Apa Saja Metode dalam Psikologi Pendidikan?

psikologi pendidikan

Psikologi Pendidikan merupakan sebuah ilmu yang mempelajari mengenai cara manusia dalam belajar sebuah pendidikan pengaturan efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran dan juga di dalam psikologi sosial dari sebuah sekolah sebagai organisasi, di dalam sebuah psikologi pendidikan mempelajari cara seorang siswa dapat terfokus, berkembang pada sebuah subjek seperti bakat dari seorang anak.

Menurut Muhibin Syah (2002) psikologi pendidikan merupakan sebuah disiplin ilmu psikologi yang menyelidiki masalah psikologis yang dapat terjadi di dalam dunia pendidikan, sedangkan menurut ensiklopedia amerika psikologi pendidikan sendiri merupakan sebuah ilmu yang lebih berprinsip dalam proses pengajaran yang dapat terlibat dengan penemuan-penemuan dan juga penerapan prinsip-prinsip dan cara untuk meningkatkan keefesienan di dalam pendidikan.

Psikologi juga sangat berperan penting di dalam poses suatu pendidikan, dimana pendekatannya akan berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya. Dalam psikologi pendidikan biasanya lebih mengedepankan sikap yang mendiskriminasi para peserta didik agar peserta mendapatkan kenyamanan terhadap tujuan dari pembelajaran agar bisa tercapai dengan baik.

Lalu, coba sebutkan cara-cara atau metode dalam psikologi pendidikan?

1 Like

Adapun beberapa cara kerja atau metode dalam psikologi pendidikan diantaranya

  1. Dengan Cara Metode Experimental
    Yang dimaksudkan dalam eksperimen sendiri merupakan sebagai pengamatan yang dilakukan secara teliti pada jiwa yang ditimbulkan oleh seseorang secara sengaja. Hal tersebut dimaksudkan agar pengujian hipotesa pembuatan eksperimen mengenai reaksi individu maaupun dalam sebuah kelompok pada kondisi dimana tujuan dari dilakukannya metoe tersebut agar dapat melihat sifat-sifat umum pada kejiwaan, misalnya saja perasaan, mengenai pikiran, kemauan, ingatan dan lain sebagainya.

  2. Dengan Cara Metode Questionare
    Cara ini dilakukan agar dapat merangkai sebuah pertanyaan yang memiliki hubungan antara topik-topik psikologis, sosial, psikologi pendidikan dan lainnya, biasanya ditujukan pada sebuah kelompok maupun secara individu, cara yang dilakukan melihat masalah-masalah yang bisa terjadi dan juga dipakai dengan tujuan dignostik atau melihat sebuah ciri kepribadian, cara yang dilakukan dengan metode ini umumnya tidak teralu memakan biaya besar dan waktu yang digunakan pun relatif singkat.

  3. Dengan Cara Melakukan Metode Klinis
    Menurut seorang ahli bernama james drawer dalam sebuah kamus berjudul the penguin dictionary of psychology dengn istilah “clinic” dilakukan sebagai tempat pengobatan berbagai macam penyakit gangguan diantaranya gangguan perkembangan, gangguan fisik bisa juga gangguan kelakuan, metode ppsikologi ini juga melihat sejumlah individu yang memiliki sebuah masalah kelainan agar dapat diteliti dengan intensif waktu yang lama.

  4. Dengan Cara Melakukan Studi Kasus
    Cara ini dilakukan dalam penyelesaian suatu masalah diluar dari kesulitan dalam belajar, penyakit gangguan emosional, juga termasuk di dalamnya masalah kenakalan remaja

  5. Dengan Cara Melakukan Studi Kasus Perkembangan
    Cara ini dilakukan agar kita dapat mengetahui cara perkembangan dari suatu aspek satu ke aspek lainnya misalnya saja sebagai contoh melihat perkembangan anak dari usia 5 sampai dengan 7 tahun agar dapat menentukan beberapa metode pengajaran matematika yang sederhana dan tidak menimbulkan kecemasan.

  6. Dengan Cara Longitudinal
    Cara ini dilakukan dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus dengan subjek yang sama, misalnya saja pengamatan yang kita lakukan mengenai pendidikan anak dari usia 5 sampai dengan 7 tahun selama kurang lebih 3 tahun lamanya.

  7. Cara Cross Sectional
    Cara ini dilakukan dalam melakukan pengambilan sampel dengan perwakilan anak yang akan diteliti contohnya saja kita menggunakan anak usia 6 tahun agar dapat melihat emosi sekelompok anak pada usia 6 tahun, kemudian sekelompok anak 7 tahun agar dapat melihat emosi anak pada usia 7 tahun dan begitupun seterusnya, sehingga nantinya dapat diambil kesimpulan mengenai perkembangan dari emosi anak tiap usia masing-masing.

  8. Dengan Cara Metode Case Study
    Cara ini dilakukan untuk melihat studi kasus atau catatan mengenai pengalaman yang dilakukan oleh seseorang, misalnya saja masalah pendidikan di lingkungannya, perawatan dan juga pada umumnya masalah-masalah tertentu yang berhubungan denganh kasus medis maupun klinis.

  9. Dengan Cara Metode Observasi
    Langkah ini dilakukan dengan pencatatan data- data dengan teliti dan sebaik-baiknya biasanya data yang diobservasi dan nantinya dicatat merupakan tingkah laku bukan hanya interpretasi dari kelakuannya saja.

  10. Dengan Cara Metode Instrospeksi
    Metode cara ini dilakukan dalam pengamatan ke dalam diri sendiri untuk memantau mental dalam waktu ke waktu, biasanya dalam pengembangan ilmu psikologi pendidikan dilakukan sekelompok strukturaklisme, yang mendefinisikan psikologi ilmu yang mempelajari sebuah pengalaman sadar individu.

