© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang Anda ketahui tentang kebiasaan membaca Al-Qur'an?

Kebiasaan secara etimologi berasal dari kata “biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia biasa adalah lazim atau umum. Sehingga kebiasaan diartikan sebagai proses pembuatan menjadikan seseorang menjadi terbiasa. Adapun secara istilah, kebiasaan dapat diartikan oleh beberapa tokoh berikut ini:

  1. Menurut Armai Arif kebiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.
  2. Menurut Hanna Junhana Bastaman, kebiasaan adalah melakukan sesuatu perbuatan atas keterampilan tertentu terus menerus secara konsisten untuk waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan dan keterampilan benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan.

Apa yang Anda ketahui tentang kebiasaan membaca Al-Qur’an?

1 Like

Kebiasaan membaca Al-Qur’an


Dalam “Cambridge Advance Learner‟s dictionary”. “ Habit is something which you do oten and regularly, sometimes without knowing that you are doing it” ( kebiasaan adalah sesuatu yang sering kamu lakukan secara teratur, terkadang tanpa kamu tahu bahwa kamu sedang melakukannya).

Dari definisi di atas dapat diambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud kebiasaan adalah suatu cara yang dipakai pendidik untuk kebiasaan anak didik secara berulang-ulang sehingga dengan sendirinya kebiasaan tersebut dapat dilakukan tanpa ada paksaan dari orang lain.

Al-Qur’an adalah Firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang mengandung aspek mu‟jizat, diriwayatkan secara konsensus, serta digunakan sebagai bacaan dalam beberapa ritus keagamaan. The Qur’an is the word of Allah revealed by Him to the Holy Prophet (S.A.W) through the Archangel Gabriel. The Qur’an has its own unique way and mode of expression which has no match.

“Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan oleh- Nya kepada Nabi besar Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril. Al-Qur’an mempunyai cara yang khusus dan bentuk ungkapan yang tidak ada bandingannya”.

Orang yang membaca Al- Qur’an , baik dengan hafalan maupun dengan melihat mushaf akan membawa kebaikan atau keberkahan dalam hidupnya bagaikan sebuah rumah yang dihuni oleh pemiliknya dan tersedia segala perabotan dan peralatan yang diperlukan.7 Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bersabda :

“Ahmad bin Mani‟ menceritakan kepada kita. Jarir menceritakan kepada kita dari Qobus bin Abi Dzobyan dari ayahnya dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya seseorang yang tidak ada dalam perutnya sesuatu dari Al- Qur’an bagaikan rumah kosong” (HR. At-Tirmidzi).

Membaca Al- Qur’an adalah kenikmatan yang luar biasa. Seseorang yang sudah merasakan kenikmatan membacanya, tidak akan bosan sepanjang malam dan siang. Bagaikan nikmat harta kekayaan di tangan orang yang shaleh adalah merupakan kenikmatan yang besar, karena dibelanjakan ke jalan yang benar dan tercapai apa yang diinginkan. Dengan demikian kebiasaan membaca Al- Qur’an adalah suatu kebiasaan atau kegiatan (aktivitas) melihat serta memahami apa yang ada dalam Al- Qur’an dan melafalkan kalam Allah SWT (Al- Qur’an ) dengan ucapan yang merupakan mu‟jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara Malaikat Jibril sampai kepada kita secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah.

Penulis menyimpulkan bahwa pengertian kebiasaan membaca Al- Qur’an adalah aktifitas kebiasaan membaca Al- Qur’an yang dilakukan secara terus menerus dengan membiasakan membacanya, sehingga kegiatan tersebut menjadi suatu kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Hal- hal yang Harus Diperhatikan dalam Kebiasaan Membaca Al-Qur’an


Dalam membaca Al- Qur’an , ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Tajwid
    Tajwid merupakan hiasan atau seni dalam bacaan Al- Qur’an . Tajwid adalah membaca huruf sesuai dengan hak- haknya, menertibkannya, serta mengembalikannya ke tempat keluar dan asalnya, serta memperhalus pelafalannya tanpa dilebih- lebihkan, tanpa dikurangi, dan tanpa dibuat- buat.10 Jadi Tajwid adalah ilmu yang mempelajari tentang cara membaca Al- Qur’an , tempat memulai dan pemberhentiannya dan lain-lain yang berhubungan dengan tujuan seseorang mampu membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar.

