Apa yang anda ketahui tentang kerajaan Majapahit ?

majapahit
kerajaan_jawa

(Bima Satria) #1

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan terbesar yang pernah berdiri di bumi Nusantara ini. Sayangnya, masih sedikit sumber yang mampu menceritakan tentang kerajaan Majapahit itu sendiri. Apa yang anda ketahui tentang kerajaan Majapahit ?


(sonny Aleandro Wijaya) #2

Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan di Indonesia yang berdiri pada tahun 1293-1478 Masehi dengan Raden Wijaya sebagai pendirinya, yang memerintah dari tahun 1293-1309 Masehi. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam Sejarah Indonesia.

Wilayah Kerajaan Majapahit pada awal pemerintahan Raden Wijaya mencakup Kediri, Singasari, dan Madura. Dalam perkembangannya, Majapahit sangat berpotensi menjadi kerajaan yang besar karena letaknya yang strategis. Hal ini didukung oleh beberapa faktor yakni sendi perekonomian Majapahit bersifat agromaritim meliputi bidang agraris (pertanian) dan perdagangan.

image

Letak Majapahit yang berada pada jalur perdagangan menjadikan Majapahit memiliki pelabuhan-pelabuhan yang ramai dikunjungi saudagar dari berbagai penjuru.Majapahit secara geografisterletak ditengah-tengah jalur perdagangan Nusantara, sehingga mudah memainkan peranan dalam menyatukan Nusantara dalam politik maupun ekonomi, pusatpemerintahan kerajaanmudahdijangkau dengan transportasi melalui sungai, sehingga hubungan dengan luar daerah tidak sulit untuk dilakukan. Ditinjau dari segi politik, Majapahit mewarisi nama besar dari Singasari, sehingga menjadikan Majapahit mudah memperoleh kedudukan terhormat dalam bidang politik di Nusantara (Esa Damar Pinuluh, 2010).

Sejak awal berdirinya Majapahit, pemberontakan-pemberontakan sering terjadi di dalam kerajaanyang dilakukan oleh pejabat Majapahit itu sendiri. Pemberontakan tersebut diawali oleh Rangga Lawe kepada Raden Wijaya, disebabkan adanya kecemburuan sosial terhadap pengangkatan Empu Nambi sebagai Patih Amangkubumi di Kerajaan Majapahit. Pemberontakan tersebut dimenangkan oleh pihak Raden Wijaya, dengan terbunuhnya Rangga Lawe oleh Mahisa Anabrang. Lembu Sora merupakan paman dari Rangga Lawe adalah satu-satunya orang yang tidak menerima kematian Rangga Lawe sehingga kembali mengadakan perlawanan terhadap Mahisa Anabrang. Perlawanan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Lembu Sora. Kendatipun demikian, pejabat-pejabat pemerintahan juga melakukan hal yang sama yaitu mengadakan perlawanan demi memperjuangkan kedudukan sebagai Patih Amangkubumi dengan menggunakan politik adu domba kepada sesama pejabat-pejabat pemerintahan Majapahit (Slamet Muljana, 2005).

Hingga kepemimpinan Raden Wijaya usai dan digantikan oleh Raja Jayanagara, pemberontakan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam Majapahit masih tetap ada. Pemberontakan lain yang terjadi adalah pemberontakan dilakukan Kuti” (Slamet Muljana, 1979). Setelah kepemimpinan Raja Jayanagara selesai dengan terbunuhnya ia oleh Tabib Tanca, kemudian Majapahit dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Tribuwana Tunggadewi, dimana dalam masa pemerintahannya juga terjadi sebuah pemberontakan yang dilakukan oleh Sadeng dan Keta. Namun lagi-lagi pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh pihak kerajaan yang dipimpin oleh Gajah Mada. Pemerintahan Ratu Tribuwana Tunggadewi berakhir pada tahun 1350 Masehi dan kemudian digantikan oleh Rajasanagara atau yang lebih dikenal dengan Raja Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kejayaan dengan bantuan Mahapatih Gajah Mada.

Di bawah pemerintahan Gajah Mada (1313-1364) Majapahit menguasai lebih banyak wilayah. Menurut Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV menjelaskan bahwa daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Borneo Sulawesi Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua dan sebagian Kepulauan Filipina.

