© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja yang dapat menjadi penyebab bau mulut?

Bau mulut

Bau mulut seringkali mengganggu dalam kehidupan sosial seseorang. Kira-kira, apa saja penyebab munculnya bau mulut? Apakah benar hanya karena jarang menggosok gigi saja?

Bau mulut, atau dalam istilah medis, halitosis, dapat disebabkan oleh berbagai hal, namun seringkali penyebabnya adalah bakteri di mulut, sehingga boleh dikatakan bau mulut dapat dicegah dengan rajin gosok gigi.
Berikut adalah beberapa penyebab tumbuhnya bakteri dalam mulut:

  • Saliva (air liur) berkurang karena mengonsumsi alcohol, kafein, makanan pedas, atau karena merokok
    Hal-hal di atas dapat menyebabkan mulut kering sehingga bakteri dapat tumbuh bebas

  • Lidah jarang dibersihkan
    Pada lidah juga dapat tumbuh bakteri. Cukup disikat dengan halus menggunakan sikat gigi atau pembersih lidah.

  • Terserang penyakit pernapasan
    Penyakit mulai dari yang ringan seperti flu sampai bronchitis disebabkan oleh bakteri yang juga dapat menyebabkan bau mulut. Kadang karena penyakit pernapasan, pernapasan dapat tersumbat sehingga terpaksa bernapas melalui mulut dan menyebabkan mulut kering, sehingga bakteri dapat tumbuh bebas.

  • Sariawan
    Kadang sariawan disebabkan oleh bakteri. Bila sangat mengganggu, boleh konsultasi ke dokter untuk meminta antibiotik.

  • Penggunaan obat tertentu
    Beberapa obat juga dapat menyebabkan mulut kering. Tidak perlu berhenti menggunakan obat, seringlah minum air atau mengunya permen karet tanpa gula.

  • Tonsil stones
    Tonsil stones adalah sekumpulan bakteri yang berada di amandel. Dapat dibersihkan dengan kumur-kumur air garam

  • Konsumsi gula berlebih
    Bakteri senang dengan gula. Setelah makan, jangan lupa gosok gigi dan dental-flossing.

  • Gigi berlubang
    Gigi berlubang dapat menyebabkan terkumpulnya bakteri tersembunyi di mulut. Kunjungi dokter gigi untuk penanganan lebih lanjut.

  • Naik asam lambung
    Bisa terjadi karena sisa makanan yang berada di asam lambung yang naik. Kunjungi dokter untuk diberikan penanganan yang tepat.

Adapun sebab lain selain bakteri, adalah diet rendah karbohidrat. Rendahnya karbohidrat dapat menyebabkan munculnya zat keton yang dapat menyebabkan bau mulut. Bila sangat mengganggu, bisa mengonsumsi permen karet bebas gula.

Sumber: webMD.com

Bau mulut tidak hanya disebabkan oleh masalah kesehatan gigi, gusi, dan makanan yang berbau menyengat. Beberapa kondisi kesehatan lain yang juga bisa menjadi penyebabnya bau mulut di antaranya:

  • Xerostomia, yaitu mulut kering yang terjadi karena gangguan produksi air liur akibat bakteri menumpuk di rongga mulut.

  • Gangguan saluran pencernaan, seperti infeksi bakteri H.pylori yang menyebabkan sakit maag dan penyakit asam lambung (GERD).

  • Sinusitis yang menghasilkan post nasal drip atau aliran cairan kental dari rongga sinus ke tenggorokan.

  • Pengaruh kondisi lain, seperti diabetes, gangguan hati, atau infeksi saluran pernapasan.

Selain beberapa kondisi kesehatan di atas, bau mulut juga bisa disebabkan oleh kebiasaan merokok, kurangnya kebersihan mulut, makanan atau minuman tertentu, dan diet yang berlebihan sehingga menyebabkan kekurangan karbohidrat.

Sumber

Masalah bau mulut atau halitosis sepertinya cukup banyak dialami oleh orang lain, juga tercermin dari banyaknya obat atau permen penyegar mulut yang diiklankan. Bau mulut dapat disebabkan oleh penguraian sisa makanan oleh bakteri di mulut, makanan tertentu, puasa, atau akibat beberapa kondisi atau penyakit yang menyebabkan bau mulut menetap.

