Apa saja sumber kebahagiaan menurut Islam ?

kunci kebahagiaan

Kebahagiaan yang sempurna hanya akan didapat ketika seseorang hamba telah mampu ikhlas dalam beragama, yang berarti ikhlas ketika melaksanakan seluruh ibadah yang diwajibkan kepadanya secara terus-menerus.

Apa saja sumber kebahagiaan menurut Islam ?

Kebahagiaan merupakan hal penting yang ingin dicapai oleh setiap orang dalam hidupnya. Cara untuk memperoleh kebahagiaan dapat melalui berbagai jalan, misalnya melalui jalan dalam bidang sosial dan politik, seperti berlaku adil, berbuat baik kepada sesama, menyayangi yatim piatu, bersahabat dengan fakir miskin, menyingkirkan duri di jalan, menyebar senyuman kepada saudara, mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada kemungkaran, selalu “tawadhu”, selalu bersyukur atas karunia yang sudah diberikan, dan lain-lain. Kebahagiaan juga ditempuh melalui jalan ritual “ubudiah”, seperti menegakkan shalat, berpuasa baik wajib maupun sunnah, menunaikan ibadah haji, dan sebagainya. Itu semua merupakan jalan menuju Allah, yang berefek secara psikologis terhadap ketenangan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh pengamalnya.

Seluruh perbuatan tersebut merupakan perintah Allah dan jika seseorang mengerjakannya berarti ia sedang mengingat kepada-Nya. Melalui zikir perbuatan, Allah akan menurunkan karunia kebahagiaan yang tiada tara, seperti yang diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram (QS. Ar-Ra’d: 28).

Kebahagiaan dalam pandangan islam bertumpu pada upaya untuk tidak merasa kecewa dengan apapun yang diterima dari Allah dan selalu mensyukurinya. Hal ini dikenal sebagai sifat qana’ah. Qana’ah memiliki lima aspek yang terkait langsung dengan kehidupan manusia, yaitu:

  1. menerima dengan rela apa yang diberikan Allah,
  2. memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan tetap berusaha,
  3. menerima dengan sabar akan ketentuan Allah,
  4. bertawakal kepada-Nya,
  5. tidak tertarik dengan tipu daya kesenangan dunia (Sanusi, 2006).

Sikap qana’ah akan mengarahkan seseorang kepada kebahagiaan dan membawa seseorang untuk mengelola apa yang sudah diterima dan selalu mensyukurinya. Rasulullah SAW menganggap sikap qana’ah sebagai “harta” yang tidak akan hilang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah,

“Qana’ah adalah harta yang tidak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap”

Hadist tersebut turut memperjelas makna kebahagiaan bagi orang yang beriman, yaitu mampu menilai dan menghiasi kehidupan ini sesuai dengan nilai dan porsi yang semestinya.

Beragam sumber kebahagiaan dapat diperoleh. Ia dapat di raih dan dirasakan kapan dan dimana saja, karena ia tidak mengenal ruang dan waktu. Secara mutlak ia bersumber dari Allah. Allah-lah yang memancarkan kebahagiaan itu keseluruh penjuru alam. Namun pancaran itupun akan dapat diraih ketika kita mempunyai akal dan hati yang baik. karena sesungguhnya akal dan hati yang memegang peranan penting adanya kebahagiaan tersebut. peranan hati menyikapi arti sebuah kebahagiaan sedangkan nalar lebih mengacu kepada apa yang telah diarahkan dan disikapi oleh hati.

Selain gambaran di atas, manusia dapat memperoleh sumber-sumber kebahagiaan melalui beberapa hal. Seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali, antara lain:

1. Akal Budi

  • Sempurna Akal

    Kesempurnaan akal harus dengan ilmu. Ilmu yang membuat manusia memahami sesuatu. Ilmu yang memberi kemudahan teknis bagi manusia untuk mengekspresikan nilai-nilai keimanannya. Bahkan, sebuah ibadah kalau tidak diiringi dengan ilmu, ibadah tersebut diragukan kualitasnya. Orang yang memiliki ilmu berpotensi besar untuk bahagia karena dengan ilmunya dirinya memiliki kemungkinan paling besar untuk menggenggam dunia dan segala isinya.

  • Iffah (menjaga kehormatan diri)

    Orang yang berupaya terus-menerus dengan sungguh-sungguh untuk memelihara kesucian hati sehingga akan tetap tegar menghadapi ujian dan kesulitan-kesulitan hidup. Dari situ, terbuka tabir-tabir yang menuntun dirinya kearah sikap dan perbuatan yang berkualitas. Perbuatan yang diridhai oleh Allah SWT. Kebahagiaan hati akan terasa apabila hidup kita diridhai oleh Allah SWT.

  • Syaja’ah (berani)

    Keberanian dalam menegakkan kebaikan dan menyingkirkan keburukan dengan berbagai resiko dan konsekuensinya. Selain itu, berani mengakui kesalahan diri sendiri dan berani mengakui kelebihan orang lain. Berani untuk tidak mengungkit-ungkit aib dan cacat-cela orang lain dan berani memaafkan orang yang pernah berbuat salah pada diri kita.