Dengan demikian, sejak awal berdirinya, Kerajaan Majapahit tidak terlepas dari peristiwa-peristiwa konflik dan pemberontakan. Bahkan peristiwa-peristiwa yang semacam ini tidak jarang menjadi masalah yang sangat merepotkan bagi Kerajaan Majapahit itu sendiri. Hanya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk-lah Kerajaan Majapahit dapat dikatakan aman.

Pemerintahan Kerajaan Majapahit


Bidang Ideologi

Ekspedisi dan penguasaan wilayahpada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada membawa Kerajaan Majapahit menuju puncak kejayaan yang luar biasa. Ekspidisi Pamalayu di bawah naungan Mahapatih Gadjah Mada dan Raja Hayam Wurukberhasil menaklukkan wilayah-wilayah yang kini menjadi negara-negara di wilayah Asia Tenggara bahkan hingga benua Afrika yakni pulau Madagaskar. Untuk menjaga keutuhan wilayah kekuasaannya, Kerajaan Majapahit memiliki kitab perundang-undangan Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan nama Kutaramanawadarmasastra . Kitab yang merupakan perpaduan dari naskah-naskah India dan disesuaikan dengan situasi politik dan sosial masyarakat Majapahit ini dijadikan kitab perundang-undangan Kerajaan Majapahit (Slamet Muljana, 1979).

Meski pada saat itu Majapahit menjadi imperialis bagi negara-negara di wilayah-wilayah yang saat ini disebut wilayah Asia Tenggara dan benua Afrika khususnya wilayah Pulau Madagaskar, bukan berarti Majapahit semena-mena dalam penguasaan terhadap negara-negara atau wilayah-wilayah kekuasaannya itu. Terbukti pada saat menuju puncak kejayaannya, terutama saat “Sumpah Palapa” sang Mahapatih Gajah Mada terbukti bahwa “Gajah Mada tidak akan bersenang-senang sebelum Nusantara di bawah naungan Majapahit”, kaum dalam kerajaan baik abdi maupun keluarga dalam Majapahit tetap kritis terhadap sikap penguasa Majapahit terhadap rakyat seperti saat Majapahit berhasil membangun peradaban kaum intelektual dalam pusat kesustraan di kerajaan.

Selain kitab perundang-undangan, kitab Sutasoma adalah bukti bahwasanya pada saat itu multikulturalisme di masa Majapahit telah disuarakan dan di gagas dalam bentuk sastra yang tinggi dengan termaktubnya istilah Bhineka Tunggal Ika secara jelas dalam kitab tersebut dengan arti “Berbeda- beda tetapi tetap satu jua” (Slamet Muljana, 1979).

Istilah Bhineka Tunggal Ika menjadi penyangga utama bagi pondasi keberagaman di bumi Nusantara. Meskipun Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Hindu terbesar, selain itu Kerajaan Majapahit memiliki Menteri di bidang Agama Budha yakni Empu Prapanca, pengarang Kitab sastra- filsafat Negarakretagama , terlihat bahwasanya Kerajaan Majapahit benar-benar menjunjung tinggi sikap toleransi dan pluralisme di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang multikulturalistik. Dalam Agama Hindu, agama yang bersinggungan dan begitu arif terhadap budaya yang dikenal istilah Tri Hita Karana yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dan tuhan, antara manusia dan manusia serta antara manusia dan lingkungannya (Saifuddin Zuhri, 1979).

Bidang Politik

Kerajaan Majapahit memiliki struktur pemerintahan Monarki dengan susunan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan tampaknya struktur dan birokrasi tersebut tidak banyak berubah selama perkembangan sejarahnya, dimana raja dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia dan ia memegang otoritas politik tertinggi (Slamet Muljana, 2005). Wilayah tinggal para Dewa Lokapala yang terletak di keempat penjuru mata angin. Raja yang dianggap sebagai penjelmaan dewa di dunia memegang otoritas tertinggi dan menduduki puncak hierarki Kerajaan,sedangkan dalam melaksanakan pemerintahan,raja dibantu oleh sejumlah pembantu yang tidak lain adalah pejabat-pejabat birokrasi kerajaan. Para putra dan kerabat dekat raja diberi kedudukan tinggi dalam jabatan birokrasi. Para putra mahkota sebelum menjadi raja biasanya diberi kedudukan sebagai Raja muda

Sepeninggal Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1364 Masehi keluarga besar Kerajaan Majapahit melaksanakan musyawarah dan memutuskan jabatan mahapatih tetap kosong untuk sementara waktu sampai ditemukan orang yang dianggap layak untuk diangkat sebagai mahapatih pengganti Gajah Mada. Untuk sementara jabatan mahapatih dirangkap oleh Hayam Wuruk sebagai kepala negara dan kemudian mengubah susunan kabinet menteri Kerajaan Majapahit (Slamet Muljana, 1983).

