Apa yang Anda Ketahui Tentan Fotogafi Human Interest?

fotografi human interest
Fotografi merupakan sebuah karya seni pada awal kemunculannya. Seiring berkembangnya jaman dan teknologi fotografi dapat dijadikan atau bertambah fungsi sebagai media komunikasi. Fotografi pada saat ini juga bisa menjadi sebuah media untuk melakukan dakwah kepada khalayak umum yang lebih luas. Apa yang Anda Ketahui Tentan Fotogafi Human Interest?

Pengertian Fotografi Human Interest

Jika ditinjau dari asal-usul kata, arti human interest (bahasa Inggris) adalah human berarti manusia, bersifat manusia, sedangkan interest berarti perhatian, minat; kepentingan; berminat pada; menarik perhatian. Pengertian human interest dalam lingkup fotografi adalah apabila suatu karya fotografi yang lebih menekankan pada aspek ceritanya dari pada aspek keindahan visualnya. Sebuah cerita yang mempunyai makna, menyampaikan sebuah pesan kepada pengamat, sehingga bagi orang yang peka terhadap „amanahnya‟ akan tersentuh hatinya atau merasa terharu. Nilai foto human interest lebih ditekankan pada aspek yang berada di balik apa yang tampak (tersirat) dari pada aspek yang tampak, dalam hal ini hasil rekaman mengenai objek atau benda yang difoto (tersurat, visual).

Human interest adalah salah satu dari banyak jenis fotografi yang ada. Karya fotografi human interest dapat diinterpretasikan menjadi berbagai macam ragam, hal tersebut tergantung pengalaman visual dari para pengamatnya dan juga aspek pesan yang ingin disampaiakan oleh fotografernya.

Fotografi jenis ini menjadikan kita untuk selalu berusaha mengamati pola tingkah laku manusia, dan mengasah cara berkomunikasi. Komunikasi memegang peranan penting dalam mendekati subjek. Dengan komunikasi yang baik, seorang fotografer mampu memahami subjek foto agar subjek mampu menanggalkan sifat menutup diri, sehiingga hasil foto yang ada lebih natural dan jujur.

Foto jenis ini memerlukan kejujuran dalam menyampaikan pesan untuk menggores memori dan rasa dari para penikmatnya. Dari sisi cerita dan juga nilai yang dapat dirasakan juga akan berbeda dengan jenis fotografi yang lainnya, human interest lebih menantang dan menarik. Selain itu juga menawarkan sisi humanis dan kadang pemaknaannya bisa beragam. Dengan menggerakkan sisi humanis, sebuah foto bercerita tentang realita yang ada dalam suatu jejak rekam waktu. Subjek fotografi ini beragam, tidak selalu menceritakan tentang kesedihan, tapi segala aspek perasaan yang dirasakan manusia.

Fotografi human interest akan mengajarkan bagaimana mengapresiasi sebuah kejadian yang mungkin hana terjadi sekali dalam rentetan waktu, mengajarkan bagaimana pola perilaku masyarakat sehari-harinya, dan bagaimana mengantisipasi kejadian yang ada, mengomposisikannya, serta merekam sebuah momen yang tidak terulang.

Tujuan Foto Human interest

Berdasarkan pengertian foto human interest, yaitu suatu karya fotografi yang lebih menekankan pada aspek ceritanya terutama yang berkenaan dengan manusia, maka tujuan foto human interest adalah berkarya fotografi yang lebih diarahkan untuk menggambarkan adegan-adegan kehidupan manusia di dalam aktivitas hidupnya sehari-hari. Foto-foto yang menyajikan kehidupan manusia sehari-hari, atau yang dapat menimbulkan asosiasi dengan kehidupan manusia, dapat dimasukkan ke dalam kategori foto human interest. Penyajian tentang aspek–aspek kehidupan manusia dalam fotografi human interest lebih dekat dengan reportasi, pada dasarnya foto human interest juga reportasi, akan tetapi bukan untuk kepentingan pemberitaan sebagai news. Dalam reportasi human interest, titik tolaknya adalah kemanusiaan dan “human relations”, sedangkan dalam foto-foto berita (bukan foto human interest) yang dikemukakan lebih ditekankan pada aspek aktualitas, kehangatan dari suatu peristiwa. Sebagai contoh, dalam fotografi human interest dapat menampilkan aktivitas kehidupan dari salah satu kelompok masyarakat pedalaman yang tingkat kehidupannya relatif tertinggal dengan kelompok masyarakat lainnya di Indonesia. Fotografer dapat merekam apaapa yang ada pada kelompok masyarakat yang masih tertinggal tersebut, antara lain yaitu mengenai tata-cara atau adat istiadat dalam kehidupan mereka dalam bermasyarakat, misalnya bagaimana tata-cara mereka dalam berkomunikasi dengan sesamanya, bagaimana mereka menyelenggarakan upacara keagamaan/kepercayaan, perkawinan dan sebagainya.

