© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang Anda Ketahui Tentang DAS (Daerah Aliran Sungai)

Sungai

Daerah Aliran Sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya.

DAS merupakan kawasan yang mempunyai ciri tertentu yang berhubungan erat dengan analisa limpasan (Fadly, 2008) :
a. Daerah tangkapan air
b. Panjang sungai induk dalam satuan km
c. Lereng, bentuk dan arah DAS
d. Kekerapan sungai
e. Angka aliran dasar
f. Curah hujan rata-rata tahunan dan iklim

DAS dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu daerah tadahan (catchment area) yang membentuk daerah kepala sungai atau yang dikenal dengan hulu sungai dan daerah dibawah daerah tadahan yang disebut dengan daerah penyaluran. Daerah penyaluran air sendiri dapat dibagi menjadi dua bagian, daerah tengah dan daerah hilir. Daerah tadahan merupakan daerah sumber air bagi DAS yang bersangkutan, sedangkan daerah penyaluran berfungsi untuk menyalurkan air ke daerah penampungan (berupa danau atau laut) (Siklus, n.d).

Ekosistem Sungai

Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen- komponen abiotik dan biotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan sungai terdapat faktor-faktor abiotik dan biotik (produsen, konsumen dan pengurai) yang membentuk suatu hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.

Faktor Abiotik

a. Kecepatan Arus (velocity)
Kecepatan arus dari sungai sangat berpengaruh terhadap kemampuan sungai untuk mengasimilasi dan mengangkut bahan pencemar (Effendi, 2000 dalam Maulana, 2001). Arus cepat akan menghilangkan semua bahan berat dan membawanya ke hilir. Ketika terjadi hujan, jumlah air akan meningkat namun saluran tetap sama, sehingga air mengalir lebih cepat. Ketika DAS sungai agak melebar, maka arus air akan melambat.

Selain itu sungai yang terdapat di dataran rendah kecepatan arus akan sangat lambat sehingga terlihat seperti kolam. Pada daerah inilah terjadi endapan lumpur dan pasir (Maulana, 2001).

Jenis arus sungai dibagi menjadi 3, yaitu (Field Study Council Resources, n.
d.):

  • Arus laminar: teratur dan halus dengan sedikit pencampuran.
  • Arus bergolak/berputar: arus yang tidak teratur dengan pencampuran maksimum.
  • Arus Transisi: suatu tempat antara dua arus (laminar dan bergolak).

b. Substrat
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ukuran substrat ditentukan oleh arus. Substrat terdiri dari bahan anorganik (lanau, pasir, kerikil dan batu) dan bahan organik (kasar atau halus partikel organik). Ketika pasir diendapkan oleh arus yang lambat, maka akan ada bahan partikulat organik.

Substrat yang menumpuk dapat menghambat bahan organik. Selain itu diketahui geologi batuan akan mempengaruhi sungai, terutama jika bersifat basa seperti kapur atau batu kapur. Hal ini akan melepaskan sejumlah besar kalsium, yang sangat cocok untuk pertumbuhan molluscan.

Dengan adanya fakta bahwa substrat sangat kompleks dan memiliki banyak jenis, menggambarkan fauna yang hidup di dalam sungai juga beragam.

c. Suhu
Suhu akan bervariasi tidak hanya di sepanjang sungai tetapi juga melalui periode musim. Ketinggian, iklim lokal dan sejauh mana vegetasi di sisi sungai juga akan mempengaruhi suhu. Suhu dapat mempengaruhi metabolisme. Hal ini sangat bervariasi antar spesies, terutama ambang batas kemampuan mereka bertahan hidup.

d. Oksigen
Jika air tidak tercemar dan mengalir dengan kejenuhan maka oksigen akan berada pada kadar maksimum. Akibatnya oksigen tidak akan menjadi sebuah faktor penunjang utama dalam distribusi organisme di sungai.

Faktor Biotik

Komponen biotik yang ditemukan di suatu lokasi sungai dipengaruhi oleh kombinasi faktor-faktor abiotik di daerah itu.

Pada umumnya, air sungai dengan aliran yang deras, tidak mendukung komunitas plankton untuk tetap bertahan hidup di sungai tersebut. Sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang melekat dan tanaman berakar, sehingga dapat mendukung rantai makanan.

Jenis komunitas hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai sering dijumpai Man air tawar, sedangkan di hilir sering dijumpai ikan kucing dan gurame. Beberapa sungai besar diketahui dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba- lumba.

Organisme yang hidup di sungai dapat bertahan dan tidak terbawa arus karena mengalami adaptasi evolusioner. Misalnya bertubuh tipis dorsoventral dan dapat melekat pada batu. Beberapa jenis serangga yang hidup di sisi-sisi hilir menghuni habitat kecil yang bebas dari pusaran air (Ekologi, 2011).

