© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang anda ketahui tentang Kerajaan Padang Bedagai ?

Kerajaan Padang Bedagai

Kerajaan Padang Bedagai meninggalkan jejak sejarah kebesaran dan kemashuran yaitu sebuah Masjid Jamik Ismaliyah yang berlokasi di Desa Pekan, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai. Apa yang anda ketahui tentang Kerajaan Padang Bedagai ?

Menurut sejarah, Kerajaan Padang diperintah Tuan Hapultakan Saragih Dasalak yang asalnya dari daratan Simalungun. Beliau masuk Islam di tahun 1630. Lalu beliau memakai nama Umar Baginda Saleh Komar. Beliau ini merupakan Raja yang pertama di Kerajaan Padang. Ia memerintah dengan bijaksana, karena itu memiliki pengaruh besar di tengah-tengah masyarakatnya.

Raja Umar Baginda Saleh Komar mempunyai empat putra dan seorang putri. Keempat putra itu antaranya, Marah Muhammad Ledin, Ia meninggal di saat masih muda, Marah Sudin, Marah Ali Maludin, dan seorang lagi yaitu Marah Adam. Sedang yang seorang lagi adalah putri, ia bernama Puang Zainab (Panak boru, anak ke-2).

Saat Raja Umar Baginda Saleh Komar memerintah, kerajaan selalu ingin memperluas wilayahnya, sehingga Kerajaan Padang memiliki kekuasaan yang jauh keluar dari lingkungan kerajaan wilayah Padang. Namun sayangnya tatkala kerajaan sedang jaya-jayanya, Raja Umar Baginda Saleh Komar meninggal dunia. Kedudukan raja dipegang oleh anak yang ketiga bernama Marah Sudin. Sedang putra yang lain keturunannya mewakili Kerajaan Padang dan menguasai wilayah, ia adalah Ali Maludin. Tidak hanya terbatas pada wilayah Pabatu, tetapi malah lebih jauh lagi sampai ke Dalak Merawan.

Tidak lama lagi Marah Sudin diangkat sebagai raja kedua pengganti ayahanda yang memiliki tiga orang anak laki-laki, yaitu Marah Sudin, Marah Saleh Safar, dan Sultan Ali. Setelah mereka dewasa dan berkeluarga masing-masing membentuk wilayah kekuasaan baru. Marah Saleh Safar beserta keturunannya membentuk wilayah baru berkedudukan di Mandaris yang letaknya berbatasan dengan Kerajaan Tanjung Kasau. Ia merupakan wakil dari Raja Padang kekuasaan ayahnya yang telah wafat lebih dahulu. Sedang Sutan Ali memiliki kedudukan di Kampung Buliani, salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Raja Padang di abad XVI.

Sejarah Kerajaan Padang pada masa-masa berikutnya dengan wafatnya Raja Marah Sudin yang saat itu berkedudukan di Kerajaan Padang, lalu kekuasaan dialihkan kepada putranya yang bernama Raja Marah Saladin sebagai raja III. Menurut sejarah, pemerintahan Kerajaan Padang saat dipegang oleh Raja Marah Saladin, rakyat di kerajaan itu merasakan suatu kegembiraan seperti yang diinginkan. Semua rakyat merasa hidup makmur karena hasil pertanian melimpah. Sedang pungutan pajak tidak memberatkan rakyat. Tetapi akibat kesehatannya terus menerus memburuk, tidak lama kemudian beliau pun wafat, rakyat pun merasa bersedih. Dalam mengisi kedudukan Raja Padang untuk masa berikutnya, yaitu raja IV, bernama Marah Adam.

Dalam pemerintahan Raja Marah Adam, Kerajaan Padang tidak sejaya saat diperintah oleh ayahnya. Dalam pemerintahan Marah Adam terdapat berbagai kelemahan-kelemahan. Raja Marah Adam wafat lalu diangkat raja Syahdewa yang merupakan putra pertama raja Marah Adam. Peristiwa penggantian ini berlangsung tahun 1780. Raja Syahdewa memerintah dengan kemampuan yang ada. Setelah Raja Syahdewa wafat lalu digantikan oleh Raja Sidin, sebagai raja VI, Raja Sidin inipun bertahta hingga usia tua. Lalu setelah Raja Sidin wafat, diangkatlah Raja Padang yang bernama Raja Pangeran. Ini merupakan raja VII di Kerajaan Padang.