Menurut Dokter Zubairi Djoerban, spesialis penyakit dalam, bau mulut pada pagi hari misalnya, disebabkan karena pada waktu tidur aliran air liur tidak lancar karena lidah dan rahang tidak bergerak. Akibatnya sisa makanan tertahan dan bakteri di mulut akan menguraikannya dan melepaskan bau yang tidak sedap. Bau ini akan hilang setelah membersihkan gigi atau sarapan. Sebagian besar penyebab bau mulut berasal dari mulut, jarang sekali ditemukan penyebab di luar mulut. Makan bawang, petai, jengkol, alkohol, merokok juga dapat menyebabkan bau mulut setelah mengonsumsinya.

Merokok mengurangi aliran air liur sehingga bau mulutnya lebih lama menetap. Bau mulut saat puasa disebabkan karena untuk mengatasi kekurangan makanan, tubuh memecah cadangan lemak. Senyawa sisa akibat pemecahan lemak tersebut (keton) kemudian dikeluarkan melalui napas dan menimbulkan bau yang khas.

Bau mulut yang menetap biasanya disebabkan oleh penyakit pada gusi. Tanda-tanda yang dapat istri Anda perhatikan adalah apakah saat menyikat gigi, gusi mudah berdarah. Dengan bantuan cermin, perhatikan apakah gusi tampak merah, memucat jika ditekan, dan sedikit membengkak pada daerah pertemuan dengan gigi.

Penyakit gusi disebabkan karena plak, semacam selaput yang lengket, yang dibentuk oleh bakteri setiap hari. Bakteri ini biasanya senang berkumpul di antara gigi atau antara pertemuan gigi dengan gusi. Bakteri, sisa makanan, dan air liur dapat berkumpul pada lidah bagian belakang dan mungkin dapat menimbulkan bau mulut.

Radang sinus menahun, masalah pada saluran pencernaan, dan obat-obat yang dapat mengurangi air liur seperti beberapa jenis obat penenang dan alkohol juga dapat menyebabkan bau mulut.

Lidah juga dapat dibersihkan dengan sikat gigi yang lembut satu kali sehari, jika bisa sampai ke bagian belakang lidah. Menyikat lidah harus dilakukan secara lembut, karena jika tidak maka justru dapat timbul luka (yang mungkin tidak terasa) pada lidah dan menjadi tempat berkumpulnya bakteri. Makan permen karet yang bebas gula juga dapat membantu meningkatkan aliran air liur karena gerakan rahang yang aktif.

Cairan pembersih mulut yang dijual di pasaran juga dapat membantu, hanya penggunaannya harus hati-hati dan dibatasi. Karena banyak dari cairan tersebut yang bersifat asam.

Bau mulut atau halitosis adalah aroma tak sedap saat udara terhembus dari mulut. Penyebabnya bervariasi, beberapa penelitian menyebutkan bahwa 80-90% penyebab bau mulut berasal dari bakteri yang di dalam mulut.

Akibat suatu kondisi tertentu, bakteri di dalam mulut mengeluarkan zat Volatile Sulfur Compounds (VSC) yang disinyalir merupakan asal-muasal timbulnya bau mulut. Bakteri penyebab bau mulut tersebut bersembunyi dan menempel dengan kuat pada lapisan biofilm yang terletak di permukaan lidah dan di balik gusi, sehingga tidak bisa dihilangkan dengan produk kesehatan mulut biasa.

Di samping itu, ada pula bau mulut yang disebabkan oleh faktor di luar rongga mulut. Beberapa di antaranya adalah infeksi saluran penapasan (sinusitis), infeksi saluran pencernaan (GERD), karsinoma dan diabetes melitus.

Selain beberapa faktor yang sudah dijelaskan di atas, ada juga hal lain yang menyebabkan bau mulut tak kunjung hilang meski sudah menyikat gigi, diantaranya:

  1. Karang gigi
    Karang gigi terbentuk dari sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi. Selain mengganggu penampilan, karang gigi juga bisa menjadi penyebab dari bau mulut. Hal ini dikarenakan karang gigi adalah salah satu tempat yang baik bagi perkembangbiakan bakteri. Jika tindakan pembersihan gigi tidak segera dilakukan, maka risiko bau mulut akan Anda hadapi meski sudah menyikat gigi.

  2. Gigi berlubang
    Gigi berlubang bisa menjadi penyebab bau mulut yang tak kunjung hilang. Gigi berlubang akan meningkatkan bau mulut karena ada bakteri yang bersarang di sana. Selain itu, gigi yang patah atau jika ada akar gigi yang tertinggal juga bisa menjadi ruang bagi perkembangan bakteri sehingga menyebabkan bau mulut yang berkepanjangan.

