© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja fungsi dan peran Pendidikan di Indonesia ?

Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan sesorang. Pendidikan lah yang menentukan dan menuntun masa depan dan arah hidup seseorang. Walaupun tidak semua orang berpendapat seperti itu, namun pendidikan tetaplah menjadi kebutuhan manusia nomor wahid.

Apa Fungsi dan Peran Pendidikan di Indonesia?

Pendidikan memiliki peran aktif yang sangat besar bagi perkembangan komunitas suatu negara di seluruh dunia. Tanpa adanya pendidikan yang terencana dengan baik, maka akan memberikan pengaruh buruk bagi setiap individu dalam negara tersebut, tentu saja ha ini juga akan mempengaruhi kualitas bagi negara itu sendiri.

Dari pengertian pendidikan dan tujuan pendidikan sesuai dengan kedua link di atas, maka bisa disimpulkan bahwa pendidikan memiliki peran dan fungsi yang amat besar, baik bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan, agama, dan bangsa, sebagaimana berikut ini :

  1. Mewujudkan Individu Yang Ta’at dan Bertaqwa Kepada Tuhan
    Berdasarkan dasar negara kita yang terkutip dalam sila pertama Pancasila, yaitu ketuhanan yang maha esa, maka pendidikan berperan untuk mewujudkan individu yang taat beragama dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menjalankan semua perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya.

  2. Mewujudkan Individu Yang Beretika dan Bermoral
    Selain itu, berdasarkan sila kedua dalam Pancasila, maka peran penting sebuah pendidikan di Indonesia adalah untuk mewujudkan individu dan masyarakat yang memiliki pengendalian diri, tanggung jawab, bermoral, dan berakhlakul karimah. Tentu saja hal ini juga sangat penting agar setiap individu mampu mengetahui batas-batas dalam beretika, baik bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan, maupun agama.

  3. Mencetak Generasi Muda Yang Cerdas dan Kreatif
    Pendidikan berperan untuk mencerdaskan generasi muda, bukan hanya cerdas tetapi juga mampu mengembangkan potensi dalam diri. Tanpa adanya pendidikan maka generasi muda akan menjadi generasi yang lemah dan layu.

  4. Mengembangkan Pola Pikir Kritis dan Dinamis
    Selain itu, pendidikan juga tidak hanya bertujuan untuk mencetak generasi muda yang cerdas saja, tetapi juga mengembangkan pola pikir secara kritis dan dinamis, sehingga mereka mampu menentukan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk berdasarkan akal dan hati nurani.

  5. Membentuk Kepribadian Yang Sehat Jasmani dan Rohani
    Pendidikan juga tidak luput dari usaha nyata untuk mewujudkan individu dengan kepribadian sehat, baik jasmani maupun rohani. Artinya, pendidikan mengajarkan agar individu mampu menjaga kesehatan tubuh, kesehatan akal dan mental, serta kesehatan hati dari sifat-sifat tercela.

  6. Mewujudkan Individu Yang Mampu Bersosialisasi Baik Dalam Masyarakat
    Pendidikan meletakkan dasar utama dalam bersosialisasli, yaitu manusia sebagai homosapien yang artinya makhluk yang tidak bisa hidup tanpa peran dan pastisipasi dari manusia lainnya. Dengan demikian, pendidikan juga berperan untuk menciptakan individu yang mempu bersosialisasi baik di dalam masyarakat.

  7. Mewujudkan Masyarakat Yang Bersatu
    Berdasarkan sila ke tiga dalam Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka pendidikan mengarahkan setiap individu untuk saling bersatu tanpa memandang jenis, agama, status sosial, suku, adat, dan keturunan.

  8. Mewujudkan Individu Yang Cinta dan Peduli Dengan Lingkungan
    Lingkungan adalah hal yang juga perlu diperhatikan dalam kehidupan, karena jika lingkungan bersahabat maka akan mempengaruhi ketentraman dalam komunitas lingkungan tersebut. Untuk itulah dalam setiap proses pendidikan selalu diajarkan kepada peserta didik untuk mencintai dan peduli dengan lingkungan sekitar.