  2. Gharib
    Gharibil Qur’an adalah ilmu yang mempelajari tentang makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini juga menerangkan kata-kata yang sulit, halus dan tinggi.

  3. Makharijul Huruf
    Saat membaca Al- Qur’an , huruf hija’iyyah mempunyai letak yang berbeda-beda ketika pengucapan, ini disebut dengan makharijul huruf . Hal ini digunakan untuk membaca Al- Qur’an secara tartil dan fasih serta untuk membedakan antara huruf yang satu dengan huruf lainnya. Tempat keluarnya huruf yang pokok ada lima, yaitu: Jauf , Chalq, Lisan , Syafatain, Khoisyum.

  4. Tartil
    Membaca Al-Qur’an tidak sama dengan membaca bahan bacaan lainnya, karena ia adalah kalam Allah. Tartil melibatkan pengetahuan di mana untuk berhenti membaca dan mengoreksi pengucapan kata- kata. Al Ghazali dan Suyuthi menyatakan tartil itu sangat membantu untuk pikiran dan meditasi.

    Oleh karena itu membacanya mempunyai etika lahir dan batin. Di antara etika-etika lahir adalah membacanya dengan tartil . Tartil adalah membaguskan bacaan huruf-huruf Al- Qur’an dengan jelas, teratur dan tidak terburu-buru serta mengenal tempat-tempat waqaf sesuai aturan-aturan tajwid. Membaca dengan tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa, serta lebih mendatangkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al- Qur’an . Bacaan Al- Qur’an berbeda dengan bacaan perkataan manapun, karena isinya merupakan kalam Allah, yang ayat- ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci, yang berasal dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, karena itu membacanya tidak lepas dari adab yang bersifat dzahir maupun batin, di antara adzab yang bersifat dzhahir ialah secara tartil. Maka tartil dalam bacaan ialah pelan-pelan memperjelas huruf dan harakatnya.

Dasar Kebiasaan Membaca Al-Qur’an


Kebiasaan dalam pendidikan anak adalah sangat penting, terutama dalam pembentukan pribadi, akhlak dan agama pada umumnya. Kebiasaan-kebiasaan itu akan memasukkan unsur-unsur positif dalam diri pribadi anak yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman agama yang didapatinya melalui kebiasaan, maka semakin banyak pula unsur agama dalam pribadinya dengan memahami ajaran agamanya. Kebiasaan merupakan proses pembelajaran yang dimaksudkan agar anak mampu untuk membiasakan diri pada perbuatan-perbuatan yang baik dan dianjurkan oleh norma agama maupun hukum yang berlaku. Untuk membina anak agar mempunyai sifat-sifat terpuji, tidaklah mungkin dengan penjelasan pengertian saja, agar perlu membiasakannya untuk melakukan yang baik diharapkan nanti dia akan mempunyai sifat- sifat itu menjauhi sifat- sifat tercela.

Seorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu akan dapat melaksanakannya dengan mudah dan senang hati. Bahkan segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia muda sulit untuk dirubah dan akan tetap berlangsung sampai usia tua. Atas dasar ini, para ahli pendidikan senantiasa mengingatkan kepada guru atau orang tua untuk membiasakan anak-anak kepada suatu hal yang baik sehingga anak menjadi terbiasa dengan sendirinya tanpa ada paksaan, sebelum terlanjur kebiasaan lain yang bertentangan dengan ajaran Islam. Umat Islam dalam membaca Al- Qur’an tentunya atas dasar yang kuat. Adapun dasar tersebut ada 3 aspek yaitu :

  1. **Al- Qur’an **
    Firman Allah SWT yang berhubungan dengan dasar kebiasaan membaca Al- Qur’an diantaranya :
  • QS. al- Israa ayat 36 :

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (al- Israa: 36).