  3. Mulut kering
    Mulut kering atau xerostomia merupakan permasalahan umum yang sering menyebabkan berbagai gangguan di mulut. Salah satunya adalah menyebabkan bau mulut. Penyebab mulut kering adalah kurangnya air liur di dalam mulut sehingga bisa menjadi tempat untuk berkembangnya bakteri dan meningkatkan risiko kerusakan pada gigi.

  4. Infeksi sinus
    Bukan hanya saluran pencernaan yang bisa meningkatkan risiko bau mulut, saluran pernapasan pun memiliki efek yang sama. Saat seseorang menderita sinus yang berkepanjangan, maka lendir akan terperangkap di sekitar tenggorokan. Dan lendir merupakan salah satu ruang pertumbuhan bakteri yang cukup ideal. Pada akhirnya, napas pun akan menjadi bau karena adanya lendir di tenggorokan.

  5. Menyikat gigi dengan cara yang salah
    Meski terlihat sepele, ternyata jika Anda tidak menyikat gigi dengan cara yang benar hal itu bisa menimbulkan bau mulut. Sisa-sisa makanan yang masih terdapat di sela gigi dapat menyebabkan bau mulut. Cara menyikat yang baik adalah menggosok gusi dan gigi dengan gerakan melingkar. Jika Anda memulainya dari bagian geraham atas, maka Anda akan menyelesaikan sikatan Anda pada gigi geraham bawah. Anda akan menghabiskan waktu sekitar 2-3 menit untuk menyikat seluruh bagian gigi Anda.

Sumber: http://doktersehat.com/sudah-menyikat-gigi-tapi-mulut-masih-bau-apa-penyebabnya/

image
Sumber gambar : gusmus.net

Menurut penelitian terbaru yang sudah diterbitkan di jurnal Nature Genetics, masalah bau mulut (halitosis) tidak selalu karena makanan. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa ada orang yang mewarisi mutasi genetik sehingga muncul bau mulut terus menerus. Ini adalah penelitian pertama yang menghubungkan masalah genetik dan halitosis. 90 persen manusia memiliki bau mulut karena makanan, dan 10 persen halitosis dianggap ekstra-oral atau timbul secara internal akibat masalah yang mempengaruhi kondisi hidung, sinus, amandel, esofagus, dan darah. Masalah ini termasuk infeksi, diabetes, gangguan perut, atau pengobatan tertentu.

Untuk bau mulut karena makanan, hal itu disebabkan oleh senyawa yang ada dalam makanan, seperti senyawa sulfat alil metil sulfida yang ada di bawang putih dan metil propil sulfida pada bawang merah. Sementara halitosis ekstra-oral selalu muncul karena bau itu berasal dari darah, melalui paru-paru ke napas. Sedangkan bentuk oral disebabkan oleh bakteri di rongga mulut seperti yang telah disampaikan co-author Edwin Winkel dari University of Gronginen dan Clinic for Periodontology, Amsterdam.

Winkel kemudian mengambil sampel cairan tubuh dari wanita dan mengirimnya ke Radbound Universitu Nijmegen Medical Center untuk dianalisis. Sampel yang diteliti oleh Albert Tangerman dan Ron Wevers itu terbukti memiliki konsentrasi tinggi yang tidak normal pada 4 metabolit mengandung sulfur. Dua dari empat metabolit itu merupakan senyawa volatil dimetilsulfida dan methanethiol, yang bisa jadi berasal dari makanan dan diproduksi dalam jumlah besar di usus. Tidak mengherankan, saat wanita itu melepaskan metabolit, akan timbul bau mulut. Mereka juga menemukan protein dan methanethiol oxidase yang disebabkan bakteri Hyphomicrobium. Bakteri ini memakan kontaminasi di limbah, termasuk sulfur seperti methanethiol.

Op den Camp juga menemukan kasus yang sama pada tiga keluarga yang ada di Jerman, Portugis, dan Belanda, dan untuk menindaklanjuti penelitian ini, para ilmuwan mengambil sampel dari napas, darah, dan urin dari tiga keluarga tersebut. Semua sampel yang diambil menunjukkan adanya mutasi pada gen SELENBP1 yang mengkodekan protein pengikat selenium 1. Hal ini ditemukan sebagai methanethiol oxidase. Individu yang menyimpan mutasi gen ini tidak dapat memecah methanethiol dengan benar dan menyebabkan bau mulut sangat busuk. Peneliti memperkirakan bahwa 1 dari 90.000 orang membawa gen mutasi ini.