  • Al-Adl (Keadilan)

    Keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempat dan porsinya. Keserasian dan keteraturan dalam memperlakukan sesuatu dapat menghadirkan kebahagiaan.

  • Tubuh (jasmani)

    Manusia akan merasakan kebahagiaan jika tubuhnya:

    • Sehat yakni sehat secara fisik dan psikis.
    • Kuat yakni memiliki kekuatan fisik dan ketahanan mental.
    • Fisik yang gagah dan cantik.
    • Mendapat anugerah „umur panjang‟.
  • Luar Badan

    Yakni sesuatu yang dapat mendatangkan kebahagiaan yang diraih berdasarkan usaha manusia.

    • Kekayaan atau harta benda

      Kekayaan boleh jadi menjadi sumber kebahagiaan kalau ia digunakan sesuai dengan kehendak yang memberi kekayaan. Namun dapat mendatangkan penderitaan hidup, jika ia diarahkan untuk menentang kemauan Allah SWT.

    • Keluarga

      Silaturrahim yang hidup dan hubungan yang tetap terjalin akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Misalnya saat semua keluarga berkumpul. Di satu sisi, dengan hadirnya keluarga akan menjadi tempat bersandar, jika sewaktu-waktu kita membutuhkan. Saling menyayangi bantu-membantu akan semakin mempererat hubungan diantara sesama. Keharmonisan hubungan akan mengurangi beban hidup baik materi maupun kejiwaan dan memungkinkan terjadi perpanjangan umur.

    • Popularitas

      Menjadi orang yang terpandang dan terhormat dapat menjadi sumber kebahagiaan selama tidak tersentuh oleh riya dan sum’ah. Yang diharapkan dari kepolpuleran dirinya memancarkan sikap dan perilaku hidup yang baik untuk diteladani oleh orang lain.

    • Taufik dan Bimbingan Allah

      Taufik adalah bertemunya kemauan Allah dengan kemauan manusia. Pengakuan adanya taufik sangat penting agar manusia menyadari bahwa setiap keberhasilannya bukan hasil upayanya semata-mata melainkan karena adanya campur tangan tuhan dibalik semua itu. Taufik dan bimbingan Allah terdiri dari empat unsur, yaitu:

      • Hidayah (Petunjuk Allah)
      • Irsyad (Bimbingan Allah)
      • Tasdid (Dukungan Allah)
      • Ta’yid (Bantuan Allah)
    • Bahagia Akhirat

      Kebahagiaan akhirat merupakan titik kebahagiaan terakhir yakni ketika kehidupan manusia di dunia berganti dengan kehidupan akhirat. Dalam menjalankan kehidupan disana yang menjadi parameternya bukan harta kekayaan, pangkat dan jabatan yang tinggi, ataupun ketenaran tetapi keseluruhan amal yang mendatangkan keridhaan Allah SWT.

Imam Ibnul Qayyim pernah berkata, “Kunci kebahagiaan ada tiga. Pertama, bersyukur atas nikmat Allah. Kedua, bersabar atas musibah. Dan ketiga, meminta ampun jika berbuat maksiat.”

Yang pertama bersyukur atas nikmat Allah.

Setiap orang pasti pernah mendapatkan nikmat dari Allah SWT. Dari nikmat yg besar maupun kecil sekalipun. Maka cara terbaik dan paling sesuai dengan ridha Allah adalah dengan bersyukur kepada-Nya. Dengan adanya bersyukur, maka diri kita akan merasa lebih bahagia dan tentunya juga akan menyadarkan kita begitu banyaknya nikmat yg Allah berikan kepada kita :sparkles:. Selain bersyukur di dalam hati, ada juga bersyukur secara lisan. Tidak usah ribet-ribet, membaca Alhamdulillah saja itu kamu sudah bersyukur kok :grinning_face_with_smiling_eyes:

Yang kedua, bersabar atas musibah.

Setiap orang juga pernah mengalami musibah, maka cara terbaik untuk menghadapi musibah tersebut adalah dengan kesabaran. Banyak orang beranggapan bahwa musibah yang menimpanya merupakan bentuk kemurkaan Allah, padahal sebaliknya, musibah itu merupakan bentuk lain dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Karena musibah tidak lepas dari dua kemungkinan: bisa jadi sebagai peringatan ketika orang itu sedang lalai supaya sadar dari kelalaiannya, ada kalanya sebagai ujian untuk meningkatkan derajat keimanannya :+1:

Sabar yang dimaksud di sini adalah kesadaran bahwa semua yang terjadi pada diri kita merupakan pemberian terbaik dari Allah SWT meskipun pemberian itu terkadang terasa pahit dan tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Sebab, Allah tidak hanya memberikan yang kita inginkan, tetapi memberikan yang kita butuhkan✨️

Yang ketiga, meminta ampun jika berbuat maksiat.

Setiap orang juga pernah melakukan maksiat, maka cara terbaik untuk menghapusnya adalah dengan cara bertobat. Hal ini pernah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya :

“Setiap manusia pernah bersalah (berdosa), dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertobat.” (HR al-Turmudzi dan Ibnu Majah).

Dengan selalu bertobat dari setiap kesalahan yang kita lakukan dan mengikutinya dengan perbuatan baik, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kita :innocent::+1: