© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang anda ketahui tentang puasa Asyura ?

Puasa Asyura

Apa yang anda ketahui tentang puasa Asyura ?

Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharrom. Dia adalah hari yang mulia. Menyimpan sejarah yang mendalam, tak bisa dilupakan.

Ibnu Abbas berkata:

Nabi tiba di Madinah dan dia mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa A’syuro. Nabi bertanya: “Puasa apa ini?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari yang baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukurnya kepada Allah. Dan kami-pun ikut berpuasa. Nabi berkata: “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa.

Nabi dalam berpuasa ‘Asyura mengalami empat fase :

  • Fase pertama: Beliau berpuasa di Mekkah dan tidak memerintahkan manusia untuk berpuasa.

    Aisyah menuturkan: “Dahulu orang Quraisy berpuasa A’syuro pada masa jahiliyyah. Dan Nabi-pun berpuasa ‘Asyura pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia juga untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhon telah diwajibkan, beliau berkata: “Bagi yang hendak puasa silakan, bagi yang tidak puasa, juga tidak mengapa”.

  • Fase kedua: Tatkala beliau datang di Madinah dan mengetahui bahwa orang Yahudi puasa ‘Asyura, beliau juga berpuasa dan memerintahkan manusia agar puasa. Sebagaimana keterangan Ibnu Abbas di muka. Bahkan Rasulullah menguatkan perintahnya dan sangat menganjurkan sekali, sampai-sampai para sahabat melatih anak-anak mereka untuk puasa ‘Asyura.

  • Fase ketiga: Setelah diturunkannya kewajiban puasa Ramadhon, beliau tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa A’syuro, dan juga tidak melarang, dan membiarkan perkaranya menjadi sunnah sebagaimana hadits Aisyah yang telah lalu.

  • Fase keempat: Pada akhir hayatnya, Nabi bertekad untuk tidak hanya puasa pada hari A’syuro saja, namun juga menyertakan hari tanggal 9 A’syuro agar berbeda dengan puasanya orang Yahudi.

    Ibnu Abbas berkata: “Ketika Nabi puasa A’syuro dan beliau juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashoro!! Maka Rasululloh berkata: “Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga”. Ibnu Abbas berkata: “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu”.

Puasa Asyura adalah puasa sunnat yang dilakukan pada tanggal 10 Muharam (lebih baik bila dilakukan selama dua hari, yaitu 9 dan 10 Muharam). Bila memilih dua hari, maka seharusnya kita berpuasa sejak tanggal 9 Muharam. Dalam suatu riwayat, Rasulullah Saw. pernah bercita-cita untuk melakukan puasa Asyura sejak tanggal 9 Muharam.

Adapun, asal mula dianjurkannya melakukan puasa Asyura ini adalah ketika terjadi kejadian seperti tertulis didalam hadis berikut :

“Dari Ibnu 'Abbas ra berkata: "Ketika Nabi Muhammad Saw telah sampai dan tinggal di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari ‘Asyura’ lalu Beliau bertanya: “Kenapa kalian mengerjakan ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari kemenangan, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Isra’il dari musuh mereka lalu Nabi Musa As menjadikannya sebagai hari berpuasa”. Maka Beliau bersabda: “Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa”. Lalu Beliau memerintahkan untuk berpuasa.” (HR. Bukhari)

Pada bulan Muharram, ada beberapa hari yang sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah, diantaranya adalah puasa Asyura, yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Secara bahasa, asyura berasal dari kata asyara, yang artinya sepuluh. Sepuluh menunjukkan tanggal 10 pada bulan Muharram. Sedangkan secara istilah, puasa Asyura adalah puasa yang dikerjakan pada tanggal 10 bulan Muharram (Solikhin Nur, 2015). Sedangkan Tasu‟a adalah hari kesembilan daripadanya (Qardhawi, 2016).

Menjalankan puasa Asyura sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Orang yang menjalankan puasa sunnah ini akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Rasulullah Saw, menyebut bahwa bulan Asyura adalah bulan Allah. Hal tersebut berkaitan dengan berbagai macam latar belakang beberapa peristiwa yang terjadi di masa lalu, yang bertepatan dengan tanggal 10 Muharram. Rasulullah Saw bersabda (Solikhin, 2015).

Artinya: “ Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram). Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Diterima dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda (Sabiq, 1998) Artinya :

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu.” (HR.Baihaqi dalam Asy Sya‟ib, dan oleh Ibnu abdil Bar)

Puasa Asyura juga mempunyai fadhilah yakni puasa ini diyakini dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya. Rasulullah Saw, bersabda :

Artinya : “Puasa Asyura dapat menghapus dosa – dosa satu tahun yang lalu.” (HR. Al-Jamaa‟ah kecuali Bukhari).

Puasa Asyura dapat mendekatkan diri kita kepada Allah Swt serta memohon kepada Allah Swt agar dosa – dosa kita satu tahun yang lalu diampuni (Solikhin, 2015)