    Ayat di atas menjelaskan bahwa sebagai seorang muslim harus dapat menegakkan pribadinya, artinya tidak hanya mengikuti jejak orang lain saja hanya karena kebiasaannya, adat istiadat, dan tradisi yang diterima. Tetapi dalam kehidupannya ia harus menerima dan membiasakan hal-hal yang baik dan positif. Sehingga ia tidak mudah terpengaruh dengan sesuatu yang salah. Dan dia dapat membuat pertimbangan sendiri, tanpa menuruti sesuatu yang tidak mereka ketahui.

  • QS. al- Waqi‟ah ayat 77 :

    “Sesungguhnya Al- Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia”

    Sesungguhnya Al- Qur’an ini memuat bermacam- macam manfaat dan banyak kegunaan. Karena Al- Qur’an ini memuat hal- hal yang membawa kepada kebesaran umat manusia di dunia maupun di akhirat mereka. Al- Azhari berkata Al-Karim adalah isim yang memuat petunjuk dan keterangan- keterangan, ilmu dan hikmat. Seorang Faqih menjadikan Al- Qur’an sebagai dalil dan mengambil pelajaran darinya. Seorang ahli hikmat akan mengambil pelajaran darinya. Seorang ahli hikmat akan mengambil pelajaran dari Al- Qur’an dan menjadikannya sebagai hujjah. Dan seorang sastrawan akan mengambil faidah dari Al- Qur’an dan memperkuat hujjahnya. Jadi setiap ilmuwan akan mencari dasar ilmunya dari Al- Qur’an .

  1. Dasar Hadits
    Sedangkan Hadits yang memerintahkan akan kegiatan membaca Al- Qur’an adalah sebagai berikut :

    “Hajjaj bin Minhal menceritakan kepada kita, Syu‟bah menceritakan kepada kita, dia berkata: „Alqomah bin Marsad mengabarkan kepada saya: saya mendengar Sa‟ad bin „Ubaidah dari Abi Abdirrohman as-Sulami dari „Usman RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al- Qur’an .” (HR. Buhkari).

    Dalam Hadits diatas dijelaskan bahwa seseorang diperintahkan untuk membaca Al- Qur’an , karena dengan membaca Al- Qur’an kita bisa mendapat belaan atau pahala besok pada hari kiamat. Orang yang membiasakan membaca Al- Qur’an adalah orang yang terbaik dan manusia yang paling utama. Jadi tidak ada manusia di atas bumi ini yang lebih baik dari pada orang yang mau belajar dan mengerjakan Al- Qur’an .

  2. Dasar psikologi
    Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia. Dalam hal ini mengapa psikologi termasuk aspek dasar dalam membaca Al- Qur‟an karena psikologi berusaha menyelidiki semua aspek kepribadian dan tingkah laku, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.

    Al- Qur’an merupakan penawar bagi yang ada dalam dada, seperti untuk membersihkan dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan semesta alam, dan juga mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab serta menyejahterakan hati baik di dunia maupun di akhirat. Setiap manusia hidup selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut Agama, untuk merasakan bahwa dalam jiwanya ada perasaan yang meyakini adanya dzat yang maha kuasa sebagai tempat untuk berlindung dan memohon pertolongan. Sedangkan Al- Qur’an dapat memberikan ketenangan jiwa bagi yang membacanya dan inilah yang menunjukkan bahwa Al- Qur’an merupakan obat penyakit yang ada di dalam diri umat Islam.

    Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa mempelajari Al- Qur’an adalah merupakan perintah dari ajaran Islam. Karena Al- Qur’an merupakan wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi orang Islam. Jadi kita sebagai orang Islam harus mempelajari dan mengamalkan apa yang terkandung dalam Al- Qur’an . Dengan melihat dasar kebiasaan membaca Al- Qur’an di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu (kebiasaan membaca Al- Qur’an ) akan dapat melaksanakan dengan mudah dan senang tanpa ada paksaan, serta ia tidak akan menemukan kesulitan karena sudah terbiasa.

Tujuan Kebiasaan Membaca Al-Qur’an


Tujuan dari kebiasaan sendiri adalah agar seseorang memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat dan positif dalam arti yang selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu. Selain itu arti tepat dan positif diatas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku baik bersifat religius maupun tradisional dan kultural.
Dalam membaca Al- Qur’an tentunya mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan membaca Al- Qur’an adalah tadabbur. Membaca dengan tadabur, yaitu memperhatikan sungguh-sungguh serta dapat mengambil pelajaran dan nasihat dari padanya.
Dalam kebiasaan membaca Al- Qur’an Muhammad Yunus menyebutkan tujuan kebiasaan membaca Al- Qur’an yaitu sebagai beriku t:

  1. Memelihara kitab suci dan membacanya serta memperhatikan isinya, untuk menjadi petunjuk dan pengajaran bagi kita dalam hidup di dunia.
  2. Mengingat hukum-hukum Agama yang termaktub dalam Al- Qur’an serta menguatkan, mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.
  3. Mengharap keridhaan dari Allah SWT.
  4. Menanamkan akhlak mulia dan mengambil ibarat dan perlu pelajaran serta teladan yang termaktub dalam Al- Qur’an .
  5. Menanamkan keagamaan dalam hati dan menumbuhkannya sehingga bertambah mantap keimanan dan bertambah dekat dengan Allah SWT.

Adab dan Tata Cara Kebiasaan Membaca Al-Qur’an


Al- Qur’an merupakan kalam suci yang datangnya langsung dari sisi Allah SWT, dimana memiliki adab tersendiri bagi siapa saja yang membacanya, dan ini berbeda dengan buku atau kitab lainnya. Adab- adab itu sendiri sudah diatur dengan baik sebagai penghormatan dan pengagungan kepada Al- Qur’an yang diturunkan kepada Nabi akhir zaman, Muhammad SAW dan sebagai ummat-Nya maka kewajiban kita adalah untuk mengikuti pedoman dalam belajar agama Islam. Banyak sekali adab- adab maupun tata cara yang harus dilakukan pada saat akan memulai sampai mengakhiri belajar agama Islam. Adapun adab kebiasaan membaca Al- Qur’an antaranya:

  1. Berguru secara Musyafahah (Berhadapan)
    Artinya seorang murid sebelum membaca berguru kepada seorang guru atau bidang ahli dalam membaca Al- Qur‟an. Dan kedua murid dan guru saling bertemu langsung, saling melihat gerakan bibir masing- masing pada saat membaca Al- Qur’an . Sebagaimana dalam Al- Qur’an QS. al- Qiyamah ayat 16- 19:

    “16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. 17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkan-nya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 18. apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. 19. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya”

  1. Niat membaca dengan ikhlas
    Seseorang yang membaca Al- Qur’an hendaknya berniat yang baik, niat beribadah yang ikhlas karena Allah untuk mencari ridha Allah, bukan mencari ridha manusia atau agar mendapatkan pujian darinya atau ingin popularitas atau ingin mendapatkan hadiah materi dan lain- lain. Allah SWT berfirman dalam QS. al- Bayyinah ayat 5:

    “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”.

  2. Dalam keadaan bersuci
    Adab membaca Al- Qur’an adalah bersuci dari hadas kecil hadas besar, dan segala najis, sebab yang dibaca adalah wahyu Allah atau firman Allah bukan perkataan manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam QS. al- Waqi‟ah ayat 79-80 :

    “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan… Diturunkan dari Rabbil 'alamiin”.

