Apa yang anda ketahui tentang penyakit Paratuberkulosis?

image

Paratuberkulosis dikenal pula dengan nama Johne’s Disease, adalah penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium paratuberculosis. Disebut sebagai Johne’s Disease karena penyakit ini ditemukan pertama kali oleh Johne dan Frothingham pada sapi di Jerman pada tahun 1895. Ruminansia besar dan kecil, baik yang jinak maupun yang liar, mudah terjangkit oleh penyakit ini.

Gejala Klinis


Dikenal 2 macam gejala klinis paratuberkulosis pada hewan, yakni (1) hewan penderita dengan gejala klinis nyata, dan (2) hewan penderita yang tidak mernperlihatkan gejala klinis apapun (subklinis).

Infeksi M.paratuberkulosis pada sapi biasanya berlangsung sejak umur dini, bahkan sebelum mencapai umur 1 bulan. Namun, mengingat masa inkubasi penyakit yang lama, maka gejala klinis tidak akan terlihat sebelum sapi berumur 2 tahun, lazimnya paratuberkulosis menyerang kelompok sapi umur 2-6 tahun. Batasan umur sapi terserang penyakit ini hendaknya tidak dijadikan sebagai acuan, karena pada dasarnya, paratuberkulosis dapat menyerang pada semua umur sapi. Hewan muda lebih rentan terhadap infeksi dari pada hewan dewasa.

Gejala klinis pada sapi antara lain adalah nafsu makan pada awalnya tetap baik, hanya nafsu minumnya yang meningkat secara berlebihan.

Kekurusan tubuh (emaciation) menjadi tanda yang nyata, yang disertai dengan terjadinya busung di bawah mandibula yang akan menghilang bila diare muncul. Tidak terdapat kenaikan suhu badan, namun terjadi penurunan produksi susu sebelum diare menjadi nyata. Feses berkonsistensi lunak dan encer seperti sup tanpa bau menyengat serta pada feses tidak didapatkan baik darah, runtuhan epitel maupun mukus. Diare yang mula-mula terjadinya hilang-timbul, kemudian menjadi makin progresif dan makin berat dan akhirnya berlangsung menetap. Diare yang berlangsung terus menerus, seakan-akan menjadi baik pada saat mendekati akhir masa kebuntingan namun kambuh kembali seperti sebelumnya, bahkan menjadi semakin parah sesudah hewan penderita melahirkan. Bila penyakit berlanjut, maka terjadi kelemahan, busung dan hilang nafsu makan.

Gejala klinis yang menonjol pada kambing dan domba meliputi kekurusan tubuh dan kelemahan umum, disertai dengan bulu yang kasar dan mudah dicabut, biasanya tanpa diare tapi fesesnya sering mukoid membentuk pelet. Kambing sakit menunjukkan diare yang ringan dan kekurusan.

Dalam kelompok sapi tertular dari suatu peternakan, bila dilihat dari sudut patologi klinis, maka hewan-hewan anggota kelompok tersebut dapat dibagi kedalam 4 kategori yaitu

  • Hewan sakit dengan gejala klinis yang jelas;
  • Pembawa penyakit asimptomatik (intermediate and incubating);
  • Hewan tertular tapi tidak terlihat sakit dan tidak menebarkan cukup bakteri yang dapat dideteksi secara kultural (infected-resistant) d. dari Hewan tidak tertular.

Pembagian ini penting, terutama bila dikaitkan dengan strategi pengendalian penyakitnya.

Patologi


Selain kekurusan tubuh penderita yang nyata dan anemia, maka perubahan patologi biasanya terbatas pada saluran pencernaan makanan, termasuk ujung ileum, katup ileosekal, sekum, rektum serta kelenjar -kelenjar getah bening (lymphnodes) yang berkaitan.

Tidak terdapat hubungan antara kehebatan gejala klinis dengan kehebatan lesi yang ditemukan. Pada kasus yang fatal mungkin saja hanya didapatkan perubahan PA dan lesi mikroskopik yang minimal; sementara itu, lesi klasik dapat ditemukan pada bedah bangkai hewan yang kelihatannya sehat.

Lesi awal terdapat pada dinding usus kecil dan kelenjar getah bening mesenterik, sehingga pada tahap ini dapat dikatakan bahwa infeksi terjadi pada organ tersebut. Bila penyakit berlanjut, maka lesi mikroskopik terlihat pada berbagai organ, seperti pada sekum, kolon dan pada kelenjar getah bening mesenterik. M. paratuberkulosis ditemukan pada organ tersebut, bahkan akhirnya pada seluruh tubuh hewan penderita.