Meski memiliki bau mulut parah, hal ini tidak mengurangi kemampuan indra pengecap untuk mencicipi makanan. Hanya saja, bau mulut itu akan mengganggu orang lain daripada diri sendiri, karena orang yang memiliki masalah bau mulut sudah terbiasa dengan bau napasnya.

Sumber : https://sains.kompas.com/read/2017/12/22/190400123/bau-mulut-bisa-jadi-bukan-karena-makanan-tetapi-mutasi-genetik

penyebab dari bau mulut dapat bersumber dari 2 tempat, yaitu:

Faktor intra-oral


  • Bakteri
    Dalam kebanyakan kasus (80-90%), bakteri yang hidup di dalam mulut adalah salah satu penyebab bau mulut. Tempat-tempat yang biasa ditempati hidup bakteri antara lain:

    1. Lidah
      Daerah lidah yang paling banyak ditempati bakteri adalah bagian posterior karena pada daerah ini terdapat plak gigi yang merupakan tempat ideal untuk bakteri.Tekstur permukaaan lidah menentukan penimbunan plak. Penderita dengan lidah yang bercelah dan beralur dalam akan lebih potensial untuk akumulasi plak dibandingkan dengan lidah penderita yang permukaannya lebih licin (Nachnani, 2008).

    2. Batas gusi dan interdental
      Daerah batas gusi baik di sekeliling dan di antara gigi merupakan lingkungan anaerob yang ideal untuk pertumbuhan bakteri terutama pada penderita dengan penyakit periodontal (Nachnani, 2008).

    Beberapa bakteri yang menyebabkan halitosis adalah bakteri jenis anaerob yaitu bakteri Bacteriodes forsythus, Porphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia, Peptostreptococcus mikro, Campylobacter rectus, Fusobacterium nucleatum (Roldan, et al., 2003; Donaldson, 2005).

    Bakteri anaerob dan banyak bakteri gram negatif dalam rongga mulut mendegradasi protein dari sisa-sisa makanan, sel deskuamatif oral mukosa, protein saliva, leukosit, plak, dan pembusukan microbial untuk menghasilkan asam amino. Terdapat tiga asam amino utama yang menghasilkan gas VSC, yaitu L. cysteine menghasilkan H2S, L. metionine menghasilkan CH3SH, L. cistine menghasilkan (CH3)2S.

    Bau dari gas VSC hampir 90% terdiri atas hidrogen sulfida dan methyl merkaptan, sedangkan dimetilsulfida hanya sebagian kecil (Donaldson, 2005).Halitosis dihasilkan oleh bakteri yang hidup secara normal di dalam permukaan lidah.Bakteri tersebut secara normal ada disana karena bakteri tersebut membantu proses pencernaan manusia dengan cara memecah protein (Djaya, 2000).

    Spesies bakteri yang terdapat pada permukaan oral dapat bersifat sakarolitik, yaitu menggunakan karbohidrat sebagai sumber energi. Spesies lain bersifat asakarolitik atau proteolitik, yaitu menggunakan protein, peptida atau asam amino sebagai sumber utamanya (Loesche, 1997). Kebanyakan bakteri gram positif bersifat sakarolitik dan bakteri gram negatif bersifat asakarolitik atau proteolitik (Djaya, 2000). Bakteri gram negatif merupakan penghuni utama plak supragingival termasuk plak yang menutupi lidah dan permukaan mukosa lainnya.

    Porphyromonas gingivalis dan prevotella intermedia secara normal terdapat dalam plak supragingival dan sangat efektif dalam pembentukan halitosis (Kleinberg, 1997). Peran Porphyromonas gingivalis dalam halitosis adalah dengan memproduksi metil mercaptan (CH3SH) yang merupakan salah satu komponen mayor dari gas VSC. Peran Prevotella intermedia dalam halitosis adalah dengan memproduksi hidrogen sulfida (H2S) yang juga merupakan salah satu komponen mayor gas VSC (Loesche, 2000).

    Porphyromonas gingivalis
    Gambar. Porphyromonas gingivalis

  • Penyakit periondontal
    Penyakit periodontal merupakan penyebab kedua terbanyak bau mulut. Biasanya timbul setelah usia 35 tahun. Pada penyakit periodontal, infeksi bakteri terdapat pada jaringan sekitar gigi. Bila lebih lanjut dapat mengakibatkan destruksi tulang sekitarnya menyebabkan pembentukan periodontal pockets yang sulit dibersihkan sehingga merupakan tempat ideal untuk bakteri (Koshimune, et al, 2003).

