Apa Saja Penyebab Mata Merah?

Mata merah yang datang bersama nyeri mungkin membutuhkan penanganan serius. Apa Saja Penyebab Mata Merah?

Mata Kering
Mata kering dapat terjadi akibat pengobatan, perubahan hormon, atau karena penyakit tertentu. Kondisi ini terjadi ketika mata tidak memproduksi air mata yang cukup atau tidak berkualitas dalam membasahi dan menjaga kelembapan mata.

Pada mata kering yang kronis, lapisan luar mata dapat mengalami peradangan dan iritasi, sehingga muncul gejala mata merah. Gejala lain yang mungkin muncul yaitu mata terbakar, mata terasa sakit dan perih. Selain itu, kamu mungkin juga akan mengalami penglihatan kabur, mata lelah, dan belekan.

Apabila kamu mengalami masalah ini dalam tingkat ringan, obat mata di apotek berupa obat tetes akan membantu mengatasinya. Atau kamu bisa juga menggunakan obat antiradang untuk meredakan seluruh keluhan.

Masuknya Debu ke Mata
Partikel-partikal asing seperti debu atau butir pasir kecil dapat masuk ke dalam matamu. Partikel tersebut dapat menyebabkan iritasi mata dengan gejala mata merah. Bahkan, objek tersebut dapat melukai mata dan menimbulkan sakit yang tak kunjung hilang.

Maka, saat partikel asing masuk ke dalam mata, kamu dilarang menggosok mata dengan tangan. Dan jika objek yang masuk berukuran agak besar serta sulit dikeluarkan sebaiknya segera mencari bantuan medis.

Biasanya dengan mengedipkan mata beberapa kami debu akan keluar dari mata atau dengan meneteskan cairan mata agar debu keluar bersama air. Namun, kadang debu sulit keluar dan butuh bantuan tanganmu, sebaiknya perhatikan kebersihannya dahulu.

Sebelum mencoba mengeluarkan partikel tersebut, pastikan kamu sudah mencuci tangan dengan sabun, baru mata dengan air hangat. Cara lainnya dengan membiarkan air mengalir dari dahi turun ke mata yang bermasalah.

Pecahnya Pembuluh Darah Mata
Mata merah akibat pembuluh darah pecah terlihat lebih khas, berupa munculnya warna merah terang pada bagian konjungtiva. Pembuluh darah yang pecah di permukaan mata akan terlihat mencolok. Biasanya gangguan ini tidak diikuti rasa sakit dan gatal.

Meski mata merah terlihat mengkhawatirkan, namun perdarahan pada konjungtiva tidak akan memengaruhi penglihatan. Kondisi ini dapat disebabkan karena bersin terlalu kencang, menggosok mata terlalu keras, muntah-muntah yang sering, atau mengangkat beban yang terlalu berat.

Radang pada Konjungtiva (Konjungtivitis)
Konjungtivitis atau radang pada konjungtiva dapat menyebabkan pembuluh darah di mata bengkak dan mata menjadi berwarna pink hingga merah. Masalah ini biasa disebabkan oleh infeksi virus, alergi, atau iritasi debu.

Tidak hanya merah, konjungtivitis juga dapat menyebabkan mata gatal, berair, dan penuh kotoran mata. Sensasi seperti berpasir mungkin dirasakan pula.

Umumnya, gejala akan membaik dengan sendirinya setelah beberapa hari atau minggu. Namun, mata pink yang diakibatkan virus dapat menular apabila terjadi kontak dengan penderita.

Alergi
Serbuk sari, debu, bulu binatang peliharaan, parfum, atau asap sebagai alergen dapat memicu reaksi alergi. Tak hanya memerah, mata mungkin juga mengalami gatal, sensasi terbakar, dan berair. Reaksi alergi disertai pula gejala bersin dan hidung tersumbat.

Terutama jenis hay fever (alergi akibat serbuk sari di udara) paling sering terjadi dan gejalanya berupa mata merah bengkak, gatal, dan berair, hidung berair, dan batuk-batuk. Penyebab mata merah ini umumnya bisa diatasi dengan obat di rumah.

Tetapi, terkadang reaksi alergi dapat membahayakan nyawa atau disebut anafilaksis. Tanda dan gejalanya berupa kehilangan kesadaran, penurunan tekanan darah, sesak napas parah, ruam di kulit, detak jantung cepat namun lemah, mual, dan muntah. Kondisi ini perlu mendapatkan pertolongan medis segera.

Keratitis
Keratitis atau peradangan pada kornea (lapisan bening depan mata yang menutupi iris dan pupil) memiliki gejala mata merah, nyeri, berair, penuh kotoran atau belekan, sulit membuka mata karena sakit atau iritasi, dan penurunan kemampuan melihat.

Penyebab mata merah ini bisa berupa infeksi bakteri, virus, ataupun jamur. Penggunaan kontak lensa terlalu lama juga dapat menyebabkan keratitis yang tidak dapat menular.

Kondisi ini membutuhkan penanganan efektif agar tidak berdampak buruk bagi penglihatan. Apabila infeksi yang terjadi parah, komplikasi mungkin terjadi dan menyebabkan kerusakan pengelihatan secara permanen.

Glaukoma
Glaukoma merupakan penyebab kebutaan yang umumnya ditemui pada orang berusia 60 tahun ke atas. Glaukoma disebabkan oleh penumpukan cairan (aqueous humour) di bagian depan mata sehingga memberikan tekanan berlebih pada mata. Pada kondisi berat, hal ini dapat merusak saraf penglihatan.

Sebagian besar gangguan ini diakibatkan oleh tingginya tekanan pada bola mata dan tidak memberikan gejala awal apapun. Dampaknya muncul perlahan sehingga sering tidak disadari hingga kondisi sudah parah.

Gejala glaukoma akut diantaranya seperti mata merah, nyeri parah di mata, sakit kepala, penglihatan kabur, muncul halo (lingkaran cahaya pada penglihatan), mual, dan muntah. Bahkan dengan penanganan, risiko kebutaan tetap tinggi.