Selama pemerintahan Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk berjalan dengan baik meski tanpa Mahapatih Gajah Mada. Akan tetapi, setelah mangkatnya Hayam Wuruk tidak diadakan pengangkatan raja muda dikarenakan para putra kerajaan sudah memiliki wilayah kekuasaannya. Wilayah barat (Majapahit) di bawah pimpinan Wikramawardhana dan wilayah timur di bawah pimpinan Wirabhumi. Keinginan Wirabhumi menguasai wilayah barat mengalami gejolak yang berujung dengan perang. Perang Saudara antara Wikramawardhana dan Wirabhumi hanya fokus untuk mempertahankan dan merebut hak masing-masing tanpa memikirkan lajunya pemerintahan kerajaaan (Slamet Muljana, 1983).

Bidang Ekonomi

image

Tuban sebagai salah satu pusat perdagangan Majapahit, tanahnya subur dan banyak menghasilkan padi, lada, garam, kain, dan burung kakatua yang semuanya merupakan barang ekspor. Untuk menyejahterakan rakyatnya Raja Kerajaan Majapahit membuat saluran pengairan, pembuatan bendungan, dan pembukaan tanah baru untuk perladangan.

Masyarakat Majapahit relatif hidup rukun, aman, dan tenteram. Majapahit menjalin hubungan baik dan bersahabat dengan Negara tetangga, di antaranya dengan Syangka (Muangthai), Dharma Negara, Kalingga (Raja Putera), Singhanagari (Singapura), Campa dan Annam (Vietnam), serta Kamboja (Slamet Muljana, 1979).

Rakyat Majapahit terbagi dalam kelompok masyarakat berdasarkan pekerjaan. Pada umumnya, rakyat Majapahit adalah petani, sisanya pedagang dan pengrajin. Selain pertanian, Majapahit juga mengembangkan perdagangan dan pelayaran, wilayah kekuasaan Majapahit yang meliputi Nusantara bahkan Asia Tenggara. Barang rempah,beras, gading, utama yang diperdagangkan antara lain rempah- rempah, timah, besi, intan, dan kayu Cendana. Sejumlah pelabuhan terpenting pada masa itu adalah Hujung Galuh, Tuban, dan Gresik (Slamet Muljana, 1979).

Majapahit memegang dua peranan penting dalam dunia perdagangan, yaitu :

  • Pertama, Majapahit adalah sebagai kerajaan produsen yang menghasilkan barang-barang yang laku di pasaran. Hal ini bisa dilihat dari wilayah Majapahit yang demikian luas dan meliputi daerah-daerah yang subur.

  • Kedua, peranan Majapahit adalah sebagai perantara dalam membawa hasil bumi dari daerah satu ke daerah yang lain.

Perkembangan perdagangan Majapahit didukung pula oleh hubungan baik yang dibangun penguasa Majapahit dengan kerajaan-kerajaan tetangga. Barang-barang dari luar negeri dapat dipasarkan di pelabuhan-pelabuhan Majapahit dan sebaliknya, barang-barang Majapahit dapat diperdagangkan di negara-negara tetangga. Hubungan sedemikian tentu sangat menguntungkan perekonomian Majapahit, sedangkan dalam hal kepemilikan tanah, di Majapahit sama saja dengan yang berlaku di kerajaan-kerajaan sebelumnya. Begitu pula mengenai perpajakan dan tenaga kerja. Para petani selalu bergotong royong dalam hal bercocok tanam dan mengairi sawah.

Bidang Sosial dan Budaya

Kehidupan sosial masa Majapahit aman, damai, dan tenteram. Dalam kitab Negarakrtagama disebutkan bahwa Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling ke daerah-daerah untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya. Perlindungan terhadap rakyat sangat diperhatikan. Di dalam kehidupan masyarakat Majapahit, agama juga memiliki fungsi sebagai pengendali sosial.