  • Xerostomia
    Adanya cairan mulut membuat kita menelan.Setiap menelan kita membuang bakteri, makanan dan debris.Kelembaban ini juga melarutkan dan membuang kotoran yang diproduksi bakteri.Selain itu, saliva juga mempunyai senyawa yang dapat membunuh bakteri dan menetralkan kotoran yang diproduksinya. Oleh karena itu mulut yang mengalami kekeringan akan menimbulkan bau yang persisten (Koshimune, et al, 2003; Ellis, 2009).

Faktor ekstra-ora


Diperkirakan, sekitar 10% penyebab halitosis adalah faktor ekstra oral (Ellis,
2009). Faktor-faktor ekstra oral tersebut antara lain :

  • Makanan/minuman
    Makanan dapat menyebabkan bau mulut, dan yang terbanyak adalah bawang merah dan bawang putih karena kadar sulfurnya yang tinggi. Minuman seperti kopi juga dapat menyebabkan bau mulut. Makanan atau minuman ini akan dicerna menjadi molekul-molekul yang beberapa diantaranya mempunyai bau. Molekul- molekul ini akan diabsorsikan masuk ke dalam sirkulasi dan didistribusikan ke seluruh tubuh. Ketika melalui paru-paru, beberapa molekul ini dilepas sehingga saat kita menghembuskan nafas, nafas kita akan mengandung molekul yang berbau ini (Koshimune, et al 2003).

  • Merokok
    Bau mulut perokok disebabkan oleh tar, nikotin dan lainnya yang berasal dari rokok yang berakumulasi di gigi dan jaringan mulut (lidah, gusi, dan sebagainya). Merokok juga akan mengeringkan jaringan mulut sehingga mengurangi efek pencucian dan buffer oleh saliva terhadap bakteri dan kotoran yang dihasilkannya (Kleinberg, 1995).

  • Obat-obatan
    Penggunaan obat-obatan juga mempengaruhi bau mulut karena beberapa obat bisa menyebabkan kekeringan pada mulut (Trudie, 2011).

    Obat-obat yang menyebabkan kekeringan mulut (Trudie, 2011) antara lain :

    • Antiparkinson
    • Antihistamin atau dekongestan
    • Antipsikotik
    • Antikolinergik
    • Narkotik
    • Antihipertensif
    • Antidepresan
  • Gangguan saluran pernafasan
    Gangguan saluran pernafasan meliputi gangguan saluran pernafasan atas (sinusitis kronik, obstruksi nasal, abses nasofaringeal dan karsinoma laring) dan gangguan saluran pernafasan bawah (bronchitis, bronkiektasis, pneumonia, abses pulmonal,karsinoma paru).

  • Gangguan saluran pencernaan
    Gangguan saluran pencernaan seperti penyakit fistula lambung dan ulser lambung.

  • Penyakit sistemik
    Penyakit sistemik bisa mempengaruhi bau mulut dan setiap penyakit- penyakitnya mempunyai bau yang bervariasi atau khas.

Halitosis didefinisikan sebagai bau tidak enak yang keluar dari rongga mulut, tanpa melihat sumber bahan odorus dalam nafas baik dari oral maupun non-oral. Klasifikasi halitosis dibagi menjadi genuine halitosis , pseudo halitosis dan halitofobia.

Berdasarkan penyebabnya, halitosis dapat dikelompokkan menjadi intraoral atau faktor lokal dan ekstraoral atau faktor sistemik.

Faktor intraoral

Dalam rongga mulut, bau mulut biasanya disebabkan karena kebersihan mulut yang buruk, gingivitis, periodontitis, soket gigi yang terinfeksi, sisa darah post bedah, debri yang melekat pada bahan alat gigi, ulser mulut, serostomia dan tongue coating.

Secara normal, rongga mulut merupakan tempat hidup yang baik bagi banyak spesies baik bakteri, jamur, maupun virus, namun pada pasien halitosis intraoral, lebih banyak ditemukan variasi bakteri dari kokobasilus batang gram negatif dan batang gram positif. Walaupun tidak ditemukan hubungan yang pasti antara genus bakteri dengan halitosis, namun dengan adanya peningkatan diversitas spesies dalam subyek halitosis, menunjukkan bahwa interaksi dari beberapa spesies yang justru menimbulkan halitosis.

