© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa Saja Sifat-sifat Guru dalam Agama Islam?

Tugas utama guru adalah “mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik … “. Demikian bunyi pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen.

Batasan tugas guru tersebut menunjukkan bahwa sosok guru memiliki peran strategis dalam proses pendidikan, bahkan sumber daya pendidikan lain yang memadai seringkali kurang berarti jika tidak disertai dengan kualitas guru yang bermutu. Dengan kata lain, guru merupakan kunci sukses dan ujung tombak dalam upaya
meningkatkan kualitas layanan dan hasil pendidikan.

Sifat-Sifat Guru

Mengingat beratnya tugas dan tanggungjawab guru dalam Islam, tidak semua muslim bisa menjadi guru. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Beberapa ahli pendidikan Islam telah merumuskan syarat-syarat yang harus dipenuhi guru, terutama dari aspek kepribadian.

Al-Gazâlî menyebut beberapa sifat yang harus dipenuhi guru, yaitu :

  • Kasih sayang dan lemah lembut
  • Tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa
  • Jujur dan terpercayabagi murid-muridnya
  • Membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan marah
  • Luhur budi dan toleransi
  • Tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya
  • Memperhatikan perbedaan individu
  • Konsisten.

Abd al-Raḥman al-Naḥlâwî menyebutkan beberapa sifat yang harus dimiliki para pendidik, yaitu;

  1. Bersifat rabbâni, yaitu semua aktifitas, gerak dan langkah, niat dan ucapan, sejalan dengan nilai-nilai Islam
  2. Ikhlas
  3. Penyabar
  4. Jujur, terutama adanya kesamaan antara yang disampaikan (kepada murid) dengan yang dilakukan
  5. Selalu berusaha meningkatkan ilmu dan terus mengkajinya;
  6. Menguasai berbagai metode mengajar dan mampu memilih metode yang sesuai;
  7. Mampu mengelola murid, tegas dalam bertindak serta meletakkan berbagai perkara secara proporsional;
  8. Memahami perkembangan psikis anak;
  9. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola berpikir angkatan muda
  10. Bersikap adil dalam menghadapi murid

Menurut Asma Hasan Fahmi, sifat-sifat yang harus dimiliki pendidik adalah :

  1. Tidak boleh mengharapkan upah dan imbalan materi dari pekerjaan mengajar karena tujuan mengajar tidak lain untuk mengharap ridla Allah
  2. Guru harus lebih dahulu membersihkan anggota badan dari dosa-dosa
  3. Harus sesuai antara perkataan dan perbuatan
  4. Rendah hati dan tidak perlu malu dengan ucapan “tidak tahu”
  5. Harus pandai menyembunyikan kemarahan, dan menampakkan kesabaran, hormat, lemah lembut, kasih sayang dan tabah unuk mencapai sesuatu keinginan

Al-Qalqasyandî menyebut sifat-sifat yang harus dimiliki guru adalah :

  1. Sehat akalnya
  2. Memiliki pemahaman yang tajam
  3. Beradab
  4. Adil
  5. Bersifat perwira
  6. Perkatannya jelas, dan mudah dipahami dan berhubungan satu dengan yang lain
  7. Memilih perkataan-perkataan yang mulia dan baik
  8. Menjauhi sesuatu yang membawa kepada perkataan yang tak jelas

Sifat-sifat guru sebagaimana disebut beberapa tokoh di atas, sangat ideal, tapi masih bisa dilakukan asal ada kemauan keras dari para guru. Di era sekarang, ketika ukuran-ukuran moral kian terpinggirkan oleh pola hidup modern yang sekuler, sifat-sifat ideal tersebut semakin terasa untuk direaktualisasikan.

Yang menarik dari beberapa pendapat di atas, al-Gazâlî dan Hasan Fahmi sama-sama mempersyaratkan agar guru tidak menerima gaji. Bagaimana jika hal ini dihubungkan dengan konteks sekarang? Menurut al-Qabisi, kondisi guru perlu dibedakan antara periode awal Islam dengan masa sesudahnya. Di masa awal, tugas mengajarkan agama dilakukan secara sukarela ditopang semangat dakwah yang tinggi dan tanpa gaji.

Tapi, setelah Islam menyebar luas, semakin sulit mendapatkan orang yang mau mengajar umat Islam dan anak-anak mereka, karena pekerjaan mengajar memerlukan ketekunan dan harus meninggalkan kegiatan usaha untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.