Objek dalam Foto Human Interest

Secara umum, yang dimaksud objek adalah hal, benda, perkara yang menjadi pokok pembicaraan atau sasaran untuk diteliti, diperhatikan dan. Yang dimaksud objek foto di sini adalah benda baik yang berwujud manusia, binatang dan benda alam lainnya yang direkam melalui perangkat fotografi. Oleh karena itu, pengertian objek foto lebih berkenaan dengan apa yang tampak, terlihat, kongkrit atau visual. Objek-objek dalam foto tersebut merupakan rekaman objek yang menggambarkan adegan tertentu tentang aktivitas manusia, yang diangkat dari kehidupannya sehari-hari. Misalnya, di lokasi perumahan yang sedang dibangun, tampak beberapa objek foto dapat berupa manusia baik sebagai mandor/pengawas, tukang, kuli bangunan yang sedang melaksanakan pekerjaannya masing-masing. Pada foto tersebut juga bisa dilengkapi oleh rekaman objek-objek pendukungnya, misalnya berupa bangunan yang sedang dibangun beserta peralatan dan bahanbahan bangunan. Contoh fotografi human interest lainnya, misalnya di saat hujan tampak sosok seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita sambil membawa payung. Objek dan adegan dalam foto tersebut merupakan hal yang lazim terjadi, namun jika objek dan adegan tersebut diambil melalui sudut pandang yang tepat, dengan pencahayaan yang mendukung, serta posisi tubuh dan ekspresi wajah yang menarik pada objek yang difoto tersebut, tentulah foto tersebut dapat menyebabkan munculnya penafsiran-penafsiran lebih jauh atau pun dapat berfungsi sebagai simbol tertentu daripada sekedar objek dan adegan ibu yang sedang menggendong anaknya dalam cuaca hujan tersebut.

Tema Dalam Foto Human Interest

Arti tema secara umum adalah pokok pikiran, dasar cerita yang dipercakapkan, dipakai dasar mengarang dan sebagainya. Ada objek yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan suatu pokok persoalan (tema). Tiap-tiap „adegan‟ (yang dikesankan oleh objek atau objek-objek foto) yang dapat menyampaikan „sesuatu‟ yang lebih jauh dari pada objek dan adegan dalam fotografi disebut tema. Berdasarkan penjelasan tentang pengertian tema secara umum tersebut, maka yang dimaksud tema dalam foto human interest adalah berkaitan dengan kesan- kesan psikologis yang ditimbulkan oleh objek foto. Kesan-kesan psikologis tersebut berkenaan dengan pokok pikiran, dasar cerita yang erat kaitannya dengan aspek hidup dan kehidupan manusia atau kemanusiaan. Hal-hal ini antara lain meliputi: Kehidupan di dalam hubungan dengan pekerjaan, misalnya: petani, buruh, nelayan, pegawai. Kehidupan keluarga, misalnya: mengurus rumah tangga, mencuci pakaian, mencuci alat-alat dapur, mengasuh anak, menyusui anak, memberi makan, main-main dengan anak. Kehidupan pribadi, misalnya: mandi, mencuci rambut, belajar, makan. Kehidupan sosial, misalnya: upacara penganten, khitanan, festival, sembahyang massal.