Pada sapi, lesi patognomonik yang perlu diperhatikan adalah berupa penebalan dan korugasi yang terdapat pada lapisan mukosa ujung ileum serta pembesaran dan busung pada kelenjar getah bening mesenteriknya.

Preparat ulas baik dibuat dari kerokan lapisan mukosa ileum maupun dari sayatan kelenjar getah bening mesenterik tersebut untuk pemeriksaan mikroskopik di laboratorium.

Lesi klasik pada usus berupa hipertrofi difus dari lapisan mukosa yang akan berkembang menjadi lipatan-lipatan (rugae) yang tebal dan melintang. Lipatan-lipatan yang telah berkembang konsistensinya tidak lembut lagi ujungnya berwarna kemerahan karena pembendungan dan permukaan mukosanya berkesan lunak. Kadang-kadang terjadi jendolan nekrosis, tapi bukan perkejuan atau perkapuran.

Pada domba dan kambing, lesi berupa penebalan ringan pada mukosa dengan jendolan-jendolan perkejuan dan perkapuran baik pada usus maupun pada kelenjar getah bening yang berkaitan dijumpai pada 25% hewan tertular.

Diagnosa


Paratuberkulosis tidak dapat didiagnosa hanya berdasarkan pada pemeriksaan sepintas pada bedah bangkai hewan tersangka, yakni terdapatnya penebalan pada dinding usus penderita. Pemeriksaan lanjutan di laboratorium diperlukan.
Diagnosa paratuberkulosis ditegakkan bukan saja atas dasar terlihatnya gejala klinis saja (bagi hewan sakit yang disertai gejala klinis), melainkan juga harus dilakukan peneguhan melalui berbagai pemeriksaan lanjutan di laboratorium.

Pemeriksaan di laboratorium meliputi pemeriksaan mikroskopik preparat ulas dan pemeriksaan kultural bakteriologi dari spesimen feses, kerokan lapisan mukosa usus kecil dan juga dari kelenjar getah bening mesenterik dan pemeriksaan serologis yang meliputi uji pengikatan komplemen (CF test, CFT), ELISA dan agar gel imunodifusi (AGID), yang ditunjang pula dengan hasil pemeriksaan histopatotoginya.

CFT digunakan terhadap kasus-kasus yang secara klinis dicurigai paratuberkulosis, juga untuk keperluan perdagangan (impor) sapi. ELISA memiliki tingkat sensivitas yang sebanding dengan CFT pada kasuskasus klinis, bahkan ELISA Iebih sensitif dibandingkan CFT pada kasuskasus subklinis paratuberkulosit. Sedangkan uji AGID bermanfaat sebagai peneguhan diagnosa pada ternak-ternak (sapi, domba dan kambing) yang secara klinis dicurgai terserang paratuberkulosis.

Pemeriksaan lainnya, uji yang melibatkan peran DNA (DNA probes), seperti reaksi polimerase berantai (PCR) juga dikembangkan. Dalam hubungan ini, peneliti Korea menyatakan bahwa untuk mendiagnosa paratuberkulosis, PCR memberikan hasil yang jauh lebih cepat ketimbang cara pemeriksaan secara kultural seperti yang biasa dilakukan.

Dalam hubungan diagnosa paratuberkolosis, keberhasilan mengisolasi agen penyebab secara bakteriologi tetap dianggap sebagai ”gold standart” atau cara diagnosa yang paling akurat dan dibutuhkan waktu sekurangkurangnya 8 minggu (bahkan dapat lebih) untuk mengetahui hasil dan kultural tadi.

Ketelitian dalam mendiagnosa dapat diperbaiki dalam menempuh 2 langkah, yakni langkah pertama melakukan uji-uji serologis, yang bersensitivitas dan berspesifi tas tinggi, untuk menetapkan ada atau absennya penyakit; yang dilanjutkan dengan langkah kedua, yakni melakukan pemeriksaan feses secara kultural, untuk menemukan hewan mana yang menebarkan agen penyakit dalam feses.

Terhadap kelompok hawan yang di curigai tertular paratuberkulosis secara sub klinis, maka diagnosa sewaktu hewan masih hidup dilakukan melalui penerapan uji johnin. Uji johnin adalah suatu uji serologis yang didasari oleh dapat diperlihatkannya reaksi hipersensivitas tipe tertunda (delayed typehypersesitivity reaction)

Uji johnin pada sapi dilakukan dengan menyuntikan secara intradermal 0,1 ml PPD johnin pada sepertiga bagian tengah kulit leher hewan, yang dilanjutkan dengan penafsiran reaksinya pada 72 jam berikut nya.