Sedangkan menurut Odum (1988) komponen biotik yang hidup di dalam air dibedakan atas dua zona utama, yaitu (Onrizal, 2005):

1. Zona air deras
Zona ini dihuni oleh bentos yang beradaptasi khusus atau organisme feriritik yang dapat melekat atau berpegang dengan kuat pada dasar yang padat dan ikan yang kuat berenang. Pada zona ini diketahui sungai memiliki dasar yang padat yang diakibatkan karena zona ini memiliki daerah yang dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi sehingga menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas.

2. Zona air tergenang
Zona ini cocok untuk penggali dan plankton karena kecepatan arus yang mulai berkurang, sehingga lumpur dan materi lepas cenderung mengendap di dasar sungai. Hal ini mengakibatkan dasar sungai menjadi lunak. Zona ini banyak dijumpai pada daerah yang landai.

Debit Air Sungai

Debit merupakan jumlah air yang mengalir di dalam saluran atau sungai per unit waktu. Debit air sungai dinyatakan dalam m3/detik. Metode yang umum diterapkan untuk menetapkan debit sungai adalah metode profil sungai (cross section). Pada metode ini debit merupakan hasil perkalian antara luas penampang vertikal sungai (profil sungai) dengan kecepatan aliran air.

Q = A x V

dengan :
Q = Debit air (m3/s)
A=Luas penampang vertical/saluaran air (m2) V=Kecepatan aliran sungai/arus (m/s)

Luas penampang diukur dengan menggunakan meteran dan piskal (tongkat bambu atau kayu) dan kecepatan aliran diukur dengan menggunakan current meter (Rahayu, S. et al., 2009).

Debit sungai yang meningkat akan menyebabkan kadar bahan-bahan alam yang terlarut dalam sungai akibat erosi, juga semakin meningkat dengan. Selain itu konsentrasi bahan-bahan antropogenik (berasal dari aktivitas manusia) yang memasuki sungai akan mengalami penurunan karena terjadi proses pengenceran.
Faktor yang memengaruhi Debit air antara Lain (Faktor, 2011):

a. Intensitas Hujan

Curah hujan merupakan salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan bertambahnya debit air.

b. Keberadaan Hutan

Fungsi utama hutan yang berkaitan dengan hidrologi adalah kemampuan hutan untuk menyimpan air hujan dalam tanah. Air tanah di daerah hulu dapat menjadi cadangan air bagi sumber air sungai.

c. Pengalihan hutan menjadi lahan pertanian

Risiko penebangan hutan untuk dijadikan lahan pertanian sama besarnya dengan penggundulan hutan. Penurunan debit air sungai dapat terjadi akibat erosi. Tanah yang mengalami erosi akhirnya akan mengalami sedimentasi yang akan mengakibatkan pendangkalan.

Kemampuan Pulih Perairan (*Water Self-Purification*)

Water Self-Purification merupakan kemampuan alami sungai untuk dapat mencairkan, mengurangi dan menghilangkan polutan, kotoran atau limbah yang masuk ke dalam sungai (Mehrdadi, et al., 2006).

Kapasitas penguraian tersebut tergantung pada beberapa faktor yaitu (Fadly, 2008) :

Keadaan air Sungai :

  • debit air
  • jenis pencemar yang telah ada
  • konsentrasi pencemar yang ada
  • suhu air
  • derasnya aliran (turbulensi)

Keadaan Sumber Pencemar :

  • debit limbah
  • jenis zat pencemar
  • konsentrasi zat pencemar
1 Like

DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)


Telah disebutkan sebelumnya bahwa ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Hubungan timbal balik tersebut sangat erat, sehingga sebenarnya makhluk hidup dan lingkungannya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Keduanya merupakan suatu kesatuan sistem yang disebut ekosistem. Jadi tidak lain suatu ekosistem adalah sistem ekologi.

Suatu sistem terdiri atas komponen-komponen yang bekerjasama dan membentuk satu kesatuan dan setiap sistem mempunyai sifat-sifat yang khas. Daerah aliran sungai (DAS) dapatlah dianggap sebagai suatu ekosistem dengan batas-batas alam. Suatu DAS dibatasi oleh DAS yang lain oleh punggung-punggung gunung. Batas tersebut itu dapat dengan mudah dilihat. Semua air pada lereng sebelah pada punggung gunung akan mempengaruhi sungai yang pertama, sedangkan aktivitasnya pada lereng sebelah akan mempengaruhi sungai yang kedua.