Dari adegan-adegan objek-objek tersebut diharapkan dapat „menyiratkan, memancarkan‟ aspek-aspek emosional tentang manusiamanusia yang menjadi objek pemotretan tersebut. Kejadian sehari-hari, rutinitas kegiatan manusia tidak dapat ditampilkan sebagai berita yang hangat (aktual), yang akan menarik perhatian manusia secara luas. Nilai dari foto-foto human interest bukan terletak pada keindahan aspek visualnya semata, akan tetapi lebih ditekankan pada „keindahan, keasyikan‟ ceritanya. Sebuah cerita, yang bermakna, dapat menyampaikan sebuah pesan kepada pengamat, sehingga bagi orang yang sensitif terhadap amanahnya sebagai manusia, tentunya akan segera tersentuh hatinya dan bisa saja menjadi „terharu‟.

Simbol Dalam Foto Human Interest

Pengertian simbol atau lambang secara umum adalah sesuatu tanda (lukisan, lencana, dsb.) yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Secara teoretis, simbol pada karya seni rupa termasuk karya fotografi dapat diketahui maknanya melalui perwujudan serta konteks sosial budaya dimana dan kapan karya tersebut diciptakan. Simbol adalah sesuatu atau semacam „tanda‟ yang memiliki makna lebih dari pada perwujudannya itu sendiri. Setiap unsur fisik karya seni rupa merupakan tanda.

Oleh karena dalam proses penyampaian maksud mengenai pokok persoalan (tema) yang ada di benak fotografer diungkapkan dengan bahasa rupa secara simbolis (dengan cara melakukan proses simbolisasi atas obyek dan adegan tertentu), maka dimungkinkan dapat memunculkan makna denotatif (makna yang sebenarnya, yang tampak, yang tersurat, yang visual) atas obyek dan adegan tersebut, dan dapat pula memunculkan berbagai macam makna konotatif (makna yang tersirat, kiasan, konsep) atas obyek dan adegan tersebut. Halhal tersebut antara lain erat berkaitan dengan berbagai faktor, faktor-faktor tersebut antara lain adalah: siapa yang mengasosiasikan/ menginterpretasikan obyek dan adegan itu; serta di mana dan kapan obyek dan adegan simbolis itu berada (kontekstual).

Foto human interest juga dapat menimbulkan semacam bahasabahasa simbol. Karena sesuatu yang abstrak dalam cerita tidak dapat dilukiskan oleh kata-kata, seperti bahasa sastra, akan tetapi harus disajikan dalam bentuk gambar- gambar. Oleh karena gambar-gambar itu harus diambil dari kejadian yang nyata, maka fotografer berupaya mencari objek-objeknya (hal-hal, bendabenda, keadaan-keadaan) yang memungkinkan objek tersebut dapat menyampaikan suatu pesan (tema) secara simbolis sesuai dengan tujuan fotografer.

Sumber:

Menurut Rangga Aditiawan (2011: 3), Secara terminologi fotografi berasal dari bahasa yunani yaitu Photos dan graphos. Photos artinya cahaya, dan graphos yang artinya menggambar. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses melukis dengan menggunakan media cahaya. Istilah umum dari fotografi yaitu proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Salah satu alat yang dapat untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Menurut Jubilee Enterprise (2012: 95), fotografi human interest adalah merupakan fotografi yang membidik tentang kehidupan manusia. Contohnya, interaksi manusia dengan alam atau interaksi manusia dengan manusia dengan manusia. Human interest dalam karya fotografi adalah menggambarkan kehidupan manusia atau interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari serta ekspresi emosional yang memperlihatkan manusia dengan masalah kehidupannya,
yang mana kesemuanya itu membawa rasa ketertarikan dan rasa simpati bagi orang yang menikmati foto tersebut.

Untuk mendapatkan hasil fotografi human interest yang menarik diperlukan konsep, proses dan teknik–teknik yang ada dalam ilmu fotografi. Teknik tersebut seperti menekankan pada mengekspos sudut, kecepatan, cahaya, dan pemanfaatan ruang, komposisi gambar, sudut pandang atau angle, peralatan, pemilihan waktu, dan lain-lain.