  9. Mewujudkan Masyarakat Yang Tentram dan Bahagia
    Pendidikan juga berperan untuk menciptakan suasana masyarakat yang tentram, damai, dan bahagia, di mana setiap individu di dalam masyarakat tersebut saling mengerti dan memahami, saling toleransi, saling menghargai dan menghormati, serta saling menyayangi sesama lewat terbentuknya pondasi moral yang kuat.

  10. Menyongsong Masa Depan Cemerlang Sebuah Negara
    Masa depan sebuah negara terletak pada generasi muda, artinya maju atau mundurnya sebuah negara tergantung dari generasi muda. Sedangkan itu mewujudkan cita-cita menjadi negara yang lebih baik dan berkembang, pendidikan menjdi titik pusat dalam hal ini. Genrasi muda mampu menjadi generasi yang berkualitas ke depannya tergantung dari bagaimana pendidikan akan diselenggarakan. Dai sinilah pendidikan sangat mempengaruhi kualitas sebuah negara di masa yang akan datang.

Fungsi Pendidikan

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 PBB 1966 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan. Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak mereka.

Menurut Prof. Richey bahwa istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dalam perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru mengenai tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang di dalam masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal yang terjadi, tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal diluar sekolah. Menurut Prof. Lodge pendidikan mempunyai dua pengertian yaitu dalam arti luas dan dalam arti sempit.

Pendidikan dalam arti luas adalah meliputi seluruh ummat manusia sepanjang sejarah adanya manusia dan sepanjang hidup manusia, sedangkan pendidikan dalam arti sempit diidentikan dengan pendidikan formal yang hanya menyangkut pribadi yang secara sukarela mengikutinya kendatipun dalam kenyataan Negara-negara yang maju dan sadang berkembang pada tiap-tiap warga Negara diwajibkan belajar untuk tingkat-tingkat tertentu, hal ini adalah merupakan perwujudan betapa urgensinya pendidikan bagi manusia.

Lembaga pendidikan merupakan jawaban manusia atas problem dari perkembangan manusia itu sendiri. Pendidikan yang akan membentuk dan membina bentuk-bentuk tertentu dengan tingkah laku tertentu, maka lembaga pendidikan menghendaki perlakuan tertentu pula. Jika pendidikan itu dikatakan sebagai profesi, maka anggota pengelola pendidikan yang dorongan tertentu demikian pula dalam profesi-profesi lainnya. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting setelah keluarga yang berfungsi juga membantu keluarga untuk mendidik anak-anak. Anak-anak mendapat pendidikan di lembaga ini, apa yang tidak dapat di dalam keluarga atau kedua orang tuanya tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anaknya.

Tugas yang diberikan guru di sekolah adalah merupakan tugas pelimpahan dan lanjutan dari tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan baik dan menjadi contoh teladan bagi anak-anak. Oleh karena itu seorang guru dituntut memiliki kepribadian yang utuh sebagaimana telah ditentukan dalam persyaratan seseorang menjadi guru antara lain taqwa kepada allah, berilmu pengetahuan sesuai dengan profesi, sehat jasmani dan rohani, berkelakuan baik yang tampak pada sikap, seperti mencintai tugas sebagai guru, adil, sabar, ikhlas, pemaaf dan dapat bekerja sama dengan orang lain.

Berbicara tentang fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat ada bermacam-macam pendapat. Wuradji (1988) menyatakan bahwa pendidikan sebagai lembaga konservatif mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut: (

  • Fungsi sosialisasi,
  • Fungsi kontrol sosial,
  • Fungsi pelestarian budaya Masyarakat,
  • Fungsi latihan dan pengembangan tenaga kerja,
  • Fungsi seleksi dan alokasi,
  • Fungsi pendidikan dan perubahan sosial,
  • Fungsi reproduksi budaya,
  • Fungsi difusi kultural,
  • Fungsi peningkatan sosial, dan
  • Fungsi modifikasi sosial.

