© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang Anda ketahui tentang fase-fase dalam pernikahan?

image

Pernikahan adalah anjuran Allah SWT bagi manusia untuk mempertahankan keberadaannya dan mengendalikan perkembangbiakan dengan cara yang sesuai dan menurut kaidah norma agama. Laki-laki dan perempuan memiliki fitrah yang saling membutuhkan satu sama lain. Pernikahan dilangsungkan untuk mencapai tujuan hidup manusia tujuan pernikahan dalam islam dan mempertahankan kelangsungan jenisnya.

Apa saja fase-fase dalam pernikahan?

Fase Pernikahan


Menurut Muhammad Iqbal, terdapat tujuh fase perkembangan dlaam sebuah pernikahan26. Fase tersebut diantaranya :

1. Fase pencarian

Fase pencarian merupakan fase yang penting dalam sebuah pernikahan. Apabila salah dalam memilih pasangan maka akan berdampak pada kehidupan pernikahan dan kehidupan selanjutnya. Terdapat banyak pertimbangan pada fase ini untuk memilih pasangan, baik secara agama, fisik, psikis, ekonomi maupun sosial budaya.

2. Fase pelaksanaan pernikahan

Pada fase ini proses terselenggaranya pernikahan merupakan suatu hal yang penting. Karena jika prosesi lamaran dan pernikahan mengalami masalah dari pihak keluarga maka hal ini dapat berdampak pula dalam kehidupan pernikahan. Ketidak sepakatan mengenai masalah yang terkait dengan acara pernikahan dapat menjadi konflik awal dalam hubungan rumah tangga. Oleh karena itu dibutuhkan komunikasi yang baik dan terbuka antara pasangan dan keluarga besar masing-masing agar dapat saling memahami dengan keadaan dari masing-masing pasangan.

3. Fase penyesuaian diri

Fase penyesuaian diri ini terjadi pada awal masa pernikahan, dimana pada masa itu pasangan memerlukan adaptasi baik dalam hal komunikasi, kepribadian maupun sosial dan budaya. Penyesuaian diri pada fase awal pernikahan memerlukan waktu untuk dapat menerima kelemahan serta kekurangan dari pasangan. Setelah menikah, pasangan suami isteri akan baru mengetahui perilaku dari pasangan yang selama ini tidak terlihat, mulai dari kebiasaan, kepribadian hingga bagaimana ia menyelesaikan masalah.
Pada masa pernikahan, seseorang dituntut untuk dapat belajar mengikutsertakan pasangan dalam pengambilan keputusan, mulai dari masalah pekerjaan, kehidupan sosial hingga hubungan dengan keluarga besar.

4. Fase memiliki anak

Fase hamil anak pertama merupakan fase yang sangat penting. Pada fase ini terjadi perubahan siklus kehidupan dimana suami isteri mulai memasuki peran sebagai seorang ayah dan seorang ibu. Ketika proses kehamilan, isteri mengalami perubahan baik fisik maupun psikis sehingga mudah sensitif dan mudah marah.

5. Fase pengasuhan anak

Pada fase ini pasangan suami isteri mulai bersikap dewasa (matang) dalam menyikapi masalah. Sebagai orang tua, mereka harus menjadi teladan dan panutan bagi anak sehingga pendidikan anak sejak dini menjadi perhatian penting bagi orang tua. Peran orang tua sangat diperlukan dalam pembentukan karakter anak. Pola asuh dalam penerapan nilai-nilai agama dan akhlak pada anak menjadi sesuatu yang penting agar anak mamiliki dasar pendidikan yang baik untuk masa depannya.

1 Like

Definisi Pernikahan


Di Indonesia, agar hubungan pria dan wanita diakui secara hukum maka pernikahan diatur dalam suatu undang-undang. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia (UU RI) Nomor 1 tahin 1974 pasal 1 tentang pernikahan menyatakan bahwa pernikahan adalah:

“Ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” (UU RI Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1 tentang Pernikahan).

Menurut UU RI di atas definisi pernikahan tidak hanya bersatunya pria dan wanita secara lahir namun juga secara batin. Pernikahan di Indonesia juga mempunyai nilai yang luhur karena dilandasi nilai keTuhanan pada proses pembentukannya.

Ditambahkan oleh Dyer (1983), yang mendefinisikan pernikahan sebagai suatu subsistem dari hubungan yang luas dimana dua orang dewasa dengan jenis kelamin berbeda membuat sebuah komitmen personal dan legal untuk hidup bersama sebagai suami dan istri.

Duvall dan Miller (1985), mengatakan bahwa pernikahan adalah hubungan yang diketahui secara sosial dan monogamous , yaitu hubungan berpasangan antara satu wanita dan satu pria. Sehingga bisa didefinisikan sebagai suatu kesatuan hubungan suami istri dengan harapan bahwa mereka akan menerima tanggung jawab dan memainkan peran sebagai pasangan yang telah menikah, dimana didalamnya terdapat hubungan seksual, keinginan mempunyai anak dan menetapkan pembagian tugas antara suami istri.

Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah hubungan antara wanita dan pria yang membuat sebuah komitmen personal dan legal untuk hidup sebagai suami dan istri dengan menerima tanggung jawab dan memainkan peran sebagai pasangan yang telah menikah, dimana didalamnya terdapat hubungan seksual, keinginan mempunyai anak dan menetapkan pembagian tugas antara suami istri.

Tahapan Pernikahan


Dalam setiap pernikahan, setiap pasangan akan melewati urutan perubahan dalam komposisi, peran dan hubungan dari saat pasangan menikah hingga mereka meninggal yang disebut sebagai Family Life Cycle (Hill & Rodgers dalam Sigelman & Rider, 2003). Secara umum, Anderson, Russel & Schumn (dalam Hoyer &Roodin, 2003), membagi tahapan pernikahan menjadi tahap sebelum kehadiran anak pertama, kehadiran anak dan setelah keluarnya anak dari rumah. Sementara Cole (dalam Lefrancois, 1993), membagi tahapan pernikahan menjadi awal pernikahan, kelahiran dan mengasuh anak dan emptynest sampai usia tua.

  • Tahap I : Married Couple

    Berdasarkan Family Life Cycle, tahap ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun dimulai dari pasangan menikah dan berakhir ketika anak pertama lahir.

  • Tahap II : Mengasuh anak ( Chilrearing )

    Tahap ini dimulai dari kelahiran anak pertama sampai anak berusia 20 tahun. Umumnya tahap ini berlangsung selama kurang lebih 20 tahun (Duvall dalam Lefrancois, 1993). Seiring bertambahnya usia anak maka orang tua perlu mengadakan penyesuaian-penyesuaian sebagai mana dikatakan oleh Crnic &Booth (dalam Sigelman &Rider,2003), bahwa stress dan ketegangan merawat anak-anak lebih besar daripada merawat bayi dan lahirnya anak kedua akan menambah tingkat stress orang tua (O’Brien dalam Sigelman &Rider ,2003).

  • Tahap III : Emptynest

    Istilah Emptynest sendiri berarti suatu keadaan atau kondisi keluarga setelah keluarnya anak terakhir dari rumah. Tahap ini dimulai dengan launching anak terakhir dan berlangsung selama lebih kurang 15 tahun (Duvall dalam Lefrancois, 1993).