Kebanyakan komponen odor berasal dari dekomposisi protein diman terdapat sepuluh komponen organik volatil pada pasien halitosis oral berurutan dari yang terbesar sampai terkecil adalah methylbenzene, 2,2-dimethyldecane, 2,2,3,3-tetramethylbutane, 2-propanone, 3-methyl-5-propylnonane, methylcyclohexane, 3- methylhexane, 2-methyl-1-propene, etanol dan methylcyclopentane.

Bahan odor oral yang dihasilkan oleh mikroorganisme antara lain komponen sulfur volatil (terutama metil merkaptan [CH3SH], hidrogen sulfida [H2S] dan dimetil sulfida [CH3SCH3]), poliamin (putresin dan kadaverin) dan asam lemak rantai pendek (asam butirat, asam valerat dan asam propionik).

Komponen sulfur volatil menempati 90% dari total udara dalam rongga mulut. Dalam penelitian yang menganalisis hubungan bakteri penghasil odor dan jenis odor, ditemukan bahwa Prevotella intermedia, Prevotella nigrescens dan Treponema denticola berkorelasi dengan kadar hidrogen sulfida; Porphyromonas gingivalis, P. intermedia, dan Tannerella forsythensis berkorelasi dengan kadar metil merkaptan. Selanjutnya, metil merkaptan merupakan penyebab utama halitosis dibandingkan hidrogen sulfida dan dimetilsulfida; dimana metil merkaptan dan hidrogen sulfida berasal dari intraoral, sedangkan dimetilsulfida diduga berasal dari ekstraoral.

Tabel Jenis bakteri yang menghasilkan komponen sulfur volatil intraoral dari intraoral, seperti hidrogen sulfida dan metil merkaptan.9

Bakteri Komponen sulfur volatil
P. intermedia hidrogen sulfida
P. nigrescens hidrogen sulfida
T. denticola hidrogen sulfida
P. gingivalis metil merkaptan
P. intermedia metil merkaptan
T. forsythensis metil merkaptan

Faktor ekstraoral

Penyebab ekstraoral dari halitosis antara lain sinusitis kronik, faringitis, laringitis, tonsilitis dan tonsiloliths. Selain itu, penggunaan obat-obatan seperti kloral hidrat, isorbid dinitrat, dimetil sulfoksida, dilsulfiram, bahan sitotoksik, paraldehid, dan triamteren serta penyakit sistemik seperti diabetes melitus, penyakit pada sistem respiratorius atau gastrointestinal, gagal organ hepar atau renal, dan gangguan metabolik trimetilamin juga berperan dalam timbulnya halitosis.

Pada halitosis ekstraoral, 90% substansi penyebab dalam saluran gastrointestinal adalah asam lemak (asam asetat, asam propionik dan asam butirat), 6,5% amoniak dan sisanya adalah komponen sulfur (hidrogen sulfida, dan metil merkaptan) dan komponen nitrogen (indol, skatol, piridin, pirol, amonia, trimetilamin).

Kondisi nafas yang tidak segar dapat mengganggu aktivitas sehari – hari kita, apalagi yang sering berinteraksi dengan orang lain. Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab nafas tak segar, pada umumnya faktor tersebut adalah bakteri yang terdapat pada mulut. Perkembangbiakan bakteri yang berlebihan pada organ mulut dapat menghasilkan aroma yang tidak sedap dan tentunya tidak segar. Salah satu pemicu nafas tidak segar adalah kurang atau jarangnya merawat kesehatan mulut dan gigi.
ads

Oleh karena itu, keuntungan dari menjaga bersihan gigi dan mulut, karena Anda dapat mendapat keuntungan seperti nafas yang segar. Apabila Anda sudah mengalami nafas dengan aroma yang tak sedap dan bau mulut, Anda bisa mencoba beberapa tanaman penghilang bau mulut.

Selain faktor adanya aktivitas bakteri yang sudah dsebutkan di atas, penyebab nafas tak segar juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti yang dijelaskan di bawah ini.

  1. Dehidrasi
    Dehidrasi dapat menyebabkan nafas tidak segar. Bila Anda tidak minum air yang cukup, makanan yang masih tersissa pada mulut dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri yang terdapat pada mulut. Bakteri dapat berkembang dengan pesat hingga menyebabkan nafas menjadi tidak segar. Banyak minum air putih merupakan salah satu cara mengatasi bau mulut secara tradisional.