Jeane H. Ballantine (1983) menyatakan bahwa fungsi pendidikan dalam masyarakat itu sebagai berikut:

  • fungsi sosialisasi,
  • fungsi seleksi, latihan dan alokasi,
  • fungsi inovasi danperubahan sosial,
  • fungsi pengembangan pribadi dan sosial.

Dari tiga pendapat tersebut di atas, tidak ada perbedaan tetapi saling melengkapi antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lain:

1. Fungsi Sosialisasi.
Pendidikan diharapkan mampu berperan sebagai proses sosialisasi dalam masyarakat bisa berjalan dengan baik. Sehingga proses sosialisasi bisa berjalan dengan wajar dan mulus. Oleh karena, orang tua dan keluarga berharap sekolah dapat melaksanakan proses sosialisasi tersebut dengan baik. Dalam lembaga-lembaga ini guru-guru di sekolah dipandang sebagai model dan dianggap dapat mengemban amanat orang tua (keluarga dan masyarakat) agar anak-anak- memahami dan kemudian mengadopsi nilai-nilai budaya masyarakatnya.

Sekolah mengemban tugas untuk melaksanakan upaya-upaya mengalihkan nilai-nilai budaya masyarakat dengan mengajarkan nilai-nilai yang menjadi way of life masyarakat dan bangsanya. Untuk memenuhi fungsi dan tugasnya tersebut sekolah menetapkan program dan kurikulum pendidikan, beserta metode dan tekniknya secara pedagogis, agar proses transmisi nilai-nilai tersebut berjalan lancar dan mulus.

2. Fungsi Kontrol Sosial
Sekolah dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat harus juga berfungsi sebagai lembaga pelayanan sekolah untuk melakukan kontrol sosial. Melalui pendidikan semacam ini individu bisa mengambil nilai-nilai sosial dan melakukan interaksi dalam kehidupannya sehari-hari.

Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi untuk mempertahankan dan mengembangkan proses sosialisasi serta kontrol sosial diharapkan bisa mendidik peserta didiknya lebih berkualitas. Sehingga tatanan masyarakat bisa terjalin dengan baik. Selain itu, sekolah juga berfungsi sebagai alat pemersatu dan segala aliran dan pandangan hidup yang dianut oleh para siswa. Sebagai contoh sekolah di Indonesia, sekolah harus menanamkan nilai-nilai Pancasila yang dianut oleh bangsa dan negara Indonesia kepada anak-anak di sekolah.

3. Fungsi Pelestarian Budaya Masyarakat
Sekolah di samping mempunyai tugas untuk mempersatu budaya-budaya etnik yang beraneka ragam juga harus melestanikan nilai-nilai budaya daerah yang masih layak dipertahankan seperti bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti dan suatu upaya mendayagunakan sumber daya lokal bagi kepentingan sekolah dan sebagainya.
Sebagai contoh adalah adanya kurikulum pendidikan yang mengadakan pelajaran muatan lokal. Khusus di daerah Jawa Barat untuk pelestarian budaya di setiap sekolah diwajibkan adanya muatan lokal yaitu mata pelajaran bahasa Sunda serta kesenian setempat. Begitu juga untuk daerah-daerah yang ada di Indonesia, dimaksudkan supaya siswa lebih cinta terhadap daerahnya serta tanah air.

4. Fungsi Seleksi, Latihan dan Pengembangan Tenaga Kerja
Jika kita amati apa yang terjadi dalam masyarakat dalam rangka menyiapkan tenaga kerja untuk suatu jabatan tertentu, untuk seleksi masuk suaru Perguruan Tinggi selalu diadakan seleksi. Sebagai contoh untuk proses seleksi masuk sekolah tertentu harus mengikuti ujian tertentu, harus menyerahkan nilai UN (ujian nasional) atau NEM. Dan setelah penyerahan nilai itu maka dicari yang tinggi dari nilai tertentu sampai nilai yang terendah. Namun jika nilai yang digunakan dalam proses seleksi ini maka bagi yang mendapat nilai rendah harus menerima perlakuan untuk masuk di sekolah dengan kualitas yang baik. Demikian pula untuk mendapatkan jabatan pada pekerjaan tertentu, mereka yang diharuskan mengikuti seleksi dengan berbagai cara yang tujuannya untuk memperoleh tenaga kerja yang cakap dan terampil sesuai dengan jabatan yang akan dipangkunya.