  11. Dengan Cara Mengumpukan Teori Sesuai Problem
    Cara ini dilakukan agar kita dapat melihat berbagai macam permasalahahan yang terjadi di dalam siswa mengenai apa saja problem maupun masalah yang sedang dihadapinya agar melakukan pembelajaran lebih baik lagi.

  12. Dengan Cara Pengujian Empiris Lapangan
    Cara ini dilakukan dengan terjun langsung melakukan ppencatatan apa saja hal-hal yang terjadi di dalam pendidikan mengenai permasalah siswa dalam menerima pendidikan agar dapat menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat ini.

  13. Dengan Cara Generalisasi dan Kesimpulan
    Cara yang terakhir ini dilakukan agar teori maupun praktik yang sudah dilakukan diambil kesimpulan dan generaalisasi agar mendapatkan jawaban dan cara penanganan yang baik terhadap permasalahan yang terjadi dalam psikologi pendidikan

Berikut ini beberapa metode pendidikan anak dengan memperhatikan tingkat perkembangan dan aspek psikologis peserta didik dalam upaya mengembangan potensi sekaligus menanamkan nilai/akhlak karimah pada peserta didik:

1. Metode Keteladanan

Keteladanan (uswah hasanah) adalah memberikan teladan atau contoh yang baik kepada peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar cenderung meneladani pendidiknya, dasarnya karena secara psikologis pelajar memang senang meniru, tidak saja yang baik, tetapi yang tidak baik juga ditiru. Kecenderungan manusia untuk meniru belajar lewat peniruan, menyebabkan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses belajar mengajar. Apalagi bagi anak usia sekolah dasar yang mudah meniru perilaku orang yang mempunyai ikatan emosi dengannya.

Ketergantungan anak kepada orang tuanya mulai berkurang, terutama sesudah berusia 9 tahun. Peranan guru di sekolah semakin meningkat, tidak jarang anak-anak menjadikan gurunya sebagai idola. Pengaruh itu amat penting dalam pembentukan identitas si anak terutama guru kelas yang membawa kepribadian, agama, akhlak dan sikapnya ke dalam kelas. Dengan kata lain, keteladanan memiliki pengaruh yang besar terhadap peserta didik terutama saat proses pendidikan berlangsung.

Metode ini secara sederhana merupakan cara memberi contoh teladan yang baik – tidak hanya memberi dalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu peserta didik tidak segan-segan meniru dan mencontohnya, seperti shalat berjama’ah, kerja sosial dan partisipasi kegiatan masyarakat.

Ahmad Syauqi berkata,

“Jika guru berbuat salah sedikit saja, akan lahirlah murid-murid yang lebih buruk baginya”

Metode keteladanan ini senada dengan apa yang diungkapkan Albert Bandura dengan teori pemodelannya. Bandura percaya bahwa proses kognitif juga mempengaruhi Observastional Learning atau jika kita hanya belajar dengan cara trial-and-error, maka belajar menjadi sesuatu yang sangat sulit dan memakan waktu lama. Salah satu kontribusi yang sangat penting dari Albert Bandura adalah menekankan bahwa manusia belajar tidak hanya dengan classical dan operant conditioning, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang lain. Yang mana teori tersebut disebutnya dengan peniruan atau modeling.

Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar social jenis ini. Contohnya, seseorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik

Beberapa tahapan terjadinya proses modeling yaitu meliputi:

  1. Atensi (perhatian)

Jika seseorang ingin mempelajari sesuatu, maka ia harus memperhatikannya dengan seksama. Sebaliknya semakin banyak hal yang menganggu perhatian, maka proses belajar akan semakin lambat, termasuk proses dengan mengamati ini.

  1. Mengingat (Retention)

Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya. Ini membolehkan subjek melakukan peristiwa itu kelak bila diperlukan atau diingini. Kemampuan untuk menyimpan informasi juga merupakan bagian penting dari proses belajar.

  1. Reproduksi gerak (Reproduction)

Setelah mengetahui atau mempelajari sesuatu tingkah laku, subjek juga dapat menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku. Praktek lebih lanjut dari perilaku yang dipelajari mengarah pada kemajuan perbaikan dan keterampilan.

  1. Motivasi

Motivasi juga penting dalam pemodelan Albert Bandura karena ia adalah penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu. Jadi subyek harus termotivasi untuk meniru perilaku yang telah dimodelkan.

Adapun menurut Al-Ajami sebagaimana dikutip oleh Jeje Musfah beberapa aspek penting pendidikan dalam teladan adalah:

  • Manusia saling memengaruhi satu sama lain melalui ucapan, perbuatan, pemikiran, dan keyakinan

  • Perbuatan lebih besar pengaruhnya dibanding ucapan

  • Metode teladan tidak membutuhkan penjelasan

Umar bin Utbah berkata kepada guru anaknya:

“Hal pertama yang harus Anda lakukan dalam mendidik anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena matanya melihatmu. Kebaikan baginya adalah apa yang kau lakukan, dan keburukan adalah apa yang kau tinggalkan.”

Teori keteladanan yang telah dijelaskan tersebut diatas, digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan lewat keteladanan dan peniruan yang baik kepada peserta didik, agar memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan khususnya untuk perkembangan moral dan keagamaan peserta didik.