    Kata Al-Muthaharun artinya orang- orang yang disucikan. Yang maksudnya tidak ada yang menyentuh Al- Qur‟an kecuali hamba- hamba yang disucikan. Hamba- hamba yang disucikan berarti manusia-manusia yang disucikan telah berwudhu sehingga tidak dalam keadaan hadas kecil maupun hadas besar. 30 Pada ayat di atas lebih kuat dan lebih berhati- hati yang artinya orang- orang mukmin yang suci dari hadas dan najis karena diturunkan dari Tuhan semesta alam.

    Demikian juga dalam memegang, membawa, dan mengambil Al- Qur’an hendaknya dengan cara yang hormat kepada Al- Qur’an . Misalnya dengan tangan kanan atau dengan kedua belah tangan, kemudian dipeluk dan di taruh di atas kepala sebagaimana pengajaran orang- orang dahulu, dengan maksud menghormati kesucian Al- Qur’an .

  3. Memilih tempat yang pantas dan suci
    Tidak seluruh tempat sesuai untuk membaca. Ada beberapa tempat yang tidak sesuai untuk membaca Al- Qur‟an, seperti WC, kamar mandi, pada saat buang air, di jalanan, di tempat- tempat kotor, dan lain- lain. Hendaknya pembaca Al- Qur’an memilih tempat yang suci dan tenang seperti masjid, mushala, rumah, dan lain- lain tempat yang dipandang pantas dan terhormat.

  4. Menghadap kiblat dan berpakaian sopan
    Pembaca Al- Qur’an disunnahkan menghadap kiblat secara khusyuk, tenang, dan menundukkan kepala, dan berpakaian sopan. Oleh karena itu, jika memungkinkan dan tidak terhalang oleh sesuatu, alangkah baiknya jika dilaksanakannya di tempat yang suci, menghadap kiblat, dan berpakaian sopan seolah-olah pembaca berhadapan dengan Allah untuk bercakap-cakap dan dialog kepada- Nya.

  5. Bersiwak ( gosok gigi)
    Diantara adab membaca Al- Qur’an adalah bersiwak atau gosok gigi terlebih dahulu sebelum membaca Al- Qur‟an, agar harum bau mulutnya dan bersih dari sisa- sisa makanan atau bau yang tidak enak. Bersiwak yang lebih afdhal dengan kayu ara seperti yang dibawa oleh seseorang pada umumnya yang pulang dari tanah suci Mekkah. Kalau tidak ada, bisa dilaksanakan dengan apa saja yang dapat digunakan untuk membersihkan gigi.

  6. Membaca Ta’awudz
    Disunnahkan membaca ta’awudz terlebih dahulu sebelum membaca Al- Qur’an sebagaimana firman Allah SWT QS. an- Nahl ayat 98 :

    “Apabila kamu membaca Al- Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”.

    Hanya membaca Al- Qur’an yang diperintahkan membaca ta’awudz terlebih dahulu sebelum membacanya. Dengan demikian, membaca ta’awudz hanya dikhususkan untuk akan membaca Al- Qur’an saja. Untuk membaca bacaan- bacaan selain Al- Qur’an , seperti membaca sebuah buku, koran, kitab, dan lain- lain tidak perlu ta’awudz cukup membaca basmallah .

  1. Membaca Al- Qur’an dengan tartil
    Tartil artinya membaca Al- Qur’an dengan perlahan- lahan, tidak terburu- buru, dengan bacaan yang tidak baik dan benar sesuai dengan makhraj dan sifat- sifatnya sebagaimana yang sudah dijelaskan di dalam ilmu tajwid. Makharij huruf artinya membaca huruf- hurufnya sesuai dengan tempat keluarnya seperti di tenggorokan, di tengah lidah, antara dua bibir, dan lain- lain. Allah SWT berfirman QS. al- Muzammil ayat 4:

    “Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al- Qur’an itu dengan perlahan-lahan”

    Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya membaca Al- Qur’an secara tartil (seksama). Maksudnya adalah membaca Al- Qur’an dengan pelan- pelan, bacaan fasih, dan merasakan arti dan maksud dari ayat-ayat yang dibaca sehingga berkesan di hati. 35 Bacaan yang tartil akan membawa pengaruh kelezatan, kenikmatan, serta ketenangan, baik bagi para pembaca ataupun bagi pendengarnya.

  1. **Merenungkan makna Al- Qur’an **
    Merenungkan arti ayat-ayat Al- Qur’an yang dibaca, yaitu dengan menggerakkan hati untuk memahami kata- kata Al- Qur’an yang dibaca semampunya atau yang digerakkan dengan lidah sehingga mudah untuk memahami dan kemudian diamalkan dalam praktik kehidupan di tengah- tengah masyarakat.

  2. Khusyuk dan Khuduk
    Khusyuk dan Khuduk artinya merendahkan hati dan seluruh anggota tubuh kepada Allah sehingga Al- Qur’an yang dibaca mempunyai pengaruh bagi pembacannya. Ayat- ayat yang dibaca mempunyai pengaruh rasa tenang, gembira, dan banyak berharap ketika mendapati ayat- ayat tentang rahmat atau kenikmatan. Demikian juga ayat- ayat yang dibaca mempunyai pengaruh rasa takut, sedih, dan menangis ketika ada ayat-ayat ancaman.

  3. Memperindah suara
    Al- Qur’an adalah hiasan bagi suara, maka suara yang bagus akan lebih menembus hati. Usahakanlah perindah suara dengan membaca Al- Qur’an dan sangat disayangkan seseorang yang diberi nikmat suara indah lagi merdu tidak digunakan untuk membaca Al- Qur’an .

  4. Menyaringkan suara
    Suara yang nyaring dan kencang akan dapat menggugah hati yang sedang tidur agar ikut merenungkan maknanya, akan menambah semangat membacanya, dan bermanfaat bagi pendengar yang lain. Di samping itu, seseorang yang memperdengarkan suara bacaan pada telinga sendiri akan dapat mengoreksi bacaan tersebut dan lebih berpengaruh pada renungannya. Kecuali jika dikhawatirkan riya (pamer), tidak ikhlas atau mengganggu orang lain yang sedang shalat, tentunya pelan lebih afdhal.

  5. Tidak dipotong dengan pembicaraan lain
    Bahwa membaca Al- Qur’an adalah berdialog kepada Tuhan, karena Al- Qur’an adalah firman- Nya. Maka diantara adabnya adalah tidak memotong bacaannya dengan pembicaraan lain atau ngobrol dengan orang lain, apalagi sambil tertawa- tawa atau bermain- main. Demikian ketika memulai atau mengakhiri bacaan tengah- tengah surah Al- Qur‟an, hendaknya memulai awal pembahasan atau awal permasalahan yang diceritakan Al- Qur’an tidak masih ada sangkutan dengan setelahnya. Memulai atau berhenti membaca Al- Qur’an tidak terpengaruh dengan juz atau hizib. Akan tetapi akan lebih mudah berpedoman maqra’ yang biasanya ditandai dengan huruf hamzah di atas lingkaran ayat atau satu „ain yang tertulis pinggir luar garis teks Al- Qur’an .

  6. Tidak melupakan ayat- ayat yang sudah dihafal
    Seseorang yang sudah hafal Al- Qur’an atau hafal sebagian surah Al- Qur’an , hendaknya tidak sengaja melupakannya. Apa yang sudah dihafal di luar kepala atau yang sudah disimpan di dalam hati jangan dilupakan begitu saja. Akan tetapi hendaknya selalu diingat, ditadaruskan, dan di- mudzakarah-kan, misalnya selalu dibaca, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, tadarus, dan lain-lain.

1 Like