Apa Yang Anda Ketahui Tentang Ihram?

Pakaian ihram

Apa yang anda ketahui tentang ihram ?

Ihram merupakan salah satu rukun haji dan umrah, dan jika tidak dikerjakan maka ibadah hajinya dianggap tidak sah. Ihram sendiri artinya niat untuk mengerjakan haji atau umrah dengan memakai pakaian ihram. Yang harus diingat, berihram harus dilaksanakan di miqat.

Pakaian ihram pria terdiri dari dua lembar kain putih tanpa jahitan. Satu helai untuk melilit bagian tubuh dari pinggang hingga di bawah lutut. Sehelai lagi diselempangkan mulai dari bahu kiri ke bawah ketiak kanan. Pria yang mengenakan ihram dilarang mengenakan celana, kemeja, tutup kepala dan menutup mata kaki. Sedangkan bagi wanita, pakaian ihram lebih bebas tetapi disunahkan berwarna putih yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Sebelum berihram, jemaah hendaknya melakukan sejumlah persiapan, seperti memotong kuku, memotong rambut secukupnya, mandi sunah ihram, memakai wangi-wangian, dan mengenakan baju ihram. Setelah mengenakan baju ihram, jemaah berangkat ke batas miqat untuk melaksanakan salat sunah ihram dua rakaat dan melafazkan niat haji atau umrah.

Berihram ini menandakan dimulainya ibadah haji atau umrah, dan saat itulah talbiyah dengan lafaz: Labbaik Allahuma labbaik, Labbaik laa syarikka laka labbaik, Innal haamda wanni’mata laka wal mulk, Laa syariika laka, dikumandangkan.

Larangan Ihram

Saat berihram jemaah dilarang melakukan beberapa kegiatan sampai tiba waktu tahallul, antara lain:

  1. Menebang pepohonan
  2. Mempermainkan atau membunuh binatang, dan memotong kuku
  3. Menikah, menikahkan (melamar)
  4. Berhubungan seks atau bercumbu
  5. Berbicara kotor
  6. Bertengkar
  7. Mencaci maki

Jemaah yang melanggar larangan wajib membayar dam atau denda.

Referensi : https://www.viva.co.id/berita/nasional/805498-apa-itu-ihram-

Ihram merupakan pernyataan untuk mulai mengerjakan ibadah haji atau umrah dengan memakai pakaian ihram disertai niat haji atau umrah di miqat

Pakaian ihram adalah pakain yang penuh dengan makna, walaupun terlihat dengan sangat sederhana. Pakaian ihram merupakan simbol pelepasan sifat-sifat manusia yang buruk dan penuh dengan nafsu.

“Ketika engkau mengenakan pakaian ihram di tempat yang telah ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaska pakaian-pakaian sehari-harimu?” “Jika Tidak.” “Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji.”

Ibadah haji dimulai dengan niat sambil mengenakan pakaian ihram. Ketika mengenakan pakaian ihram, lepaskan pakaian sehari-hari dan buanglah semua sifat sifat keangkuhan, kebanggaan dan semua atribut (label) serta simbol-simbol yang melekat yang biasa menghiasi diri.

Dengan memakai pakaian ihram berarti menanggalkan semua perbedaan serta menghapus segala keangkuhan yang ditimbulkan dari status sosial. Dalam keadaan demikianlah seorang hamba menghadap Tuhan pada saat kematiannya. Sebab ibadah haji adalah simbol dari kematian.

Haji adalah simbol kepulangan manusia menuju Zat Yang Maha Mutlak yang tidak memiliki keterbatasan. Dan pada saat kematian tiba, tidak ada yang bisa dibanggakan sebagai bekal menuju Tuhan, kecuali iman dan amal shaleh.

Pakaian ihram yang berwarna putih (bersih) adalah mengajarkan kepada umat manusia untuk mengubur pandangan yang mengukur keunggulan manusia dari kedudukan, pangkat, status sosial, dan keturunan. Pakaian ihram adalah simbol egalitarianisme bahwa manusia tidak dipandang dari pangkat, kedudukan dan superioritas lainnya, melainkan dilihat dari tingkat ketakwaannya. Hal ini sesuai dengan Firman Allah swt,

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13).

Dengan memakai pakaian ihram yang berwarna putih yang berarti suci, maka harus berniat dengan sungguh-sungguh untuk memakai pakaian kejujuran, kerendahan hati, kesucian jiwa, dan keikhlasan hanya karena Allah. Ketika di Miqat berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya, tanggalkan pakaian yang berbentuk :

  • serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan);
  • tikus yang melambangkan (kelicikan);
  • anjing (yang melambangkan tipu daya);
  • domba (yang melambangkan penghampaan).