Namun dalam hubungan dengan uji johnin ini, memiliki sensitivitas dan spesifi sitas yang rendah. Selain itu, uji johnin juga mendatangkan hasil uji yang rnenyimpang berupa positif-palsu dan negatif-palsu yang berlebihan.

Pada tahun akhir-akhir ini dikembangkan pula suatu uji yang Iebih baik daripada uji johnin, yakni gamma interferon assay, suatu uji imunoseluler yang dapat diaplikasikan pada sapi, kambing dan domba. Namun penggunaan uji tersebut harus dilakukan bersama-sama dengan uji-uji serologis yang lain.

Diagnosa banding


Beberapa jenis penyakit yang disebutkan di bawah ini dapat dikelirukan dengan paratuberkolosis dengan manifestasi gejala klinis jelas.

  • Kekurusan tubuh yang mencolok pada penderita paratuberkolosis dapat dikelirukan dengan penyakit tuberkolosis sapi tahap lanjut, meskipun pada penyakit tuberkulosis sapi Iazimnya tidak disertai dengan diare yang menahun.

  • Terdapatnya diare menahun pada penderita paratuberkolosis dapat dikelirukan dengan penyakit Diare Ganas Sapi, namun diketahui bahwa agen penyebab keduanya jelas berbeda.

  • Salmonellosis, coccidiosis dan parasit cacing (dimana ketiga penyakit tersebut biasa disertai dengan diare) dapat mengelirukan pula, namun biasanya ketiga penyakit tersebut diatas berjalan akut dengan agen penyebabnyapun berbeda.

Pengambilan dan Pengiriman Spesimen


Spesimen yang perlu dikirimkan ke laboratorium adalah sebagai berikut:

  • Potongan kecil (± 2 cm) usus halus plus isinya (dipotong pada sekitar katup ileosekal atau jejunum), diikat pada kedua ujungnya, sertakan juga kelenjar getah bening yang berdekatan; spesimen ini diambil segar dan dikirim dalam keadaan beku secepatnya.

    Catatan : Juga perlu dikirimkan potongan organ yang sama, yang dimasukan kedalam wadah yang berisi formalin 10% untuk pemeriksaan hispatologi.

  • Swab diambil Iangsung dari rektum hewan tersangka, dikirim segera tanpa pendingin.

  • Stempel berupa feses (± 20 gram) dari hewan tersangka, dari dalam rektum jangan yang dari luar tubuh, dikirim segera tanpa pendingin.

  • Preparat ulas dari kerokan mukosa usus kecil, mukosa rektum dan dari feses,difi ksasi (dengan cara melewatkan kaca preparat keatas nyala api Buncen 3x) dan dikirim bersama-sama spesimen lainnya.

Refernsi:
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf

Paratuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium paratuberculosis yang bersifat menular. Bakteri ini dapat kelura bersama fesesnya dan mampu mencemari lingkungan. Bakteri Mycobacterium paratuberculosis berbentuk batang tebal pendek berukuran 0,5-1 mikron. Penularan penyakit ini melalui pakan atau air minum yang tercemar bakteri dan sapi yang menyusui anaknya.

image
Bakteri Mycobacterium paratuberculosis Melalui Mikroskop Elektron

image
Mycobacterium avium subsp. paratuberculosis ( MAP)

image
Group Bottle Feed Yang Dapat Menjadi Sumber Penularan Paratuberkulosis

image
Usus Yang Terinfeksi Paratuberkulosis

Gejala penyakit paratuberkulosis yaitu nafsu minumnya yang meningkat secara berlebihan, kekurusan tubuh (emaciation), terjadinya busung di bawah mandibula terjadi penurunan produksi susu, feses berkonsistensi lunak dan encer seperti sup, tanpa bau menyengat, diare, terjadi kelemahan, busung, hilang nafsu makan.

Cara pengendalian penyakit Paratuberkulosis yaitu:

  1. Setiap 6 bulan sekali dilakukan pemeriksaan feses.

  2. Untuk sapi yang fesesnya positif terinfeksi bakteri dipotong bersama anak sapinya.

  3. Lakukan vaksinisasi pada sapi yang berumur 1 bulan.