Apa saja contoh dari masalah sehari-hari yang melibatkan computational thinking ?

computational thinking

Jika dilihat dengan seksama, banyak sekali masalah yang kita alami sehari-hari dapat diselesaikan dengan berpikir secara komputasi. Lalu apa sajakah contoh dari masalah sehari-hari tersebut? dan apa keunggulan dari berpikir secara komputasi dalam penyelesaian masalah tersebut?

Menurut saya, contoh yang paling mudah dalam sehari - hari adalah memasak nasi. Memasak nasi pun juga melibatkan computational thinking. Pertama adalah dekomposisi. Dalam memasak nasi,tentu kita pecahkan dulu masalah besar menjadi masalah kecil seperti menyiapkan beras, air, tempat nasi, rice cooker. Kemudian ada pengenalan pola. Kalau dalam kasus memasak nasi, kita harus bisa mengenali pola yang ada seperti harus memasak air dulu baru memasak beras atau menyalakan rice cooker. Metode ketiga adalah abstraksi. Seperti contoh, berapa banyak beras yang kita butuhkan untuk makan nanti. Dan yang terakhir adalah algoritma. Contohnya dari sehari - hari dalam memasak nasi. Pertama - tama memasukkan beras sebanyak yang dibutuhkan, kemudian masukkan air lalu kemudian menyalakan rice cooker.

Computational thinking memiliki banyak keunggulan. Tetapi ada satu keunggulan yang saya suka, Yaitu bagaimana dengan menggabungkan empat metode yang terbilang abstrak bisa menyelesaikan sebuah persoalan sulit sekalipun. Seperti pepatah mengatakan “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”.

Contoh yang dapat diambil ialah mencuci pakaian. Dengan computational thinking, kita mampu melakukan identifikasi, analisa dan implementasi solusi dengan berbagai kombinasi langkah / cara dan sumber daya yang efisien dan efektif. Dengan langkah yang efektif, kita dapat menyelesaikan masalah dengan mudah, tepat dan cepat. Dibanding cara berpikir kreatif, misal. Dengan cara berpikir ini, kita pasti akan mencoba cara-cara yang tidak seperti biasanya untuk menemukan cara yang agak unik dan pasti akan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Maka dari itu, computational thinking dapat membuat kita menjadi lebih terstruktur dalam melihat pemecahan sebuah masalah.

Mari kita kembali dalam masalah mencuci pakaian. Kita akan menyelesaikan masalah ini dengan cara berpikir secara komputasional.

Dimulai dari dekomposisi, kita akan menentukan dan baru mengelompokkan apa saja proses yang akan dihadapi. Seperti memastikan hanger, memisahkan pakaian dengan jenis sendiri, menyiapkan ember dan alat cuci, lalu proses mencucinya, menjemurnya dan yang lain.

Kemudian dari pengenalan pola. Dengan melihat pakaian yang akan dicuci, pada disaat memilah pakaian sebelumnya, kita akan menemukan banyak jenis pakaian yang menunjukan bahwa dia layak untuk dicuci dan yang tidak. Dimana dari sini kita akan membuat prediksi seberapa detergen yang akan dipakai, atau air yang akan dibutuhkan.

Dilanjutkan dengan Abstraksi. Setelah menemukan pakaian mana yang kotor, kita akan mengidentifikasi pakaian menurut tingkat kekotorannya dan menyatukan pakaian yang senada agar pakaian dengan warna yang lain tidak akan kelunturan.

Diakhiri dengan algoritma. Setelah mengikuti semua langkah diatas kita akan mengurutkan pemecahan dari mencuci pakaian. Dengan memulai dari memilah pakaian, menyiapkan alat, lalu mencuci, memeras, dan yang terakhir adalah menjemur.

Semua rangkaian diatas, merupakan hasil dari cara berpikir secara komputasional. Dengan langkah yang sistematis, akan lebih mudah dipahami oleh banyak orang. Selain dari itu, langkah-langkah ini juga dapat diaplikasikan pada masalah mencuci piring dan yang sejenisnya. Maka dari itu dengan berpikir secara komputasional untuk memecahkan masalah sehari-hari, akan membuat kita menjadi lebih sistematis dalam melihat penyelesaian masalah.

Ada banyak contoh sehari-hari yang dapat menjadi tempat untuk menerapkan computational thinking. Yang saat ini kerap dihadapi mahasiswa adalah perihal tugas-tugas berbentuk laporan yang diberikan oleh dosen setelah pembelajaran. Dengan menerapkan computational thinking, seorang mahasiswa bisa mengerjakan laporannya secara efisien dan efektif terhadap waktu.

Pertama, dekomposisi. Laporan terdiri dari berbagai bagian sehingga seorang mahasiswa sebaiknya melihat laporan bukan sebagai satu kesatuan tetapi dari bagian-bagiannya. Sehingga, ketika pengerjaan, dia akan berfokus pada laporan tidak sebagai satu tugas yang besar, melainkan sebagai kumpulan tugas-tugas kecil.

Kedua, pengenalan pola. Kerap laporan yang kita kerjakan meliput sebuah source code yang harus kita buat, test dan kemudian kita jelaskan. Biasanya seorang mahasiswa akan memulai dengan bagian pemodelan dari source code tersebut dulu, baru berlanjut ke bagian algoritmanya dan kemudian source codenya itu sendiri, terakhir baru penjelasan dari source code.

Abstraksi yang dapat diambil adalah ketika pengerjaan laporan, apa yang diminta oleh source code dan seperti apa narasi dan penjelasannya nanti.

Terakhir, penciptaan algoritma, yaitu langkah-langkah yang perlu diambil ketika mengerjakan laporan, seperti pembuatan model dahulu, baru algoritma kemudian source code berserta narasi dan penjelasannya.