2. Metode Pembiasaan

Inti dari metode pembiasaan adalah pengulangan, yaitu sesuatu yang dilakukan peserta didik hari ini akan diulang keesokan harinya dan begitu seterusnya. Metode pembiasaan ini perlu diterapkan oleh pendidik dalam proses pendidikan. Sebagai contoh misalkan jika seorang anak telah terbiasa dengan sifat-sifat terpuji maka sikap tersebut akan tersimpan dalam system
limbic otak sehingga aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik tercover secara positif. Oleh karena itu, metode pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak didik, baik pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Metode ini akan semakin nyata manfaatnya jika didasarkan pada pengalaman. Artinya, peserta didik dibiasakan untuk melakukan hal-hal yang bersifat terpuji. Misalkan, peserta didik dibiasakan untuk mengucapkan salam ketika masuk kelas.

Pembiasaan ini juga dapat diartikan pengulangan atau dalam istilah metode pembelajaran modern dikenal dengan istilah driil. Oleh sebab itu, metode ini juga berguna untuk menguatkan hafalan peserta didik. Disinilah pengaruh penggunaan metode driil pada ranah kognitif peserta didik. Penggunaan metode ini walaupun kerap kali membosankan, dapat menjadi efisien karena peristiwa yang terjadi secara bersamaan dapat menghasilkan belajar.
Salah seorang tokoh psikologi yang memberi pengaruh terhadap proses pembelajaran dengan menggunakan teori pembiasaan adalah, Edward Lee Thoorndike yang terkenal dengan teori connectionism (koneksionisme) yaitu belajar terjadi akibat adanya asosiasi antara stimulus dengan respon, stimulus akan memberi kesan pada panca indra, sedangkan respon akan mendorong seseorang untuk bertindak.

Thorndike mengungkapkan tiga prinsip atau hukum dalam belajar.

  1. Pertama, law of readiness, belajar akan berhasil jika individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut.

  2. Kedua, law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan, ulangan.

  3. Ketiga, law of effect, belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.

Melalui percobaan yang dilakukan Thorndike dapat diambil kesimpulan bahwa, suatu tingkah laku pada awalnya sangat sulit untuk melakukannya, namun karena sering mengulanginya akhirnya ia terbiasa dan menguasai tingkah laku tersebut. Thorndike juga menyimpulkan bahwa perilaku individu dapat dikondisikan. Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan auatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Kebiasaan makan atau mandi pada jam tertentu, kebiasaan berpakaian, masuk kantor, kebiasaan belajar, bekerja dan lain-lain terbentuk karena pengkondisian.

3. Metode Nasehat

Metode lain yang penting dalam pendidikan selain metode pembiasaan, metode keteladanan dalam rangka mengoptimalkan perkembangan moral, sosial dan keagamaan /spiritual anak, adalah pendidikan dengan pemberian nasehat. Tetapi pada setiap nasihat yang disampaikannya ini selalu dengan teladan dari pemberi atau penyampai nasihat itu.

Menurut Al-Ajami sebagaimana dikutip oleh Jejen Musfah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik, orang tua, dalam memberikan nasihat:

  • Memberi nasihat dengan perasaan cinta dan kelembutan. Nasihat orang- orang yang penuh kelembutan dan kasih sayang mudah diterima dan mampu merubah kehidupan manusia.

  • Menggunakan gaya bahasa yang halus dan baik.

  • Meninggalkan gaya bahasa yang kasar dan tidak baik, karena akan mengakibatkan penolakan dan menyakiti perasaan. Metode para nabi dalam dakwah adalah kasih sayang dan kelembutan.

  • Pemberi nasihat harus menyesuaikan diri dengan aspek tempat, waktu, dan materi.

  • Menyampaikan hal-hal yang utama, pokok, dan penting.

Berdasarkan pendapat di atas jelas bahwa metode nasehat yang diberikan pendidik terhadap anak didiknya sangatlah efektif, artinya pendidik hendaklah mendidik dan membimbing dengan memberikan nasehat-nasehat yang baik terhadap anak didiknya agar memiliki kesadaran akan hakikat sesuatu dan bersikap dengan akhlak karimah dalam kehidupan sehari-hari.

4. Metode Perhatian dan Kasih Sayang

Secara psikologis anak-anak membutuhkan—dalam pergaulan dan persahabatan dengan mereka—kasih sayang dan perhatian. Anak-anak, kalangan remaja hingga orang dewasa pun sama-sama membutuhkan cinta dan kasih sayang. Kasih sayang merupakan hal yang sangat penting dalam sistem pengajaran dan pendidikan anak-anak. Pentingnya metode kasih sayang atau lemah lembut dalam pendidikan, karena materi pelajaran yang disampaikan pendidik dapat membentuk kepribadian peserta didik. Dengan sikap lemah lembut yang ditampilkan pendidik, peserta didik akan terdorong untuk akrab dengan pendidik dalam upaya pembentukan kepribadian.

Carl Rogers, salah satu tokoh psikologi behavioristik berpendapat bahwa proses suasana (emotional approach) dalam pembelajaran bukan hasil dari belajar. Seorang guru harus lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang dalam proses pendidikan. Perasaan gembira, tidak tertekan, nyaman adalah hal yang dinginkan dalam proses pembelajaran. Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing- masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi- potensi yang ada pada diri mereka.

Teori belajar humanistik Rogers juga menitikberatkan pada metode student-centered, dengan menggunakan “komunikasi antar pribadi” yaitu berpusat pada peserta didik dengan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik untuk dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam suatu kehidupan.

Seorang psikolog humanistik lain yakni Maslow berpendapat, bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang dimulai dari kebutuhan jasmaniah-yang paling asasi- sampai dengan kebutuhan tertinggi yakni kebutuhan estetis. Kebutuhan jasmaniah seperti makan, minum, tidur menuntut sekali untuk dipuaskan.

