Apa yang Anda ketahui tentang model pengambilan keputusan perilaku?

Apa yang Anda ketahui tentang model pengambilan keputusan perilaku ?

Pengambilan keputusan mengacu pada membuat pilihan di antara tindakan alternatif termasuk didalamnya adalah keputusan untuk tidak bertindak. Pengambilan keputusan adalah inti dari manajemen. Drucker (2004) menjelaskan bahwa apapun yang dilakukan seorang manajer, dilakukan dengan mengambil keputusan. Semua hal yang berkaitan dengan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, koordinasi, dan kontrol diselesaikan oleh para manajer melalui keputusan dan dijalankan oleh berbagai elemen pendukung perusahaan.

Apa yang Anda ketahui tentang model pengambilan keputusan perilaku ?

1 Like

Teori pengambilan keputusan perilaku disebut juga Administrative man theory. Mullaly (2014) mendefinisikan pengambilan keputusan perilaku sebagai pemahaman terhadap pengaruh seseorang/pemimpin dalam membuat suatu pilihan. Dalam teori keputusan perilaku disebutkan bahwa pengambilan keputusan adalah konteks khusus yang sangat tergantung pada faktor-faktor seperti kompleksitas keputusan, sifat dan struktur informasi, keahlian pembuat keputusan, jumlah waktu yang tersedia dan insentif untuk pemrosesan informasi dengan cermat (Beach dan Mitchell 1978).

Simons dalam Jesper (1994) menyangkal teori model pengambilan keputusan manusia yang klasik, ideal, dan rasional. Menurut Simon, model rasional tidak ada dalam kenyataan, dan sangat mudah untuk dikritik. Tidak seorang pun (individu atau organisasi) dapat memenuhi seluruh persyaratan dari model klasik dalam proses pengambilan keputusan. Dalam dalam pengambilan keputusan, seorang manajer menghadapi tiga kondisi yaitu (1) informasi tidak sempurna dan tidak lengkap; (2) rasionalitas yang terikat (bounded rasionality); dan (3) cepat puas (satisfice).

Simons dalam Marume et al. (2016) memandang pengambilan keputusan sebagai pilihan rasional yang optimal antara tindakan alternatif. Menurut Simon, pengambilan keputusan meliputi seluruh organisasi, yaitu keputusan dibuat di semua tingkatan organisasi. Oleh karena itu, Simon memandang organisasi sebagai struktur pengambil keputusan. Simon menyamakan administrasi dengan pengambilan keputusan karena setiap aspek administrasi berputar pada kegiatan pengambilan keputusan. Dia mengamati bahwa pengambilan keputusan adalah kegiatan yang mencakup semua termasuk fungsi administrasi.

Seckler-Hudson dalam Marume et al. (2016) mengidentifikasi dua belas faktor yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan yaitu : (1) Batasan hukum; (2) Anggaran; (3) adat istiadat; (4) Fakta; (5) Sejarah; (6) Moral internal; (7) antisipasi masa depan; (8) Atasan; (9) Kelompok penekan; (10) Staf; (11) Sifat dari program; dan (12) Bawahan. Selain itu Menurut Herbert A. Simon mengungkapkan bahwa setiap keputusan didasarkan pada dua premis; yaitu (a) premis faktual dan (b) premis nilai.

Dalam konsep Herbert A. Simon, fakta merupakan pernyataan realitas. Premis faktual dapat dibuktikan dengan cara diamati dan diukur, dapat diuji secara empiris untuk mengetahui validitasnya. Adapun nilai merupakan preferensi. Premis nilai tidak dapat diuji secara empiris, namun validitasinya dapat dinyatakan secara subyektif. Premis nilai berkaitan dengan pilihan tindakan, sedangkan premis faktual berkaitan dengan pilihan sarana tindakan. Simon berpendapat bahwa, sejauh keputusan mengarah pada tujuan akhir, maka dapat disebut sebagai keputusan bernilai, yaitu komponen nilai yang mendominasi. Sejauh keputusan tersebut melibatkan implementasi tujuan, maka dapat disebut sebagai penilaian faktual yang merupakan dominasi dari komponen faktual.