Empu Tantular dalam kitab karangannya yang berjudul Sutasoma menjelaskan tentang diplomasi kebudayaan. Diplomasi kebudayaandimana Majapahit mengakui keberagaman dan cinta kasih antar sesama tanpa membeda-bedakan golongan dan latar belakang apapun hingga sejatinya masyarakat Nusantara mampu tersentuh dengan budaya masyarakat yang berbeda-beda (Karim Mulyawan, 2010).

Ketertiban dalam pemerintahan yang ada di Kerajaan Majapahit serta kesejarteraan masyarakat memburuk pasca perang saudara yang terjadi antara Wikramawardhana dan Wirabhumi berdampak pada kesejahteraan masyarakat Majapahit menjadi terganggu, bahkan dalam urusan keagamaan Hindu maupun Budha juga tidak terurus. Pemerintah pusat mengalami kesulitan untuk mengurus wilayah kekuasaannya yang demikian luas. Oleh karena itu, banyak daerah yang kemudian tidak terurus dan menyatakan melepaskan diri dari Majapahit (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1989).

Dengan lepasnya daerah-daerah bawahan Majapahit diluar Jawa, menyebabkan terputusnya kunjungan keagamaan ke daerah-daerah bawahan Majapahit bahkan hubungan antara masyarakat yang ada dipusat dengan daerah ikut terputus. Selain itu juga, saat keadaan Majapahit yang pada saat itu dalam keadaan terpuruk pasca perang saudara memudahkan pedagang muslim dari luar menyebarkan ajaran agama yang dianutnya. Dengan begitu dalam urusan keagamaan masyarakat Majapahit mulai menerima agama baru yang lebih toleransi dan tidak ada paksaan untuk menganutnya (H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001).

Bidang Pertahanan dan Keamanan

Kerajaan Majapahit memiliki pasukan yang amat disegani dan ditakuti di dunia. Dalam hubungan bilateral antar wilayah negara, membunuh utusan berarti negara tersebut mengisyaratkan perang. Ketakutan beberapa negara kepada Tentara Majapahit bukan tanpa dasar. Selain reputasi tentara yang mampu menghancurkan Tentara Mongol beserta rajanya sebagai tentara terkuat dunia, Tentara Majapahit merupakan tentara profesional yang berbeda dengan pasukan-pasukan lain pada masanya dimana Tentara Majapahit sangat kuat mempertahankan kesatuan mandalanya (Irawan Djoko Nugroho, 2011).

Tentara Majapahit dimasukkan dalam kelompok Pangalasan. Menurut Pigeaud, Pengalasan berarti para penjaga kerajaan yang terdiri atas kesatuan-kesatuan yaitu Tanpalwir, Nyu Ganding, Janggala, Kadiri, Sedah, Panglarang, Rajadewi, Waisangka, Wiwang Panewan, Kertapura, Sinelir dan Jayengprang, Angreyak, Kaywapu, Wiwang jaladhi, Pasuruhan serta Samajadhi (Irawan Djoko Nugroho, 2011).

Pangalasan adalah adipati yang memimpin wilayah mancanegara atau propinsi terdiri atas lima wilayah, yaitu Utara, Timur, Selatan, Barat dan Pusat yang memiliki tugas mempertahankan negara dari ancaman luar atau melaksanakan keputusan raja untuk menyerang wilayah lain. Pasukan penjaga kerajaan didukung oleh dua jenis pasukan, yaitu pasukan dari kelompok umum yang dibentuk oleh Majapahit sebagai pemerintahan federal Jawa dan pasukan yang dibentuk oleh masing-masing negara bagian yang disebut Wadwa Haji untuk melindungi keselamatan raja dan menjaga keamanan negara bagian. Satu kesatuan Pasukan penjaga kerajaan sangat berpengaruh dalam membawa Kerajaan Majapahit menuju kejayaannya di Nusantaran (Irawan Djoko Nugroho, 2011). Selain pasukan kerajaan terdapat pasukan khusus penjaga keselamatan raja, yaitu Bhayangkara dan Bhayangkari.

Bhayangkara adalah pasukan penjaga keselamatan raja sedangkan Bhayangkariadalah satuan pasukan elit perempuan dari Kerajaan Majapahit. Bhayangkari memiliki kemampuan khusus dalam pertempuran dan penyusupan ke daerah lawan (Irawan Djoko Nugroho, 2011).