Apabila kebutuhan ini terpuaskan, maka muncullah kebutuhan keamanan seperti kebutuhan kesehatan dan kebutuhan terhindar dari bahaya dan bencana. Berikutnya adalah kebutuhan untuk memiliki dan cinta kasih, seperti dorongan untuk memiliki kawan dan berkeluarga, kebutuhan untuk menjadi anggota kelompok, dan sebagainya. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan ini dapat mendorong seseorang berbuat lain untuk memperoleh pengakuan dan perhatian, misalnya dia menggunakan prestasi sebagai pengganti cinta kasih. Berikutnya adalah kebutuhan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihargai, dihormati, dan dipercaya oleh orang lain.

Implikasi dari teori Maslow dalam dunia pendidikan sangat penting. Dalam proses pembelajaran misalnya, guru mestinya memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan untuk memahami mengapa anak- anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa anak tidak dapat tenang di dalam kelas, atau bahkan mengapa anak-anak tidak memiliki motivasi untuk belajar.

Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan anak atas kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada proses tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah kebutuhan untuk tahu dan mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut belum atau tidak melakukan makan pagi yang cukup, semalam tidak tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi / keluarga yang membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang pendidik untuk selalu melandasi proses pendidikan dengan kasih sayang dan memperhatikan pribadi peserta didik.

Perlu diperhatikan oleh para pendidik bahwa kasih sayang yang berlebihan akan menumbuhkan sifat egois pada anak, yang merasa bahwa dirinya adalah pusat dari kehidupan. Nanti setelah ia dewasa bila ia tidak mendapatkan perhatian seperti yang didapatkannya saat kecil ia akan merasa bahwa dunia ini tidak menghargainya. Hal ini dapat memunculkan sifat agresif dan juga menyendiri. Keduanya ini terjadi mungkin karena kehilangan kasih sayang atau terlalu berlebihan atau dimanjakan.

Seorang pendidik yang mengabaikan cinta dan kasih sayang tidak akan mampu membangun hubungan yang baik dengan peserta didiknya, dan ia pasti gagal dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepadanya. Seorang pendidik yang penuh perhatian dan kasih sayang akan lebih memberikan pengaruh terhadap peserta didiknya. Namun pendidik yang miskin cinta tidak akan dapat menjadikan peserta didiknya sebagai pendengar yang baik.

5. Metode Bercerita

Sebuah cerita merupakan refleksi kehidupan nyata, sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi pendengar dan pembacanya, termasuk anak-anak. Alur dan tutur cerita memberikan sentuhan emosi yang luar biasa dalam kesehariaan anak, sehingga cerita memberikan banyak manfaat bagi perkembangan kepribadian anak. Di samping dapat menciptakan suasana menyenangkan, bercerita dapat mengundang dan merangsang proses kognisi, khususnya aktivitas berimajinasi, dapat mengembangkan kesiapan dasar bagi perkembangan bahasa, dapat menjadi sarana untuk belajar, serta dapat berfungsi untuk membangun hubungan yang akrab.

Berikut ini beberapa manfaat cerita bagi kepribadian anak:

  • Mengembangkan kemampuan berbicara dan memperkaya kosa kata anak. Bagi anak-anak usia SD cerita juga bisa melatih dan memperkaya kemampuan berbahasa dan memahami struktur kalimat yang lebih kompleks.

  • Bercerita atau mendongeng merupakan proses mengenalkan bentuk- bentuk emosi dan ekspresi kepada anak, misalnya marah, sedih, gembira, kesal dan lucu. Karena itu, ketika bercerita pendidik hendaknya memberikan penekanan intonasi pada bentuk emosi tertentu,
    dengan menunjukkan mimik atau ekspresi yang sesuai, sehingga anak mampu mengenali dan memahami bentuk-bentuk emosi tersebut.

  • Memberikan efek menyenangkan, bahagia dan ceria, khususnya bila cerita yang disajikan adalah cerita lucu. Secara psikologis, cerita lucu membuat anak senang dan gembira. Rasa nyaman dan bahagia lebih memudahkannya untuk meyerap nilai-nilai yang diajarkan melalui cerita.

  • Mentimulasi daya imajinasi dan kreativitas anak, memperkuat daya ingat, serta membuka cakrawala pemikiran anak menjadi lebih kritis dan cerdas. Alur cerita dengan menampilkan bentuk-bentuk emosi akan menumbuhkkembangkan daya imajinasi anak, sehingga ia merasakan senang belajar dengan membayangkan cerita tersebut.

  • Dapat menumbuhkan empati dalam diri anak. Jika anak dibacakan cerita yang menyentuh jiwa dan perasaan atau bahkan cerita yang bersumber dari pengalaman masa kecil, kejadian-kejadian di lingkungan sosial atau tayangan televisi yang menarik dan menyentuh sisi kemanusiaan, maka perasaannya akan tersentuh dan ia mulai memiliki rasa empati, mulai dapat membedakan mana yang pantas ditiru dan harus dijauhi.

  • Melatih dan mengembangkan kecerdasan anak. Cerita tidak saja menyenangkan, tetapi memberikan manfaat luar biasa bagi kecerdasan anak secara inteligen (kognitif), emosional (afektif), spiritual dan visual anak.

  • Merupakan cara paling baik untuk mendidik tanpa kekerasan, menanamkan nilai moral dan etika juga kebenaran, serta melatih kedisiplinan. Anak lebih bisa memahami hal yang perlu ditiru dan yang tidak boleh ditiru melalui cerita yang kita ungkapkan.