Dalam sejarah Kota Tebing Tinggi, Raja Pangeran inilah yang merupakan pendiri Kota Tebing Tinggi yang saat ini terus berbenah diri. Bahkan Raja Pangeran lalu mendapat gelar Raja Tebing Pangeran. Menurut beberapa penuturan kalangan orang-orang tua di Kota Tebing Tinggi menyebutkan raja yang bergelar Raja Tebing Pangeran inilah yang memerintah paling menonjol dalam membangun Kota Tebing Tinggi pada pemerintahannya di tahun 1823, bahkan dalam sejarah pemerintahannya Raja Tebing Pangeran sempat membangun sebuah pangkalan yang dapat dijadikan pusat jual beli hasil bumi penduduk sekitar Kota Tebing Tinggi.

Menurut sejarah perkembangan Kota Tebing Tinggi tempat yang paling tepat untuk berjual beli hasil bumi di Kota Tebing Tinggi pada masa-masa kejayaan Kerajaan Padang di Kota Tebing Tinggi adalah tempat di antara muara Sungai Bahilang dengan Sungai Padang. Dan saat itu tempat itu diberi nama Pangkalan Tebing. Disitulah tempat orang-orang dari berbagai pelosok untuk transaksi jual beli hasil bumi dari berbagai desa di sekitar tempat itu. Dan menurut sejarahnya lagi di tempat Pangkalan Tebing yang terletak antara Muara Bahilang dan Sungai Padang inilah nama asal Kota Tebing Tinggi dimulai. Dalam kisah hidup Raja Tebing Pangeran dalam memajukan perdagangan di kota yang baru dibangun ini, Raja Tebing Pangeran selalu mengadakan pengawasan ketat terhadap jalannya perdagangan yang ada di kawasan kekuasaanya. Berkat kesanggupannya dan kerja keras dalam mengurus perdagangan di Kerajaan Padang maka lambat laun terciptalah Pelabuhan Bandar Khalifah.

Dengan kegigihannya mengurus perdagangan inilah, maka beliau semakin terkenal dan penduduk pun menjulukinya dengan gelar ”Raja Tebing Pangeran” dan istananya pun di Bandar Khalifah Tebing Tinggi sampai seberang masih bisa dilihat di Desa Kampung Gelam. Hal ini suatu bukti bahwa Raja Tebing Pangeran memang benar-benar pemimpin yang patut menjadi contoh. Sejarah mencatat atas kejayaan Kerajaan Padang di Tebing Tinggi tatkala di kerajaan dipegang oleh Raja Tebing Pangeran, Kerajaan Deli yang terletak di Kota Medan pun merasa iri, Sultan Usman Perkasa Alamsyah yang memerintah Kerajaan Deli menginginkan bahwa Kerajaan Padang takluk di bawah kekuasaannya, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Raja Tebing Pangeran. Karena itu keduanya menyatakan perang. Dan terjadilah peperangan dahsyat.

Berkat bujukan Raja Sultan Deli, Raja Siti (seorang raja perempuan) dari Kerajaan Bedagai turut menyerang Kerajaan Padang di Tebing Tinggi. Pasukan dari Kerajaan Bedagai dipimpin Panglima Daud, ia Etnis Bugis. Tetapi dalam berbagai peperangan Panglima Daud tidak bisa mengalahkan Raja Tebing Pangeran di Kerajaan Padang yang sudah kokoh kuat.

Dalam sejarah, peperangan antara Kerajaan Deli yang dibantu Raja Siti dari Kerajaan Bedagai dengan Kerajaan Padang dengan rajanya Tebing Pangeran, pertempuran paling dahsyat adalah terjadi di tepian Sungai Padang yang dulu dikenal dengan nama Sungai Berong dan sekarang orang menyebut Sungai Birong (kini dikenal Desa Sei Barong). Kisah sei birong dalam bahasa kampung saat itu artinya hitam. Sebab saat terjadi pertempuran sengit antara pasukan Kerajaan Deli, Bedagai dengan Kerajaan Padang, air sungai itu menjadi hitam. Hal ini karena air sungai itu bercampur dengan darah manusia akibat pertempuran sengit menyebabkan pertempuran darah yang tidak dapat dielakkan lagi. Akibat pertempuran sengit itu akhirnya kerajaan Deli menawarkan perundingan. Tempat perundingan berlangsung di Kerajaan Bedagai. Tetapi anehnya pada saat perundingan berlangsung Raja Deli seolah-olah melakukan penghinaan terhadap Raja Tebing Pangeran. Caranya, saat dalam perjalanan ke Bedagai, tatkala rombongan Raja Tebing Pangeran sampai di Kampung Juhar Kecamatan Bandar Khalifah sekarang, Raja Tebing Pangeran dibunuh oleh Panglima Daud yang merupakan komandan pasukan dari Kerajaan Bedagai. Bahkan senjata untuk membunuh Raja Tebing Pangeran adalah senjata pasukan dari Negeri Padang sendiri yang dicuri dari seorang penghianat. Bahkan makam Raja Tebing Pangeran hingga sampai sekarang masih bisa dilihat secara jelas di Tanah Wakaf Kampung Gelam, Kecamatan Bandar Khalifah, Serdang Bedagai.

Sepeninggal Raja Tebing Pangeran, kaum bangsawan Kerajaan Padang masa itu lalu mengadakan musyawarah untuk mengangkat raja baru. Dalam musyawarah yang berlangsung ketat akhirnya memutuskan untuk mengangkat Raja VIII Kerajaan Padang. Dan pengangkatan raja tersebut terpilih adalah Marah Hukum yang kemudian bergelar Raja Geraha (Groha). Pengangkatan Raja Geraha pada tahun 1823 hingga tahun 1870.

Raja Geraha ini merupakan keturunan dari putra Puang Zainab yang bersuamikan laki-laki dari Barus bukan dari keturunan bangsawan. Dari sejarah keturunan, sebenarnya yang harus menjadi raja adalah keturunan dari Raja Marah Saleh Safar yang salah satu putranya bernama Marah Jakfar atau juga keturunan dari Raja Marah Sudin sendiri yang merupakan keturunan dari Raja Kedua Kerajaan Padang. Tetapi menurut penuturan penduduk Kerajaan Padang Marah Jakfar ternyata menderita sakit gila. Sedangkan saat itu putra Raja Tebing Pangran sendiri masih belum cukup berumur untuk diangkat menjadi raja.

Sejarah mencatat bahwa rakyat dari Kerajaan Padang saat itu sebagian besar adalah berbagai etnis dan pada umumnya mereka memiliki sumber daya manusia yang baik. Dan akhirnya mereka bisa mengembangkan Kerajaan Padang sebagai yang diharapkan kerajaan. Karenanya tidak ragu-ragu lagi Raja Geraha pun memberikan kehormatan pada rakyat Kerajaan Padang tersebut agar mereka lebih mengabdikan diri pada kerajaan.

Di antara rakyat yang mendapat tanda penghormatan dari RajaGeraha adalah OK Aliviah, Datuk Bandar Kajum, OK Matlahan, Tuan Rambutan, Bandar Hasan, OK Syahimbang Saragih, OK Bakir dan OK Dasiah serta Datuk Alang yang kemudian diangkat menjadi Panglima Kerajaan Padang.

Dengan kelengkapan panglima yang dipegang oleh Datuk Alang, Kerajaan Padang semakin maju. Apalagi Raja Geraha memerintah dengan bijaksana. Semua rakyat Kerajaan Padang merasa aman, gembira karena mereka dapat cukup sandang dan pangan. Bahkan tatkala Kerajaan Padang bertahta Raja Geraha ini banyak pendatang baru yang bermunculan. Hal ini karena mereka tahu bahwa Kerajaan Padang sedang berjaya dan pembangunan sangat maju. Sehingga penduduk dari tempat lain misalnya dari Kerajaan Rayayang tidak jauh dari Kerajaan Padang mereka berduyun-duyun merantau ke Kerajaan Padang. Berhubung pedagang itu semakin banyak jumlahnya, bahkan sebagian besar mereka memiliki sumber daya manusia yang patut diharapkan, sehingga dapat mengembangkan Kerajaan Padang yang sudah bisa digolongkan sebagai kerajaan besar. Dari sebab itu, Raja Geraha lalu memberikan gelar kehormatan kepada beberapa orang tokoh masyarakat atas pengabdiannya terhadap Kerajaan Padang yang dipimpin oleh Raja Geraha

Ngaco ini gambarnya mas. Kerajaan Padang itu bukan di Sumatera Barat. Yang mas pasang itu rumah orang minang di Sumatera Barat.

Kerajaan Padang itu di Sumatera Utara. Hanya kebetulan saja namanya sama dengan nama kota di Sumatera Barat.

Terimakasih banyak atas masukannya ya. Sudah kami (moderator) ganti dengan gambar yang lebih “umum”.