Kedua DAS tersebut akan dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang ada di sekitarnya. Di samping itu ekosistem DAS yang satu akan mempengaruhi DAS yang lain di sekitarnya. Adanya ekosistem buatan manusia dengan batasan wilayah ekonomi dan wilayah administratif menjadikan ekosistem DAS menjadi terpecah dengan luasan yang lebih sempit. Ekosistem DAS seharusnya dibatasi oleh batas ekologis dan bukan batas wilayah administratif, sehingga pengelolaannya harus secara terpadu. Misalnya pengelolaan DAS Ciliwung, pengelolaan yang tidak menyeluruh dan terpadu oleh komponen yang terlibat menjadikan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh banjir di bagian hilir.

Kerusakan-kerusakan yang terjadi di daerah hulu akan dirasakan dampaknya di daerah hilir.
Sungai, waduk, ataupun danau merupakan suatu ekosistem tersendiri, tetapi metabolismenya (proses-proses yang berlangsung di dalamnya) serta kestabilannya dalam jangka panjang sangat dipengaruhi oleh masukan energi cahaya matahari serta masukan materi dari daerah sekelilingnya.

Daerah sekeliling inilah disebut sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS). Laju masukan air maupun materi dari DAS akan menentukan proses metabolisme dalam waduk atau danau, dan bahkan menentukan umur ekosistem tersebut. Masukan bahan-bahan organik atau limbah dengan laju
atau kuantitas yang besar tentunya akan mengganggu stabilitas ekosistem tersebut. Demikian juga masukan materi yang lain misalnya partikel tanah yang akan menyebabkan sedimentasi dengan cepat, yang pada gilirannya pendangkalan yang terjadi.

Konsep ekosistem menempati kedudukan yang sentral dalam ekologi, sebagaimana sistem yang lain, di mana ekosistem terdiri atas komponenkomponen yang saling berinteraksi merupakan suatu kesatuan. Oleh karena sifat ekosistem yang merupakan satu kesatuan itu, maka setiap unsur alam seperti danau, hutan, atau sebuah bukit maupun unsur buatan manusia misalnya sawah atau kolam dalam DAS termasuk dalam ekosistem DAS. Hal tersebut mempunyai implikasi bahwa setiap aktivitas kita di daerah itu harus direncanakan dan harus mempertimbangkan unsur-unsur dalam ekosistem itu, karena aktivitas kita mempengaruhi dan dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada dalam ekosistem tersebut.

Pada dasarnya aktivitas manusia banyak mempengaruhi ekosistem DAS, dan pada saat ini mempunyai dampak negatif terhadap ekosistem DAS. Contoh sebuah bendungan yang dibangun dengan tujuan utama untuk mengendalikan banjir dan dipergunakan pula untuk membangkitkan tenaga listrik, mengatur pengairan, pengembangan perikanan, dan pariwisata. Air sungai yang dibendung tergantung dalam waduk. Ke dalam waduk ini mengalir bersama air sungai bermacam zat pupuk yang tercuci dari sawah dan kebun sayur, pestisida, limbah pabrik, kotoran kota dan desa, dan lumpur.

Masukan materi-materi tersebut menyebabkan pengayaan ekosistem dan materi-materi tersebut diperlukan untuk proses metabolisme. Kejadiankejadian tersebut akan menyebabkan penyuburan waduk. Air waduk yang subur kaya akan hara akan memacu pertumbuhan plankton. Karena bertambahnya plankton yang menjadi makanan ikan, jumlah ikan akan bertambah sehingga hasil ikan meningkat. Namun lama kelamaan terjadi
penyuburan air berlebihan sehingga plankton mengalami pertumbuhan yang eksplosi.

Pertumbuhan eksplosi akan berdampak pada kematian massal dari plankton tersebut dan kemudian akan menyebabkan terjadinya pembusukan. Proses tersebut membutuhkan banyak oksigen dalam air sehingga menyebabkan kematian banyak ikan. Pembusukan juga menyebabkan bau busuk yang merusak pariwisata. Penyuburan perairan yang berlebihan
disebut eutrofikasi. Berdasarkan pada uraian contoh tersebut, untuk dapat mengelola badanbadan air (danau, waduk, sungai, dan lainnya) dengan baik, harus mempertimbangkan daerah aliran sungainya. Tanpa pengelolaan daerah aliran sungai, akan sia-sia usaha dalam mengelola badan air yang bersangkutan.

1 Like

Definisi Umum DAS


Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat diartikan sebagai kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan yang jatuh dan mengalir ke sungai lalu bermuara ke danau/laut.

DAS merupakan ekosistem yang terdiri dari unsur utama vegetasi, tanah, air dan manusia dengan segala upaya yang dilakukan di dalamnya. Sebagai suatu ekosistem, di DAS terjadi interaksi antara faktor biotik dan fisik yang menggambarkan keseimbangan masukan dan keluaran berupa erosi dan sedimentasi.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pengertian DAS adalah sebagai berikut :

  1. Suatu wilayah daratan yang menampung, menyimpan kemudian mengalirkan air hujan ke laut atau danau melalui suatu sungai utama.