  • Membangun hubungan personal dan mempererat ikatan batin pendidik dengan anak. Membacakan cerita merupakan kesempatan bagi pendidik untuk lebih dekat dengan peserta didik mereka, sehingga terbina sebuah komunikasi yang baik.

Metode bercerita ini masih efektif diterapkan pada anak usia sekolah dasar. Ini dikarenakan pada usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan anak mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Pada awal masa ini, diperkirakan bahwa anak mengetahui rata-rata antara 20.000 – 24.000 kata, dan pada akhir masa (usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai 50.000 kata.

Anak-anak suka mendengarkan cerita yang sesuai dengan perkembangan kecerdasannya. Bagi mereka, cerita itu tidak terlalu dibedakannya dari dunia kenyataan. Keadaan ini dapat dimanfaatkan untuk membentuk dan membina identitas anak, karena ia meniru tokoh cerita yang dibaca, didengar atau dilihatnya.

Oleh karena itu materi cerita harus menyajikan tokoh-tokoh yang saleh, yang perbuatannya terpuji. Seorang pendidik harus mampu memilah tema cerita yang akan disampaikan kepada peserta didik agar cerita dapat menjadi suatu pelajaran bagi mereka.

6. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah metode yang sangat erat hubungannya dengan belajar memecahkan masalah (problem solving). Aplikasi metode ini biasanya melibatkan seluruh siswa atau sejumlah siswa tertentu yang diatur dalam bentuk kelompok-kelompok. Tujuan penggunaan metode diskusi ialah untuk memotivasi (mendorong) dan memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir dengan renungan yang dalam. (reflective thinking). Metode diskusi ini juga dapat diterapkan pada anak akhir masa usia sekolah dasar, karena pada masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana. Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan pola pikir atau daya nalarnya.

Menurut psikologi kognitivistik, belajar dipandang sebagai suatu usaha untuk mengerti sesuatu dengan jalan mengaitkan pengetahuan baru kedalam struktur berfikir yang sudah ada. Usaha itu dilakukan secara aktif oleh siswa. Keaktifan itu dapat berupa mencari pengalaman, mencari informasi, memecahkan masalah, mencermati lingkungan, mempraktekkan sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.

Piaget berpendapat bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Melalui metode diskusi peserta didik dilatih untuk berfikir secara aktif dan mengoptimalkan perkembangan bahasa dan social anak melalui interaksi dengan teman sebaya maupun pendidik.

Selain itu berdasar teori kognitif Piaget maka seorang pendidik harus memahami bahwa bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. Dengan demikian materi diskusi yang disajikan hendaknya sesuai dengan taraf berfikir peserta didik dan mempunyai keterkaitan dengan permasalahan kehidupan sehari-hari.

7. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode pendidikan dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui pengguaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.

Tujuan dari penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran ialah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu.

Ada asumsi psikologis yang melatarbelakangi perlunya penggunaan metode demonstrasi dalam PBM, yakni belajar adalah proses melakukan dan mengalami sendiri (learning by doing and experience) apa-apa yang dipelajari. Dengan melakukan dan mengalami sendiri, siswa diharapkan dapat menyerap kesan yang mendalam ke benaknya.

Ditinjau dari teori perkembangan kognitif Piaget, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Berdasar pengalaman ini, peserta didik membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Bagi anak SD, penjelasan guru tentang materi pelajaran akan lebih dipahami jika anak melaksanakan sendiri, sama halnya dengan memberi contoh bagi orang dewasa. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.

Banyak keuntungan psikologis paedegogis yang dapat diraih dengan menggunakan metode demonstrasi, antara lain yakni:

  • Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan

  • Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari;

  • Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.

8. Metode Bermain

Proses pembelajaran anak termasuk pada usia sekolah dasar sebaiknya dilakukan melalui metode bermain karena dunia anak adalah dunia permainan. Namun hal ini hendaknya tidak disalah artikan dengan istilah “main-main”. Bermain bukan sekedar bermain, tetapi merupakan kebutuhan pokok dan hal inilah yang harus dipahami oleh pendidik. Permainan merupakan ilmu, seni, dan pendidikan, untuk orang dewasa–terlebih lagi – untuk anak-anak.

Proses belajar dapat merupakan proses yang sangat membosankan untuk dikerjakan oleh anak-anak maupun remaja, sedangkan mereka biasanya lebih tertarik dengan permainan. Karena, proses bermain dan alat-alat permainan merupakan perangkat komunikasi, khususnya bagi anak-anak.

Dengan bermain, anak-anak mengekspresikan diri dan gejolak jiwanya. Karena itu, dengan permainan dan alat-alatnya, seseorang dapat mengetahui gejolak serta kecenderungan jiwa anak sekaligus dapat mengarahkannya.

Melalui bermain anak-anak belajar berkomunikasi dengan lingkungan hidupnya, lingkungan sosialnya serta dengan dirinya sendiri. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami lingkungan alam dan sekitarnya. Melalui bermain anak-anak belajar mengerti dan memahami interaksi sosial dengan orang-orang di sekelilingnya. Melalui bermain anak-anak mengembangkan fantasi, daya imajinasi dan kreativitasnya. Sekolah telah mengakui nilai bermain yang mendidik dengan mencakupkan permainan dan olahraga, drama, seni rupa, atau seni suara yang teratur dalam kurikulum.