Menurut Simon, dalam pengambilan keputusan terdiri dari tiga tahapan utama yaitu kegiatan intelijen (intelligence activity), kegiatan desain (design activities), dan kegiatan pilihan (choice activity).

Herbert A. Simon menyebut fase pertama proses pengambilan keputusan sebagai kegiatan intelijen yang meliputi kesempatan untuk membuat keputusan. Menurutnya, para eksekutif menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk meneliti lingkungan ekonomi, teknis, politik dan sosial untuk mengidentifikasi kondisi yang memerlukan tindakan baru.

Fase kedua, disebut aktivitas desain, terdiri dari pengembangan dan analisis untuk menemukan tindakan alternatif yang mungkin dilakukan. Simon percaya bahwa eksekutif baik secara individu maupun berkelompok menghabiskan sebagian kecil dari waktu mereka, untuk menemukan, merancang dan mengembangkan tindakan yang mungkin dilakukan untuk menangani situasi di mana keputusan diperlukan.

Simon menyebut fase terakhir dalam pengambilan keputusan sebagai kegiatan pilihan, yang melibatkan pemilihan tindakan tertentu dari alternatif yang diberikan. Dia berpendapat bahwa para eksekutif menghabiskan sebagian kecil dari waktu mereka untuk memilih diantara tindakan alternatif yang sudah dikembangkan dan dianalisis didasarkan pada konsekuensi dan masalah yang telah diidentifikasi.

image
Herbert A. Simon menyimpulkan bahwa secara umum aktivitas intelijen mendahului desain dan aktivitas desain mendahului pilihan. Namun demikian, siklus tahapan ini nyatanya jauh lebih kompleks dalam setiap urutanya. Setiap tahapan dalam membuat keputusan merupakan suatu proses yang kompleks. Misalnya, fase desain mungkin memerlukan aktivitas intelijen baru. Pada setiap tingkat tahapan menghasilkan sub-masalah. Pada akhirnya terdapat beberapa tahapan yaitu kecerdasan, desain, dan pilihan, dan seterusnya. Namun demikian, tiga tahapan besar tersebut yang jelas terlihat ketika proses keputusan organisasi telah ditetapkan.

H. A. Simon mengklasifikasikan keputusan menjadi terprogram dan tidak terprogram. Keputusan terprogram yaitu sejauh keputusan tersebut terjadi secara berulang dan rutin sehingga menghasilkan prosedur yang pasti untuk menanganinya. Keputusan tidak diprogram adalah keputusan baru, tidak terstruktur, dan konsekuensial. Tidak ada metode cut and dried untuk menangani masalah karena belum pernah muncul sebelumnya. Karena sifat dan strukturnya yang sulit dipahami, kompleks atau karena sangat penting maka perlu mendapatkan perlakukan yang dirancang secara khusus.

H. A. Simon telah mengidentifikasi teknik tradisional maupun modern untuk pengambilan keputusan terprogram dan tidak terprogram seperti Tabel 1.

image
Untuk memahami lebih lanjut tentang pengambilan keputusan model Simon, maka perlu dijelaskan tentang model rasional terikat (H. A. Simon’s bounded rationally model).

Herbert A. Simon membahas aspek rasionalitas dalam proses pengambilan keputusan secara komprehensif. Model pengambilan keputusan rasionalnya juga dikenal sebagai model perilaku alternatif karena mengusulkan model alternatif sebagai alternatif yang lebih realistis daripada model rasionalitas ekonomi klasik. Simon memandang rasionalitas sebagai pemilihan perilaku alternatif yang disukai di mana konsekuensi perilaku dapat dievaluasi. Ia juga membedakan berbagai jenis rasionalitas. Menurutnya, enam elemen spesifik harus dipahami secara analitis dalam suatu keputusan adalah:

  1. Rasional obyektif jika dalam kenyataannya perilaku yang benar dilakukan untuk memaksimalkan nilai yang diberikan dalam situasi tertentu.
  2. Rasional subyektif jika mampu memaksimalkan pencapaian relatif berdasarkan pengetahuan subjek yang sebenarnya.
  3. Secara kesadaran rasional dimana untuk mencapai sarana penyesuaian tujuan adalah proses yang disadari.
  4. Rasional yang disengaja hingga taraf bahwa sarana penyesuaian untuk mencapai tujuan telah dilakukan secara sengaja oleh individu/organisasi.
  5. Secara rasional organisasi jika berorientasi pada tujuan organisasi.
  6. Secara rasional pribadi jika ia berorientasi pada tujuan individu.