  2. Suatu daerah aliran sungai yang dipisahkan dengan daerah lain oleh pemisah topografis sehingga dapat dikatakan seluruh wilayah daratan terbagi beberapa DAS.

  3. Unsur-unsur utama di dalam suatu DAS adalah sumberdaya alam (tanah, vegetasi dan air) yang merupakan sasaran dan manusia yang merupakan pengguna sumber daya yang ada.

  4. Unsur utama (sumberdaya alam dan manusia) di DAS membentuk suatu ekosistem dimana peristiwa yang terjadi pada suatu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya.

Daerah Aliran Sungai (DAS) ditentukan dengan menggunakan peta topografi yang dilengkapi dengan garis-garis kontur. Garis-garis kontur dipelajari untuk menentukan arah dari limpasan permukaan. Limpasan berasal dari titik-titik tertinggi dan bergerak menuju titik-titik yang lebih rendah dalam arah tegak lurus dengan garis-garis kontur. Daerah yang dibatasi oleh garis yang mengubungkan titik-titik tertinggi tersebut adalahDAS. Gambar dibawah menunjukkan contoh bentuk DAS. Dalam gambar tersebut ditunjukkan pula penampang pada keliling DAS. Garis yang mengelilingi DAS tersebut merupakan titik-titik tertinggi. Air hujan yang jatuh didalam DAS akan mengalir menuju sungai utama yang ditinjau, sedang yang jatuh di luar DAS akan mengalir ke sungai lain di sebelahnya.

image

Luas DAS diperkirakan dengan mengukur daerah itu pada peta Topografi. Luas DAS sangat berpengaruh terhadap debit sungai. Pada umumnya semakin besar DAS, semakin besar jumlah limpasan permukaan sehingga semakijn besar pula aliran permukaan atau debit sungai.

Klasifkasi Daerah Aliran Sungai (DAS)

Daerah Aliran Sungai dapat dibedakan berdasarkan bentuk atau pola dimana bentuk ini akan menentukan pola hidrologi yang ada. Corak atau pola DAS dipengaruhi oleh faktor geomorfologi, topografi dan bentuk wilayah DAS. Klasifikasi bentuk DAS sebagai berikut :

  1. DAS bulu burung

    Anak sungainya langsung mengalir ke sungai utama. DAS atau Sub-DAS ini mempunyai debit banjir yang relatif kecil karena waktu tiba yang berbeda.

    image

  2. DAS Radial Laut

    Anak sungainya memusat di satu titik secara radial sehingga menyerupai bentuk kipas atau lingkaran. DAS atau Sub-DAS radial memiliki banjir yang relatif besar tetapi tidak relatif lama.

    image

  3. DAS Pararel

    DAS ini mempunyai dua jalur sub-DAS yang bersatu.

    image

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah kumpulan dari beberapa Sub-DAS. Sub-DAS merupakan suatu wilayah kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah, air hujan meresap atau mengalir melalui sungai hingga ke hilir dan ke pelosok daerah. Manusia yang dengan segala kegiatannya, air dalam permukaan, hewan dan tumbuhan adalah suatu ekosistem di Sub-DAS yang saling berinteraksi.

Pengelolaan DAS adalah suatu kegiatan yang menggunakan segala sumber daya alam yang ada, sosial-ekonomi secara rasional untuk menghasilkan produksi (barang/jasa) yang optimum tanpa ada batasan waktu (Sustainable) dengan menekan bahaya kerusakan seminimal mungkin dengan hasil akhir kuantitas dan kualitas air yang memenuhi persyaratan (N.Sinukaban, 2000).

Konsep dasar pengelolaan DAS adalah bahwa keberhasilan pengelolaan akan terwujud jika semua pengambil kebijakan ikut berperan aktif dalam mengelola DAS untuk memperbaiki kesejahteraan dan sosial ekonomi negara dan manusia seperti pemerintah, badan pemerintahan negara dan internasional, lembaga keuangan dan masyarakat.
Tujuan pengelolaan DAS antara lain :

  • Menyediakan air, mengamankan sumber-sumber air dan mengatur pemakaian air sesuai kebutuhan pemakaian.

  • Menyelamatkan tanah dari erosi serta meningkatkan dan memperthankan kesuburan tanah.

  • Meningkatkan pendapatan masyarakat.
    Intinya tujuan dilakukannya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) adalah Sustainable Watershed Development artinya dengan memanfaatkan sumber daya alam di dalam DAS secara berkelanjutan dan tentunya tidak membahayakan lingkungan di sekitarnya.

1 Like