Menurut Erikson dan Sigmund Freud berdasarkan teori psychoanalytic, bermain membantu anak menguasai kecemasan dan konflik. Dengan bermain anak dapat menyalurkan energi dan emosi yang tertahan serta mengekspresikan dirinya sehingga hal tersebut bisa meningkatkan kemampuan anak untuk menghadapi masalah dan mengurangi kecemasan dalam dirinya. Menurut Freud, melalui bermain dan berfantasi anak dapat mengemukakan harapan-harapan dan konflik serta pengalaman yang tidak dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata, contoh, anak main perang-perangan untuk mengekspresikan dirinya, anak yang meninju boneka dan pura-pura bertarung untuk menunjukkan kekesalannya.

Jean Piaget melihat bahwa permainan adalah aktivitas yang dibatasi oleh dan medium yang mendorong perkembangan kognitif anak. Bermain memungkinkan anak mempraktikkan kompetensi dan keahlian mereka dengan cara lebih rileks dan menyenangkan. Vygotsky juga percaya bahwa permainan adalah latar yang sangat baik untuk perkembangan kognitif. Dia terutama tertarik pada aspek simbolik dan berpura-pura dari permainan, seperti ketika seorang anak menunggangi tongkat seolah-oleh itu adalah kuda. Bagi anak, situasi imajiner tersebut nyata. Orang tua harus mengembangkan permainan imajiner seperti itu karena permainan tersebut mempercepat perkembangan kognitif anak, khususnya kreatifitas. Konsep abstrak yang membutuhkan kemampuan kognitif juga terbentuk melalui bermain, dan menyerap dalam hidup anak sehingga anak mampu memahami dunia disekitarnya dengan baik. 126
Elizabeth B. Hurlock, salah seorang pakar perkembangan anak, menuliskan dalam buku “Perkembangan anak” ada 11 manfaat bagi perkembangan anak yang dapat diraih dari kegiatan bermain, yaitu:

  • Perkembangan Fisik

Bermain aktif penting bagi anak untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya. Bermain juga berfungsi sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang terpendam terus akan membuat anak tegang, gelisah, dan mudah tersinggung.

  • Dorongan Berkomunikasi atau Perkembangan Sosial

Agar dapat bermain dengan baik bersama anak yang lain, anak harus belajar berkomunikasi dalam arti mereka dapat mengerti dan sebaliknya mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain.

  • Penyaluran Bagi Kebutuhan Dan Keinginan

Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain sering kali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpin dalam kehidupan nyata mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu menjadi pemimpin tentara mainan.

  • Sumber Belajar

Bermain memberi kesempatan untuk mempelajari berbagai hal melalui buku, televise, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperoleh anak dari belajar di rumah atau sekolah. Bermain sambil belajar akan memberikan dua manfaat sekaligus pada anak; yaitu kesenangan, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sejak dini.

  • Rangsangan Bagi Kreativitas

Melalui eksperimentasi dalam bermain, anak-anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya ke situasi di luar bermain.

  • Perkembangan Wawasan Diri

Dengan bermain anak mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan temannya bermain. Ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata.

  • Belajar Bermasyarakat

  • Dengan bermain bersama anak lain, mereka belajar bagaimana membentuk hubungan social dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

  • Standar Moral

Walaupun anak belajar di rumah dan di sekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral paling teguh selain dalam kelompok bermain.

  • Belajar Bermain Sesuai Dengan Peran Jenis Kelamin

Anak belajar di rumah dan di sekolah mengenai apa saja peran jenis kelamin yang disetujui. Akan tetapi, mereka segera menyadari bahwa mereka juga harus menerimanya bila ingin menjadi anggota kelompok bermain.

  • Perkembangan Ciri Kepribadian Yang Diinginkan

Dari hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anak belajar bekerja sama, murah hati, jujur, sportif, dan disukai orang.

Kalau ada ilmu yang dapat menjerumuskan manusia bila digunakan secara keliru, maka demikian pula dengan permainan. Ada permainan yang dapat menjerumuskan manusia, membahayakan fisik dan jiwa mereka, bahkan dapat membahayakan masyarakat dan masa depan bangsa.128 Maka sudah seharusnya para pendidik selalu memberi pengarahan dan bimbingan pada permainan anak dalam proses pendidikan.

  • Metode Reward & Punishment

Reward & Punishment merupakan metode dengan pemberian reinforcement dapat berupa penghargaan atau hukuman kepada peserta didik. Metode ini menjadi motivasi eksternal bagi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebab, khususnya anak-anak dan remaja awal jika disuguhkan hadiah untuk mereka yang dapat belajar dengan baik dan ancaman bagi mereka yang tidak disiplin, mayoritas peserta didik akan dapat termotivasi belajar dan bersikap disiplin. hal ini bisa terjadi karena secara psikologi manusia memiliki kecenderungan berbuat baik dan mendapat balasan dari perbuatan baiknya.

Teori penguatan atau reinforcement juga disebut juga operant conditioning dan tokoh utama teori ini adalah Skinner. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Berbagai perilaku manusia dapat ditimbulkan berulang kali dengan adanya penguatan setelah respon. Respons itu dapat berupa: suatu pernyataan, gerakan, tindakan. Skinner menganggap bahwa reward atau reinforcement merupakan faktor terpenting dalam proses belajar dan berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingah laku.

Reinforser atau penguat dapat dibagi menjadi dua golongan: primer dan sekunder. Reinforser primer merupakan reinforser yang memperoleh nilainya setelah diasosiasikan dengan reinforser primer atau sekunder lainnya yang sudah mantap. Angka-angka dalam rapor baru mempunyai nilai bagi siswa bila orang tuanya memberikan perhatian dan pujian orang tua mempunyai nilai sebab pujian itu terasiasi dengan kasih sayang, kemesraan dan reinforser lainnya. Ada tiga dasar reinforser sekunder, yaitu reinforser sosial seperti (pujian, senyuman atau perhatian), reinforser aktifitas seperti pemberian mainan, atau kegiatan-kegiatan yang menyenagkan), dan reinforser simbolik (seperti uang, angka, bintang atau poin yang dapat ditukarkan untuk reinforser lainnya).