Guru Profesional

Apa yang disampaikan para ahli pendidikan Islam di atas adalah persyaratan guru agama secara umum. Sedangkan bagi guru agama profesional, ada beberapa syarat tambahan yang harus dipenuhi.

Untuk kasus Indonesia, misalnya, ketentuan tentang guru profesional diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pada pasal 1 ayat (1) dinyatakan, guru adalah “pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Istilah profesional dalam definisi guru di atas, menunjuk pada pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.

Sedangkan menurut Noeng Muhadjir, istilah profesional mengarah pada tampilnya kemampuan untuk membuat keputusan keahlian atas beragam kasus serta mampu mempertanggungjawabkan berdasar teori dan wawasan keahliannya.

1 Like

Adab Seorang Guru Terhadap Siswa (Anak Didik)


Adab guru terhadap siswa (anak didik) ada empat belas macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Dalam menjalankan profesi sebagai guru yang tugas utamanya adalah memberikan pengajaran dan pendidikan kepada siswa, sudah seharusnya seorang guru membangun niat dan tujuan yang luhur, yakni demi mencari ridlo Allah SWT.
  2. Hendaknya bersabar dan tidak menyurutkan semangatnya dalam memberikan pengajaran kepada murid.
  3. Mencintai para siswa sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, berusaha memenuhi kemaslahatan (kesejahteraan) mereka.
  4. Mendidik dan memberi pengajaran kepada mereka dengan penjelasan yang mudah dipahami sesuai dengan kemampuan mereka.
  5. Bersungguh-sungguh dalam memberikan pengajaran dan pemahaman kepada mereka.
  6. Meminta sebagian waktu mereka (para siswa) untuk mengulang kembali pembahasan yang telah ia sampaikan.
  7. Apabila di antara para siswa terdapat siswa yang tempat tinggalnya cukup jauh sehingga untuk sampai ke tempat pengajaran gurunya itu (sekolah, madrasah dan sebagainya) dibutuhkan waktu yang cukup lama dan juga stamina yang prima, seorang guru hendaknya memaklumi keadaannya jika saat mengikuti pelajaran siswa itu mungkin nampak kelelahan atau sering terlambat lantaran perjalanan yang telah ditempuhnya.
  8. Tidak memberikan perhatian dan perlakuan khusus kepada salah seorang siswa di hadapan siswa-siswa yang lain.
  9. Memberikan kasih sayang dan perhatian kepada siswa.
  10. Selain dalam hal kasih sayang dan perhatian, etika seorang guru juga selalu bersikap lembut, ramah, pelan-pelan dan menyejukkan kepada para muridnya agar dia bisa memasuki hati muridnya yang terdalam, menyingkap kesiapan mereka dan menghilangkan hijab atau penghalang antara dirinya dengan para muridnya.
  11. Membiasakan diri sekaligus memberikan contoh kepada siswa tentang cara bergaul yang baik.
  12. Apabila memungkinkan (punya kemampuan), seorang guru hendaknya turut membantu dan meringankan masalah mereka dalam hal materi, posisi, dan sebagainya.
  13. Apabila di antara beberapa siswa terdapat seorang siswa yang tidak hadir dan hal itu di luar kebiasaannya, hendaknya ia menanyakannya kepada siswa lain.
  14. Meskipun berstatus sebagai guru yang berhak dihormati oleh murid-muridnya, hendaknya ia tetap bersikap tawadhu’ (rendah hati) terhadap mereka.
  15. Memerlakukan siswa dengan baik.

Adab bagi Seorang A’lim (Ulama/Guru)


Di antara banyak adab (etika) yang harus dimiliki oleh seorang pribadi a’lim (ahli ilmu), sedikitnya ada dua puluh macam, sebagaimana berikut :