Bhayangkara pada masa Majapahit lebih tersohor, bukan saja karena peranan Gadjah Mada yang menjadi tampuk pimpinan pasukan, tapi juga karena Bhayangkara pada Masa Majapahit tertuang dengan jelas dalam literatur-literatur kuno, seperti Negarakertagama dan Pararaton (Slamet Muljana, 1979).Dalam Nagarakertagama pupuh IX pada 1 dijelaskan, bahwa sehubungan dengan mangkatnya Tohjaya di Katang Lambang pada tahun 1248 di daerah Pasuruan, maka di antara barisan pengawal yang berkewajiban menjaga keamanan kraton adalah Kesatuan Bhayangkara. Di tangan Gajah Mada, Kesatuan Bhayangkara menjadi kekuatan sipil yang sangat berpengaruh pada zamannya, sehingga keselamatan para raja dan keluarganya berada mutlak di bawah kewenangan dan tanggung jawab Kesatuan Bhayangkara. Kesatuan Bhayangkara, sebagai kekuatan sipil telah memberikan kepercayaan yang sangat kuat di hati masyarakat, sebagai pengayom dan pelindung rakyat (Slamet Muljana, 2005).

Raja-raja kerajaan Majapahit


image

Raja-raja kerajaan Majapahit merupakan penerus dari wangsa Rajasa, pendiri dan pemimpin kerajaan Singosari. Mengingat sedikitnya sumber sejarah yang ada, maka terdapat beberapa pendapat terkait dengan silsilah raja-raja di kerajaan Majapahit. Berikut merupakan dua versi tentang silsilah raja-raja Majapahit,

Pararaja kerajaan Majapahit Versi 1

No Gelar Tahun
1. Kertarajasa Jayawardhana Dyah Sanggramawijaya (1294–1309)
2. Sri Sundara Pandyadewadhiswara Wikramottunggadewa Jayanagara (1309- 1328)
3. Rajapatni dyah Gayatri (1328-1329)
4. Tribhuwana Wijayottunggadewi Dyah Gitarja (1329–1350)
5. Rajasanagara Dyah Hayam Wuruk (1350–1389)
6. Aji Wikramawardhana (1389– 1400 dan 1401-1416)
7. Kusumawardhani (1400-1401 dan 1416-1429)
8. Aji Ratnapangkaja (1429-1437)
9. Sri Suhita (1437-1447)
10. Wijaya Parakrama Wardhana Dyah Kertawijaya (1447–1451)
11. Rajasawardhana Dyah Wijayakumara Sang Sinagara (1451–1453)
12. Girisawardhana Dyah Suryawikrama (1456–1466)
13. Singawikramawardhana Dyah Suraprabhawa (1466–1478)
14. Girindrawardhana dyah Wijayakarana (1478-1486)
15. Singawardhana dyah Wijayakusuma (1486)
16. Girindrawardhana dyah Ranawijaya (1486-1427)
No Nama Raja Gelar Tahun
1. Raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana 1293 - 1309
2. Kalagamet Sri Jayanagara 1309 - 1328
3. Sri Gitarja Tribhuwana Wijayatunggadewi 1328 - 1350
4. Hayam Wuruk Sri Rajasanagara 1350 - 1389
5. Wikramawardhana 1389 - 1429
6. Suhita Dyah Ayu Kencana Wungu 1429 - 1447
7. Kertawijaya Brawijaya I 1447 - 1451
8. Rajasawardhana Brawijaya II 1451 - 1453
9. Purwawisesa atau Girishawardhana Brawijaya III 1456 - 1466
10. Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa Brawijaya IV 1466 - 1468
11. Bhre Kertabumi Brawijaya V 1468 - 1478
12. Girindrawardhana Brawijaya VI 1478 - 1498
13. Patih Udara 1498 - 1518

image

image

image

Referensi :

  • De Graaf, H.J. dan Pigeaud, T.H.2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jakarta: Terj.Pustaka Utama Grafiti.
  • Muljana, Slamet. 1981. Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi. Jakarta: Yayasan Idayu.
  • Nugroho, Irawan Djoko. 2011. Majapahit Peradaban Maritim (Ketika Nusantara Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia). Jakarta: Yayasan Suluh Nuswantara Bakti.
  • Mulyawan, Karim. 2010. Rindu Pancasila: Kumpulan Artikel Kompas. Jakarta :Kompas.
  • Zuhri, S. 1979. Sejarah Kebangkitan Islam Dan Perkembangan Di Indonesia. Bandung Al-Maarif.
  • Pinuluh, Esa Damar. 2010. Pesona Majapahit. Jogjakarta Bukubiru.