  2. Sakit Maag
    Sakit maag dapat menyebabkan bau mulut, hal ini dipengaruhi oleh aktivitas bakteri penyebab sakit maag itu sendiri, yaitu Helicobacter pylori. Bakteri tersebut dapat menyebabkan nafas tak segar karena infeksi yang terjadi pada daerah lambung. Infeksi yang diakibatkan oleh aktivitas bakteri tersebut dapat menghasilkan gas atau senyawa yang memiliki bau tidak sedap. Selain itu, bakteri tersebut dapat menurunkan tingkat keasaman daripada lambung, sehingga pencernaan makanan seperti protein tidak dapat dicerna dengan baik, hingga makanan yang terdapat pada lambung bisa menghasilkan aroma yang tidak segar.

  3. Kelebihan Berat Badan
    Berat badan dapat menjadi salah satu faktor penyebab nafas tak segar. Penelitian yang dilakukan oleh Tel Aviv University menunjukkan bahwa orang dengan kelebihan berat badan cenderung memiliki nafas yang tak segar, hal ini mungkin dapat disebabkan adanya kesalahan fungsi pada sistem biologis dari orang dengan berat badan berlebih. Oleh karena itu, sebaiknya kita menjaga berat tubuh yang normal dengan sering berolahraga dan mengonsumsi pola makan yang sehat dan teratur.

  4. Mengidap Penyakit yang Berbahaya
    Anda mungkin tidak menyangka bahwa beberapa penyakit yang serius dan berbahaya dapat menyebabkan nafas Anda tidak segar. Beberapa penyakit tersebut antara lain penyakit ginjal dan hepatitis. Selain penyakit tersebut, terdapat juga beberapa penyakit penyebab bau nafas seperti sinusitis dan radang amandel juga dapat menyebabkan nafas tidak segar. Bila Anda merasa kurang sehat disertai dengan ada baiknya Anda segera mengecek kondisi kesehatan Anda ke dokter.

  5. Baru Bangun Tidur
    Hal ini tentunya sering terjadi pada hampir setiap orang. Pada saat Anda bangun tidur, nafas yang dikeluarkan terasa sangat tidak segar dan memiliki aroma yang tidak sedap. Hal ini dapat diakibatkan karena menurunnya produksi saliva pada mulut, sehingga menyebabkan bakteri mengalami perkembangan yang pesat saat kita tidur. Bila Anda sudah mengalami bau mulut ataupun nafas yang tidak segar, Anda bisa mencoba berbagai cara alami menghilangkan bau mulut seperti mengonsumsi air rebusan jahe.

  6. Merokok
    Merokok adalah penyebab nafas tak segar, hal ini disebabkan karena asap rokok yang memang memiliki aroma tidak segar (untuk sebagian orang kecuali perokok) dan juga pengaruhnya pada mulut. Merokok dapat menyebabkan produksi air liur menurun, sehingga meningkatkan aktivitas bakteri penyebab nafas tak segar. Anda bisa mencoba cara merawat mulut berbau paling mudah seperti menggunakan obat kumur, apabila nafas Anda tidak segar karena merokok, hingga menyebabkan bau mulut.

drg. Callista Argentina membeberkan secara lengkap faktor-faktor yang berperan pada terjadinya mau mulut, yaitu :

  • Tidak kontrol rutin ke dokter gigi
    Apakah Anda melakukan kontrol gigi rutin ke dokter gigi, setidaknya 6 bulan sekali? Jika tidak, bukan tak mungkin di dalam rongga mulut Anda terdapat karang gigi. Karang gigi (calculus) yang tidak dibersihkan dapat menyebabkan radang gusi (gingivitis) dan gusi berdarah, sehingga dapat mencetuskan terjadinya bau mulut

  • Gigi berlubang yang tidak ditambal
    Gigi berlubang yang tidak ditambal memiliki kemungkinan yang tinggi untuk disusupi makanan. Keadaan ini pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya bau mulut.

  • Akar gigi yang tertinggal
    Sisa akar gigi atau sisa gigi yang menampung “limbah” makanan busuk dapat menyebabkan terjadinya bau mulut.

  • Gigi palsu yang kurang pas
    Pemasangan gigi palsu yang kurang pas bisa membuat sisa makanan masuk dan nyangkut di sela-sela, sehingga bisa menimbulkan bau mulut.