5. Fungsi Pendidikan dan Perubahan Sosial
Fungsi pendidikan dalam perubahan sosial dalam rangka meningkatkan kemampuan peserta didik yang analisis kritis berperan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai baru tentang cara berpikir manusia. Pendidikan pada abad modern telah berhasil menciptakan generasi baru dengan daya kreasi dan kemampuan berpikir kritis, sikap tidak mudah menyerah pada situasi yang ada dan diganti dengan sikap yang tanggap terhadap perubahan. Cara-cara berpikir dan sikap-sikap tersebut akan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bantuan orang lain. Dengan demikian peserta didik selain sebagai memahami perubahan dalam kehidupan sosial bisa juga sebagai agen perubahan itu sendiri.

6. Fungsi Sekolah dalam Masyarakat
Mengenai adanya tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Pendidikan formal disebut juga sekolah. Oleh karena itu sekolah bukan satu-satunya lembaga yang menyelenggarakan pendidikan tetapi masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menyelenggarakan pendidikan. Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mempunyai dua fungsi yaitu sebagai partner masyarakat dan sebagai penghasil tenaga kerja. Sekolah sebagai partner masyarakat akan dipengaruhi oleh corak pengalaman seseorang di dalam lingkungan masyarakat.(NN, fungsi dan peranan pendidikan, 2010).

Peran Pendidikan


Peran pendidikan itu juga ditanamkan sejak manusia masih dalam kandungan, lahir, hingga dewasa yang sesuai dengan perkembangan dirinya. Ketika masih kecil pun pendidikan sudah dituangkan dalam UU 20 Sisdiknas 2003, yaitu disebutkan bahwa pada pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik (Depdiknas 2003). Dengan demikian tujuan pendidikan juga mengalami perubahan menyesuaikan dengan perkembangan manusia. Oleh karena pendidikan dialami sejak manusia lahir hingga dewasa, maka tujuan pendidikan juga merupaka suatu proses.

Proses “memanusiakan dirinya sebagai manusia” merupakan makna yang hakiki di dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan merupakan “cita-cita pendidikan hidup di dunia” (Dalam agama ditegaskan juga bahwa cita-cita “hidup” manusia adalah di akherat). Akan tetapi tidak selamanya manusia menuai hasil dari proses yang diupayakan tersebut. Oleh karena itu, kadang proses itu berhasil atau kadang pun tidak. Jadi dengan demikian dapat dikatakan bahwa “keberhasilan” dari proses pendidikan secara makro tersebut merupakan tujuan. Keberhasilan itu jug dipengaruhi oleh beberapa faktor. Hal ini mengingat bahwa pendidikan itu ada tiga pilar yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat.

Dalam pembentukan dan peran pendidikan yang berkaitan dengan pembentukan watak, maka faktor keluarga sangat penting. Faktor orang tua sangat berpengaruh pada pendidikan manusia sebagai peserta didik. Kesadaran orang tua makin meningkat mengenai pentingnya pendidikan sebagai persiapan awal untuk membantu pencapaian keberhasilan pendidikan selanjutnya. Persiapan awal tersebut menyangkut pencapaian perkembangan sehat secara mental, emosi, dan sosial. Namun orang tua juga tidak sama. Seperti yag dikemukakan berikut ini bahwa kadang orang tua belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk membantu kesiapan anak untuk mengikuti pendidikan selanjutnya atau perkembangan sehat mental, emosi, sosial, dan fisik anak (Sodiq A. Kuntoro, 1988).