Kerap kali reinforser-reinforser yang digunakan di sekolah merupakan hal-hal yang diberikan pada siwa-siswa. Reinforser-reinforser ini disebut reinforser positif dan berupa pujian, angka dan bintang. Tetapi ada kalanya untuk memperkuat perilaku ialah dengan membuat konsekuensi perilaku suatu pelarian dari situasi yang tidak menyenangkan. Misalnya, seorang guru dapat membebaskan para siswa dari pekerjaan rumah, jika mereka berbuat baik dalam kelas. Jika pekerjaan rumah dianggap sebagai suatu tugas yang tidak menyenangkan, maka bebas dari pekerjaan rumah ini merupakan reinforser. Reinforser-reinforser yang berupa pelarian dari situasi-situasi yang tidak menyenangkan disebut reinforser negatif.

  1. Observasi

Suatu cara yaitu dengan mengamati tingkah laku dan memperhatikannya secara psikis. Kemudian mencatat adanya perilaku yang menyimpang atau berbeda. Metode observasi ini dibagi menjadi dua, yaitu metode observasi natural atau alami dan metode observasi terkontrol. Observasi alamiah dilakukan secara alami yaitu pencatatan dan perhatian difokuskan pada tingkah laku yang biasa ada tanpa dipengaruhi oleh faktor tambahan atau mengubah- ubah suasana yang direncanakan. Misalnya yaitu observasi pada kehidupan anak dari jam sekian ke jam sekian. Hal ini dilakukan untuk mengamati aspek kepribadian atau perilaku tertentu. Hasil observasi tentu harus dipisahkan dengan tafsiran atau anggapan observer.

Observasi terkontrol yaitu bilamana lingkungan dirubah atau dikondisikan sedemikian rupa untuk tujuan observer dan berpengaruh pada hasil pengamatan yang diinginkan. Misalnya ingin mengamati respon anak terhadap suatu lingkungan pergaulan tertentu, lalu melihat perubahan atau reaksi dari anak. Observasi ini bisa dilakukan secara berkelompok dengan jenis kelamin yang sama dan waktu yang berbeda.

  1. Tes atau metode seperti tugas

Metode tes yaitu dengan pertanyaan- pertanyaan yang diberikan seperti mengerjakan tugas. Anak diberikan pertanyaan pertanyaan ini untuk dijawab secara mandiri. Dari hasil tugas tersebut dapat mengukur perkembangan psikis anak dan alat ukurnya sudah standar secara hati- hati. Tes standar cukup penting karena disini hasil akan dijumlahkan dan menghasilkan skor individu dengan skor kelompok sama untuk menentukan bagaimana individu menjawab pertannyaan tentang orang lain.

  1. Eksperimen

Dalam metode eksperimen ini peneliti sengaja menimbulkan gerak atau pernyataan jiwa yang dijadikan rangsangan –rangsangan. Segala perilaku yang diamati kemudian dicatat dan didokumentasikan secara rinci. Peristiwa yang terjadi selama eksperimen berlangsung dapat diulangi di lain waktu bila diperlukan dan merupakan kelebihan dari metode ini. Kelemahan dari metode ini adalah situasi yang ada merupakan buatan maka subjek/ responden bisa saja berpura- pura dan hasil yang didapatkan juga tidak real atau lebih banyak biasnya.

Dalam eksperimen ini beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu variabel bebas yang mempengaruhi variabel terikat. Misalnya penelitian pada kelompok anak tentang pengaruh kelompok bermain terhadap perkembangan bahasa. Pada penelitian seperti ini, variabel bebas yang mungkin mempengaruhi perkembangan bahasa sangat banyak seperti umur, jenis kelamin, status sosial, pendidikan orang tua, kondisi fisik, dan lainnya.

  1. Kuesioner atau Angket

Kuesioner merupakan alat ukur atau suatu instrumen pengumpul data. Bentuknya bisa berisi beberapa pertanyaan terkait apa yang ingin diketahui. Pertanyaan masing- masing dijawab oleh responden dengan mandiri dan sesuai dengan apa yang ada pada dirinya. Kemudian kuesioner di telaah per nomor dan diberikan skoring tertentu. Sehingga menghasilkan keluaran skoring yang memiliki makna kesimpulan

  1. Studi Kasus

Studi kasus merupakan metode penyelidikan dalam psikologi pendidikan dengan mencari tahu latar belakang, ekonomi, budaya, fisik, dan mental anak yang sedang diteliti. Metode ini mungkin memerlukan tenaga yang cukup besar karena menginginkan data yang akurat dan waktu yang juga lama sampai bertahun- tahun. Pencatatan dilakukan dari hal terkecil yang memiliki unsur unsur perkembangan pada perilaku dan psikis anak didik. Studi kasus lebih melihat dari banyak hal dari mulai unsur intrinsik dan ekstrinsik.

  1. Metode Klinis

Merupakan metode psikologi pendidikan dengan cara mengamati sambil berbincang- bincang atau bertanya jawab dan bermain bersama. Sambil melakukan hal hal tersebut atau interaksi, peneliti mengamati tingkah laku, respon anak. Peneliti menggiring anak pada situasi percakapan yang sesuai dengan keinginannya sehingga diperoleh data- data yang diinginkan. Disini butuh keahlian dari peneliti untuk mampu berfikir terhadap apa yang ingin dia tanyakan atau lakukan untuk membimbing dan mengarahkan partisipan namun juga perlu kejelian dalam mengamati respon.