  1. Selalu mendekatkan diri (muraqabah) kepada Allah dalam berbagai situasi dan kondisi.
  2. Takut (khouf) kepada murka/siksa Allah SWT dalam setiap gerak, diam, perkataan dan perbuatan.
  3. Sakinah (bersikap tenang).
  4. Wara’ (berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatan).
  5. Tawadhu’ (rendah hati/tidak menyombongkan diri).
  6. Khusyu’ kepada Allah SWT.
  7. Senantiasa berpedoman kepada hukum Allah dalam setiap hal (persoalan).
  8. Tidak menjadikan ilmu pengetahuan yang dimiliki sebagai sarana mencari (tujuan) keuntungan duniawi seperti harta benda (kekayaan), kedudukan (jabatan), prestise, pengaruh, atau untuk menjatuhkan orang lain.
  9. Tidak merasa rendah di hadapan para pemuja dunia (orang yang punya kedudukan dan harta benda).
  10. Zuhud (tidak terlampau mencintai kesenangan duniawi) dan rela hidup sederhana.
  11. Menjauhi pekerjaan yang dianggap rendah/hina menurut pandangan adat maupun syari’at.
  12. Menghindari tempat-tempat yang menimbulkan fitnah.
  13. Menghidupkan syiar dan ajaran-ajaran Islam.
  14. Menegakkan sunnah Rasulullah dan memerangi bid’ah serta memerjuangkan kemaslahatan umat Islam.
  15. Menjaga (mengamalkan) hal-hal yang sangat dianjurkan oleh syari’at Islam.
  16. Mempergauli manusia (orang lain) dengan akhlak-akhlak terpuji.
  17. Menyucikan jiwa dan raga dari akhlak-akhlak tercela dan menghiasi keduanya dengan akhlak-akhlak mulia.
  18. Selalu berusaha mempertajam ilmu pengetahuan (wawasan) dan amal.
  19. Tidak merasa segan dalam mengambil faedah (ilmu pengetahuan) dari orang lain.
  20. Meluangkan sebagian waktu untuk kegiatan menulis (mengarang/menyusun kitab).

Adab Mengajar bagi Seorang A’lim (Ulama/Guru)


Keberadaan seorang guru dalam menuntut ilmu sangatlah penting. Sebab sesat dan tidaknya langkah murid sangat bergantung pada gurunya. Sikap murid apakah dia akan menjadi orang fundamentalis, modern, liberal, bahkan melenceng dari ajaran syar’i sangat dipengaruhi oleh doktrin yang diajarkan terhadapnya. Sehingga diperlukan adab guru dalam mengajar murid khususnya dalam pendidikan akhlak.

Adab mengajar bagi a’lim (Ulama/Guru) ada tiga belas macam, di antaranya:

  1. Sebelum mendatangi majelis kelas/ruang perkuliahan, seorang a’lim hendaknya terlebih dahulu menyucikan diri dari segala hadats (yakni dengan mandi jinabah atau berwudlu) dan kotoran/najis, memakai parfum, serta mengenakan pakaian yang layak.
  2. Apabila ia telah sampai di majelis pengajaran, hendaknya mengucapkan salam kepada seluruh hadirin.
  3. Menghadapi seluruh hadirin dengan penuh perhatian.
  4. Sebelum memulai pengajaran, hendaknya ia membaca beberapa ayat al-Qur’an terlebih dahulu dengan maksud mengambil berkah dari ayat-ayat Allah.
  5. Apabila ia hendak menyampaikan pelajaran lebih dari satu materi (pembahasan), sebaiknya ia memulainya dengan materi-materi yang lebih penting dahulu.
  6. Mengatur volume suara sehingga tidak terlampau keras (terdengar dari luar majelis/kelas) ataupun terlalu pelan.
  7. Menjaga (mengendalikan) majelis dari kegaduhan, kebisingan, dan segala sesuatu yang dapat mengganggu kelancaran (konsentrasi) proses belajar mengajar.
  8. Mengingatkan para hadirin (siswa) akan pentingnya menjaga kebersamaan dan persaudaraan.
  9. Memberi peringatan tegas terhadap siswa yang melakukan hal-hal di luar batas etika yang semestinya dijaga di saat mereka berada di dalam majelis.
  10. Apabila ia ditanya tentang suatu persoalan yang tidak ia ketahui, hendaknya ia mengakui ketidaktahuannya itu.
  11. Apabila ia di dalam majelis pengajaran ikut pula hadir seorang yang bukan dari golongan mereka, hendaknya seorang guru memerlakukannya dengan baik dan berusaha membuatnya nyaman berada di majelis tersebut.
  12. Menyebut dan menyertakan asma Allah baik ketika membuka maupun menutup pengajaran.
  13. Mengajar secara profesional sesuai bidangnya.