Setelah mengenakan pakaian ihram, maka sejumlah laranganpun harus diindahkan, tidak menyakiti binatang, membunuh, menumpakan darah, dan mencabut pepohonan. Dengan demikian, manusia harus berfungsi untuk memelihara makhluk-makhluk Tuhan. Dilarang juga memakai wangi-wangian, bercumbu, menikah dan berhias, karena manusia bukan materi semata-mata. Dan hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan Ruhani. Tinggalkan semua yang dilarang dan yang menghalangi untuk mengingat kepada Allah. Dalam keadaan demikianlah sambil mengucapkan talbiyah “Labbaika Allahumma labbaik labbaik la syarikalah innal hamda wannikmata laka wal mulk” (Shihab, 1999, hal. 336).

Kata ihram diambil dari Bahasa arab, dari kata “ahrama yuhrimu ihram” yang bermaksa “terlarang” atau “tercegah”. Dalam ihram sudah terkandung niat untuk beribadah umroh atau haji yang menandai dimulainya rangkaian pelaksanaanya ibadah tersebu dengan memperhatikan semua larangan-larangannya. Tempat untuk memulai ihram adalah sesuai miqat-nya. Miqat yang dimaksud dalam umrah adalah tempat, area, atau Kawasan yang telah ditentukan untuk memulai niat atau ihram.

Ihram dalam umroh dan haji merupakan upaya memenuhi panggilan Allah SWT. Memenuhi panggilan-Nya dengan kerelaan, misalkan; meninggalkan anggota keluarga tertentu yang dikasihi, rumah yang nyaman, kehidupan yang serba cukup, dan melepaskan tingginya status social yang kerap menjadi pemicu timbulnya persaingan dan perbedaan martabat, serta factor duniawi lainnya.

Berikut ini di antara keutamaan dari niat-ihram:

Membulatkan niat dan menguatkan tekad.

Di dalam ihram terkandung kebulatan tekad dan meluruskan niat mengingat niat dan ihram konsekuensi yang sangat menentukan diterima-tidaknya ibadah atau tinggi - rendahnya kualitas ibadah umroh/haji. Prinsip ini berlaku untuk semua ibadah serta amal kebaikan lainnya. Dalam islam, semua tindakan, sekalipun tindakan tersebut adalah baik, tetap saja nilai atau kualitasnya di hadapan Allah SWT tergantung pada nilainya.

Kesediaan untuk menjauhi segala larangan dan menerima konsekuensinya.

Banyaknya larangan dalam ihram, di samping terdapatnya syarat, rukun, wajib, serta sunah umroh, mengandung pemahaman bahwa dalam ibadah umroh terdapat beragam perkara yang di larang. Adanya sanksi (dam, kifarat, fidyah) menjadi penegas perlunya kesungguhan untuk mewaspadai potensi munculnya pelanggaran- pelanggaran selama berihram. Inilah pelajaran tentang makna tanggung-jawab.

Pentingnya menjaga kesucian hati dan pikiran

Filosofi dan keutamaan mengenakan kain ihram ternyata tidak sesederhana jenis pakaiannya. Warna putih kain atau pakaian ihram melambangkan pentingnya kebersihan diri, kesucian hati dan pikiran dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu, terlarang bagi jamaah umroh/haji memiliki hati yang dipenuhi kesombongan, iri, dan dengki. Terlarang pula mempunya pikiran-pikiran yang kotor, jahat, serta keburukan pikiran lainnya.

Sikap suci ini harus dimiliki oleh orang-orang yang akan bertamu kepada Allah SWT di Tanaha Haram. Sedangkan orang-orang kafir tidak diperbolehkan memasuki Kawasan itu. Firman Allah SWT:

Menjalani hidup dengan kesederhanaan.

Pakaian ihram adalah pakaian ibadah dan hanya untuk tujuan beribadah. Bagi kaum lelaki, pakaian ini dirancang sesederhana mungkin sehingga jauh dari kesan mewah.

Bagi kaum perempuan, pakaian untuk ihram adalah pakaian yang mengutamakan ketertutupan aurat, kebersihan dan kenyamanan dalam beribadah, jauh dari kesan glamor. Dengan mengenakan pakaian ihram, sesungguhnya para jamaah diajarkan untuk lebih menunjukan penampilan hati dari pada penampilan busana. Sedangkan keindahan dan kemewahan busana pada dasarnya merupakan perhiasan dunia yang sering kali membuat orang yang melihatnya bahkan pemakainya sendiri tertipu.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini… itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah sebaik-baik tempat kembali.” (QS.Ali Imran [3]:14).

Menumbuhkan kesadaran tentang hakikat diri.

Mengenakan pakaian ihram dengan segala persyaratannya merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh jamaah ibadah haji dan umrah. Ketentuan ini mengandung Pendidikan rohani yakni hakikat manusia. Allah SWT hanya melihat iman, amal dan taqwa seseorang tanpa membedakan identitas dan strata sosial.

“sesungguhnya Allah tidak melihat dari identitas (sosial) dan tidak pula kepada hartamu, akan tetapi Allah melihat hati kamu dan amal-amalan kamu.” (HR. Muslim, No.6767)

“…. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang-orang yang paling taqwa diantaraa kamu ….” (QS.Al-Hujuran [49]:13).