum ditanami dilakukan penetapan jarak tanam untuk tanaman teh. Jarak tanam dipengaruhi berbagai faktor, untuk lahan datar digunakan jarak tanam biasa, tetapi untuk daerah yang miring, harus digunakan sistem kontur. Pemupukan dasar yang dianjurkan terdiri atas 12,5 g Urea, 5 g TSP, dan 5 g KCl per lubang tanam. Untuk memperoleh perdu yang produktif, tanaman teh perlu dibentuk bidang petik dan dilakukan pemangkasan agar tanaman memiliki bentuk perdu dan percabangan yang ideal dan memiliki bidang petik yang luas, sehingga menghasilkan pucuk sebanyak-banyaknya. Penanaman tanaman pelindung untuk tanaman teh terdiri atas:

  1. Pohon pelindung sementara, dilakukan setelah penanaman teh selesai. Bertujuan untuk menambah kesuburan tanah. Contoh: Crotalaria sp. dan Tephrosia sp.
  2. Pohon pelindung tetap, ditanam satu tahun sebelum penanaman teh, sehingga pada saat tanaman teh berumur 2 – 3 tahun dapat berfungsi sebagai pelindung dengan baik. Diutamakan untuk daerah dengan ketinggian < 1.000 m dpl. Dianjurkan dari jenis Leguminoceae. Contoh: Albizia falcata, Leucaena pulverulenta, Acacia decurens, Gliricidia maculata, dan lain-lain.
    Pengolahan pasca panen tanaman teh yaitu penyediaan pucuk daun segar, pelayuan, penggulungan, penggilingan, sortasi basah, fermentasi, pengeringan, sortasi kering, dan pengemasan (Effendi et al., 2010).

Proses Pengolahan Teh

Berdasarkan proses pengolahannya teh dapat dibedakan menjadi: teh tanpa fermentasi berupa teh hijau dan teh putih; teh semi fermentasi ( partially fermented ) yaitu teh merah dan teh oolong, serta teh fermentasi yaitu teh hitam. Berikut penanganan pasca panen tanaman teh.

  1. Teh Hijau
    Dilakukan tanpa proses fermentasi, dilakukan proses pelayuan dengan mesin rotary panner atau steamer. Daun teh yang sudah layu digulung dan dikeringkan sampai kadar air tertentu.
  2. Teh Putih
    Tanpa proses fermentasi, proses pengolahan paling sederhana (pelayuan dan pengeringan). Pelayuan memanfaatkan sinar matahari dan dikeringkan menggunakan mesin pengering. Pucuk teh menjadi teh dengan mutu silver needle sedangkan, dua daun dibawahnya menjadi white poeny.

image
(Sumber: PTPN VIII, 2017)

  1. Teh Merah
    Proses semi fermentasi dengan menyimpan daun teh pada tangki atau tempat penyimpanan sehingga akan terfermentasi secara lambat. Pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan penyinaran matahari.
  2. Teh Oolong
    Dilakukan proses semi fermentasi dengan melayukan daun menggunakan sinar matahari sambil digulung halus. Setelah cukup, dilakukan pengeringan.
  3. Teh Hitam
    Dilakukan proses fermentasi. Secara umum, pengolahan teh hitam di Indonesia dapat dikategorikan dalam dua sistem, yaitu sistem Orthodox dan sistem baru seperti CTC (Crushing-Tearing-Curling). Pada sistem Orthodox, daun teh dilayukan selama 14 – 18 jam, setelahnya digulung dan digiling kurang lebih selama 1 jam. Sementara itu, pada sistem CTC, waktu pelayuan lebih singkat yaitu 8 – 11 jam diikuti proses penggilingan kuat. Selanjutnya, proses pengeringan dan teh kemudian disortasi dan di-grading untuk menghasilkan mutu teh tertentu.

image
(Sumber: PTPN VIII, 2017)

Hama dan Penyakit Tanaman Teh

Hama penting yang menyerang tanaman teh ialah kepik penghisap daun teh ( Helopeltis antonii ), hama ini menyerang pucuk daun muda tanaman teh. Ulat penggulung daun ( Homona coffearia ), menggulung daun tanaman teh dengan benang sutra sehingga daun yang terserang tidak dapat dipetik. Ulat penggulung pucuk ( Cydia leucostoma ), menggulung pucuk tanaman teh dengan mengikat daun pucuk memakai benang-benang halus. Penyakit penting yang menyerang tanaman teh salah satunya ialah cacar daun teh ( Exobasidium vexans ), disebabkan oleh jamur E. vexans yang umumnya menyerang pucuk teh sehingga sangat merugikan petani teh.

image
(Sumber: Astuti dan Fajar, 2013)

Pengendalian penyakit cacar daun yaitu dengan penggunaan klon tahan berupa GMB 1-11, pemetikan dengan daur pendek (7 – 8 hari), pemberian mulsa atau seresah pada kebun teh, penanaman pohon pelindung, budidaya tanaman yang baik berupa pemupukan K2O diatas dosis normal 10 – 20%, memangkas tanaman yang terserang, penggunaan pestisida nabati, dan pestisida dengan bahan aktif mankozeb, tembaga hidroksida, dan triadimefon secara bijaksana (Astuti dan Fajar, 2013).

Referensi

Astuti, Y. dan H. Fajar. 2013. Buku Pedoman Pengenalan dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Teh, Pala dan Cengkeh. Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.

Carr, M. 2018. Advances in Tea Agronomy. New York: Cambridge University Press. ISBN: 978-1-1-7-09581-6.

Effendi, D.S., M. Syakir, M. Yusron, dan R.S. Hartati. 2012. Budidaya dan Pasca Panen Teh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Kementerian Pertanian.

Effendi, D.S., M. Syakir, M. Yusron, dan Wiratno. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Teh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Kementerian Pertanian.

IPGRI. 1997. Descriptors for Tea ( Camellia sinensis ). International Plant Genetic Resources Institute. Rome, Italy. ISBN: 92-9043-244-6.

Kartasapoetra, G. 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Kartawijaya, W.S. 1995. Pengaruh iklim pada pertumbuhan tanaman teh. WARTA Teh dan Kina. 6 (1) : 29 – 37.

Kingdom-Ward, F. 1950. Does wild tea exist?. Nature. 165: 297 – 299.

Mair, V.H. and E. Hoh. 2009. The True History of Tea. London: Thames and Hudson.

PTPN VIII. 2017. Products Catalogue. PT. Perkebunan Nusantara VIII. Bandung.

Rohdiana, D. 2015. Teh: Proses, Karakteristik & Komponen Fungsionalnya. Food Review Indonesia. 10 (8) : 34 – 37.

Udarno, M.L. dan B. Martono. 2013. Teh merah ( Camellia sinensis ) hasil eksplorasi di Kabupaten Wonosobo. WARTA Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. 19 (1): 1 – 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Bogor. ISSN: 0853-8204.

USDA. 2020. Classification for Kingdom Plantae to Species Camellia sinensis (L.) Kuntze. United States Department of Agriculture. Natural Resources Conservation Service. Available online: https://plants.usda.gov/java/reference?symbol=CASI16.