  • Mulut kering
    Mulut kering atau xerostomia bisa merupakan efek samping dari suatu terapi, kelainan kelenjar ludah ataupun kebiasaan bernapas lewat mulut. Keadaan ini dapat memicu terjadinya bau mulut.

www.klikdokter.com

Menurut B. Binting (1985) bau mulut terjadi oleh berbagai sebab yaitu :

  1. Kesehatan yang kurang baik, terutama penderita penyakit kencing manis (diabetes), maka nafasnya akan berbau yang khas yaitu bau keton.

  2. Pencernaan yang tidak baik sehingga sebagian dari makanan itu menjadi basi mengeluarkan bau yang tidak baik. Hal ini bisa terjadi pada orang yang selalu makan terlalu banyak dan tidak teratur, kurang bergerak.

  3. Memakan makanan yang mengeluarkan bau yang merangsang yaitu seperti jengkol, pete, durian dan lain-lain.

  4. Adanya penyakit amandel atau polyp hidung yang meradang.

  5. Gigi yang sudah membusuk (gangren) , sumsum gigi yang sudah membusuk akan mengeluarkan bau yang khas yaitu bau gangren. Biasanya gigi yang sudah membusuk warnanya gigi jadi agak gelap kecokelatan atau kebiruan, kalau seseorang tersebut berbicara bau itu akan tercium.

  6. Selubung gigi yang longgar. Kalau pembuatan selubung gigi tidak baik maka akibatnya sisa makanan akan banyak terperangkap dan susah membersihkannya, sehingga terjadilah proses pembusukan yang dilaksanakan oleh kuman mulut. Demikian juga apabila seseorang memakai gigi palsu yang bisa dibuka-buka tapi malas membersihkannya maka bau busuk akan terjadi, oleh kotoran yang melekat pada gigi palsu itu.

  7. Kotoran yang melekat pada gigi, adanya karang gigi akan menimbulkan bau yang tidak enak.

  8. Gusi yang meradang dengan kotoran yang dalam berisi kotoran yang membusuk.

  9. Sela-sela yang cara membersihkannya tidak sempurna, sehingga kotoran gigi yang tersembunyi disitu membusuk.

  10. Mulut yang kering.

Bau mulut atau dalam bahasa medis fetor ex ore adalah bau nafas yang tidak enak, dan tidak menyenangkan serta menusuk hidung. Bau mulut bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu gejala adanya kelainan/penyakit yang tidak disadari.

Bau mulut biasanya disebabkan oleh masalah dari rongga mulut itu sendiri. Namun tidak menutup kemungkinan bau mulut berasal dari luar mulut, seperti hidung, faring, paru-paru dan lambung. Normalnya, bau dari rongga mulut tidak tetap, tetapi berubah dari waktu ke waktu sepanjang hari dan dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, keadaan perut lapar dan menstruasi. Bau mulut akan terjadi pada seseorang yang sehat bila rongga mulut tidak melakukan aktivitas selama kira-kira 1-2 jam. Misalnya pada keadaan puasa, bangun tidur, atau pada orang yang menggunakan gigi palsu yang jarang atau tidak pernah dibersihkan.

Jika bau nafas yang sebelumnya normal berubah menjadi tidak sedap, maka penyebabnya adalah:

  • Makanan yang memang “beraroma”, misalnya petai, jengkol, durian, bawang putih.

  • Suplemen atau makanan yang mengandung protein tinggi, misal keju, daging.

  • Gigi berlubang ( caries dentis ).
    Kuman dalam plak gigi akan mengurai sisa makanan terutama karbohidrat dan gula dan menghasilkan asam yang menyebabkan gigi kehilangan mineral, atau disebut demineralisasi. Bila terjadi demineralisasi maka gigi menjadi berlubang.

  • Plak dan karang gigi.
    Plak adalah sekumpulan kuman yang kenyal dan lengket yang terkumpul pada gigi, di atas dan di bawah gusi. Kuman plak akan menghasilkan asam yang menyebabkan kerusakan gigi atau toksin yang menyebabkan timbulnya karang gigi dan radang gusi.

  • Gejala mulut kering atau xerostomia.
    Keadaan dimana mulut kekurangan suplai aliran saliva (ludah) sehingga mengakibatkan mulut mengalami kekeringan akan ludah. Hal ini memicu bakteri lebih cepat berkembang sehingga menyebabkan bau (Bartels, n.d.).

  • Nanah dari infeksi gusi dan gigi.

  • Kelainan organik akibat penyakit kronis, misalnya gangguan liver yang kronis, gangguan fungsi ginjal, serta diabetes yang kadar gulanya tak terkontrol dan tinggi.