Apa saja keutamaan diam dalam Islam ?

Diam

Diam adalah sebuah bentuk sikap seseorang yang tidak ingin melakukan sesuatu atau tindakan. Dalam sikap diamnya seseorang, tentunya karena memiliki suatu alasan. Apa saja keutamaan diam dalam Islam ?

Ada banyak keutamaan diam dalam Islam juga keutamaan menjaga lisan dalam islam, diantaranya adalah:

Ibadah yang paling ringan tapi tinggi

Rasulullah saw bersabda:

“Maukah kalian aku beritahukan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi badan? Diam dan akhlak yang baik ” (HR. Ibnu Abi Dunya)

Begitu berbahayanya dampak dari perkataan yang tidak berguna, hingga diam dianggap menjadi ibadah yang paling tinggi. Sebagaimana sabda Rasul:

”Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Dailami, dari Abu Hurairah).

Rasul memerintahkan untuk diam dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat, tapi berbeda halnnya jika sesorang dalam kondisi sendirian, maka diamnya bukanlah ibadah. Suatu hari Rasulullah Saw. ditanya, “Siapakah Muslim yang paling utama?” Beliau menjawab,

“Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari).

Selamat dari siksa api neraka

Layaknya pedang bermata dua, lidah dapat menjadi penyebab amal jariyah atau malah termasuk hal-hal yang menghapus amal ibadah bahkan dosa besar dalam Islam. Ketika ada suatu pembicaraan mengenai keburukan atau aib seseorang, hendaklah diam dan berlalu. Sungguh akan masuk ke dalam neraka jahanam, mereka yang suka bergunjing dan menebar kebohongan juga riya dalam islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (HR. Al-Bukhari)

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, dia berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulullah, apakah sebab keselamatan?” Beliau menjawab,

“Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu dan tangisilah kesalahanmu”. (HR. Tirmidzi)

“Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka dengan wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).

Dalam Al-Quran juga terdapat cerita tentang pembicaraan penghuni surga dan neraka: “

”Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,” (Q.S. Al-Mudatsir: 42-45).

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW berkata,

”Tidak akan lurus iman seseorang sebelum lurus hatinya dan tidak akan lurus hati seseorang sebelum lurus lidahnya. Dan tidak pernah masuk surga seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguan lidahnya.”

Orang yang lidahnya senang mengganggu tetangganya diharamkan masuk surga. Di zaman Nabi, suatu hari dilaporkan kepada Nabi perihal seorang perempuan yang kerjanya setiap hari berpuasa dan setiap malam salat tahajud, tetapi perempuan ini sering menyakiti hati tetangganya dengan lidahnya. Rasulullah saw mengatakan, “Dia berada di neraka.”

Maka dari itu kebanyakan penghuni neraka adalah wanita dikarenakan lidah mereka sendiri yang suka menggunjing orang lain terutama tetangga. Bukan hanya dalam sejarah Islam saja, bahkan hingga sekarang pun kita sering melihat atau mendengar tetangga yang saling bergunjing bahkan hingga bertengkar satu sama lain, Astaghfirullah.

Keberuntungan di akhirat

Diriwayatkan oleh Khlaid bin Abi ‘Imran, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda serambi memegang lisannya dalam waktu yang lama,

“Semoga Allah merahmati seorang hamba, yang telah berkata benar maka ia akan mendapatkan keberuntungan yang besar atau diam dari keburukan maka ia akan selamat.” (HR. Ibnu Al Mubarak)

“Barang siapa yang diam, pasti dia selamat ” (HR. At Tirmidzi)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah “. (HR. Bukhori dan Muslim)

Hanya dengan diam dari keinginan berkata buruk, seorang manusia dapat selamat di akhirat nanti. Lidah yang lebih tajam daripada pedang dapat menghancurkan segala sesuatunya. Untuk itulah Rasul pun memerintahkan untuk menjaga lisan. Abdullah bin Sufyan meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata:”Aku berkata kepada Rasulullah SAW, wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang islam, dengan suatu perkara yang aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain sesudahmu.”. Nabi saw bersabda: “Katakanlah, aku beriman, kemudian istiqamahlah”. Dia berkata: “Lalu apakah yang harus aku jaga?”, kemudian Rasulullah saw mengisyaratkan dengan tangan beliau ke lidah beliau. (HR. At Tirmidzi, An Nasa’I dan Ibnu Majah).

Terhindar dari sifat munafik

Diam membuat kita jauh dari sifat munafik. Sebagaimana sabda Rasul:

”Diam itu adalah perhiasan bagi orang ’Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz).

Dikatakan oleh imam Hasan Al Bashri:“Sesungguhnya lidah orang mukmin berada dibelakang hatinya, apabila ingin berbicara tentang sesuatu maka dia merenungkan dengan hatinya terlebih dahulu, kemudian lidahnya menunaikannya. Sedangkan lidah orang munafik berada di depan hatinya, apabila menginginkan sesuatu maka dia mengutamakan lidahnya daripada memikirkan dulu dengan hatinya “.

Mendapat balasan surga

Sahl bin Sa’ad meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda (yang artinya):

”Siapa yang menjamin untukku (agar menjaga) apa yang ada diantara dua janggutnya (lidah) dan yang ada diantara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin untuknya surga ” (HR. Bukhori)

Mendapat banyak hikmah

Anas, seorang sahabat Nabi, bercerita; Suatu hari pada Perang Uhud, aku melihat seorang pemuda yang mengikatkan batu ke perutnya lantaran kelaparan. Ibunya lalu mengusap debu dari wajahnya sambil berkata, ”Semoga surga menyambutmu, wahai anakku.”

Ketika melihat pemuda yang terdiam itu, Nabi berkata, ”Tidakkah engkau ketahui mengapa ia terdiam saja? Mungkin ia tidak ingin berbicara yang tidak perlu atau ia menolak dari hal-hal yang membahayakan dirinya.” Dalam riwayat lain, Nabi bersabda, ”Kalau engkau temukan seseorang yang sangat berwibawa dan banyak diamnya, ketahuilah mungkin ia sudah memperoleh hikmah.”

”Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Qadha’i, dari Anas dan Dailami, dari Ibnu ’Umar)

Itulah beberapa keutamaan diam dalam Islam. Sungguh diam merupakan jalan keselamatan bagi kita, namun juga dapat menjadi penyebab masuknya kita ke neraka. Semoga kita semua dapat menjaga lidah kita agar tidak menjerumuskan kita. Aamiin.