Herbert A. Simon percaya bahwa rasionalitas penuh adalah hal yang mustahil dalam perilaku administratif. Karena itu, memaksimalkan keputusan juga merupakan hal yang tidak mungkin. Simon telah mengamati bahwa perilaku manusia dalam lingkungan organisasi ditandai oleh rasionalitas terikat yang mengarah pada pemilihan keputusan yang bersifat memuaskan dibandingkan dengan pilihan memaksimalkan keputusan.

Mengingat berbagai keterbatasan yang ada, H. A. Simon mengusulkan model of administrative man yang bertentangan dengan model of economic man yang mengambil keputusan memaksimalkan. Menurutnya, the administrative man: (1) dalam memilih berbagai alternatif yang tersedia, cobalah untuk memilih keputusan yang bersifat memuaskan atau cukup baik; (2) mengakui bahwa dunia yang dirasakan adalah model dunia nyata yang dapat disederhanakan; (3) dapat membuat pilihan tanpa terlebih dahulu menentukan semua alternatif yang ada jika pada kenyataannya akan memuaskan dan bukan memaksimalkan; (4) mampu membuat keputusan dengan aturan praktis sederhana. Dengan demikian, the administrative man H. A. Simon berbeda dari model of economic man yang cenderung memaksimalkan hasil, yang telah dikembangkan oleh para ahli teori ekonomi klasik.

Moogan et al. (1999) melakukan penelitian tentang pengambilan keputusan perilaku yang digunakan oleh kandidat yang berharap untuk masuk ke Pendidikan Tinggi. Hasil menunjukkan bahwa pelamar mengikuti tahapan berurutan dari ‚Äėpengenalan masalah‚Äô untuk ‚Äėevaluasi alternatif‚Äô menggunakan orang tua 'serta layanan guru di seluruh, meskipun tampaknya ada kesenjangan dalam kebutuhan informasi siswa potensial, yang banyak universitas adalah saat ini tidak memuaskan.

Teori keputusan perilaku di atas juga diterapkan oleh Lau dan Levy (1998) dalam bidang politik untuk meneliti perilaku memilih kandidat politik dan hubungan internasional. Tentunya dua hal ini memiliki fokus yang berbeda. Dalam memilih kandidat, perilaku menjadi sorotan dalam hubungannnya dengan teori keputusan perilaku. Hal yang terpenting dalam keputusan memilih dalam bidang politik ini yaitu bagaimana masalah terdefinisi dengan baik. Artinya sebelum memilih harus menentukan alternatif pilihan (kandidat), jelas, dan jumlahnya terbatas. Masyarakat sangat bervariasi dalam keahlian politik mereka. Dengan demikian, kemampuan mereka untuk memproses informasi politik pun berbeda.

Keputusan memilih di atas, dalam hal ini tindakan alternatif tidak ditentukan sebelumnya tetapi harus diidentifikasi dan dibangun oleh pembuat keputusan. Jumlah alternatif lebih besar dari pada perilaku memilih, dan ada ketidakpastian yang sangat besar mengenai kemungkinan konsekuensi dari masing-masing alternatif ini. Pembuat keputusan biasanya adalah elit namun, relatif ahli di bidangnya, dan insentif untuk pertimbangan yang cermat dalam proses penilaian dan pilihan biasanya cukup kuat.

Referensi

Widyantoko, Feri. Et al… 2020. Model Pengambilan Keputusan Klasik Dan Perilaku (Tinjauan Teoritis dan Praktik). Paper Work-Managerial Decision Making. Ilmu Manajemen Institut Pertanian Bogor.