© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja sebab-sebab munculnya sifat Ghuluw?

ghuluw

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar. Apa saja sebab-sebab timbulnya Ghuluw?

Sebab-sebab munculnya sikap ghuluw ini bermacam-macam, di antaranya:

  • Kebodohan dalam agama. Ini meliputi kebodohan terhadap tujuan inti syariat Islam dan kaidah-kaidahnya serta kebodohan dalam memahami nash-nash al-Qur’ân dan Sunnah. Sehingga kita lihat sebagian pemuda yang memiliki semangat akan tetapi masih dangkal pemahaman dan ilmunya terjebak dalam sikap ghuluw ini.

  • Taqlîd (ikut-ikutan). Taqlîd hakikatnya adalah kebodohan. Termasuk di antaranya adalah mengikuti secara membabi-buta adat istiadat manusia yang bertentangan dengan syariat Islam serta mengikuti tokoh-tokoh adat yang menyesatkan. Kebanyakan sikap ghuluw dalam agama yang berlaku di tengah-tengah masyarakat berpangkal dari sebab ini.

  • Mengikuti hawa nafsu. Timbangan hawa nafsu ini adalah akal dan perasaan. Sementara akal dan perasaan tanpa bimbingan wahyu akan bersifat liar dan keluar dari batasan-batasan syariat.

  • Berdalil dengan hadits-hadits lemah dan palsu. Hadits-hadits lemah dan palsu tidak bisa dijadikan sandaran hukum syar’i. Dan pada umumnya hadits-hadits tersebut dikarang dan dibuat-buat bertujuan menambah semangat beribadah atau untuk mempertebal sebuah keyakinan sesat.

Yusuf Qardhawi, menyatakan bahwa sikap ghuluw mempunyai beberapa ciri. Di antaranya adalah:

  • Fanatik terhadap salah satu pandangan. Sikap fanatik berlebihan ini mengakibatkan seorang akan menutup diri dari pendapat kelompok lain dan menyatakan bahwa pandangannyalah yang paling benar. Pandangan yang berbeda adalah salah. Padahal para salaf shaleh bersepakat menyatakan, bahwa setiap orang diambil dan ditinggalkan pandangannya kecuali Rasulullah Saw.

  • Cenderung mempersulit.
    Secara pribadi boleh saja seseorang beribadah tidak menggunakan keringanan padahal itu dibolehkan. Akan tetapi kurang bijak apabila ia mengharuskan orang lain mengikutinya. Padahal kondisi dan situasi orang lain berbeda atau tidak memung kinkan. Rasulullah secara pribadi adalah orang yang sangat kuat beribadah, namun manakala ia mengimami salat di masjid maka beliau memperhatikan kondisi jamaah dengan memperpendek bacaan.

  • Berprasangka buruk kepada orang lain.
    Sikap ini muncul karena ia merasa paling benar dan menjadikan ia berprasangka buruk kepada orang lain. Seakan-akan tidak ada kebaikan kepada orang lain. Sebagai contoh, ada seorang khatib tidak memegang tongkat saat berkhutbah, atau ada orang yang makan tidak di lantai. Maka kemudian ia dituduh sebagai orang yang tidak mengikuti sunah atau mencintai Rasul. Sikap ini lahir dari rasa ujub atau merasa dirinyalah yang paling benar dan ujub itulah sebenarnya merupakan benih dari kebinasaan seseorang.

  • Suka mengkafirkan orang lain.
    Sikap ghuluw yang paling berbahaya tatkala sampai ke tingkat mengkafirkan orang lain, bahkan menghalalkan darahnya. Ini yang pernah terjadi pada kelompok khawarij. Pandangan ghuluw ini pula yang mengakibatkan terbunuhnya dua orang khalifah; Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Apa yang dulu dilakukan kelompok Khawarij saat ini juga banyak ditemukan yaitu dengan mengkafirkan para penguasa di negara-negara muslim dengan alasan tidak menerapkan hukum Tuhan. Bahkan mereka mengkafirkan para ulama yang enggan mengkafirkan para penguasa tersebut. Padahal sesuai ajaran Rasulullah Saw, seseorang tidak boleh dengan mudah mengkafirkan orang lain, sebab berimpli- kasi hukum yang panjang seperti halal darahnya, dipisah dari istrinya, tidak saling mewarisi dan sebagainya.

Sumber: Afroni, Sihabuddin, Makna Ghuluw dalam Islam: Benih Ekstrimisme Beragama. 2016