Apa yang anda ketahui tentang Perang Bubat antara Majapahit dan Sunda ?

kerajaan_jawa

(Simpton) #1

perang Bubat

Salah satu peristiwa yang membuat hubungan antara kerajaan Jawa dan kerajaan Sunda tidak harmonis adalah karena adanya peristiwa perang Bubat. Apa yang anda ketahui tentang Perang Bubat antara Majapahit dan Sunda ?


(Zul Afrianes Pratama) #2

Perang bubat adalah sebuah perang tidak seimbang antara Kerajaan majapahit dengan kerajaan pajajaran (Sunda) yang terjadi sekitar 1360 masehi pada abad 14. Sejarah perang bubat mencatat bahwa asal mula perang bubat sebenarnya merupakan niat baik Hayam Wuruk untuk mempererat hubungan diplomatik antara kerajaan Sunda (pajajaran) dengan cara menikahi putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari kerajaan pajajaran. Bukan hanya itu, niat pernikahan Hayam wuruk juga untuk mempererat tali saudara antara kedua kerajaan tersebut, mengingat Raden Wijaya (Pendiri Majapahit) juga seorang turunan dari Sunda.

Rencananya akad nikah akan berlangsung di kerajaan Majapahit. Pihak dari kerajaan Sunda sebenarnya tidak setuju dengan akad nikah tersebut karena bertentangan dengan tradisi Nusantara yang tidak melazimi mempelai wanita datang kepada pihak pengantin laki laki. Namun pada akhirnya pihak dari kerajaan Sunda memutuskan untuk pergi ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan dengan Hayam Wuruk.

Setelah terjadinya perang bubat terdapat simpang siur bahwa niat pernikahan tersebut dimaksudkan untuk memperluar daerah kekuasaan kerajaan majapahit.

Kesalahpahaman


image

Ketika itu patih Gajah mada masih terikat dengan sumpah palapa yang dibuatnya sebelum Hayam Wuruk menjabat sebagai raja Majapahit, oleh karena itu timbul niat untuk menguasai kerajaan sunda karena seluruh kerajaan di Nusantara sudah ditaklukkan, hanya kerajaan Sunda yang belum ditaklukkan.

Dengan niat tersebut, patih gajah mada menghasut Hayam wuruk agar kedatangan iring-iringan dari sunda adalah bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda pada kerajaan Majapahit dan bentuk pengakuan Superioritas Majapahit atas sunda di Nusantara.

Setelah itu terjadi sebuah Insiden dimana Gajah Mada di maki-maki oleh pihak dari kerajaan Sunda yang sudah datang malah hanya dianggap sebagai bentuk penyerahan diri dan untuk mengakui superioritas mahapatih Gajah mada, bukan karena undangan yang telah dibuat sebelumnya.

Namun ketika hayam wuruk belum mengambil keputusan atas Insiden ini, Gajah mada sudah mengambil tindakan untuk menyerang rombongan iring-iringan yang membawa beberapa keluarga kerajaan dan beberapa menteri.

Perang terjadi antara pasukan Gajah mada dengan pasukan pengawal yang berjumlah tidak banyak dari kerajaan Sunda, sehingga terjadi perang tidak seimbang dan akhirnya menang mutlak oleh pasukan yang dikerahkan Gajah Mada.

Tragedi Perang bubat menyebabkan gugurnya beberapa tokoh kerajaan Sunda Seperti Linggabuana (Raja Pajajaran), Para Menteri, pejabat, dan beberapa keluarga kerajaan Sunda.

Dalam Tragedi perang Bubat, sang calon pengantin Dyah Pitaloka melakukan Ritual Bela pati, yaitu sebuah ritual bunuh diri untuk menjaga kehormatan diri sendiri maupun untuk kerajaannya dari pada diperbudak Lawannya.


(mandala aditya) #3

Menurut Kakawin Nagarakertagama, daerah kekuasaan Majapahit meliputi : Sumatera, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua dan sebagian kepulauan Filipina. Seluruh kekuasaan tersebut dinamakan dengan Nusantara, yang merupakan puncak kejayaan Kemaharajaan Majapahit.

Berdasarkan Kakawin Nagarakertagama tersebut, Kerajaan Sunda tidak termasuk didalamnya, mengapa demikian ? Beberapa ahli sejarah memberikan alasan, antara lain :

  • Pertama, Tidak ada alasan untuk berperang melawan Kerajaan Sunda, hal tersebut berbeda dengan kerajaan Bali yang disebut oleh Mpu Prapanca sebagai berikut,“ikan bali natahanya dussila niccha” (Raja Bali berbuat kasar, kejam dan nista), sehingga perlu diperangi, dan akhirnya kerajaan Bali mengakui kekuasaan Majapahit.

  • Kedua, Kerajaan Sunda merupakan wilayah yang patut dihormati sehingga tidak layak untuk ditaklukan dengan jalan militer.

Atas dasar tersebut, Gajah Mada menjadi segan untuk melakukan serangan ke wilayah Kerajaan Sunda. Selain itu, hubungan politik antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda baik-baik saja, dengan mengakui bahwa raja Majapahit merupakan penguasa yang harus dipertuannya.

Apakah perang Bubat adalah kisah nyata ?

Sumarjo (2013) menerima Perang Bubat sebagai peristiwa sejarah karena ada tiga sumber tua yang menceritakan adanya peristiwa tersebut, yaitu Kidung Sunda, Pararaton yang berbahasa Jawa kuno, dan Parahiyangan yang berbahasa Sunda kuno. Akhir-akhir ini muncul naskah Pangeran Wangsakarta dari Cirebon yang berbahasa Jawa. Menilik sumber tua yang berasal dari dua masyarakat yang terlibat dalam Perang Bubat (Sunda dan Majapahit) kemungkinan besar tidak saling berhubungan, dapat ditafsirkan bahwa Perang Bubat adalah peristiwa sejarah.

Menurut Aminuddin Kasdi, sejarawan Universitas Negeri Surabaya, menyatakan bahwa sebagai sumber sejarah, Kidung Sunda, merupakan sumber sekunder, bahkan tersier. Berbagai fakta sejarah di dalamnya tidak sesuai dengan sumber-sumber lain yang lebih kredibel seperti prasasti. Perlu diperhatikan pula bahwa pada abad ke-19, kurun waktu penulisan Kidung Sunda, merupakan masa munculnya beberapa karya sastra kontroversial.

Edi Sedyawati bahkan menyoroti peran Pemerintah Kolonial dalam memperkenalkan Peristiwa Bubat kepada khalayak. Oleh Pemerintah Belanda, Kidung Sunda dijadikan bahan ajar bagi siswa di Algemeene Middelbare School (AMS). Mengapa tidak menggunakan karya sastra yang lebih dikenal seperti Ramayana dan Bharatayudha. Ada kepentingan Belanda di dalamnya, ujar Sedyawati, mengaitkan terbitnya teks-teks Sunda yang dekat dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Pasundan-Bubat menjadi misteri yang butuh dipecahkan.

Beberapa pendapat tersebut mengimplikasikan adanya kontroversi tentang peristiwa Perang Bubat, yaitu antara peristiwa sejarah yang benar terjadi dan suatu rekayasa demi kepentingan politik, terutama kepentingan Belanda, dalam hal ini digunakan untuk memecah belah persatuan Nusantara.

Bukankah politik Belanda menggunakan poltik divide et empera, politik pemecah belah persatuan ?