  1. Proyeksi

Proyeksi yaitu metode psikologi pendidikan dengan cara pengambilan data yaitu memberikan gambar- gambar atau tulisan tulisan berbentuk khas seperti sebuah permainan lalu mempersilahkan responden untuk memberikan tanggapan, pengertian, atau menterjemahkannya masing –masing sebagai proyeksi perilaku.

  1. Metode Intropeksi

Merupakan penyelidikan yang dilakukan dengan sengaja memperhatikan proses kejiwaan anak dan juga perilaku yang dilakukan oleh anak itu sendiri. Pada intinya metode instropeksi ini yaitu melihat diri sendiri melalui pandangan diri sendiri. Peneliti disini meminta pada partisipan untuk memberikan penilaian terhadap diri nya sendiri setelah melakukan tahap instropeksi diri atau evaluasi dirinya terhadap apa yang sudah dilakukannya.

  1. Metode Retrospeksi

Merupakan metode psikologi pendidikan dengan cara mempelajari perubahan yang terjadi atau pengalaman yang dimiliki individu di masa lampau. Hal yang ingin diketahui dan diteliti sudah terjadi di masa lampau sehingga data data pengamatan bisa melalui data- data tertulis, misalnya pada rekaman diri, buku diari, atau media yan gmenyimpan memori masa lalu. Bisa juga dengan menanyakan pada partisipan tentang suatu situasi di masa lalu dan responnya terhadap situasi tersebut.

  1. Metode Ekstrospeksi

Yaitu kebalikan dari introspeksi. Memiliki arti yaitu penyelidikan terhadap perubahan- perubahan kejiwaan orang lain. Metode penyelidikan ini menghasilkan dugaan –dugaan yang menghubungkan realitas fisik atau tingkah laku dalam keadaan psikis seseorang. Hal yang diperhatikan hanya dapat ditangkap oleh panca indera peneliti saja. Hal yang diamati merupakan apa yang tampak misalnya seperti gerak gerik. perkembangan atau respon psikis tidak dapat diamati dengan metode ini.

  1. Metode Indirect

Penyelidikan dilakukan secara tidak langsung kepada anak tanpa perantara atau pihak lain. Hal yang diamati yaitu perkembangan anak mulai dari tingkah laku serta kejiwaannya. Sumber atau perantara yang dimaksudkan bisa film, rekaman, orang tua, guru, biografi, pengumpulan (buku-buku, gambar) dan lainnya. Pengamatan dilakukan oleh pihak lain dan dipalorkan kepada peneliti. Atau bisa juga pemberian manipulasi situasi atau pikiran diberikan melalui video, buku, gambar, atau alat lainnya.

  1. Pendekatan Longitudinal

Metode ini digunakan untuk menyelidiki perilaku anak dalam jangka waktu yang lama. Beberapa aspek perilaku atau tingkah laku yang diamati pada satu atau dua orang dalam beberapa lama. Aspek yang diamati juga merupakan aspek- aspek perkembangan secara menyeluruh. Misalnya mengamati proses perkembangan dari lahir hingga mati. Kelebihannya semua proses perkembangan dapat diketahui dan diamati secara runtun. Kekurangan nya yaitu hanya bergantung pada orang yang diselidiki saja dalam jangka waktu yang lama. Terlebih lagi apabila responden yang diamati meninggal sebelum batas waktu perkembangan yang diinginkan. Contoh lain yaitu misalnya pada ibu hamil yang diteliti mulai dari fase pemeriksaan awal positif hami, sampai dengan melahirkan dan juga proses menyusui bayi. Hal hal yang diamati meliputi respon tingkah laku dan psikis.

  1. Pendekatan Transversal

Cara untuk menyelidiki orang orang dari kelompok umur yang berbeda. Pendekatan ini pada dasarnya menjadikan sasaran pada sejumlah besar anak- anak dan dilakukan dengan kurun waktu yang tidak lama bisa satu atau sampai tiga bulan saja. Partisipan dengan umur yang sama akan dikelompokkan untuk diamati secara serempak tingkah laku dan respon psikisnya dalam suatu situasi yang sama. Pengamatan secara serentak inilah yang menyingkat waktu.

  1. Pendekatan Lintas Budaya

Metode psikologi pendidikan yang satu ini yaitu membandingkan anak- anak dari umur yang sama tetapi hidup dalam latar belakang budaya yang berbeda atau lingkungan yang berbeda. Peneliti akan melihat perbedaan dalam perkembangan perilaku dan psikisnya melalui tata cara mendidik dan aturan sosial budaya yang ada pada lingkungannya masing- masing. Pendekatan ini beranggapan bahwa alam dan budaya berpengaruh terhadap pembentukan perilaku dan psikis anak. Misalnya terdapat perbedaan dari anak yang tinggal di kota dan anak yang tinggal di desa atau anak yang berasal dari keluarga dengan suku tertentu.

  1. Metode Direct

Metode direct diwakili oleh banyak metode psikologi pendidikan diatas yaitu dimana peneliti berhubungan langsung dengan partisipan dan mengamati secara langsung tingkah laku dan psikis partisipan. Metode direct dilakukan sendiri oleh peneliti dan tidak diwakilkan pada orang lain. Pengamatan bisa dilakukan dengan sepengetahuan partisipan ataupun secara tidak tahu, misalnya pada anak- anak dimana peneliti meminta ijinnya pada orang tua. Apabila partisipan mengetahui hal tersebut kemungkinan didapatkan data bias sanagt tinggi karena partisipan dapat mengendalikan diri.